Depan >> Opini >> Opini >>

Dr H Irvandi Gustari Direktur Utama PT Bank Riau Kepri

Daya Beli Masyarakat Menurun versus Perubahan Pola Konsumsi

24 Agustus 2017 - 11.25 WIB > Dibaca 677 kali | Komentar
 
Daya Beli Masyarakat Menurun versus Perubahan Pola Konsumsi

RIAUPOS.CO - Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah daya beli masyarakat menurun atau yang terjadi perlambatan pertumbuhan daya beli? Ya maknanya hampir sama, namun berbeda dari segi filosofi. Lebih lanjut kita perlu bertanya pula, apakah yang terjadi benar-benar penurunan daya beli masyarakat atau yang terjadi adalah pergeseran (shifting) dari pola konsumsi masyarakat yang beralih ke aspek leisure dari non leisure kah ya? Pertanyaan yang perlu kita bahas juga adalah apakah bisa kita jadikan angka penurunan omset dari sejumlah pusat perbelajaan modern yang tersebar di seluruh Indonesia itu ataupun sejenisnya bisa menjadi acuan bahwa telah terjadi penurunan daya beli masyarakat?

Ada juga yang mengkambinghitamkan belanja online adalah suatu kenyataan kemajuan teknologi yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya, dan banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan, dan langsung dituding pula sebagai biang masalah dari menurunnya omset dari pasar -pasar tradisional maupun modern lainnya.

Di sisi lain, BPS pada akhir semester 1 2017 lalu mengumumkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar ekonomi Indonesia triwulan II-2017 terhadap triwulan II-2016 tumbuh 5,01 persen (y-on-y). Dari data BPS ini sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan angka pertumbuhan itu dan mendekati dengan target. Bahkan semua indikator makroekonomi jangka pendek memperlihatkan perkembangan yang cukup membuat kita nyaman dan tenang dan hal itu terlihat dari beberapa perekonomian yang diukur dengan laju inflasi relatif stabil pada kisaran 4 persen, dan pernah menyentuh 3,9 persen.

Suku bunga juga cenderung turun. Suku bunga acuan Bank Indonesia (Repo Rate 7-hari) turun dan sudah 10 bulan bertengger di bawah 5 persen, tepatnya 4,75 persen dan baru-baru saja turun menjadi 4,50 persen.  Di sisi lain, nilai tukar rupiah relatif  stabil dengan tingkat volatilitas yang mengecil walaupun di aras yang masih jauh di bawah nilai tertingginya. Di sisi lain pula, cadangan devisa bertambah 16,3 miliar dollar AS selama 8 bulan terakhir dan  di bidang ekspor mulai tumbuh ke arah yang  positif setelah lima tahun berturut-turut dimana sebelumnya terus-menerus menurun.

Porsi mana yang terbesar dari data BPS terkait GDP sampai Triwulan II tahun 2017 dari segi pertumbuhan dan dari segi porsinya?  Sampai dengan Triwulan II tahun 2017 tercatat bahwa: Private consumption 4,95 persen (share 56,3 persen),  LNPRT Consumption 8,49 persen (share 1,19 persen), General Government Consumption, -1,93 persen (share 7,60 persen), Gross Domestic Fixed Capital Formation, 5,35 persen (share 31,5 persen), Export of Goods and Services, 5,76 persen (share 19,82 persen), Less Imports of Goods and Services 2,80 persen (share -18,25 persen).

Data di atas mencerminkan bahwa Gross Domestic Product (GDP) kita sampai dengan Triwulan II tahun 2017 ini, terjadi pertumbuhan semu dimana ditopang oleh Private Consumption. Idealnya dalam kondisi pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth) sepatutnya akan terjadi pertumbuhan yang akan mendukung kondisi ekonomi yang stabil dan memiliki fondasi yang kuat bila bersumber dan didominasi oleh: General Government Consumption, Gross Domestic Fixed Capital Formation, Export of Goods and Services.  Dengan demikian kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan menggunakan parameter GDP terjadi anomali, di mana di satu sisi kita sering mengatakan daya beli menurun, namun pada realitanya tingkat konsumsi masyarakatlah yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.

Bisa juga memaknai bahwa yang terjadi sebenarnya bahwa kontribusi dari  konsumsi rumahtangga dalam perekonomian (produk domestik bruto) pada semester I-2017 sebesar 56,3 persen, di sisi lain porsi dari aspek investasi 31,5 persen. Melihat aspek ketiga komponen PDB lainnya adalah relatif kecil, maka dapat kita maknai bahwa komponen konsumsi rumahtangga dan investasi—menyumbang sekitar 88 persen terhadap perekonomian, dan merupakan faktor paling menentukan kondisi pertumbuhan  perekonomian saat ini sampai dengan akhir semester I tahun 2017 ini.

Kalau ditelaah lebih mendalam lagi mengenai aspek Private Consumption perkembangannya dalam 5 tahun terakhir: tahun 2012 (5,49 persen), tahun 2013 (5,43 persen), tahun 2014 (5,15 persen), tahun 2015 (4,96 persen), tahun 2016 (5,01 persen), Q1-2017 (4,94 persen) dan Q2- 2017 (4,95 persen).

Dari data terlampir ini bisa kita nyatakan bahwa GDP Indonesia sangat ditopang oleh  private consumption dan perlu diluruskan bahwa dari perkembangan data perkembangan private consumtion tersebut adalah yang terjadi bukan penurunan daya beli masyarakat, namun lebih tepatnya adalah melambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat.

Adanya persilangan pendapat dari berbagai pihak bahwa saat ini telah terjadi penurunan daya beli masyarakat, termasuk dari para pakar juga mengeluarkan pendapat yang sama, sangat menarik untuk dicermati. Bahkan ada fenomena menarik yaitu oleh banyak pihak dan termasuk para pakar dengan dijadikan ukurun adanya kecenderungan menurunnya besaran omset di pusat-pusat perbelanjaan modern tertentu dan juga terjadi penurunan transaksi pada beberapa jenis barang seperti makanan, pakaian, semen, pemakaian listrik, dan lainnya, tentu sangat tidak bisa kita jadikan dasar untuk menyimpulkan terjadi penurunan daya beli mayarakat.

Tentunya bila kita memahami sedikit saja tentang ilmu statistik dapat dimaknai bahwa  sangat amat banyak ragam barang dan jasa yang seharusnya dijadikan sebagai variabel dalam menentukan untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat menurun dan tentu tidak hanya melihat dari seberapa besar penurunan omset dari pusat-pusat pembelajaan modern dan megah itu ya. Di dalam strata ataupun klaster dari  masyarakat pun terdiri dari berbagai kelompok pendapatan. Ada yang kelompok  sangat kaya, kaya hingga kelompok  yang amat miskin. Bahkan untuk kelompok berpendapatan menengah pun masih bisa bisa dipecah menjadi menengah-bawah, menengah-tengah, dan menengah-atas. Lebih lanjut  untuk kelompok penduduk berpendapatan rendah bisa dipecah menjadi kelompok sangat miskin, miskin, dan sebagainya.

Jadi bisakah kita berpendapat bahwa kalau begitu bahwa yang terjadi bukan penurunan daya beli masyarakat, melainkan perubahan pola konsumsi masyarakat sejalan dengan transformasi struktural yang terjadi. Atau bisakah kita juga berpandangan bahwa tidaklah tepat bila kita langsung memvonis adanya penurunan daya beli masyarakat namun ada hal lain yang menarik juga untuk kita telaah yaitu terjadi pergeseran pola konsumsi, antara lain karena perubahan gaya hidup kelas menengah atas. Hal itu diperkuat dari data-data BPS bahwa dalam 3 tahun terakhir ini ada kecenderungan bahwa pertumbuhan konsumsi leisure meningkat sedangkan konsumsi nonleisure menurun. Yang dimaksud dengan konsumsi leisure itu adalah di antaranya termasuk penggunaan kamar hotel, pemanfaatan angkutan pesawat terbang, termasuk juga aspek-aspek pariwisata lainnya.

Lalu bisakah kita menyalahkan adanya perubahan pola belanja menuju belanja online sebagai penyebab menurunnya omset dari pasar tradisional ataupun konvensional?  Dari berbagai silang pendapat akhir -akhir ini memang sangat banyak pihak yang berpendapat adanya penurunan omzet pusat perbelanjaan modern bukan disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat melainkan namun lebih disebabkan oleh maraknya eksistensi dari  belanja online atau ecommerce belakangan ini. Kalau kita telisik lebih mendalam bahwa ada benarnya bila ada yang berpandangan  peningkatan penjualan ecommerce sangat pesat, bahkan berlipat ganda dan itu adalah dampak dari aplikasi yang berseliweran sehingga menggesera pola perilaku belanja dari masyarakat. Tapi jangan terlalu berlebihan banget menilai ecommerce tersebut, sebab porsi penjualan ecommerce di Indonesia pada 2016 baru sekitar 1,2 persen dari keseluruhan penjualan eceran. Kita bisa bandingkan dengan kondisi tetangga yaitu Singapura yang menduduki posisi teratas di ASEAN mencapai 4,1 persen, sedangkan untuk negara Cina jauh lebih besar dengan 13,8 persen. Data itu memaknai bahwa pola belanja online ataupun ecommerce memang tumbuh sangat pesat di Indonesia, bahkan di Singapura sekalipun. Namun kita harus menyadari bahwa porsi masih relatif sangat kecil. Bahkan pola belanja online untuk parta-partai jumlah besar, rasanya belum bisa diyakini oleh banyak pihak dalam proses closing transaksinya, jadi tetap dibutuhkan dengan cara pola transaksi tradisional yaitu face to face.

Dengan demikian secara kasat mata saja saat ini pergeseran pola perilaku belanja masyarakat itu masih sebatas belanja makanan, pakaian dan barang-barang elektronik kebutuhan rumah tangga lainnya. Sedangkan belanja barang modal seperti mesin pabrik ataupun peralatan IT semacam server, rasanya belumlah terjamah dengan pola belanja online yang justru nilainya uangnya sangat besar sekali. Dengan demikian kurang pas rasanya bila kita menuding belanja online sebagai penyebab menurunnya omset dari pasar tradisional dan termasuk di dalamnya pusat perbelanjaan modern sekalipun.

Masih seputaran dari BPS, di mana dari olahan data yang ada tersebut, bila dikelompokkan strata masyarakat yang ada di Indonesia maka 40 persen ada pada kelompok miskin dan 40 persen berada pada kelompok  menengah dan  yang terakhir adalah 20 persen berada pada kelompok kaya. Dari data yang ada tersebut, didapatkan bahwa kelompok masyarakat miskin mengalami penurunan daya beli. Dalam kelompok ini antara lain terdiri dari para petani, buruh tani, buruh bangunan, pekerja informal lainnya, dan pekerja pabrik.. Yang paling parah adalah dialami oleh petani tanaman pangan.

Kondisi peristiwa penurunan daya beli kelompok miskin yang 40 persen ini, secara relatif tidak terlalu berpengaruh menyebabkan penurunan daya beli secara nasional karena porsi belanja pada kelompok ini hanya sebesar 17 persen, dan di sisi lain justru terjadi peningkatan daya beli pada kelompok menengah (40 persen) dan kelompok kaya (20 persen). Dengan penurunan daya beli memang terjadi, namun pada kelompok miskin saja dan itupun tertutupi secara agregat oleh  peningkatan daya beli kelompok menengah dan kelompok kaya. Kalau begitu, makin lengkap jawaban bahwa yang terjadi bukan penurunan daya beli secara keseluruhan, namun hanya pada kelompok tertentu saja.

Dari berbagai uraian diatas, yang kita de­ngar selama ini yang dijadikan polemik oleh banyak pihak tentang adanya penurunan daya beli masyarakat dan bahkan dinyatakan pula oleh berbagai pakar bahwa telah telah terjadi anomali dalam proses pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yaitu  tingkat ekonomi terus bertumbuh pada angka kisaran 5 persen pada Triwulan II tahun 2017, namun disisi lain terjadi penurunan daya beli masyarakat. Setelah kita membaca dalam uraian artikel ini, dapat kita sarikan bahwa memang dalam melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menuju ke arah perbaikan memang harus disikapi secara komprehensif, yang ada adalah bukannya penurunan daya beli masyarakat, namun ada terjadi pergeseran perilaku dari masyarakat bergerak pada leisure consumption dari nonleisure consumption. Hal itu makin mempertegas bawah, efek dari pada bisnis online belumlah signifikan mempengaruhi besaran omset dari para pebisnis ritel konvensional.

Di samping itu ada yang perlu diwaspadai tentang besaran angka tingkat pertumbuhan ekonomi nasional  sampai dengan akhir semester I tahun 2017 ini, yang bertumbuh sebesar 5 persen. Angka itu sesungguhnya belum mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable growth) dari Indonesia, dan ternyata  sebesar 56,3 persen ditopang oleh private consumption. Hal itu bisa dimaknai bisa saja pergerakan ekonomi itu bersumber dari tabungan dari masyarakat dan biasanya akan berlanjut hanya sampai tabungan masyarakat itu mulai menipis, setelah itu akan terjadi stagnan dari pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian inilah yang perlu kita waspadai.

Dalam bahasa gaulnya, kita ini gagal fokus. Yang ributkan adalah tentang adanya anomali dari pertumbuhan tingkat perekonomian Indonesia, dan sesungguhnya anomali itu tidaklah terjadi, dan hanya karena  atau kurang fokus pada cara melihatnya secara lebih komprehensif.

Bilamana kita melihatnya bahwa  pertumbuhan ekonomi saat ini ditopang dari private consumption dan bila digali lebih dalam lagi, ternyata bersumber dari tabungan yang dimiliki oleh masyarakat, maka sepatutnya kita harus cemas dan seharusnya pula kita bersama memikirkan untuk tidak terlalu jauh, yang akan berdampak kepada keterpurukan tingkat ekonomi Indonesia secara menyeluruh.

Jadi jangan gagal fokus dan sebenarnya anomali pada pertumbuhan ekonomi Indonesia itu tidak sedahsyat yang dijadikan hiruk pikuk oleh banyak pihak.***
KOMENTAR
Terbaru
Hotel Dafam Tawarkan Promo Merdeka Package

Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:15 WIB

MMKSI Luncurkan Service Booking Card

Jumat, 17 Agustus 2018 - 14:01 WIB

September, Wako Minta Denda Rp2,5 Juta Diterapkan

Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:43 WIB

Sapma PP Pekanbaru Gelar Muscab I

Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:39 WIB

Mau Merdeka dari Penyakit? Lakukan MCU

Jumat, 17 Agustus 2018 - 13:29 WIB

Follow Us