Depan >> Opini >> Opini >>

Neri Widya Ramailis Dosen Kriminologi Universitas Islam Riau, dan Pakar Kriminologi Visual

Anomie Perilaku Pengguna Jalan

16 Agustus 2017 - 11.14 WIB > Dibaca 294 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Beredarnya video pemukulan yang dilakukan oleh oknum anggota TNI terhadap seorang anggota polisi lalu lintas tepat pada Kamis 10 Agustus 2017 lalu membuat heboh pengguna media sosial khususnya di daerah Pekanbaru. Dalam video berdurasi singkat tampak seorang anggota memakai jaket dan berseragam dinas TNI memukul helm yang terpasang di kepala anggota polisi lalu lintas dan kemudian menendang motor yang dikendarai oleh anggota polantas tersebut. Berdasarkan pemberitaan yang dikutip dari laman media riaupos online pada Jumat 11 Agustus 2017 yang diberi judul ”Insiden Pemukulan Polantas Oleh Oknum TNI Pihak Korem Langsung Minta Maaf”. Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto SIK membenarkan kejadian itu. Dia mengatakan, polisi yang dipukul helmnya merupakan personel Satlantas Polresta Pekanbaru yang sedang melakukan patroli di sekitar Jalan Sudirman tepatnya di depan Plaza Sukaramai (Ramayana).

Menurut hemat saya, saat ini tingginya arus lalu lintas kendaraan bermotor setiap hari di jalanan akan berdampak buruk terhadap kenyamanan lingkungan kota. Kondisi kemacetan dan ketidaktertauran di jalan raya acap kali terjadi. Ditambah dengan maraknya fenomena perilaku pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas menjadi isu sentral pemerintah Indonesia dalam menjalankan aktivitas pemerintahan dan membuat kebijakan berkaitan tentang keselamatan masyarakat sebagai pengguna jalan raya. Selain itu, untuk meningkatkan kinerja dan efektivitas penegak hukum khususnya pihak kepolisian dalam menjalankan Tupoksi (tugas pokok kepolisian) yang telah dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 yakni memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; menegakkan hukum; dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Sangat menarik tentunya fenomena yang sedang viral untuk dibahas lebih lanjut. Ada dua hal yang menjadi fokus pembahasan dalam tulisan ini. Pertama, mengenai fenomena perilaku pengendara yang melakukan pelanggaran. Kedua, bagaimana penegak hukum terutama polisi lalu lintas dalam menyikapi dan menindak kasus pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pengendara sepeda motor maupun pengemudi mobil yang terjadi setiap hari di jalan raya.

Anomie Lalu Lintas Bentuk Everyday Life Crime
Untuk menjawab pembahasan pertama pada ulasan ini yakni mengenai perilaku pengendara. Perlu untuk kita ketahui bersama bahwa setiap individu masyarakat dalam hal ini pengendara atau pengemudi berpotensi untuk melakukan pelanggaran lalu lintas. Baik itu dari segi usia, ras, gender, profesi, agama dan lain sebagainya mulai dari anak-anak sampai dewasa bahkan orang tua sering sekali melakukan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Selain banyaknya menimbulkan dampak negatif, perilaku ini juga dapat merugikan kedua bela pihak baik pelaku maupun korban yang ditimbulkan.

Berbicara tentang perilaku pengendara sepeda motor yang melakukan pelanggaran lalu lintas dalam studi kriminologi fenomena ini dilihat sebagai bentuk kejahatan dalam kehidupan sehari-hari (Everyday Life Crime). Menurut Mustofa (2010:197) kejahatan tersebut berada pada kawasan abu-abu, berada antara tindakan yang tidak legal atau tidak bermoral. Termasuk dalam kategori ini adalah seperti menerobos lampu lalu lintas yang berwarna merah, mengendarai kendaraan dengan melawan arus, tidak memakai helm saat berkendara, menghindari pembayaran pajak, dan klaim asuransi tidak jujur. Tindakan tersebut lebih sering dikategorikan sebagai tidak bermoral atau tidak jujur baik oleh pelaku maupun korbannya.

Di lain hal, fenomena perilaku pengendara sepeda motor yang tidak disiplin dalam berkendara juga dilihat sebagai kondisi Anomie dalam konteks demoralisasi yang terjadi di masyarakat pada saat sekarang ini. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Durkheim, dalam The Division of Labour In Society (1893/1964) menggambarkan terjadinya keadaan deregulasi (deregulation) di masyarakat, diartikan sebagai tidak ditaatinya aturan-aturan yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat, dan orang tidak tahu apa yang diharapkan dari orang lain. Keadaan deregulation atau normlessness ini yang menimbulkan perilaku deviasi yang dilihat sebagai bentuk krisis moralitas.

Oleh sebab itu, mengapa fenomena perilaku pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor muncul sebagai kondisi anomie lalu lintas karena jika dilihat dari pola dan pergerakan kejahatan ini terjadi setiap hari bahkan setiap waktu sehingga menjadi sebuah budaya menyimpang dan kebiasan yang dibiasakan. Perilaku salah ini dianggap sebagai hal yang lumrah dilakukan oleh setiap individu masyarakat karena adanya batasan toleransi yang muncul di lingkungan masyarakat itu sendiri terhadap pelaku pelanggaran lalu lintas.

Hal ini juga tidak lepas dari lemahnya kontrol sosial dan penegakan hukum dalam menindak pelaku pelanggaran lalu lintas. Sebaiknya penegak hukum, dalam hal ini polisi lalu lintas tegas dalam memberikan sanksi terhadap mereka yang tidak taat pada peraturan. Akan tetapi, permasalahan ini tidak dapat sepenuhnya dilihat dari perspektif penegakan hukum saja, karena fenomena tersebut berkaitan dengan permasalahan perilaku masyarakat, di mana rusaknya moralitas dan mulai lunturnya penerapan terhadap nilai-nilai dan norma di masyarakat khususnya para pengendara sepeda motor dan pengguna jalan raya.***
KOMENTAR
Terbaru
Syamsuar Ajak Warga Introspeksi Diri

Jumat, 22 September 2017 - 15:47 WIB

Tenda Bantuan Berhasil Dibangun

Jumat, 22 September 2017 - 14:54 WIB

18 CSO Tinjau Pembangunan Lingkungan Siak

Jumat, 22 September 2017 - 14:44 WIB

Auditor BPK Terima Suap

Jumat, 22 September 2017 - 14:41 WIB

KPU Ajak Peretas Bantu Jaga Sipol

Jumat, 22 September 2017 - 14:41 WIB

Follow Us