Depan >> Opini >> Opini >>

Franky Manurung Guru SMAN 4 Mandau

Urgensi Motivasi dalam Belajar

18 Maret 2017 - 10.39 WIB > Dibaca 350 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Dalam dunia pendidikan, keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual saja, melainkan juga oleh faktor non-intelektual lain, yang tidak kalah pentingnya dalam menentukan hasil belajar seseorang. Salah satunya yaitu kemampuan seorang siswa memotivasi dirinya.

Pada hakikatnya, motivasi terdiri dari dua bentuk yaitu: Motivasi positif artinya motivasi yang berbentuk positif yang sifatnya memberikan dorongan ke arah yang positif, misalnya, motivasi melalui pemberian hadiah bagi seorang peserta didik yang berprestasi. Dengan pemberian hadiah maka peserta didik akan mempunyai keinginan untuk lebih giat dalam pembelajaran, dan diharapkan para peserta didik dapat meningkatkatkan cara belajarnya sehingga dapat mencapai prestasi yang lebih baik.

Motivasi negatif artinya motivasi yang berbentuk negatif yang sifatnya juga memberikan dorongan ke arah yang positif. Misalnya, dengan pemberian hukuman kepada peserta didik apabila siswa tersebut melakukan kesalahan, tentunya bertujuan agar peserta didik tidak mengulangi kesalahan. Pemberian hukuman memang efektif untuk mencegah atau mengurangi kesalahan. Namun sikap untuk tidak berbuat salah tidak otomatis meningkatkan gairah belajar, atau dapat meningkatkan motivasi untuk menjadi lebih baik, karena umumnya kedua jenis motivasi ini digunakan dalam porsi yang tepat.

Pemberian motivasi sangat penting artinya dalam proses bembelajaran, karena denga adanya motivasi mendorong semangat belajar dan sebaliknya kurang adanya motivasi akan melemahkan semangat belajar. Jadi motivasi merupakan syarat mutlak dalam proses pembelajaran. Seorang siswa yang tanpa motivasi (atau kurang motivasi) tidak akan berhasil dengan maksimal. Guru sebagai seorang pendidik harus tahu apa yang diinginkan oleh para siswanya. Seperti keperluan untuk berprestasi, karena setiap siswa memiliki keperluan untuk berprestasi yang berbeda satu sama lain.

Tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, mereka cenderung takut gagal dan tidak mau menanggung risiko dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi. Meskipun banyak siswa memiliki motivasi untuk berprestasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal dari dalam diri sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa yang lain.

Siswa yang datang ke sekolah memiliki berbagai pemahaman tentang dirinya sendiri secara keseluruhan dan pemahaman tentang kemampuan mereka mempunyai gambaran tentang dirinya sebagai manusia dan tentang kemampuan dalam mengahadapi lingkungan. Ini merupakan cap atau label yang dimiliki siswa tentang dirnya dan kemungkinan tidak dapat dilihat oleh guru namun sangat mempengaruhi proses pembelajaran siswa. Gambaran itu mulai terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, yaitu keluarga dan teman sebaya maupun orang dewasa lainnya, dan hal ini mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.

Berdasarkan pandangan di atas dapat diambil pegertian bahwa siswa datang ke sekolah dengan gambaran tentang dirinya yang sudah terbentuk. Meskipun demikian, guru tetap dapat mempengaruhi maupun membentuk gambaran siswa tentang dirinya itu, dengan tujuan agar tercapai gambaram tentang masing-masing siswa yang lebih positif. Ditambah lagi  guru memberikan penghargaan, bersikap mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa-siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar, sedangkan dorongan intelektual adalah keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang hebat, sedangkan untuk mencapai kesuksesan termasuk keperluan emosional, yaitu untuk berprestasi.

Adapun tujuan dari motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang guru atau pendidik, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau mengacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan di dalam kurikulum sekolah.

Sebagai contoh seorang guru memberikan pujian kepada seorang siswa yang maju ke depan kelas dan dapat mengerjakan soal di depan kelas, dengan pujian itu, dalam diri anak tersebut timbul rasa percaya pada diri sendiri, di samping itu timbul keberaniannya sehingga ia tidak takut dan malu lagi jika disuruh maju ke depan kelas.

Dari uraian di atas jelas kiranya bahwa motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan, makin berharga  tujuan itu bagi yang bersangkutan makin kuat pula motivasinya. Jadi miotivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang.

Lalu bagaimanakah cara untuk meningkatkan motivasi siswa agar mereka memiliki prestasi yang tinggi? Ada beberapa strategi yang bisa digunakan untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, di antaranya adalah: Menjelaskan tujuan belajar ke siswa. Pada permulaan pembelajaran seharusnya terlebih dahulu guru menjelaskan mengenai tujuan pembelajaran khusus yang akan dicapai oleh siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

Memberi angka. Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya, banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka/ nilai yang baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat.

Ego–Involment. Yakni menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras mempertaruhkan harga diri, adalah salah satu bentuk motivasi yang cukup penting

Memberikan hadiah untuk siswa yang berprestasi, akan memacu semangat peserta didik untuk bisa belajar lebih giat lagi, disamping itu siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar siswa yang berprestasi. Contohnya hadiah berupa buku atau pena yang dapat mendukung pembelajaran siswa.

Bersaing atau kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. Contohnya dengan memberikan kuis atau beberapa permainan dalam pembelajaran pada siswa yang dapat meningkatkan persaingan di antara peserta didik, sehinga dapat bersaing dengan optimal untuk mencapai prestasi.

Memberikan pujian. Memberikan pujian atau penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi sudah sepantasnya dilakukan oleh seorang guru yang bersifat membangun. Sehingga meinimbulkan rasa percaya diri yang tinggi bagi  peserta didik dan ingin mendapatkan kembali pujian dari guru yang bersangkutan.

Memberikan hukuman. Hukuman berupa sanksi diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar, hukuman ini diberikan dengan harapan agar perserta didik tersebut mau mengubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya, misalnya ketika siswa tidak mengerjakan pr maka guru dapat memberikan sanksi berupa hukuman mengerjakan ulang sebanyak 3 kali.

Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar. Memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung merupakan hal yang sangat penting bagi seorang guru, sehingga membangkitkan semangat atau dorongan bagi peserta didik untuk belajar, dan ingin mencapai prestasi yang optimal.

Motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar. Apabila guru dan orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada siswa atau anaknya, maka dalam diri siswa atau anak akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Memberikan motivasi yang baik dan sesuai, maka siswa dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai dengan belajar tersebut. Motivasi belajar juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar. Terutama bagi para siswa. Maka motivasi belajar adalah dorongan atau hasrat kemauan untuk melaksanakan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan.

Seorang guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan inspirator dari proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Sehingga semua kualitas dari dalam diri anak-anak didiknya memiliki jiwa di mana terletak sumber dari segala potensi-potensinya. Karena ketidaktahuannyalah maka kita sebagai seorang guru adalah pemandu spritual untuk memberikan pengetahuan kepada jiwa anak-anak didik kita. Keteribatan jiwa seorang anak murid dalam suatu kegiatan belajar mengajar, akan memberikan motivasi kuat kepada mereka. Anak-anak didik kita akan merasa dirinya berharga untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Oleh karena itu, guru diharapkan untuk kreatif dalam memilih strategi yang tepat dalam memotivasi peserta didik ketika melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga terciptalah proses pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik.***
KOMENTAR
Follow Us