Si Kerul

17 Juni 2012 - 08.14 WIB > Dibaca 4701 kali | Komentar
 
Tempat duduk selalu dipilihnya di deretan paling belakang. Ketika murid-murid lain berlomba menjawab pertanyaan guru, ia tak goyah dari diamnya. Pelajaran paling dibencinya adalah Bahasa Indonesia, menyanyi dan pelajaran lain yang memerlukan pengungkapan lisan. Jika dipaksa juga harus menyanyi ia lebih memilih menangis. Sangat mudah mengenalinya.

Sebagai wali kelas aku sangat prihatin. Terlebih dengan sikapnya yang sungguh tak peduli. Saat beberapa temannya kuberi pengarahan tentang penurunan nilai yang mereka peroleh, teman-temannya menunjukkan raut wajah sedih dan penyesalan. Sementara dirinya sama sekali tak terkesan dengan sorot pandangan hampa yang tertuju entah ke mana. Kutekankan betul bahwa nilai yang mereka peroleh saat itu sangat berpengaruh pada kenaikan kelas.

Sekadar basa-basi kusampaikan keadaan itu pada emaknya: "Nilai si Kerul turun lagi Mak."

"Biar saja bu guru," komentarnya tanpa mempedulikan kehadiranku. Kedua tangannya sibuk membereskan plastik, besi bekas dan barang rongsokan lainnya yang seharian tadi dikumpulkannya.

"Dasar emak dan anak sama saja!" gerutuku sambil berlalu.

Si Kerul tinggal berdua dengan Emaknya, Mak Idah, menempati sebuah rumah kontrakan. Ayahnya telah dua tahun meninggal akibat demam berdarah. Tinggal di sebuah kota yang kini tengah beranjak menuju metropolitan dan jauh dari sanak famili sebagai perantauan, Mak Idah harus berjuang keras seorang diri. Bahkan mendiang suaminya tak meninggalkan tanah sejengkal dan uang sepeser pun sebagai warisan yang dapat diandalkannya untuk menjalani hidup. Baginya si Kerul adalah harta paling berharga yang dimilikinya. Segala daya upaya dilakukannya demi masa depan anaknya. Pekerjaan rutinnya adalah pemulung. Terkadang dia pun dimintai bantuan beberapa tetangganya untuk mencuci. Waktu luang yang ada dipergunakannya untuk mengumpulkan buah pinang dan dijual ke pengumpul di pasar setelah kering.

Kerja keras yang dilakukannya sehari-hari tak pernah menjamin kehidupan keluarganya layak. Sesungguhnya keinginan Mak Idah sederhana saja, tersedianya uang untuk membayar kontrakan rumah dan keperluan sekolah si Kerul. Sedang makan sehari-hari tak begitu merisaukannya yang penting ada beras untuk dimasak dengan lauk seadanya. Sebagai pemulung dan pemungut buah pinang  Mak Idah tak sendiri. Dia berjumpa dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan yang sama. Persaingan timbul. Untuk mengantisipasinya ia memulai pekerjaannya sejak pagi buta setelah Subuh. Tak jarang ia pun menjumpai orang yang melakukan strategi serupa.

Turun naiknya harga barang rongsokan makin merunyamkan jumlah pendapatan yang diperolehnya. Sesekali timbul dalam hatinya untuk menahan sementara barang-barang rongsokan di rumahnya dan dijualnya setelah harganya naik. Namun pemilik rumah kontrakan tak mengizinkan rumahnya terlihat makin kumuh. Barang rongsokan yang didapatnya dijual pada hari itu juga kecuali buah pinang karena harus menunggu kering.

Dalam hal membantu tetangga dia tak pernah mematok harga bahkan tak pernah minta imbalan. Ia berprinsip dan menilai bahwa dengan adanya yang memerlukan tenaganya saja sudah merupakan suatu penghargaan yang tinggi dari para tetangga terhadap dirinya. Dengan demikian dia selalu menjaga kepercayaan para tetangga yang diberikan padanya. Jika dipaksa harus menerima imbalan, dia terima sekadarnya saja.

Tinggal di kota yang sedang dalam transisi menuju metropolitan sangatlah berat. Sikap hedonis makin menjalar menjangkiti warganya. Setiap orang terdorong untuk memenuhi kesenangannya dengan cara bergaya hidup konsumtif dan serba bermewah-mewahan. Untuk meraih semua itu diperlukan banyak uang. Uang tersebut didapat melalui hasil kerja keras sendiri ataupun dengan cara merugikan orang lain. Nilai dan harga diri seseorang didasarkan pada kemewahan yang berhasil ditampilkannya.

Orang-orang seperti Mak Idah makin tak diperhitungkan dan dianggap tak penting. Terlebih tak ada satu pun riwayat kejayaan yang pernah dialami baik dari pihak keluarganya atau pihak mendiang suaminya yang dapat dijadikan cermin kebanggaannya. Masih segar dalam ingatannya ketika mendiang suaminya meninggal, hanya beberapa orang yang hadir. Mak Idah sadar karena dia tak sanggup menghidangkan makanan sebagai jamuan yang layak bagi para pentakziah. Keadaannya akan sangat berbeda jika yang meninggal dan syukuran dari kalangan orang kaya, kesempatan tersebut bahkan dimanfaatkan sebagian orang untuk perbaikan gizi.

Kondisi ekonomi dan keadaan sosial ini menyebabkan rasa minder dalam diri Mak Idah di hadapan orang-orang sekitarnya dan dia bahkan cenderung menutup diri. Dalam pergaulan sehari-hari dia selalu menonjolkan rasa rendah diri dan bicara seperlunya saja. Keadaan yang sangat menyiksanya adalah ketika belum terkumpulnya uang untuk membayar sewa rumah beberapa hari setelah tanggal pembayaran. Pagi hari, ketika pemilik rumah dengan muka masam dan beberapa orang berbelanja di warung dekat rumahnya, dia merasa dijadikan bahan gunjingan. Saat melintasi mereka sembari membawa hasil kerjanya dia merasa seolah-olah semua perhatian disertai cibiran dan cemoohan ditujukan padanya.

Perasaan minder juga menimpa si Kerul yang membuatnya tak nyaman ketika berada di luar rumah. Sifat itu tampak makin jelas ketika berada di sekolah. Ini sering dimanfaatkan beberapa temannya yang nakal untuk mempermainkannya. Jika terjadi adu mulut antar sesama temannya dan salah satunya dipersamakan dengan si Kerul dengan hardikan: "Dasar si Kerul, kau!", maka lawannya akan merasa sangat terhina dan berujung perkelahian demi membela harga diri.

Orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggalnya telah mengerti betul dengan sifat si Kerul. Di antara butir nasihat yang diberikan orang tua terhadap anaknya yang hendak merantau adalah: "Pandai-pandai kau di perantauan, jangan minder model si Kerul!"

Di mataku si Kerul bukanlah murid yang istimewa. Sebagai wali kelas aku berkewajiban membagi rata perhatian pada anak-anak didikku. Jika aku memanggil Mak pada emaknya, itu disebabkan latah karena semua orang memanggilnya demikian. Saat sekolahku bermaksud mengirim beberapa murid untuk perlombaan ketangkasan dan kecerdasan antar sekolah, si Kerul tak termasuk dalam daftar yang dapat diandalkan. Bahwa sesekali aku minta bantuan emaknya untuk membereskan rumahku pun bukanlah alasan untuk mengistimewakannya. Aku pun tak bisa minta bantuan emaknya terus-menerus karena hanya akan membuat anak-anakku makin manja dan tak mandiri.

Namun berkaitan dengan masa depan anak-anak didikku, sebagai wali kelas, aku pun berkewajiban memberi yang terbaik bagi mereka. Saat rapat sekolah sampai pada pembahasan tentang kenaikan kelas pada kelas asuhanku, mayoritas dewan guru menghendaki agar tiga siswa termasuk si Kerul ditunda kenaikan kelasnya.
"Saya kan sudah jelaskan semua kondisinya. Untuk itu saya mohon Bapak-bapak dan Ibu-ibu dapat mempertimbangkan kembali untuk dapat memberi kesempatan pada mereka untuk mengubah diri di kelas berikutnya," belaku.   

"Bagaimana dengan si Kerul?" tanya yang lainnya.

"Masalahnya kan cuma minder saja, lainnya tak begitu berarti. Hanya perlu dimotivasi."

Suasana rapat diwarnai perdebatan yang melelahkan. Silih berganti pertanyaan dan sanggahan dilontarkan ke arahku. Aku berusaha terus-menerus menggambarkan sisi positif anak-anak didikku yang nasibnya sedang di ujung tanduk tersebut. Akhirnya diputuskan bahwa forum menerima usulanku dengan catatan aku tetap jadi wali kelasnya.

Bulan kedua sejak menginjak kelas enam merupakan titik awal kebangkitan si Kerul. Beberapa tetangganya menyaksikan kehadirannya saat Salat Subuh berjamaah. Sekitar pukul 7.30 pagi dan pukul tiga sore hari mereka juga menyaksikan si Kerul lewat dengan rongsokan dan buah pinang sebagaimana yang selalu dikerjakan emaknya sehari-hari. Pemandangan ganjil ini telah disaksikan warga sudah lima hari.

Sepulang dari kantor kusempatkan mampir ke rumah si Kerul dengan tujuan minta bantuan Mak Idah untuk  membereskan rumahku. Kudapati Mak Idah sedang terbaring lunglai di kasur kumalnya. Setelah diperiksa dia sudah seminggu menderita tifus. Aku adalah orang pertama yang menjenguknya. Untuk sementara si Kerul menggantikan perannya mencari nafkah. Setelahku, beberapa tetangga datang menjenguk dengan membawa makanan dan obat. Di antara yang datang tampak pula pemilik rumah kontrakan dengan muka sedikit masam.

Sejak itu tugas utama pencari nafkah beralih ke tangan si Kerul. Itu dilakukannya menjelang dan sepulang sekolah. Rasa mindernya berangsur-angsur berkurang hingga akhirnya hilang sama sekali. Pencarian akan rongsokan membawanya ke sebuah gedung bulutangkis.

"Di mana kau tinggal?" tanya seorang pria setengah baya. Ia adalah pemilik gedung bulu tangkis.

"Di RT tiga, Pak."

"Masih sekolah, kau?"

"Masih, Pak. Kelas enam."

"Mau kau kerja di sini?"

"Mau Pak."

"Besok, pulang sekolah, datang lagi ke mari."

"Terima kasih, Pak."

Warga menyaksikan pemandangan ganjil lagi. Mereka beranggapan bahwa si Kerul tak serajin dulu, pulang sekolah tak bekerja malah bermain. Pemilik rumah kontrakan tampak bermuka masam lagi mendengar desas-desus tersebut. Padahal penghasilan sebagai pekerja di gedung bulutangkis melebihi yang diperlukan untuk sewa rumah. Keperluan lainnya dipenuhi oleh emaknya.

Sebagai kegiatan rutin tahunan, tiba saatnya sekolah akan mengirim beberapa siswa untuk mengikuti perlombaan kecerdasan dan ketangkasan. Guru olahraga merekomendasikan si Kerul untuk mewakili sekolah dalam cabang olah raga bulutangkis. Sayang, Kepala Sekolah tak mengizinkan siswa kelas enam untuk ikut kegiatan tersebut karena harus berkonsentrasi pada ujian akhir.

Setamat Sekolah Dasar si Kerul melanjutkan ke SMP terdekat dan masih bekerja di gedung bulutangkis. Aku tak lagi memerlukan tenaga Mak Idah dalam mengurus rumahku seiring makin tumbuh dewasanya anak-anakku. Secara otomatis kontak dengan keluarga tersebut kian lama kian memudar hingga akhirnya hilang sama sekali.

Tiap tahun pusat perhatianku berubah silih berganti sebagaimana silih bergantinya anak-anak asuhanku di sekolah yang jumlahnya hingga kini mungkin sudah ribuan orang. Saat mana aku hidup, saat itulah perhatianku tercurah dan didedikasikan demi masa depan mereka.

Kota besar tempat tinggalku menawarkan berbagai harapan dan impian. Mereka yang tergoda datang menetap atau menempati rumah-rumah kontrakan yang tersebar di sekitar tempat tinggalku. Mereka datang silih berganti dengan membawa nasib dan peruntungannya masing-masing. Rumah kontrakan si Kerul pun telah dihuni orang berganti-ganti sejak ditinggalkannya belasan tahun lalu.

Kini, setelah belasan tahun berlalu, si Kerul muncul di beranda jejaring sosialku. Ia menawarkan diri untuk menjalin pertemanan denganku. Aku segera menerima permintaannya tanpa ragu. Setelah membaca profilnya aku memahami bahwa ia telah meraih apa yang dicita-citakannya. Ia telah menikah dengan seorang wanita berstrata sosial yang baik pula. Ia berserta istri, emak dan kedua anaknya tinggal nun beratus kilometer jaraknya dari kotaku, tanah kelahirannya.***

Pekanbaru, April 2012



Bubung Bunyamin,
Pecinta satra, bermastautin di Pekanbaru.
KOMENTAR

Follow Us