Depan >> Opini >> Opini >>

Samsul Nizar Jamaah Haji 2017. Ketua STAIN Bengkalis

Manifestasi Haji

30 Agustus 2017 - 10.52 WIB > Dibaca 1782 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan banyak tenaga atau energi. Namun di balik ibadah fisik itu terkandung nilai-nilai atau hikmah. Hikmah-hikmah itu terkandung saat seorang jamaah melaksanakan ibadah haji. Berikut beberapa hikmah yang terkandung dalam ibadah haji.

Pertama, kehadiran jamaah calon haji (JCH) merupakan undangan Allah. Undangan terjadi karena Rahman dan Rahim Allah sebagai kausalitas upaya hamba memperkenalkan diri pada-Nya dan sambutan Allah atas perkenalan tersebut.

 Tidak sedikit orang yang secara finansial sudah mapan, namun belum terpanggil hatinya untuk melaksanakan ibadah haji, atau sudah ada tersirat dalam hati, namun mereka lebih memilih untuk mengembangkan kekayaannya agar lebih banyak  lagi. Namun di sisi lain, banyak kita temukan, para JCH yang sedang melaksanakan haji saat ini, mereka adalah pedagang sayur kecil-kecilan, mereka menabung sedikit demi sedikit dan uang itu pun terkumpul, akhirnya mereka bisa melaksanakan ibadah haji. Ada juga yang pekerjaannya sebagai tukang sapu di jalan, atau petugas kebersihan. Kalau dihitung-hitung, gajinya tak cukup untuk makan sekeluarga, namun tekatnya kuat, mereka menyisihkan setiap bulan gajinya, tak disangka, mereka pun berhasil menunaikan ibadah haji. Makanya haji itu ada unsur ”undangan dari Allah”. Mereka yang datang ke Baitullah (rumah Allah) adalah orang-orang pilihan. Ada unsur kekuasaan Allah, dalam ibadah ini. Makanya, jangan heran kalau kita temukan banyak petani biasa, nelayan kecil, wong cilik, yang melaksanakan ibadah haji. Hal ini terlihat dari gaya mereka, tutur kata mereka, semua terlihat sederhana.

Kedua, memakai ihram merupakan implementasi penghancuran kehidupan duniawi yang serba materi dengan status sosial yang menjadi dinding transaksional sesama hamba. Memakai pakaian ihram mengingatkan manusia kesamaan derajat di sisi Allah dan pakaian tatkala manusia meninggal dunia. Menyadarkan diri batas yang sebenarnya di hadapan Allah agar manusia tidak terlena dengan batas yang diciptakannya.

Ada jenderal, pejabat, pengusaha kaya dan lainnya, mereka sama dengan petani kecil, nelayan sederhana, penjual sayur, atau petugas kebersihan, sama-sama mengenakan pakaian ihram. Tak ada bedanya antara jenderal, pengusaha kaya raya dengan petani miskin. Semua di hadapan Allah sama, yang membedakan hanya takwa. Pakaian ihram itu menggambarkan bahwa semua manusia sama. Islam tidak membedakan suku, bangsa, kaya miskin dan status sosial lainnya, yang membedakan hanya takwa.

Ketiga, tawaf merupakan bentuk ketaatan untuk bergerak pada aktivitas yang mendekatkan diri pada Allah. Satu arah, satu tujuan, dan satu gerakan.

Tawaf juga menggambarkan bahwa umat Islam harus bersatu, bagaikan satu tubuh. Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR Muslim). Pergerakannya satu arah, jika tidak umat Islam bagaikan buih. Bersabda Rasulullah SAW; “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745).

Keempat, sa’i merupakan perlambang upaya orang tua terhadap anak dan ketaatan anak terhadap orang tua. Hubungan antara anak dan orang tua di zaman modern saat ini terlihat begitu renggang, sehingga perilaku anak dan orang tua banyak yang menyimpang dari ajaran Islam. Sejarah menjelaskan Bukit Shafa dan Marwa ini memiliki sejarah yang sangat penting dalam dunia Islam, khususnya dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Bukit Shafa dan Marwa yang berjarak sekitar 450 meter itu, menjadi salah satu dari rukun haji dan umrah, yakni melaksanakan Sa’i. Hajar tidak pernah putus asa, walau kondisi tanah saat itu tidak mungkin ada mata air, tetapi berusaha mencari air untuk anaknya, dan akhirnya di luar kekuasaannya, hentakkan kaki kecil Ismail AS memunculkan sumber mata air, yakni air zam-zam yang hingga kini masih bisa kita nikmati.

Sa’i bentuk lain pembelajaran Allah agar manusia berupaya mencari rezeki di jalan Allah tanpa putus asa. Asa harus ada, namun asa harus tunduk pada aturan agama agar hidup mendapatkan keberkahan.

Kelima, wukuf merupakan manivestasi hari kebangkitan. Eksistensi wukuf bagai masa dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar. Hanya amal yang bisa menyelamatkan manusia tatkala semua yang ada sebelumnya tak mampu membela dan membantu. Dari makna, wukuf artinya berdiam atau berhenti sejenak. Dalam kehidupan ini kita perlu berhenti sejenak, berzikir atau tafakur (berpikir) apakah yang telah kita lakukan sudah benar atau menyimpang.

Keenam, melontar jumrah merupakan upaya manusia melempar setan-setan yang ada pada dirinya yang selama ini membelenggu gerak ibadah dan mengerangkeng hasrat hamba untuk mendekatkan diri pada-Nya. Simbolisi kebencian manusia atas sikap setan yang dimiliki dalam diri untuk disingkirkan agar yang tersimpan adalah sifat kehambaan yang rindu pada kasih sayang-Nya.

Bahkan musuh manusia yang paling berat bukan dalam bentuk fisik, tetapi diri manusia itu sendiri. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda; “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Jadi ketika orang tidak bisa mengerem hawa nafsunya berarti dia ikut memenangkan hawa nafsu setan. Di sinilah ibadah haji itu bukan hanya ibadah fisik, bergerak melaksanakan tawaf, sa’i, wukuf di Arafah dan lainnya, tetapi jamaah dilatih membendung amarah. Bagaimana ketika beribadah saling sikut, atau terinjak-injak, jamaah dilatih untuk lapang dada (memaafkan). Jiwa jamaah dilatih untuk sabar, menghargai orang lain, memaafkan dan beragam akhlak mahmudah lainnya. Inilah yang harus kita terapkan.***
KOMENTAR
Terbaru
Hotel Dafam Tawarkan Promo Merdeka Package

Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:15 WIB

MMKSI Luncurkan Service Booking Card

Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:01 WIB

September, Wako Minta Denda Rp2,5 Juta Diterapkan

Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:43 WIB

Sapma PP Pekanbaru Gelar Muscab I

Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:39 WIB

Mau Merdeka dari Penyakit? Lakukan MCU

Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:29 WIB

Follow Us