Provokasi

22 Agustus 2017 - 11.30 WIB > Dibaca 457 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Lagi-lagi, hubungan Indonesia dengan Malaysia panas dingin. Kali ini masalahnya dipicu oleh buku bertajuk suvenir spesial yang memuat gambar bendera Indonesia terbalik dan dibagikan kepada tamu undangan, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dalam acara pembukaan SEA Games 2017 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, akhir pekan lalu. Di halaman 80 dalam buku tersebut, ada bendera negara-negara yang pernah menjadi tuan rumah SEA Games. Bendera Indonesia, yang seharusnya Merah Putih, tercetak putih merah.

Kontan saja Menpora yang mendapat buku tersebut bereaksi melalui cuitannya di Twiter yang membuat rakyat Indonesia tergelitik dan kembali mengecam tuan rumah. Tak hanya itu, bendera Indonesia juga tertukar tempat dengan bendera Thailand saat pengumuman juara-juara umum. Sebuah kesalahan yang fatal dan tentu saja akan menimbulkan reaksi.

Tidak ada yang tahu pasti apakah ini disengaja atau kesilapan semata. Namun sebagai negara serumpun, tidak mungkinlah kiranya panitia Malaysia tidak mengetahui bendera negara tetangga dekatnya serta tidak melakukan pengecekan buku sebelum dibagikan. Ditambah lagi, pesta olahraga SEA Games merupakan acara olahraga bergengsi antar negara ASEAN yang bertujuan untuk saling mengeratkan kerja sama, pemahaman dan hubungan antar negara di kawasan Asia Tenggara, malah berbuah ketersinggungan dan menimbulkan permusuhan akibat masalah bendera. Walaupun terkesan hanya sebuah insiden bendera, namun hal ini sangat vital karena bendera adalah lambang yang mewakili sebuah negara. Melecehkan sebuah bendera sama halnya dengan melecehkan sebuah negara.

Kecurigaan sempat muncul karena ada­nya deretan masalah yang terjadi seputar bendera ini. Karena setelah itu, sebuah koran di Malaysia, Metro membuat kesalahan serupa. Metro  menampilkan infografik terkait SEA Games 2017 dengan judul “Mencari Jagoan”. Di dalamnya, bendera Indonesia juga dipasang terbalik, layaknya bendera milik Polandia. Kesalahan ini dilakukan tak hanya dalam satu gambar. Tercatat, ada kolom yang menuliskan kronologi siapa saja tuan rumah SEA Games di setiap tahun penyelenggaraan dan saat me­nyorot Indonesia, bendera tetap terbalik.

Kita tentu tak menginginkan adanya lagi sebuah kejadian yang bisa menimbulkan provokasi dan memicu ketegangan negara kita dengan Malaysia. Rasanya cukup sudah  ketegangan dan perang urat syaraf  yang dulu dikenal dengan sebutan konfrontasi digaungkan pada zaman Orde Lama. Ditambah lagi dengan provokasi-provokasi dan pancingan permusuhan beberapa tahun yang lalu, yang kembali menimbulkan sentimen anti Malaysia di negara republik ini.

Tak elok agaknya, sebagai negara serumpun, beragama yang sama, bertetangga dan bahkan dulu dua negara ini pernah berada dalam sebuah kerajaan besar, kini hubungannnya kembali retak akibat provokasi pihak-pihak tertentu. Seandainyalah, tidak ada penjajahan di bumi Nusantara ini, maka mungkin tidak adanya namanya negara Indonesia dan Malaysia yang timbulkan akibat dua penjajah bernama Belanda dan Inggris.

Masyarakat Indonesia sendiri saat ini, di dalam negeri juga terkesan ada sebuah adu domba dan provokasi yang membuat rakyat terpecah dan terkotak-kotak. Isu-isu Sara dan intoleransi terlihat seperti sengaja dihembuskan sehingga kita sebagai anak negeri saling caci maki dan menciptakan musuh dengan saudara sendiri. Persatuan dan rasa saling menghormati akhir-akhir ini makin menjauh dan secara tidak sadar kita sudah diadu domba.

Seperti yang pernah diungkapkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo bahwa isu intoleransi sengaja didesain untuk memecah belah persatuan dan kesatuan. Isu ini dimainkan untuk menguasai kekayaan alam Indonesia. Karena cadangan energi dunia semakin berkurang sehingga banyak yang beralih fungsi ke energi terbarukan melalui tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di Indonesia.

Kita tentu tidak ingin, muncul masalah baru akibat provokasi dengan tetangga dekat kita. Walaupun kita mempunyai sejarah konfrontasi dengan Malaysia, namun tentu kerugian yang akan dituai akibat ketegangan ini. Negara-negara lain yang ingin menguasai kita secara ekonomi tentu akan bersorak dan bertepuk tangan melihat kita sesama negara tetangga baku hantam. Dan akhirnya yang rugi adalah kita juga sebagai masyarakat. Jangan tambah penderitaan ekonomi yang saat ini sudah berat bertambah berat lagi.***
KOMENTAR
Terbaru
Ketua HHRMA Riau Periode 2018-2021 Dilantik

Kamis, 18 Oktober 2018 - 20:54 WIB

Warga Koto Tuo Baserah Berharap Produksi Padi Melimpah

Kamis, 18 Oktober 2018 - 20:00 WIB

Bupati Diberi Kehormatan

Kamis, 18 Oktober 2018 - 19:30 WIB

Dukungan Pemilu Damai Diapresiasi

Kamis, 18 Oktober 2018 - 19:00 WIB

Lima BUMD Terima Bantuan Pusat

Kamis, 18 Oktober 2018 - 18:30 WIB

Follow Us