Depan >> Opini >> Opini >>

BAGUS SANTOSO

Jokowi di Antara Pujian dan Hujatan

13 November 2017 - 10.01 WIB > Dibaca 314 kali | Komentar
 
Jokowi di Antara Pujian dan Hujatan

RIAUPOS.CO - Sengaja saya naik kereta api Jakarta-Bogor, selain pertimbangan menghindari macet, juga untuk mendapat jawaban rasa penasaran atas kabar perubahan fasilitas dan pelayanan lebih nyaman jika naik tranportasi kereta api.

Bersyukur pada saat itu, penumpang tidak terlalu padat. Saya dapat seat di tengah diapit dua orang perempuan, sebelah kanan saya seorang ibu setengah baya dan sebelah kiri saya wanita muda cantik.

Sementara sahabat saya Buya Mansyur yang berinisiatif mengajak naik kereta api, duduk berseberangan sambil menikmati kue dan teh yang dibawanya. Sembari menikmati kenyamanan kursi, saya sengaja selonjorkan kaki sambil melihat pemandangan ke luar lewat kaca jendela.

Tanpa saya tanya, dengan spontan ibu setengah baya di samping kanan berkata seraya menjawil (mencolek) lengan saya. Memang zaman sekarang lebih nyaman naik kereta api, dulu kotor, orang jualan, pengamen, pengemis semuanya berjubel, jadinya sumpek dan pengab.

Mendapat cerita menarik, gayung bersambut lalu kami mengenalkan diri,  ternyata si ibu bernama Warsini,  kedua orangtuanya  asal dari Wonogiri, tapi ia sendiri lahir di Jakarta.

Sayapun melanjutkan saling tukar informasi. Ibu Warsini setiap hari PP Jakarta-Bogor naik kereta api.  Si ibu dengan bangga mengatakan setelah Presiden Jokowi-lah fasilitas dan pelayanan kereta api menjadi aman, nyaman dan menyenangkan.

Saya hanya tersenyum dan enggan komentar atas pernyataan dari ibu Warsini. Ibu ini, merasakan sendiri perubahan zaman sehingga bisa membandingkan situasi dan kondisi naik  kereta api masa lalu dan masa kini.

Apalagi setelah mbak cantik di sebelah kiri saya menimpali apa yang dikatakan oleh ibu Warsini.  “Betol kok mas, dulu naik kereta api banyak copet, tempat duduk jorok. Sekarang mas rasakan memang aman dan nyaman. Jokowi memang hebat,” imbuh mbak cantik  bernama Rina, asli Bogor.

Di waktu berbeda aku sekeluarga berkunjung ke Parakan Temanggung. Kota sejuk dengan pemandangan berkelok- kelok sungai dan gunung. Sayuran kubis, cabai, wortel dan tembakau menghijau seperti taman surga.

Karena geografisnya pegunungan dan sungai, infrastruktur jalan kampung ke kampung sangat sulit. Anak sekolah harus menyeberangi sungai dengan meniti tali atau rakit. Pas kunjungan saya sekitar pertengahan Agustus 2017, ternyata belum sepekan Jokowi meresmikan tiga  jembatan gantung baru. Jembatan itu hanya untuk pejalan kaki dan sepeda motor. Lebarnya kurang dari 3 meter, namun membentang sepanjang sungai.

Pemandangan pagi hari berbeda dengan yang terlihat 3 tahun sebelumnya. Anak-anak sekolah ketawa riang menyeberangi jembatan yang sedikit bergoyang. Tidak lagi lepas pakaian, nyemplung sungai menantang risiko.

Malam harinya selepas salat Magrib, bersama keluarga besar menikmati ikan bakar di halaman rumah kang mas Wage Sunardi. Sayang, malam kurang bersahabat pas mau santap makan listrik padam.

Ada celetukan dari ponakanku, tarif listrik  naik 200 persen, kenapa PLN mati lampu. Spontan pakde menimpali ora opo-opo listrik naik, (gak apa- apa), karena duit kenaikan bayar listrik oleh Pak Jokowi dipakai membangun jembatan.

Bersyukur saja Pak Jokowi peduli membangun jembatan, biarlah tarif listrik naik, tapi anak-anak kalau ke sekolah sudah aman, kata Pakde  mengesankan apapun kebijakan Jokowi baginya membawa keberkahan.

Pandangan berbeda manakala ada penilaian menyebutkan bahwa Jokowi merakyat hanya pencitraan penuh kepalsuan. Demikian dikatakan Yusril Ihza Mahendra.

Jokowi di antara Pujian dan Hujatan
Mantan Menteri Sekretaris Negara masa Presiden SBY.

Pengacara kondang juga mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan  pada masa Presiden Megawati, menilai sikap dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi tidak seperti penampilannya yang selama ini dilihat.

Karena kata Mantan Menteri  Kehakiman dan Hak Asasi era Presiden Gus Dur ini, jika dilihat dari segi penampilan Jokowi seakan merakyat, akan tetapi setiap  kebijakan yang ia ambil lebih mengarah pada nilai kapitalis.

Masih menurut Yusril, Jokowi meski seakan mengesankan sosok pemimpin yang merakyat, dengan mempedulikan semua masyarakat namun sebenarnya pemikirannya pro-kapitalis.  Maka menurut pendapat Yusril saat Indonesia dipimpin oleh Jokowi Indonesia akan mengalami kemunduran demokrasi, karena sikap Jokowi hanyalah pencitraan yang penuh dengan kepalsuan.

Pandangan yang sama muncul, dengan istilah; Pencitraan Jokowi Mulai Terbongkar, Masih Layakkah Jadi Pilihan? Begitu judul bernada pertanyaan yang di muat pada Tabloid Jurnal pada 18 September 2012.

Judulnya terkesan subyektif, tapi harus juga diakui mencari obyektifitas hari ini tidaklah mudah, atas dasar pencitraan setiap orang bisa saja menutupi aib pribadi dengan citra positif yang diinginkan.

Masih menurut Tabloid Jurnal,  pencitraan dalam masa pemilihan kepala daerah atau presiden dianggap biasa. Akan menjadi tak biasa saat pencitraan yang dilakukan tidak berdasarkan fakta. Apalagi saat pencitraan yang dilakukan cenderung berlebihan hingga bisa masuk dalam kategori pembohongan publik.

Sahabatku Donar dari Papua memberikan contoh, bagaimana bisa Jokowi berpose naik motor di jalan pedalaman Papua lalu disebarluaskan media. Sementara pada faktanya jalan itu baru sekadar ujung pembuka. Namun di sebalik itu mungkin ada makna pesan yang terkandung, semangat yang menyala-nyala demi membangun bangsa.

Dua pandangan yang kontradiktif,  kelompok satu memuji sedangkan kelompok lainnya terselip kekecewaan akhirnya muncul hujatan. Dua pandangan yang berbeda itu mari ditelusuri dengan melihat fakta yang terjadi.

Di daerah Pulau Sumatera, sebut saja pojok kedai kopi di Pulau Bengkalis, pemilik warung pak de Begok terus terang mengatakan sejak masa pemerintahan Jokowi, jualannya tidak seramai masa dulu.  Keluh kesah para pedagang kaki lima merata hampir di semua ceruk (sudut) di kampung dan kota Indonesaia.

Tidak hanya kedai kopi dan pedagang kaki lima yang berlinang air mata. Pengusaha ritel babak belur, akhirnya toko ditutup.   Diakui Darmin Nasution, Menteri Koordinator Ekonomi ada perlambatan nilai jual beli.   

Fakta, banyak pengusaha mengeluh karena turunnya daya jual karena rendahnya daya beli. Bahkan sudah banyak pengusaha  ritel yang bangkrut dan angkat tangan ditengah jalan. Sementara itu, tidak dapat ditutupi, proyek infrastruktur digeber besar-besaran. Pembangunan jalan tol, rel kereta api di Jakarta dan di luar Jawa terus digeber. Sambung menyambung jalan antar provinsi begitu mengesankan. Pembanguan itu kasat mata di depan hidung kita semua.

Utang atau duit sendiri  sebagian masyarakat tidak ambil pusing, yang jelas nampak geliat dan bukti nyata pembangunan. Apakah akan terealisasi atau megap-megap di tengah jalan sebagian besar masyarakat tidak mempedulikan. Negara merasa optimis dengan kebijakan yang dianggap sebagai langkah terobosan keberanian.

Bahwa sah-sah saja Yusril berpandangan, bahwa sikap Jokowi terlihat seakan merakyat hanya merupakan pencitraan. Lalu memberikan peringatan kepada semua pihak, jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya, karana kadang yang terlihat tidak seperti yang sebenarnya dikerjakan.

Lain Yusril, lain pula Ibu Warsini, serta kelompok pengagum Jokowi. Begitupun dalam menilai dan melihat istilah pencitraan dan kenyataan dari sudut pandangan siapa dan pada posisi di mana.

Jokowi dipuji tetapi juga penuh caci maki. Akankah Jokowi berhasil memenangkan kembali pertarungan pada Pilpres 2019. Jawabnya kita akan tunggu dan saksikan bersama peristiwa sejarah kepemimpinan Indonesia.***Mantan Menteri Sekretaris Negara masa Presiden SBY.

Pengacara kondang juga mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan  pada masa Presiden Megawati, menilai sikap dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi tidak seperti penampilannya yang selama ini dilihat.

Karena kata Mantan Menteri  Kehakiman dan Hak Asasi era Presiden Gus Dur ini, jika dilihat dari segi penampilan Jokowi seakan merakyat, akan tetapi setiap  kebijakan yang ia ambil lebih mengarah pada nilai kapitalis.

Masih menurut Yusril, Jokowi meski seakan mengesankan sosok pemimpin yang merakyat, dengan mempedulikan semua masyarakat namun sebenarnya pemikirannya pro-kapitalis.  Maka menurut pendapat Yusril saat Indonesia dipimpin oleh Jokowi Indonesia akan mengalami kemunduran demokrasi, karena sikap Jokowi hanyalah pencitraan yang penuh dengan kepalsuan.

Pandangan yang sama muncul, dengan istilah; Pencitraan Jokowi Mulai Terbongkar, Masih Layakkah Jadi Pilihan? Begitu judul bernada pertanyaan yang di muat pada Tabloid Jurnal pada 18 September 2012.

Judulnya terkesan subyektif, tapi harus juga diakui mencari obyektifitas hari ini tidaklah mudah, atas dasar pencitraan setiap orang bisa saja menutupi aib pribadi dengan citra positif yang diinginkan.

Masih menurut Tabloid Jurnal,  pencitraan dalam masa pemilihan kepala daerah atau presiden dianggap biasa. Akan menjadi tak biasa saat pencitraan yang dilakukan tidak berdasarkan fakta. Apalagi saat pencitraan yang dilakukan cenderung berlebihan hingga bisa masuk dalam kategori pembohongan publik.

Sahabatku Donar dari Papua memberikan contoh, bagaimana bisa Jokowi berpose naik motor di jalan pedalaman Papua lalu disebarluaskan media. Sementara pada faktanya jalan itu baru sekadar ujung pembuka. Namun di sebalik itu mungkin ada makna pesan yang terkandung, semangat yang menyala-nyala demi membangun bangsa.

Dua pandangan yang kontradiktif,  kelompok satu memuji sedangkan kelompok lainnya terselip kekecewaan akhirnya muncul hujatan. Dua pandangan yang berbeda itu mari ditelusuri dengan melihat fakta yang terjadi.

Di daerah Pulau Sumatera, sebut saja pojok kedai kopi di Pulau Bengkalis, pemilik warung pak de Begok terus terang mengatakan sejak masa pemerintahan Jokowi, jualannya tidak seramai masa dulu.  Keluh kesah para pedagang kaki lima merata hampir di semua ceruk (sudut) di kampung dan kota Indonesaia.

Tidak hanya kedai kopi dan pedagang kaki lima yang berlinang air mata. Pengusaha ritel babak belur, akhirnya toko ditutup.   Diakui Darmin Nasution, Menteri Koordinator Ekonomi ada perlambatan nilai jual beli.   

Fakta, banyak pengusaha mengeluh karena turunnya daya jual karena rendahnya daya beli. Bahkan sudah banyak pengusaha  ritel yang bangkrut dan angkat tangan ditengah jalan. Sementara itu, tidak dapat ditutupi, proyek infrastruktur digeber besar-besaran. Pembangunan jalan tol, rel kereta api di Jakarta dan di luar Jawa terus digeber. Sambung menyambung jalan antar provinsi begitu mengesankan. Pembanguan itu kasat mata di depan hidung kita semua.

Utang atau duit sendiri  sebagian masyarakat tidak ambil pusing, yang jelas nampak geliat dan bukti nyata pembangunan. Apakah akan terealisasi atau megap-megap di tengah jalan sebagian besar masyarakat tidak mempedulikan. Negara merasa optimis dengan kebijakan yang dianggap sebagai langkah terobosan keberanian.

Bahwa sah-sah saja Yusril berpandangan, bahwa sikap Jokowi terlihat seakan merakyat hanya merupakan pencitraan. Lalu memberikan peringatan kepada semua pihak, jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya, karana kadang yang terlihat tidak seperti yang sebenarnya dikerjakan.

Lain Yusril, lain pula Ibu Warsini, serta kelompok pengagum Jokowi. Begitupun dalam menilai dan melihat istilah pencitraan dan kenyataan dari sudut pandangan siapa dan pada posisi di mana.

Jokowi dipuji tetapi juga penuh caci maki. Akankah Jokowi berhasil memenangkan kembali pertarungan pada Pilpres 2019. Jawabnya kita akan tunggu dan saksikan bersama peristiwa sejarah kepemimpinan Indonesia.***
KOMENTAR
Terbaru
Serunya Game Tiang Listrik, Sesulit KPK Tangkap Setya Novanto
BPJS TK Gelar Pasar Murah dan Donor Darah

Sabtu, 18 November 2017 - 21:00 WIB

Uang Sayembara Tangkap Setnov Akhirnya Disumbangkan

Sabtu, 18 November 2017 - 20:45 WIB

TNI-Polri Banjir Pujian usai Berhasil Bebaskan Sandera di Papua
Politikus Golkar Ini Sebut Setnov Sebenarnya Sudah Siap Ditahan, tapi...
Follow Us