Duh, Lancang Kuning

Minggu, 23 Sep 2012 - 07:38 WIB > Dibaca 3317 kali | Komentar

BAGAIMANA saya harus menjawab pertanyaan Abdul Wahab tentang mengapa replika Lancang Kuning, salah satu simbol marwah Melayu Riau, harus tersingkir dari PON XVIII yang baru saja usai?

Di Dumai, tugu Lancang Kuning yang tercacak sejak 20 tahun lalu disingkirkan oleh patung logo PON. Sedangkan di Pekanbaru, saat penutupan peristiwa akbar olahraga itu hendak dilangsungkan, replika Lancang Kuning sempat dilarang masuk ke Stadion Utama Riau. Kedua-duanya dengan alasan remeh-temeh.

Bagaimana saya dapat mengomentari tulisan Wahab melalui pesan pendek (SMS) ke telepon genggam saya, yang menyebutkan, peristiwa itu justru terjadi saat Lancang Kuning menjadi buah bibir jutaan orang di Indonesia. Di depan Presiden SBY dan Wapres Boediono, bahkan jutaan orang lainnya pada malam pembukaan maupun penutupan PON, hampir sebesar lapangan bola terpampang tulisan, ‘’Selamat Datang di Bumi Lancang Kuning’’.

Wah, tak tanggung banyaknya spanduk, baliho dan entah media apalagi yang menyebutkan Lancang Kuning. Ini tak saja terbaca di Riau, tapi di seluruh Indonesia melalui media cetak, online dan elektronik. Media sosial, ikut meramaikan sebutan Lancang Kuning itu sedemikian rupa. Untuk urusan olahraga, tak ada frase yang diucapkan sebegitu banyaknya dalam waktu tertentu selain Lancang Kuning.

Tak saja disebut, tapi saran nilai yang terkandung di dalamnya, menjadi santapan media di luar Riau. Sebuah situs online bergengsi di Jakarta, dengan takzim menuturkan ihwal Lancang Kuning sebagai lambang ketinggian marwah Riau. Di antara nasihat yang dapat dipetik dari cerita di baliknya adalah bagaimana niat jahat, baru sebatas niat saja, sudah membuahkan tragedi. Politik, seks dan kebendaan, harus dapat dikelola dengan hati ikhlas yang justru selalu terkucil dari dada manusia.

Bagaimana saya harus mengomentari, ketika Wahab mengatakan, peristiwa Lancang Kuning di Dumai dan Pekanbaru itu justru karena alasan kecil. Replika Lancang Kuning di Dumai diganti karena ada perusahaan daerah yang punya modal untuk membuat patung logo PON. Sementara di Pekanbaru, replika Lancang Kuning dilarang masuk ke Stadion Utama Riau karena takut kalau-kalau karet sintetis di kawasan lari berwarna merah itu akan rusak.

‘’Engkau tahu kan makna simbol, apalagi simbol yang menunjukkan marwah? Dalam peradaban manapun, sebuah simbol akan berkaitan langsung dengan hati. Simbol tak dapat disanding dan ditanding dengan sesuatu yang lain. Ia merupakan tumpukan perasaan dan pikiran melalui tapisan waktu yang menjadinya sebagai milik bersama pada satu kawasan tanpa harus melalui pembuktian benar atau salah. Suatu smbol tertentu, bisa saja tidak berarti apa-apa di tempat lain yang juga disebut sebagai penanda kebudayaan,’’ tulis kawan saya itu lagi.

Akan lebih bermakna lain apabila simbol tersebut berkaitan dengan marwah. Bukankah seorang masih dikatakan memiliki harapan bangkit, manakala marwahnya terjaga. Harga dirinya tidak tercabik-cabik? ‘’Dapat engkau membayangkan bagaimana sesuatu yang mengusung Lancang Kuning justru harus berhadapan dengan penyingkiran dan pelarangan terhadap keberadaannya dengan alasan apapun. Jika ini dilakukan oleh pejabat di negeri itu sendiri, engkau dapat bayangkan bagaimana tragisnya kejadian tersebut.’’

Sebaliknya, Wahab menulis lagi seperti ini: ‘’Atau kejadian tersebut juga menjadi simbol bagaimana sesungguhnya marwah kita sebenarnya telah hancur. Kita telah meletakkan simbol itu di bawah kekuasaan pemilik modal dengan modal yang sebenarnya tidak banyak pula. Apakah simbol marwah lebih rendah dari hanya beberapa meter karet sintetis wilayah lari dan setumpuk rumput Stadion Utama Riau itu?’’

Terus-terang, tiba-tiba ada ada benda tajam yang menusuk hulu hati saya ketika membaca SMS di atas, apalagi mengingat tak ada yang salah dengan replika Lancang Kuning itu. Karet sintetis dan rumput Stadion Utama Riau tak sedikit pun rusak, apalagi rubuh ketika dilewatinya—atas usaha seniman dan budayawan Riau secara sembunyi-sembunyi di tengah malam karena merekalah yang mengusungnya. Atlet dan masyarakat umum yang berebut mengabadikan diri dengan latar belakang Lancang Kuning ini, sejak berada di dalam stadion, membuat tetes air di mata saya, ah...

Seterusnya saya juga terkejut ketika membaca beberapa laporan media yang menyebutkan kehadiran Lancang Kuning terkesan begitu khusus dalam acara penutupan PON XVIII dengan tajuk ‘’Dalam Kasih Sayang Air III’’. Detik.com misalnya menulis bahwa Lancang Kuning dalam acara itu memberi kesan kemewahan sekaligus keindahan.

Di sisi lain, tak sekalipun keluar kata maaf dari pejabat yang memicu kejadian di Dumai maupun di Pekanbaru itu. ‘’Tak perlulah aku katakan orangnya,’’ tulis saya menjawab pertanyaan Wahab.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 415 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 60 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 37 Klik

Follow Us