Lompatan Peradaban

29 Agustus 2017 - 13.55 WIB > Dibaca 568 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - BAKU hantam antara penyedia jasa angkutan umum online dan konvensional beberapa waktu lalu di Kota Bertuah Pekanbaru, merupakan ”fenomena biasa” yang sebelumnya juga sudah pernah terjadi di beberapa kota besar Indonesia. Angkutan konvensional dan online, adalah dua kutub yang berbeda dan akan selalu tolak menolak kalau bertemu. Bahkan pionir di bisnis layanan transportasi roda empat asal Amerika Serikat, Uber, yang beroperasi di 57 negara selalu mendapat tentangan di negara manapun dia masuk.

Dunia sudah memasuki lompatan peradaban yang mau tidak mau, membuat kita harus terpaksa masuk ke dalamnya. Seperti halnya revolusi industri sekitar 1760 lalu di Inggris, terjadi sebuah lompatan besar kebudayaan, peradaban dan teknologi. Mesin uap yang ditemukan James Watt membuat produksi massal barang di pabrik-pabrik dengan memakai mesin telah menyingkirkan peran para buruh dan membuat upah jadi murah. Banyak dampak positif yang timbul dari revolusi industri,namun  dampak negatif juga ikut menyertai masyarakat yang shock dan tidak siap menerima perubahan yang berlangsung dengan cepat.

Dan kini, peradaban kian maju dan terus bergerak. Malahan generasi milenial kini sudah tersingkir berganti dengan generasi Z. Kalau generasi milenial adalah orang-orang yang setengah-setengah menikmati era sebelum internet dan era sesudahnya. Bagi generasi milenial ini, wallstreet, bioskop, yahoo, vinyl dan barang khas 90-an sangatlah menarik. Namun bagi generasi Z, netflix, virtual reality dan video games jauh lebih menarik.

Generasi Z yang lahir 1995-an ini ditandai dengan memilih informasi melalui media sosial,menggunakan smartphone untuk mengakses internet rata-rata 3-5 jam per hari, berbelanja secara online dan hidup tak pernah lepas dari ponsel mereka.

Secara tidak sadar, kita telah hidup dalam dunia online. Hampir seluruh keperluan manusia kini bisa diperoleh secara online. Mulai dari bangun tidur,  yang pertama kali dilongok adalah smartphone. Kemudian pergi ke tempat kerja dengan angkutan layanan berbasis online, di kantor pun hampir seluruhnya terkoneksi dengan online, makan siang pun bisa dipesan dengan jasa layanan antar secara online, termasuk berbelanja yang tidak lagi dibatasi ruang dan waktu yang semua jenis barang disediakan secara online. Demikian juga dalam bertransaksi perbankan dimudahkan dengan mobile banking secara online. Apa-apa sekarang sudah online dan google map sudah membuka wajah seluruh sudut bumi untuk bisa dilongok dan dipelototi secara online.

Sebuah loncatan yang spektakuler yang dulu mungkin hanya bisa terlihat di film-film fiksi. Namun kini semua sudah menjadi nyata dan manusia di seluruh dunia kini bisa terhubung secara online. Kita bisa bercengkerama dengan keluarga, teman dekat atau rekan bisnis sambil tatap muka dengan aplikasi layanan online dengan satu tangan di layar smartphone. Suka tidak suka, mau tidak mau, teknologi yang kian murah ini akan akan tersebar secara massal dan sudah menjadi keperluan pokok bagi masyarakat dunia saat ini.

Jadi, jika masih ada pihak konvensional yang masih berpikir tradisional dan berharap waktu masih tetap bertahan dengan budaya lama, maka akan menjadi orang yang tersisih dan hidup dalam dunianya sendiri. Dunia sudah berubah dan kita harus bisa ikut masuk dan mewarnai perubahan tersebut. Seperti angkutan umum konvensional yang menolak angkutan online. Mereka seperti orang yang tertutup mata dengan kain dan ketika penutup mata dibuka akan membuat mata menjadi silau akibat sinar matahari generasi Z.***
KOMENTAR
Terbaru
Sepaktakraw Minta Dukungan Masyarakat Riau

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:39 WIB

Asian Games, Harga Diri, dan Eksistensi Sebuah Bangsa

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:16 WIB

Mulai Tajam, Begini Kata Media Polandia tentang Egy

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:15 WIB

Kalah dari Atletico, Real Madrid Rindukan Ronaldo

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:14 WIB

Kekayaan Jokowi Rp 50 Miliar, Sandiaga Triliunan

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:07 WIB

Follow Us