Ibadah Kurban adalah Pemersatu

2 September 2017 - 14.08 WIB > Dibaca 542 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - IBADAH Kurban mengandung makna yang luas. Bukan hanya Salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. Tapi adalah makna pengorbanan, kasih sayang, dan penghambaan diri di hadapan Allah SWT. Wukuf di Padang Arafah adalah wujud dari ketidakberdayaan manusia di hadapan Sang Pencipta dan mengingat bahwa kelak sekecil apa pun perbuatan di dunia akan diperhitungkan di akhirat kelak dengan di Padang Mahsyar.

Andaikata setiap muslim taat dengan ibadah kurban, mengusahakan menyisihkan hartanya membeli dan membagikan daging hewan yang telah disyariatkan, maka Idul Adha adalah pestanya manusia untuk menikmati daging. Untuk Riau saja disembelih sebanyak 32.187 ekor hewan kurban. Satu ekor hewan kurban bisa menyumbangkan 70-100 Kg daging. Itu adalah data yang dirangkum pemerintah dan yakinlah jumlahnya bisa dua tiga kali lipat. Bagaimana jika 50 persen saja dari umat muslim Riau ini ikut korban? Jumlahnya tentu berlipat-lipat ekor sapi. 90 persen warga Riau dari 4 juta lebih penduduk adalah muslim.

Prosesi penyembelihan hewan kurban ada yang sudah berlangsung, namun ada yang menunda hari ini hingga besok. Mengingat waktu hari Jumat yang singkat. Maka dalam beberapan hari ke depan, menu makanan masyarakat, miskin dan kaya sama-sama daging. Bagi masyarakat miskin yang selama ini tak sanggup membeli daging, bisa menikmati. Tidak ada yang bisa menandingi kedermawanan selain di Hari Raya Idul Adha. Yang ikut ibadah kurban ikhlas dan tidak akan pernah mempersoalkan dibagi kepada siapa dagingnya. Karena tujuannya satu, dihitung sebagai amal ibadah di sisi Allah Swt.

Ibadah kurban ini juga pemersatu. Daging yang sudah dipotong-potong juga boleh dibagikan ke non-muslim. Lazim dilakukan panitia kurban. Prosesi ini bisa dijadikan momen untuk merajut kembali kesatuan sebagai warga sebangsa. Bahkan di beberapa tempat, non-muslim ikut berbaur dalam bekerja saat kegiatan gotong-royong memotong daging, mencincang tulang sampai membuang kotoran hewan yang sudah disembelih tersebut. Momen yang terkondisikan dengan sendirinya tanpa rumit merancangnya.

Ke depan, keikutsertaan umat muslim beribadah menyembelih hewan kurban ini bisa diperbanyak. Pola mencicil selama setahun yang dilakukan wirid ibu-ibu sebagian masjid bisa dijadikan contoh di banyak tempat. Pemerintah malah bisa memfasilitasi. Melalui lembaga amal resmi. Tapi tetap di masjid setempat yang menyelenggarakan. Jika ini berlangsung luas, maka daging kurban akan terkumpul melebihi manusianya. Jika berlebih, bisa dikalengkan dan didistribusikan kapan pun atau diserahkan ke wilayah konflik.****
KOMENTAR
Terbaru
KUA-PPAS APBD 2019 Disepakati Rp2,2 T

Rabu, 24 Oktober 2018 - 09:50 WIB

Kembangkan IKM Melalui Inovasi Kemasan Produk

Rabu, 24 Oktober 2018 - 09:43 WIB

Laporkan jika Drainase Tersumbat

Rabu, 24 Oktober 2018 - 09:38 WIB

Warga Minta Jalan Cipta Karya di Aspal Total

Rabu, 24 Oktober 2018 - 09:37 WIB

Pembangunan Sport Center Belum Prioritas

Rabu, 24 Oktober 2018 - 09:33 WIB

Follow Us