Sajak-sajak Nuraini

15 Juli 2012 - 08.29 WIB > Dibaca 5310 kali | Komentar
 
Kereta di Bola Mata Kekasihku Kau Tahu Kekasihku

Sejak kau perlihatkan kereta perjalanan dalam bola matamu. Aku belajar melepaskan. Aku tak pandai berdusta, kepadamu kukabarkan kegamangan yang diramalkan sesosok dalam ruang lengang. Aku terjerumus, dalam tungku-tungku bernama tunggu.

Seseorang bercerita kepadaku
Cinta dan kesetiaan akan menjadi dua kutub yang harus berpadu. Dan aku belajar untuk mempersatukan itu. meski aku tahu, poros keduanya adalah waktu yang mesti kutakluki. Untukmu kekasih, kubangun imperium tempatku bernafas dalam sesak rindu sendiri. Berbaring di padang kemarau dan rebah selamanya di taman semi. Jika nanti daun-daun bertunas satu persatu dan menuliskan kau dan aku sebagai pucuknya, apakah tak tertangkap olehmu, itulah yang seharga cahaya dengan dunia seisinya bagiku?

Kekasihku
Sejak kau lepas busur jarakmu, kulihat keretamu berlari di bola mataku. Aku terpecah menjadi seribu. Sementara di retina dunia aku menjadi penunggu, kembali kutarik perca diriku. Mencantumkannya menjadi satu. Seorang penanti mesti memelihara utuh diri untuk menyimpan segaris senyum dan hati yang ranum. Maka pada dinding waktu, kusulam hari dengan gazal terkurung. Seperti Rumi, kusenyapkan diri dalam benua puisi.

Aku percaya kekasihku
Keretamu akan berhenti tepat di bola mataku. Narasi sepanjang keretamu telah terpetakan sejak kau diberangkatkan. Seirama denyut nadimu dengan sayang engkau membisikkan. Katamu, meski dunia melihatmu sebagai rupa bulan yang termangu, tapi kau adalah wajah mentari yang tak pernah mendua bagiku.


Dialog Sepasang Hawa

Anak:
Hidupku ibu
Setia kau hangatkan dengan kalimat peneduh. Kalbuku tak keruh lantaran petuah yang kau seduh. Fanaku mabuk dalam ziarah kegembiraan. Dari kau yang setia menerbitkan rekah senyuman. Depan belakangku ada pandangmu. Bernafas dalam kesempurnaan. Tak bisu, tak sunyi, tak bersendirian. Bila rindu ini  bergema, kau mendesahkan. Menyahutnya dengan lagu kehidupan.

Ibu:
Nak, aku terkesima.
Mesti apa kubahasakan hati rahimku. Dalam sebujur tubuh fana ada sekelumit hatiku. Tahukah engkau, kepadamu tergenggam tahtanya. Sepucuk nyala di inti ruang, engkaulah pemiliknya. Dirimu nak, seperti kunang-kunang. Uluranmu terang. Sayap kecil pembawa seri menyulam hari. Duniaku setelah adamu seperti hikayat dini hari. Seperti negeri imaji dengan banyak peri.

Anak:
Bu,
Kutulis doa dalam nebula terahasia. Semoga senyum bulan tua, menjadi mata panahku ke surga .


Nuraini
Lahir di Bengkalis. Alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-kautsar di jurusan pendidikan bahasa Inggris. Penggiat komunitas pencinta sastra (KOMPENSAS) Bengkalis. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat di beberapa media dan tergabung dalam antologi.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us