Depan >> Opini >> Opini >>

J Ardan Mardan

Ekonomi Berkah

29 Juli 2016 - 09.21 WIB > Dibaca 18784 kali | Komentar
 
Ekonomi Berkah

Pada perilaku konsumsi dan produk si seorang muslim, terdapat satu nilai yang senantiasa harus eksis dan melekat yaitu nilai keberkahan. Maknanya ketika seorang konsumen muslim mengkonsumsi barang maupun jasa, maka hendaknya dipastikan perilakunya tersebut bernilai keberkahan. Sama halnya pada perilaku produksi, di saat produsen muslim memproduk suatu barang dan jasa maka nilai keberkahan harus eksis pada perilakunya. Oleh karena itu, keberkahan menjadi formula utama dalam aktivitas ekonomi Islam guna meraih kemaslahatan dan kebahagiaan dunia-akhirat.

Rasa kenyang dan puas yang dirasakan konsumen muslim tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah Swt apabila keberkahan itu hilang. Capaian laba yang signifikan tidak bernilai apa-apa pula di sisi Allah Swt apabila keberkahan itu dilupakan. Sekiranya perilaku konsumsi dan produksi seorang muslim tidak memiliki fungsi sebagai penambah ibadah di sisi-Nya, maka sesungguhnya realisasi capaian maslahat plus kebahagiaan akan bernilai nol.  Hal ini tidak linier dengan ruh aktivitas ekonomi dalam Islam. Jika demikian, sistem ekonomi apa yang sedang ia perankan?

Pengertian Berkah

Beberapa pengertian al-barakah (berkah) secara bahasa, yaitu al-nama (tumbuh), al-ziyadah (bertambah), istaqarra (eksis) dan tsabata (mapan). Adapun pengertian berkah secara terminologi Arab yakni tumbuh dan eksisnya kebaikan Ilahiyyah pada sesuatu. Kebaikan yang tumbuh, eksis dan mapan tersebut adalah kebaikan yang bersumber dari Alquran al-Karim dan al-Sunnah al-Nabawiyyah.

Jika demikian, pertumbuhan dan kemapanan yang diharapkan dalam ekonomi Islam adalah eksistensi nilai-nilai kebaikan. Ekonomi Islam senantiasa berupaya agar kebaikan dalam berekonomi dapat tumbuh dan eksis dalam kondisi senang maupun sulit, atau lapang maupun sempit.

Untung dan rugi dalam bisnis merupakan impact dari suatu bisnis. Siapa pun yang berprofesi sebagai pedagang, lalu menjual produk dan jasanya akan menerima laba, rugi atau impas. Maka menurut hemat penulis, tujuan akhir berniaga bukanlah meraih laba materi. Karena untung, rugi dan impas hanya konsekuensi dari dagang saja, yang waktunya akan mucul di masa mendatang (future). Apakah pasti untung, apabila seorang pedagang telah mengoptimalkan usahanya? Tentunya belum pasti! Karena situasi untung, rugi dan impas akan hadir di masa mendatang (future). Tentang masa mendatang tidak ada satu pun manusia yang mengetahuinya secara pasti tentang  apa yang akan terjadi. Hanya Allah Swt yang Maha Mengetahuinya. Oleh karena itu, cerita untung, rugi dan impas mutlak di bawah keputusan Allah Swt kepada hamba-Nya.

Manusia hanya diperintahkan untuk mengoptimalkan input dan process saja. Memang lazimnya, jika input dan process suatu kegiatan produksi optimal akan menghasilkan output dan outcome yang maksimal. Namun, kepastian maksimalisasi output dan outcome mutlak menjadi rahasia Ilahi. Di sinilah peran kekuatan iman terhadap qadha dan qadar itu sangat dirasakan manfaatnya.

Lalu apa yang lebih penting dari sekadar laba? Jawabannya nilai keberkahan. Laba tanpa berkah tidak bernilai apa-apa disisi Tuhan. Rugi namun mapan keberkahan akan bernilai kebaikan di sisi Tuhan. Rugi dan tidak berkah menghasilkan mudharat yang besar, adapun laba ditambah keberkahan menghasilkan maslahat besar.

Ekonomi yang Diberkahi

Aktivitas ekonomi yang diberkahi menjadi harapan semua konsumen dan produsen muslim. Ekonomi yang diberkahi lahir dari pelaku ekonomi yang mampu mengeksiskan kebaikan-kebaikan Ilahiyyah dalam kehidupan. Aktivitas ekonominya dapat memudahkannya untuk mengoptimalkan iman, takwa dan amal shaleh kepada Allah ta’ala. Implikasi dari transaksi-transaksi muamalahnya mampu menghambakan dirinya di hadapan Allah ta’ala. Demikianlah harapan agung dari aktivitas ekonomi seorang muslim.

Keberkahan itu perasaan jiwa dan hati, sulit diukur dengan alat ukur dan timbang (fisik) modern saat ini. Namun, indikator-indikator keberkahan itu dapat dirasakan dan dilihat melalui peningkatan kualitas, kuantitas dan produktivitas kerja seseorang. Idealnya, rasa kenyang yang dicapai konsumen muslim melalui sumber-sumber yang halal lagi baik. Kemudian dengannya ia mampu mengoptimalkan penghambaannya kepada Allah Swt.  Raihan laba yang dihasilkan seorang produsen muslim dari tahapan input dan process yang halal, kemudian dengan laba tersebut mampu memudahkannya untuk taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Memang benar, keberkahan itu semestinya melekat pada perilaku konsumsi dan produksi.

Hal di atas menyadarkan kita, bahwa aktivitas ekonomi seorang muslim tidak dapat dipisahkan dari agama dan Allah Swt. Sumber daya ekonomi saja asal muasalnya dari langit dan bumi. Siapakah pemilik dan pengatur langit-bumi beserta isinya? Tentunya Allah Swt. Maka layakkah seorang muslim ketika memanfaatkan seluruh hasil dari langit dan bumi untuk aktivitas ekonomi lalu ia mengingkari keagungan Allah ta’ala? Di sinilah peran strategis ekonomi Islam yang senantiasa memelihara eksistensi berkah pada seluruh perilaku ekonomi.

 Tantangan

Saat ini, ekonomi konvensional dengan segala mazhabnya selalu memandang ukuran materi sebagai ukuran kemajuan dan keterbelakangan. Laba merupakan tujuan akhir dari segala aktivitas bisnis. Sementara nilai hanya sebatas teori atau realisasi semu tanpa makna. Komitmen etika masih dieksploitasi oleh kepentingan pihak pemodal dan penguasa sementara. Pemisahan agama dari aktivitas ekonomi sangat nyata dikampanyekan. Berkah dan akhirat adalah pembahasan yang selalu konyol dan harus dihilangkan. Ironisnya, ramai pelaku ekonomi muslim loyalis kepadanya. Inilah yang disebut dengan tabadul al-Qiyam (bertukarnya nilai) dalam ekonomi, sesuatu yang hak dipandang sebagai kebatilan, dan sesuatu yang batil disebut-sebut sebagai hak. Timbangan hak dan batil dalam ekonomi menjadi semrawut.

Lalu bagaimana jika seseorang selalu bermaksiat kepada Allah, namun hartanya banyak? Itu adalah al-Istidraj. Menurut al-Qurthubiy (1999) al-Istidraj yaitu seseorang yang diberikan nikmat dunia di saat bertambahnya maksiat kepada Allah. Al-Zuhayliy (2003) menyebutkan al-Istidraj bermaksud bahwa Allah akan mendekatkan pelaku maksiat kepada azab yang besar secara perlahan-lahan dengan cara diberikan kesehatan, ditambahkan rezki, sehingga dengan itu ia tidak merasakan bahwa Allah sedang mengistidrajnya. Apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan maka Allah siksa mereka dengan sekonyong-konyong dan saat itu mereka terdiam berputus asa.

Al-Istidraj merupakan fitnah dan azab bukan nikmat dan karamah!

Harapan


Jika kita memahami bahwa tujuan berekonomi adalah aktualisasi ibadah, maka yang paling penting untuk tumbuh dan eksis adalah keberkahan. Jika kita menginginkan input process dan output ekonomi itu halal lagi baik, maka yang paling penting untuk tumbuh dan eksis adalah keberkahan. Jika kita menginginkan segala tahapan fungsi dan kerja manajemen ekonomi itu sesuai dengan prinsip agama, maka yang paling penting untuk tumbuh dan eksis adalah keberkahan. Keberkahan merupakan nilai utama dan terpenting bagi aktivitas ekonomi.

Sudah saatnya seorang muslim memperhatikan perilaku konsumsi dan produksinya agar sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-nya. Karena Allah ta’ala Maha Suci dan hanya menerima sesuatu yang suci lagi baik. Semoga Allah Swt memudahkan kita untuk meraih keberkahan ekonomi di dunia dan kebahagiaan di akhirat.***

J Ardan Mardan, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Komsat STIE Riau-AKBAR
KOMENTAR
Follow Us