PR Abadi di Musim Balek Kampong

19 Juni 2017 - 10.52 WIB > Dibaca 427 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - BULAN Ramadan sudah lebih dari separuh dijalani. Beberapa hari ke depan, umat muslim bakal menyongsong Idul Fitri. Kelaziman setiap menyambut hari raya tersebut, jutaan rakyat Indonesia rela berjibaku melakoni tradisi mudik alias balek kampong.

 Jarak ratusan kilometer dan beratnya medan serta gelombang sama sekali tidak menjadi halangan bagi para pemudik. Kalah oleh kuatnya dorongan untuk pulang ke kampung dan berhari raya bersama sanak keluarga. Begitu  besarnya gairah warga untuk mudik, pemerintah pun harus turun tangan.

Beragam langkah dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada para pemudik. Moda transportasi darat, laut dan udara disiapkan dengan baik. Jumlah penerbangan ditambah, gerbong kereta diperbanyak, hingga armada bus cadangan pun dikerahkan. Apalagi, belakangan, tradisi baru juga muncul, yakni mudik menggunakan sepeda motor. Infrastruktur pendukung arus mudik juga digarap serius. Jalan yang rusak diperbaiki. Jembatan baru dibangun untuk melancarkan perjalanan.

Ribuan petugas pun diturunkan untuk mengamankan ritual mudik. Sayangnya, meski telah bertahun-tahun dipersiapkan dan dijalani, ritual mudik masih saja menyisakan masalah, semacam PR abadi di setiap musim balek kampong. Mulai infrastruktur yang tidak siap hingga jatuhnya korban jiwa karena kecelakaan. Memang, kadang kecelakaan yang terjadi bukan karena kondisi jalan atau kendaraan yang tidak layak. Faktor manusia (human error) sering menjadi pemicu terjadinya kecelakaan yang merenggut korban jiwa. Terlepas dari itu, pembenahan infrastruktur mudik mutlak dilakukan.

Entah mengapa, uji kir kendaraan, perbaikan atau pembangunan jalan kerap dilakukan justru ketika momen mudik sudah sangat dekat. Semua daerah seakan kompak memulai perbaikan jalan pada beberapa minggu menjelang Idul Fitri. Hal itu membuat hasilnya tidak maksimal. Selain karena waktu yang mepet, pengerjaannya pun terkesan asal jadi. Alhasil, ada ruas jalan yang tahun lalu diperbaiki untuk persiapan mudik, tahun ini kembali masuk daftar proyek perbaikan.

Perbaikan jalan menjelang Hari Raya seakan menjadi proyek abadi yang tidak ada habisnya. Pertanyaannya, mengapa proyek tersebut tidak dilakukan jauh hari sebelum Idul Fitri? Mengapa tidak dilakukan enam bulan sebelumnya, misalnya, sehingga bisa rampung sebelum Ramadan dan nyaman digunakan saat mudik? Bukankah lebih enak kalau infrastruktur mudik itu diselesaikan jauh hari sebelum bulan puasa.

 Ini penting selalu kita ingatkan, sebab tradisi mudik tidak akan pernah berakhir. Persiapan yang lebih baik harus dilakukan semua pihak agar ritual yang melibatkan jutaan orang itu berjalan lancar dan nyaman.

Lebih penting lagi, khusus bagi para pemudik, jangan memaksa orang lain ‘’memikirkan’’ keselamatan kita. Kecelakaan, sekecil apa pun, pasti akan menimbulkan sesal dan dapat merusak kebahagiaan berhari raya.***
KOMENTAR
Follow Us