Mendambakan Indonesia Bebas dari Penjajahan Koruptor

17 Agustus 2017 - 11.47 WIB > Dibaca 336 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) makin runyam atau makin dirunyamkan. Banyak sekali kasus yang berkaitan dengan kasus utamanya yang merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun itu. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Kasus terbaru adalah kematian salah satu saksi kunci, Johannes Marliem pada Kamis 10 Agustus 2017 lalu di Amerika Serikat.

Pihak kepolisian setempat menyebutkan, Johannes ditemukan di kediamannya di Beverly Grove, Los Angles. Dia diduga keras tewas bunuh diri. Ia ditemukan tewas dengan luka tembak, yang diduga berasal dari peluru miliknya sendiri. Johannes Marliem adalah provider produk Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merek L-1 yang digunakan dalam proyek e-KTP. Dia diduga memiliki peran penting dalam pengungkapan kasus e-KTP. Tapi malangnya, dia meninggal.

Kabar ini menambah daftar panjang masalah yang berkaitan dengan penyidikan KTP-el. Sebelumnya sudah ada kasus yang menimpa Novel Baswedan. Setelah 100 hari kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, ternyata kasusnya tak menunjukkan perkembangan yang berarti. Novel memang baru saja diperiksa kepolisian, namun substansi pemeriksaannya tak pernah menemukan greget. Semuanya seperti sengaja diapungkan dan menjadi peringatan bagi siapa saja yang terlibat dalam kasus KTP-el ini.

Kematian Johannes Marliem adalah “peringatan baru” terhadap orang-orang yang berada di dalam pusaran KTP-el. Terlalu banyak spekulasi yang beredar dalam kasus ini. Ada yang menyebut, Johannes Marliem stres karena banyaknya tekanan kepadanya. Pemberitaan yang luar biasa terhadap kasusnya telah menyebabkan dia stres dan akhinya memilih bunuh diri. Johannes merupakan direktur Biomorf Lone LCC, sebuah perusahaan membuat program pengelolaan identitas, salah satunya sidik jari otomatis seperti yang didapatkannya dalam proyek KTP-el.

Dalam wawancara salah satu media, Johannes mengaku memiliki rekaman percakapan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam skema pembayaran dan kontrak KTP-el antara pemerintah dengan Biomorf. Rekaman itu disimpan hingga ratusan gigabite. Data yang tentunya sangat penting dan mencari incaran. Inilah yang menyebabkan dia benar-benar dicari, baik oleh wartawan, pihak KPK, juga yang ingin agar kasus ini tak melebar sampai detil ke dirinya. Tapi Johannes buru-buru mengakhiri hidupnya. Tapi spekulasi lain merebak, bahwa kematian Johannes itu dipalsukan. Apalagi, konon di Amerika, dia punya pengaruh yang cukup kuat secara politis. Toh, Eddy Tansil pun konon pernah memalsukan kematiannya.

Spekulasi lain adalah soal siapa yang kira-kira diuntungkan dari kematian Johannes, jika memang dia benar-benar meninggal. Lalu siapa yang menekannya sehingga dia nekat bunuh diri. Semua itu menjadi pertanyaan yang menarik karena tak akan mudah mengungkap semuanya dalam waktu dekat. Satu kasus berkaitan dengan kasus lainnya sehingga korupsi KTP-el ini makin lama makin rumit.

Tapi harapan-harapan itu tentu saja ada bagi KPK, dan banyak warga Indonesia. Di hari kemerdekaan ini, rakyat tentu tak hanya mendambakan Indonesia bebas dari penjajahan, tapi juga dari korupsi yang kian merajalela. Rakyat sudah lelah melihat uangnya digunakan bukan untuk mereka, tapi malah untuk segelintir orang yang memperkaya diri dan kelompoknya sendiri.***
KOMENTAR
Terbaru
21 Oktober Seleksi Administrasi CPNS

Jumat, 19 Oktober 2018 - 17:00 WIB

Masyarakat Tak Dipungut Biaya

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:30 WIB

RAPBD 2019, Diproyeksi Rp1,3 T

Jumat, 19 Oktober 2018 - 16:00 WIB

Sakatonik ABC Talk Show Cemilan Sehat

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:43 WIB

SD Darma Yudha Borong Medali IMSO 2018 di Cina

Jumat, 19 Oktober 2018 - 15:32 WIB

Follow Us