Prakognitif

Minggu, 09 Sep 2012 - 07:46 WIB > Dibaca 3469 kali | Komentar

Langit pada sebuah masa, begitu dekat jaraknya dengan Bumi. Pada ketika itu pula, segala interaksi manusia dituntun oleh sejumlah penanda yang bertindak bak suluh ke depan. Lalu, masa depan pun terbentang dalam benderang dan serba telus. Mitos pun dicipta, disusun rapi dalam laci bahasa oleh setiap rumpun kebudayaan manusia; di setiap ruang dan waktu. Mitos-mitos yang diragi dengan sejumlah ramuan inisiasi mitis dan magi, hadir sebagai penanda dan penuntun sekaligus penyuluh tentang masa depan yang terukur; baik oleh para pengarang, penulis, penutur cerita, imajinasi ilmuan atau oleh para cenayang.

Cerita pun datang rangkai berangkai, lalu pergi satu persatu. Dan pada tempo yang bergerak lambat, rangkaian cerita itu menjadi rangkaian karang, lalu karang berkarang pula, dari mulut ke mulut oleh para pencerita (story teller) yang mengusung kaidah keselamatan hidup manusia, harmoni kehidupan dalam interaksi dengan makhluk dan alam. Batu Belah Batu Bertangkup, Mambang Linau, Puteri Kaca Mayang, Malinkundang, Sampuraga, Dedap Durhaka, menghidang suasana prakognitif, atau biasa disebut pula sebagai sesuatu yang mengarah ke dalam deraian yang serba ‘anteseden psikologik’: Sesuatu yang mendahului, sesuatu yang menjadi pandu untuk datang dan terjadinya peristiwa di masa depan.

Jayabaya yang sohor sebagai cenayang di tanah Jawa, memberi sinyal-sinyal umum mengenai ‘era gelap’ nusantara. Raja Ali Haji menyaji hidangan konflik ‘air masin dan air tawar’ dalam jenang ‘dunia Melayu’ pantai timur Sumatera. Anak-anak muda sekolah STOVIA memberi bingkai tentang kesadaran yang disebut nasionalisme, walau sebatas dunia kecil Jawa saat itu dan kemudian menyembul menjadi Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Dugaan prakognitif itu berlanjut dalam rantai atau rangkaian waktu; 1908 tapak kesadaran perdana, menapak di anak tangga kedua 1928, dan meletup dalam gegap gempita Ramadan 1945. Sutardji Calzoum Bachri, memecah mitos mengenai Presiden, selain Soeharto. Dengan menyebut diri sebagai “Presiden Penyair Indonesia”. Prakognitif dari tindakan Tardji ialah bakal hadir Presiden yang ramai di Indonesia pada sebuah masa di sebuah zaman yang tersadai di depan: reformasi.

Sajian prakognitif itu bukan sesuatu yang baru. Dia telah menyembul jauh sebelum Masehi. Ada “Kisah Dua Saudara” dari Mesir sebelum Masehi: si abang punya sawah dan ternak. Adik membantu si abang di sawah. Namun, ketika persediaan bibit habis, maka si adik disuruh si abang pulang ke rumah untuk mengambil bibit. Setiba di rumah, isteri si abang menggoda si adik untuk berbuat mesum. Namun si adik menolak. Status: cinta ditolak. Lalu, si isteri menceritakan kepada suaminya (si abang), bahwa adiknya mengganggu dia dan ingin berbuat tak senonoh ke atas dirinya. Mendengar laporan ini, si abang berketetapan hati untuk membunuh si adik. Berkat bantuan dua ekor sapi yang mampu berbicara, dan membisikkan kabar dan rencana si abang yang hendak membunuh si adik. Lalu si adik lari ke luar kampung dan selamat: Prakognitif terhadap kisah Yusuf dan Zulaikha...? Dan ihwal ini bagian dari produk budaya pada sebuah zaman. Sejatinya, segala peristiwa ulang berulang dalam kadar dan skala yang disesuaikan dengan zaman dan beban zaman itu sendiri.

Karya-karya prakognitif itu seakan menjadi penuntun (cursor) bagi peristiwa di masa depan. Ingat karya seorang penulis Amerika Morgan Robertson yang sangat impresif dengan deretan kejadian yang amat akurat. Novel karya Robertson itu berjudul Futility, yang terbit pada 1898 atau 14 tahun sebelum Titanic karam dan pecah di sebuah malam buta segara Atlantika. Simaklah: Novel itu berkisah tentang kapal raksasa, yang diyakini tidak bisa tenggelam, sebagaimana halnya Titanic. Novel ini seakan menyaji ‘belahan’ di masa depan dalam wujud ‘Avatar’: bentuk dan deretan kejadian, ukuran, perkakas navigasi, nama kapal, termasuk jam kejadian (karam). “Kedua kapal itu milik Inggris, terbuat dari baja, memiliki 3 mesin pendorong, bisa mencapai kecepatan 25 knot, memiliki 2 tiang layar, dan berkapasitas 3.000 penumpang. Panjang kapal Robertson 800 kaki, hanya lebih pendek 82 kaki dari Titanic. Kapal imajiner itu memiliki 24 sekoci, sedangkan yang nyatanya 20. Keduanya memiliki daya tampung di sekoci kurang dari setengah penumpangnya. Kedua kapal yang dianggap tidak bisa tenggelam itu mulai berlayar untuk pertama kalinya pada April dari Southampton ke New York ketika mereka menabrak gunung es dan karam. Titik tubrukan kedua kapal terletak pada sisi kanan. Tumbukan kapal fiksional itu terjadi pada tengah malam, sedangkan Titanic 20 menit sebelum tengah malam. Yang terakhir, kapal Robertson bernama Titan! Dengan keserupaan menakjubkan ini, tak heran jika setelah tenggelamnya Titanic pada 1912, novel Robertson diterbit ulang, kali ini dengan judul The Wreck of the Titan!” (Louay Fatoohi, 2012).

Maka, karya para seniman, atau temuan para ilmuan ialah serangkaian kisah mengenai kenyataan prakognitif yang diperlihatkan dalam sejumlah “kemiripan-kemiripan misteri”. Kemiripan misteri itu, berulang-ulang dalam bentuk nada, diksi, gerak, warna, garis, lengkung, ujaran, formula, hipotetik, dalil, teorema, teori, hukum dan sejumlah penanda patis, atau pun pasasi dalam episode kejadian. Bahwa, “tiada yang baharu di bawah matahari” (la jadid tahta syam), melainkan hanyalah sejumlah pengulangan demi pengulangan dalam model ‘kemiripan-kemiripan misteri’. Nada yang digubah oleh seorang penggubah adalah nada dengan bunyi ‘kemiripan misteri’, demikian pula gerak tari oleh seorang koreografer adalah salinan dari ‘kemiripan misteri’; begitu pula lah ujaran, diksi ataupun pasasi, tetap terkulum dalam jenjang ‘kemiripan misteri’, baik yang tersadai di masa lalu, maupun ‘kemiripan misteri’ yang menumpang di masa depan. Para cenayang ataupun penulis futuristik, merengkuh ‘kemiripan misteri’ itu dengan cara menggali sumur nan dalam untuk menemukan lapisan bebatuan yang tertimbus oleh zaman yang menyisa ketulan mengenai ‘kemiripan misteri’, lalu disajikan menjadi sesuatu yang berpembawaan prakognitif atau anteseden psikologik. Dan manusia pun menjadi penduga masa depan yang amat kreatif. Lapis demi lapis, karena kita hanya bisa menumpang hidup di sisa usia senja, di sebuah masa bernama masa depan. Prakognitif jadi pemandu yang tak pernah gagu…***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 416 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 60 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 37 Klik

Follow Us