Rohani Olahraga

Minggu, 09 Sep 2012 - 07:45 WIB > Dibaca 2939 kali | Komentar

MUNGKIN saja pesan-pesan pendek (SMS) Abdul Wahab melalui telepon genggam yang sampai pada saya dalam beberapa hari terakhir ini dapat digolongkan sebagai pengaruh demam Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII. Pasalnya, dalam masa seperti itu, kawan saya tersebut selalu mengarahkan pesannya pada hal-hal yang menyangkut keolahragaan.

‘’Dari jauh, aku mendoakan agar PON di Riau sukses. Mungkin tak memperoleh ponten sembilan, apalagi sepuluh, tapi jelas sebuah iktikad baik telah dijalankan yang barangkali masih dapat kita temui di tengah berbagai berita tak sedap dari PON—sebuah cerita seperti yang dilaporkan Kompas senantiasa berulang, bahkan dari jarak yang begitu pendek dari sekarang semacam SEA Games di Palembang tahun lalu, di tengah memanasnya nuansa politik dalam olahraga seperti mencuat dari kasus Hambalang,’’ tulis Wahab.

Yang membuat saya sedikit terkejut adalah keinginan Wahab datang ke Pekanbaru. Bukan apa-apa, dari dulu saya tahu bahwa Wahab tak memiliki perhatian terhadap olahraga. Orang sibuk berolahraga, dia lebih memilih mendengkur. Orang tahan begadang semalam suntuk menonton pertandingan olahraga, ia malah berada di alam tidur. ‘’Namun apa yang harus aku lihat, apa yang harus aku renungkan?’’

Wahab menjawab sendiri, ‘’Bukankah aku hanya akan melihat bagaimana sebuah prestasi fisik dikejar? Mungkin seseorang akan memperoleh medali emas, lalu setelah itu apalagi kalau bukan untuk mempertahankan medali itu pada pertandingan berikutnya?

Silaturahim, okelah itu... Tapi pada hari pertama pertandingan, sebelum PON resmi dibuka, kericuhan dan perkelahian di arena sudah muncul. Belum lagi umpat yang bertebaran di media massa seperti bagaimana menyunguti akomodasi atlet yang tak pantas diucapkan. Belum lagi runtuhnya selasar tenis milik PTP V beberapa hari lalu. Sebab kita ini semua sumber kekurangan. Malah kalau ada suatu keramaian yang tak ada cacat celanya, perlu dipertanyakan, sehingga dua atau tiga piring sengaja dipecahkan agar kita senantiasa mengingat kekurangan itu,’’ tulis Wahab.

Dengan kesadaran itu, lanjut Wahab, bagaimanapun juga olahraga tak mungkin dilepaskan dari tindakan-tindakan rohani—bukan fisik semata. Orang-orang yang menggeluti filsafat olahraga sepaham mengatakan, tindakan fisik pada hakikatnya untuk menyokong tindakan rohani—minimal alam intelektual. Bukan hanya persoalan jadi juara yang dimanjakan dengan tindakan sesaat seperti memberi bonus dan lain-lain hal yang setara. Begitu juga pesan yang terselip dari motto PON XVIII Riau yakni sportivitas untuk kualitas. Maafkanlah kalau bagi Wahab, slogan maupun motto itu terkesan hanya menanam tebu di bibir .

‘’Tapi baiklah kita hanya bertanya, apakah olahraga ini dipikirkan untuk melahirkan manusia yang tak sekadar mengalungkan medali emas di leher, tapi memahat sifat emas di dalam hati—bahkan sebagai tujuannya walau tanpa medali emas di leher,’’ tulis Wahab.

Ia memberi contoh, bagaimana keantusiasan masyarakat terhadap olahraga tak diikuti dengan pendidikan olahraga yang memadai. Di negara yang begitu luas dan jumlah penduduknya yang begitu besar, hanya memiliki lima sekolah kejuruan olahraga. Thailand yang berpenduduk sekitar 70 juta jiwa, tapi memiliki 26 SKO.

Memikirkan keolahragaan juga penting karena latar belakang sejarahnya yang panjang. Bukankah sejarah olahraga menunjukkan bagaimana olahraga itu sendiri adalah kemampuan dasar manusia yang diorganisir. Pada akhirnya, olahraga adalah suatu sosok peradaban. Ada kesan di hati Wahab, sosok fitrah olahraga itu sendiri diabaikan dalam tiap PON termasuk PON Riau. ‘’Bukankah tak ada arena yang khusus membicarakan keolahragaan macam seminar dan diskusi untuk itu? Di tengah gegap gempita Olimpiade London, bukankah kita temui adanya seminar dan pertemuan sastra maupun budaya antara bangsa secara konkrit? Aku dengar pada PON Riau, juga ada pementasan seni tiap malam, tapi itu dalam rangka memberi ruang pada khalayak yang lelah atau pengisi waktu saja, tak bermaksud membawa olahraga kembali ke fitrahnya,’’ tulisnya.

Entahlah Hab... ***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 419 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 61 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 39 Klik

Follow Us