Sajak-sajak M Badri

22 Juli 2012 - 10.05 WIB > Dibaca 5040 kali | Komentar
 
Musisi Tua

Dari balik lensa matahari pagi
aku melihat jemarimu memetik sunyi
menyusun beberapa simfoni
di antara secangkir kopi
dan sekerat roti

Di sebuah kedai
kursi bambu betung
menjelma panggung
beriring tetabuhan
lautan dan dedaunan

Sepasang stiker kehidupan
melekat di lekuk gitarmu
yang selalu gemetar
saat menerjemahkan nada
dengan suara samar

Menyanyikan perjalanan
yang menjadi kenangan
tanpa luka
menggarami cinta
pada suatu masa

Di sepanjang dawai
ada cerita tersembunyi
yang mengalun merdu
dalam lagu sendu
serupa duka rindu

Padang, 2011


Arca Jelita

Di balik pinggul indahmu
ada setangkup rahasia
yang menyihir para pria
untuk berburuk sangka
atau menaruh cinta

Tarianmu semakin menggoda
ketika lelampu jalan
menghentikan detak jam
dari pagi hingga malam
saat panas atau hujan

Barangkali ada sepasang peri
yang bersimpuh di tubuhmu
sambil merapal mantra
peluruh jiwa
pelebur murka

Goyanganmu menjadi binal
ketika penonton di seberang
terbius irama gendang
menenggak liur sampai mabuk
memuntahkan mimpi buruk

Kerling matamu yang liar
menebar segala pesona
menunggu para pria
menjadi jalang
atau menghunus pedang

Pekanbaru, 2012


Kopi Dini Hari


Aku ingin mengaduk rempah
yang bersari di tubuhmu
hingga serpihan gula
menghapus jejak malam
di cangkir kaca

Aku ingin menjadi semut
yang merayap di pelukmu
mencecap manisnya rasa rindu
dan hangatnya seteguk cinta
menjelang pagi tiba

Rasa pahit di lidah
dan sisa asam di mulut
seketika larut
ketika bibir dan cangkir
saling berpagut

Hingga endapan rempah
luruh dalam lelah
usai membiakkan kata
dengan peribahasa
paling purba


Pekanbaru, 2012


Ketika Lampu Padam

Kulihat siluet matamu
menyala di balik pintu
ada sepasang curiga
seperti para peronda
di gardu jaga

Langkah kaki ini
berdetak seperti arloji
menghilang di serambi
bersama sebatang korek api
menyala ganjil

Hembusan angin di jendela
meniupkan bising malam
dan pijar bintang
bersiul di galaksi
paling sepi

Berapa lama lagi
aku harus menunggu
sambil mengeja rindu
yang terselip
di koran minggu

Sebab masih ada cemburu
yang menghantui
letupan-letupan imaji
seperti riwayat gunung api
ketika mati suri

Pekanbaru, 2012


Tanda di Atas Pasir

Badai menerbangkan pasir
yang diburu para serdadu
di rerimbun batu nisan
seperti riuh ikan
tersangkut jaring nelayan

Reranting di atas dangau
melesat seperti peluru
ke kafe-kafe
berirama sumbang
di bising malam

Kau di sana,
mengayuh murka
sambil meniup bara
yang menyala di kepala
sejak kapal tiba

Ini bukan sandiwara
katamu, sambil meracik kata
yang terserak di pinggir kota
ditemani para bidadari
dari ujung hati sampai mata kaki

Lalu kau tiup juga
lilin yang melelehkan ingatan
tentang kematian
kampung halaman
dan sedu sedan

Kuta, 2011



M Badri
menulis puisi dan prosa di sejumlah media massa dan antologi bersama. Kini bermastautin di Pekanbaru. Sebagian besar karyanya tersimpan di http://negeribadri.blogspot.com.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 Februari 2018 - 02:17 wib

Ahok Akan Sampakan Bukti Istrinya Selingkuh

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:56 wib

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:43 wib

18 Tahun Hino Ranger Jadi Market Leader di Indonesia

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:16 wib

KFC Tutup Ratusan Restorannya

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:58 wib

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:44 wib

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:31 wib

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:02 wib

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Follow Us