Ratusan Tahun Melawan

Minggu, 11 Nov 2012 - 07:41 WIB > Dibaca 9300 kali | Komentar

ENTAH bagaimana awalnya, dalam pesan pendek (SMS) pada Abdul Wahab semalam, saya menulis, ‘’Bersamaan dilaksanakannya haul Sultan Syarif Kasim II pada Sabtu (10/11) di Siak Sri Inderapura, saya kirim seuntai fatihah pada pahwalan itu,’’ tulis saya.

Tak saya sangka, kalimat itu melecut ingatan Wahab dari abad-abad yang jauh. ‘’Ingatlah juga bagaimana Riau menyerbu Portugis di Melaka, sampai ribuan orang-orang terbantai di Rengat 5 Januari 1949. Seperti dinukilkan dalam beberapa buku sejarah di Riau, hampir 450 tahun wilayah ini berkucah mengusir penjajah asing, yang hampir lepas luncas dari catatan, juga dari teks-teks sekolah—tempat generasi penerus memupuk pemahaman jati diri,’’ balas Wahab.

Hanya setahun setelah kejatuhan Melaka ke tangan Portugis yakni pada 1512, orang-orang Gasib, Bukit Batu, Bengkalis dan wilayah pesisir lainnya, melintasi Selat Melaka untuk mengusir Portugis agar Sutan Mahmud dapat lagi bertahta sebagai simbol penyatuan Melayu. Pada 1516, Raja Khoja Ahmad dari Siak bersama Laksemana Bukit Batu, kembali mengerahkan pasukan mereka, bergabung dengan armada Melayu lainnya di Bintan.

Ini dilanjutkan pada 1520, Nara Singa II dari Indragiri bahkan memimpin armada Melayu menyerang Portugis di Melaka. Berundur ke Bintan karena penduduk tempatan jadi kebuluran akibat kepungan mereka, Nara Singa tetap menyusun kekuatan untuk mengusir Portugis. Secara rutin ia mengirim pasukannya terutama dari Reteh untuk memperkuat armada Melayu yang bertahan di Bintan. Pada 1527, ia mempersiapkan sendiri pasukannya di Reteh untuk menyerang Melaka. Sementara rakyat Siak, Bukitbatu dan Bengkalis, kembali menyerang Portugis dengan menggabungkan diri bersama tentara Aceh tahun 1547.

Perlawanan terhadap penjajah berikutnya, juga diperlihatkan Melayu Riau ketika Belanda menguasai kawasan ini, ditandai kekalahan Portugis dari Belanda di Melaka tahun 1641. Berbagai pertempuran silih berganti di antara kawasan Selat Melaka dan pesisir timur Sumatera. Di antara pertempuran yang dapat dicatat adalah dinamakan perang Guntung, Reteh, Riau, Siak, Tambusai, Sintong, Siarang-arang, Sedinginan, Limo Koto Kampar dan Kuantan. Malahan, suku asli yakni Suku Akit di Kecamatan Merbau, Kabupaten Meranti, menciutkan Belanda akibat serangan mereka secara gagah berani yang dipimpin oleh Koyan.

Pada 1759 misalnya, Raja Mahmud di Siak yang didampingi panglimanya Said Umar, menyerang Guntung. Mereka berhasil merampas benteng Belanda dan Belanda terusir dari situ. Tak lama kemudian, penguasa Siak, Sultan Alamuddin Syah bersama panglimanya, Muhammad Ali, mengusir Belanda sampai ke Melaka. Beberapa waktu kemudian, orang-orang Melayu Riau di kawasan Selat Melaka, juga sibuk mengusir Belanda antara lain di bawah pimpinan Raja Haji, 1782-1784.

Berbagai pertempuran muncul setelah itu. Tapi secara mengejutkan, Belanda harus menghadapi penyerangan yang dilakukan Tuanku Tambusai—anak jati Melayu Riau dari Rokan—di benteng Fort Amerogen, Rao (kini di Sumatera Barat). Berbagai perperangan yang dipimpinnya membuat Belanda baik di kawasan yang sekarang masuk ke dalam wilayah administratif Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau sendiri, kalang-kabut.

Kenangkan jugalah apa yang terjadi di Reteh yang kini berada di Kabupaten Indragiri Hilir, tahun 1850-an. Semula, Reteh senantiasa dijadikan sebagai tempat persiapan bahkan ‘arena’ pertempuran. Tapi dari kawasan ini juga muncul seorang pemimpin yang bernama Panglima Besar Sulung. Ia memimpin Melayu Riau menyerang Belanda meskipun dapat ditaklukkan tahun 1858, setelah Belanda mengirim ekspedisi khusus ke Reteh.

Perlawanan yang luar biasa juga diperlihatkan Datuk Tabano dari Bangkinang, Kampar, sebagai pemimpin perlawanan rakyat Limo Koto. Setelah menguasai Limo Koto, menyusul wafatnya Datuk Tabano, Belanda mendapat gempuran dari Telukkuantan, Gunung Sahilan, Lipat Kain dan Kuntu, Lubuk Ambacang, Lubuk Tempurung, Lubuk Jambi, Padang Bonai dan Manggis. Cukup besar pula perjuangan Sultan Zainal Abidin di Rokan yang terus menggempur Belanda 1901-1904. Ia menolak apapun bentuk hubungan dengan Belanda, sampai mengirim utusan ke Ipoh (Malaysia) dan Turki untuk mengenyahkan Belanda dari tanah kelahirannya.

Perlawanan masyarakat Melayu Riau, juga amat kelihatan ketika Inggris dan Jepang berada di kawasan ini. Tercatat pertempuran di Rokan, Bengkalis, Bukit Batu dan Siak. Sedang perlawanan terhadap Jepang, terutama terjadi di Enok, Indragiri Hilir dan Labuhan Tangga (Rokan Hilir). Di Enok, pertempuan diawali dengan ketidakmauan masyarakat menyerahkan hasil tanaman mereka kepada Jepang. Sementara di Labuhan Tangga, dipicu oleh larangan Jepang terhadap pelaksanaan takbir dan Salat Idul Fitri tahun 1944.

‘’Selain kepada Sultan Syarif Kasim II, sempena Hari Pahlawan Nasional ini, secara khusus marilah kita kirimkan al-Fatihah kepada mereka semua,’’ ajak Wahab. Saya setuju, al-Fatihah... ***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 418 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 39 Klik

Follow Us