Gunung Kelud Meletus, Warga Tetap Langsungkan Pernikahan
Tenda Baru Dikira Tempat Pengungsian
Senin, 17 Februari 2014 - 10:39 WIB > Dibaca 380 kali Print | Komentar
Tenda Baru Dikira Tempat Pengungsian
Keluarga besan membawa ubo rampe seserahan sambil mengenakan masker di wajah, Sabtu (15/2/2014). Foto: Dite Surendra/jawa pos
Berita Terkait



Laporan ANGGIT SATRIYO NUGROHO, Kediri 

Kendati Gunung Kelud masih berstatus awas, seorang warga Desa Ploso Klaten, Kecamatan Ploso Klaten, Kabupaten Kediri, tetap nekad menggelar hajatan perkawinan putrinya Sabtu (15/2). Ratusan tamu berdatangan sambil mengenakan masker di wajahnya.

Tak ada gending kebogiro untuk mengiringi temu manten di rumah Sukemi, Desa Ploso Klaten, kemarin siang. 

Meski kedua mempelai, Aan Sukarji dan Dita Purbaningrahayu, mengenakan pakaian Jawa lengkap, prosesi itu dilangsungkan secara garingan. Proses mempertemukan pengantin tersebut cukup dilakukan dengan panduan sang pranata acara.  

Baru setelah prosesi formal selesai, para tamu mendapatkan hiburan musik organ tunggal dengan para penyanyi seksi yang menggoyang tenda pernikahan. Suasana itu seolah melupakan bencana yang baru saja terjadi di desa yang berjarak 15 Km dari puncak Gunung Kelud tersebut. Baik tuan rumah maupun para tamu menjalankan upacara sakral itu dengan khitmad dan apa adanya.

Sukemi beserta keluarga begitu bahagia akhirnya bisa menuntaskan hajatan yang sudah dipersiapkan jauh sebelum Kelud meletus itu. Meski masih dibayang-bayangi kekhawatiran terjadinya erupsi Kelud lagi yang mengakibatkan hujan abu vulkanik keinginan Sukemi merayakan perkawinan putrinya, Dita Purbaningrahayu, yang disunting Aan Sukarji, tak bisa dibendung lagi. 

‘’Doakan lancar hingga pesta ini berakhir ya. Jangan sampai tiba-tiba ada semburan abu vulkanik lagi,’’ kata Sukemi, ayah Dita, di sela-sela pesta pernikahan.

Memang, ada pemandangan yang tidak biasa dalam perhelatan itu. Keluarga besan, Sukarji, datang membawa ubo rampe seserahan perkawinan dengan mengenakan masker di wajah. Maklum, udara di Kediri masih diliputi abu vulkanis Gunung Kelud, sehingga warga mesti melindungi diri dengan kain penutup mulut dan hidung tersebut.  

‘’Ya mau bagaimana lagi. Hari pernikahan sudah diputuskan sejak dua bulan lalu,’’ kata Suryati, salah seorang saudara pengantin pria.

Tidak hanya keluarga besan dari desa sebelah, Ploso Lor, yang memakai masker. Sebagian panitia dan para anggota hansip yang berjaga juga menutupi wajahnya dengan kain. Hanya kedua pengantin beserta orang tua masing-masing yang tidak mengenakan masker. Sejak pagi mereka memang sudah berada di tempat yang terlindungi, yakni di dalam tenda.  

Kendati begitu, suasana bencana masih terlihat di sekitar tenda pernikahan itu. Sebab, di samping tenda pesta adalah kantor Kecamatan Ploso Klaten yang dijadikan dapur umum untuk menyiapkan logistik bagi pengungsi. 

Di tempat itu, puluhan anggota TNI bahu-membahu bersama pegawai kantor kecamatan membuat ribuan nasi bungkus untuk disebarkan ke beberapa kantung pengungsi di kecamatan itu. Tepat di depan tenda, sejumlah aparat Brimob juga terlihat bersiaga. Mereka berjaga-jaga untuk mengevakuasi warga bila sewaktu-waktu terjadi erupsi Gunung Kelud lagi.

Ritual temu pengantin  khas adat Jawa tetap  berlangsung khitmad. Mulai lempar-lemparan bunga, memecah telur, hingga suap-suapan. Mempelai perempuan juga dengan khusuk mencuci kaki suaminya yang terkena cipratan telur ayam yang baru saja diinjaknya. Setelah itu, kedua mempelai diantar ke kursi pelaminan. Upacara diakhiri dengan khutbah yang disampaikan pemuka agama di desa itu.  

Ekspresi kelegaan tampak dari wajah kedua mempelai beserta kedua orang tua mereka begitu upacara selesai. Senyum Dita dan Aan terus mengembang saat menerima ucapan selamat dari para tamu.  ‘’Waduh, saya semalaman sudah nggak bisa tidur memikirkan gawe (buat, red) ini. Alhamdulillah, semua berlangsung lancar, rasanya plong,’’ kata Sri Rahayu, ibu Dita. 

Sementara itu, Aan, sang pengantin pria, bercerita, sebenarnya persiapan upacara pernikahan itu sudah dilakukan sehari sebelum Gunung Kelud meletus, Kamis (13/2) malam. Mertuanya, Sukemi, sudah mendirikan tenda besar untuk perayaan itu. Para tetangga juga berdatangan untuk membantu memasak di dapur belakang rumah. 

Namun, letusan Gunung Kelud Kamis malam itu telah meluluhlantakkan segalanya. Tenda dan dapur ambruk berantakan tak kuat menahan beban pasir dan abu tebal. Keluarga besar Sukemi langsung menggelar rapat dadakan, apakah pesta pernikahan ditunda hingga suasana normal kembali atau tetap dilaksanakan dalam kondisi darurat. Pasalnya, undangan untuk handai taulan sudah telanjur disebarkan.   Setelah mempertimbangkan  erbagai kemungkinan, akhirnya Sukemi memutuskan untuk tetap menggelar pesta pernikahan putrinya. Karena itu, lalu mendirikan tenda yang baru.

‘’Tapi, begitu tenda berdiri lagi, warga berbondong-bondong berdatangan. Mereka mengira kami membikin posko pengungsian,’’ ungkapnya. Mereka sudah lama merencanakan pernikahan itu. Tapi, pernikahan mereka ternyata didahului erupsi Gunung Kelud yang dahsyat.  

‘’Ini namanya musibah. Kami harus bisa memetik hikmahnya,’’ ungkap Aan yang bekerja di perusahaan rokok ternama di Kediri itu. 

Menurut mempelai perempuan, Dita, hari pernikahannya ini sungguh istimewa. Peristiwa yang akan dikenang sepanjang masa. 

‘’Bisa kami ceritakan kepada anak keturunan kami nanti. Doakan kami lekas dapat momongan ya,’’ ucap perempuan 22 tahun itu lantas tersenyum.

Upacara pernikahan juga diselenggarakan keluarga Sriyami, warga Dusun Kalasan, Desa Jarak, Ploso Klaten. (*/ari/esi)
KOMENTAR
Berita Update

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan
Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib
2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000
Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib
Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari
Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib
Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK
Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Bongkar Reklame Ilegal
Rabu, 21 November 2018 - 12:30 wib
Pemkab Tak Tutup Mata pada Kerusakan Jalan Gajah Mada

Pemkab Tak Tutup Mata pada Kerusakan Jalan Gajah Mada
Rabu, 21 November 2018 - 12:00 wib
Plastik Ditopang Pertumbuhan Industri Mamin

Plastik Ditopang Pertumbuhan Industri Mamin
Rabu, 21 November 2018 - 11:35 wib
Maksiat Jangan Dianggap Sepele

Maksiat Jangan Dianggap Sepele
Rabu, 21 November 2018 - 11:30 wib
Kayu Tumbang, Listrik Padam 21 Jam

Kayu Tumbang, Listrik Padam 21 Jam
Rabu, 21 November 2018 - 11:15 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Ketika "Tujuh Hantu" Tak Lagi Adang BBM Rakyat

Selasa, 06 November 2018 - 21:13 WIB

Ada Apa di Balik Deklarasi Itu?

Rabu, 24 Oktober 2018 - 16:59 WIB

Hotel Ayola Tawarkan Menu Crispy Chicken Steak

Rabu, 24 Oktober 2018 - 11:30 WIB

Tebar Buku UAS hingga Bisnis Daring dengan Sentuhan Jari
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us