Depan >> Opini >> Opini >>

MS Viktor Purhanuddin Penulis Buku Pendidik Musik Berdarah Tionghoa. Konsultan Pendidikan Anak Usia Dini

Membumikan Lagu Indonesia Raya

12 Agustus 2017 - 10.50 WIB > Dibaca 487 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Sebentar lagi negeri ini akan memperingati hari lahirnya. Pasca-kemerdekaan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan perubahan dan perkembangan masyarakat ke arah yang lebih komplek sehingga menimbulkan masalah-masalah sosial. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mengakibatkan munculnya gejala yang sangat memprihatinkan terhadap nasionalisme dan patriotisme. Kini banyak anak-anak yang tidak peduli terhadap tanah air dan bangsanya. Nasionalisme merupakan kunci untuk mengatasi keberagaman adat istiadat, agama, budaya serta etnis.

Tanpa nasionalisme sebagai alat pemersatu maka sulit untuk mencapai titik temu dari berbagai masalah etnik sehingga perbedaan itu bukan dipandang sebagai konfik melainkan kekayaan budaya. Sikap cinta tanah air merupakan mencintai dan mau membangun tanah air menjadi lebih baik, sikap bangga, ikut serta dalam pembelaan negara, mempertahankan kemerdekaan, dan menghormati adanya bendera, bahasa dan lambang negara serta lagu kebangsaan Indonesia. Bahwa bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan Indonesia merupakan kebudayaan yang berakar pada sejarah perjuangan bangsa, kesatuan dalam keragaman budaya, kesamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berkenaan dengan masalah dekadensi nasionalisme dan patriotisme yang makin kemari makin krusial. Keberadaan lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi viral untuk dikupas lebih dalam, karena musik adalah alat pemersatu yang universal, mampu diterima di setiap pelosok negeri dengan bahasa mustajabnya. Para pakar psikolog sepakat akan hal itu, bahwa musik dapat mempengaruhi manusia dengan cara-cara yang unik dan spektakuler. Makna heroik serta cinta tanah air termaktup di dalamnya, pesan pemersatu dalam kemajemukan tidak luput dalam pesan syairnya. Lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan ungkapan cetusan cita-cita nasional. Di situlah poin penting mengapa Indonesia perlu membumikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tidak hanya dinyanyikan pada ritul acara resmi namun juga dinyanyikan setiap hari.

Terciptanya lagu Indonesia Raya dimulai dengan sikap patriot WR Supratman seorang nasionalis, wartawan, dan seniman yang tergugah hatinya, setelah membaca sebuah artikel dalam surat kabar  Fajar Asia, artikel itu menyebutkan “siapa yang dapat menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dapat membangkitkan semangat rakyat”. Artikel yang semula dimuat dalam majalah Timboel terbit di Jogjakarta, kemudian dikutip oleh surat kabar  Fajar Asia pimpinan H Agus Salim. Artikel itu dibaca Supratman dan mengilhaminya dalam mempersatukan pemuda Indonesia lewat lagu ciptaannya. Meskipun lagu ”Indonesia” ciptaannya telah disosialisasikan dan diperlihatkan kepada rekannya Sugondo Jayopuspito, A Sigit Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia dan Monotutu dipastikan bahwa lagu itu memenuhi syarat sebagai sebuah kriteria lagu kebangsaan.

Penciptaan lagu kebangsaan dengan semangat patriotisme merupakan upaya menyampaikan pesan konstruktif melalui musik. Harus diakui bukanlah pekerjaan mudah menghasilkan  serangkaian lirik penuh makna di sebaliknya dengan ilustrasi musik yang menyertainya.  WR Supratman sebagai pemuda ikut mendorong semangat perjuangan lewat lagunya setelah melalui lobi yang cukup panjang dengan para pemuda. Dengan diilhami cita-cita kebangkitan nasional Boedi Utomo 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 yang mengikrarkan sumpah pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Kesempatan itu dipergunakan oleh Supratman memperkenalkan lagunya di dalam ruang peserta kongres pemuda di gedung Indonesische Club, Kramat 106 Jakarta. Betapa hebatnya lagu disambut peserta dan beliau menerima ucapan selamat dari rekan-rekannya.

Di lain pihak, Supratman memperoleh tudingan dari komponis pribumi karena memilih musik barat yang berakar dari Barat. Perlu dipahami bahwa konotasi Barat pada waktu itu sama artinya dengan kaum penjajah, sehingga lagu yang bernada Barat tentunya tidak layak disebut sebagai  lagu kebangsaan. Selain memicu timbulnya konfik untuk merealisir gagasan ini, maka para empu gamelan tahun 1930-an sibuk memodernisir gamelan, dari segi praktik maupun teori agar musiknya dapat diterima etnis lain. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis dalam buku kecil Muhamad Yamin bahwa usaha-usaha memainkan lagu ”Indonesia” terbukti mengalami kegagalan karena secara teknis lagu itu memakai sistem tangga nada diatonis, sedang gamelan memakai sistem tangga nada pentatonic. Supratman memang tidak memasukan unsur, Melayu, Jawa, India, maupun Cina yang notabene menjadi simbol identitas kaum pribumi ketika itu tanpa alasan yang kuat. Namun diakuinya bahasa Melayu sebagai bahasa nasional  sekaligus pemberlakuan musik diatonis sebagai musik nasional.

Berkumandangnya lagu ”Indonesia” awalnya dengan jumlah 81 birama ini memakai irama  wals 6/8. Analisis lagu ini tidak memiliki tekanan yang kuat untuk menjadi irama mars, karena aksen yang datar dengan tempo lambat iringan musiknya dengan tangga nada C natural sesuai register instrumen biola dan belum memperhitungkan ambitus suara vokal manusia. Dalam kebanyakan musik terdapat jumlah ketukan-ketukan yang sama untuk setiap birama. Ketukan  wals dihitung tiga ketukan (triple) atau sukat susun 6 ketukan dalam satu birama. Risikonya lagu ini terasa lebih berat banyak memakai jumlah birama pada musiknya.

Lagu ”Indonesia” sebagai diplomasi awal memang peranannya sangat kuat untuk mempersatukan para pemuda diprediksi saat itu bangsa Indonesia belum berani terbuka dan berterus terang secara politis melawan penjajah, tentu sangat hati-hati dan tidak perlu memakai lagu bersifat mars. Lagu ini ditekan sedemikian termasuk strategi yang harus digunakan agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak penguasa pemerintah Belanda, terutama makna dari syair yang terkandung misalnya syair Indones, Indones, moelia, moelia pada klimaks lagu penciptanya memilih kata-kata yang halus, tetapi dapat juga memberi penguatan mental dan mampu membangkitkan semangat pemuda kala itu untuk bersatu.

Daya tarik tersebut akhirnya kaum pergerakan mempelajari lagu ini secara diam-diam, apabila belum memiliki notasi syairnya, dengan kesadaran mereka meminjam kepada teman kemudian disalin dan dihafalkan. Adakalanya pemuda menyanyikannya di saat bekerja atau sedang beristirahat. Penyebarluasan lagu di masa kolonial Hindia Belanda, bukan saja dilakukan oleh organisasi politik, tetapi juga pers dan dunia dagang. Perusahan piringan hitam produksi Yokimcan berhasil merekam lagu ”Indonesia” di luar negeri, tetapi karena ada larangan Pemerintah Belanda akhirnya sebuah piringan hitam berhasil diselundupkan ke Indonesia. Harian Soeloeh pada 7 November 1928 memuat teks lagu ”Indonesia” Sinpo dalam edisi majalah mingguan November 1928 juga memuat teks lagu ini. Supratman ikut berperan menyebarluaskan lagunya dengan melatih para pelajar, serta membagikan selebaran pamflet lagu ke masyarakat. Ilmu pengetahuan musik yang dimiliki WR Supratman diperoleh secara otodidak dan non-formal. Ilmu itu tidak dia dapatkan dari lembaga pendidikan formal, melainkan proses pembelajaran individual dari pemusik Barat, makanya dia lebih dikenal sebagai seorang nasionalis sejati.

Seiring keberadaan lagu itu, perjuangan diplomasi terus dilakukan oleh para tokoh pergerakan berbagai etnis di antaranya Sukarjo Wiryopranoto di Dewan Rakyat Hindia Belanda (Volksraad) mengusulkan, lagu ”Indonesia” diakui di samping lagu kebangsaan ”Wilelmus”. Sukardjo Wiryopranoto tokoh pergerakan nasional, memperjuangkan lagu agar diakui pemerintah Belanda. MH Thamrin tokoh Betawi ikut memperjuangkan lagu ”Indonesia” agar dapat diterima oleh pemerintah Belanda. Pidatonya 11 Juli 1939 di Volksraad, MH Thamrin mengecam pemerintah Belanda bersikap merendahkan Indonesia. Buya Hamka ulama dari Sumatera Barat mengatakan, lagu ”Indonesia” telah diterima oleh seluruh rakyat Indonesia, sudah sewajarnya Belanda mengakui lagu itu sebagai lagu Kebangsaan Indonesia. Di lain pihak, pengakuan itu telah membuat pemerintah kolonialisme melarang istilah kebangsaan. Jonkheer de Graeff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan sinis mengatakan bahwa lagu ”Indonesia” tidak lebih dari lagu clublied atau lagu sebuah perkumpulan.

Dari uraian di atas, maka pertama dapat dianalisis fungsi lagu ”Indonesia” kala itu, untuk mempersatukan para pemuda berlatar belakang berbagai etnis disebut sebagai perintis kemerdekaan. Oleh karena itu, lebih akurat dan netral hanya lewat musik diatonis pilihan satu-satunya sebagai alat perjuangan. Pengakuan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan akibatnya kedudukan bahasa nasional menjadi alat komunikasi terpenting dalam berdiplomasi melawan penjajah termasuk teks syair lagu yang terkandung di dalamnya. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi merupakan pemersatu berbagai etnis yang berbeda-beda merupakan kekalahan bagi bahasa Belanda yang diberlakukan sebagai bahasa pengantar sejak kongres pemuda pertama tahun 1926. Kedua fungsi lagu ”Indonesia” diakui sebagai jati diri bangsa menjadi perdebatan yang hangat di kalangan kaum intelektual pribumi.

Polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1930-an antara kelompok yang berpikiran nasionalis tradisional dan kelompok ultranasionalis merupakan fakta yang penting guna digarisbawahi. Polemik menunjukan komitmen kaum intelektual pribumi terhadap masa depan bangsa Indonesia. Kelompok nasionalis tradisional dengan tokohnya Ki Hadjar Dewantara dan Ali Boediardjo menginginkan jati diri bangsa Indonesia dibangun di atas nasionalisme yang tetap berakar pada budaya tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur bangsa. Sebaliknya kelompok ultranasionalis yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane menghendaki sebuah wacana Indonesia baru yang dibangun di atas reruntuhan budaya lokal. Pemikiran tentang jati diri bangsa Indonesia di masa depan hendaknya merupakan sebuah diskontinunitas sejarah, dengan mengubur dalam-dalam chauvinisme etnisitas beserta simbol-simbol budaya lokalnya.

Menyongsong peringatan hari jadi bangsa ini, sudah seharusnya kita renungkan apa yang ada pada lagu Indonesia Raya. Sebuah lagu berkekuatan super yang sangat efektif menenangkan dan mendatangkan inspirasi bagi banyak orang. Alunan suara nada-nada yang disusun berdasarkan irama bernafaskan kebesaran (maetoso) pada lagu tersebut dapat membentuk jiwa-jiwa nasionalis patriotis. Seandainya masyarakat lebih mau memahami dan menanamkan dalam-dalam pesan dari lagu Indonesia Raya kiranya akan tumbuh benih benih tanaman (patriotisme dan nasionalisme). Banyangkan makna esensi ketanahairan akan tersuntik pada setiap insan yang menyanyikannya.***
KOMENTAR
Terbaru
Pemko Gerah Pasar Kaget Marak

Selasa, 17 Oktober 2017 - 11:00 WIB

Berjuang Jadi Janda

Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:55 WIB

Sampah Rajawali Tak Ada Solusi

Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:52 WIB

Menjaga Jalur Hijau

Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:48 WIB

Ubah Sampah Jadi Gas

Selasa, 17 Oktober 2017 - 10:45 WIB

Follow Us