Ketika Riau Mulai Diselimuti Asap
Ancaman Kekeringan Menghantui
Minggu, 09 Februari 2014 - 08:40 WIB > Dibaca 572 kali Print | Komentar
Ancaman Kekeringan Menghantui
Kondisi Kota Pekanbaru diselimuti kabut asap. Foto: Defrizal/Riau Pos
Berita Terkait



Pada musim kemarau intensitas hujan relatif  sangat kecil. Sementara intensitas kabut asap yang meningkat akibat kebakaran lahan yang terjadi hampir setiap tahun di bumi Melayu Lancang Kuning terus terjadi. Ancaman kekeringan jadi potensi menghantui wilayah ini di masa datang.

Laporan, Marrio Kisaz, Kota

Hasil koordinasi awal antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi hujan masih akan mengguyur Kota Pekanbaru dan sebagian besar daerah di Riau hingga akhir Februari mendatang. Namun, di pekan pertama hingga pekan kedua bulan Februari, curah hujan mulai berkurang, cuaca terlihat mulai menyengat, kabut asap pun terlihat menghiasi Riau.  

Pengamat Lingkungan Riau, Prof Adnan Kasry menilai kondisi ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah dampak perubahan iklim dan gejala lingkungan. ‘’Ini dampak lanjutan dari badai salju yang di bagian bumi utara, pusaran dari Kutup Utara. Rupanya dari literatur yang saya ketahui, perubahan cuaca itu masuk lewat Cina Selatan, sehingga berdampak ke Indonesia, begitu juga ke Riau,” tuturnya.

Pada musim kemarau intensitas hujan relatif  sangat kecil. Provinsi Riau yang secara geografis berada di tengah Pulau Sumatera dan dilalui garis khatulistiwa merupakan hamparan dataran yang jauh dari pegunungan tinggi maupun lautan. Berbeda dengan Sumatera Barat yang dekat dengan pegunungan tinggi dan lautan, yang lebih dipengaruhi oleh iklim laut. Sementara Provinsi Riau sangat dipengaruhi oleh iklim darat.

Salah satu ciri iklim darat adalah kalau musim kemarau bisa panas sekali tetapi paginya bisa dingin sekali. Kondisi ini yang sering dimanfaatkan oleh para pembakar lahan, yang bertujuan untuk membuka lahan yang dimiliki dengan membakar untuk menjadi lahan produksi.

 ‘’Menurut saya, kalau dari ramalan sekarang akan lebih dahsyat lagi kekeringan di Riau. Tapi yang lebih mengetahui secara terperinci tentunya BMKG. Ini yang seharusnya diinformasikan ke masyarakat,” terang Akademisi Senior tersebut.

Adnan menambahkan, kekhawatiran terjadi saat kebakaran lahan terjadi lahan gambut. Pasalnya, areal gambut sangat rentan terbakar. Selain itu proses pemadamannya relatif  lebih sulit dibanding medan lainnya. Hal itu yang idealnya perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah dan seluruh pihak yang berkompeten di bidangnya.

Saat ditanyakan mengenai langkah antisipasi yang dapat dilakukan, dia menilai solusi konkrit yang diperlukan adalah dengan mengoptimlkan peran seluruh instansi terkait. Mulai dari pengawasan hingga memberikan sosialisasi kepada masyarakat.
‘’BMKG di Riau mestinya dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam memberikan informasi dengan ramalan-ramalan cuaca. BMKG memberikan informasi yang lengkap tentang kondisi saat ini hingga beberapa waktu ke depan. Kemudian dilanjutkan dengan pengawasan di lapangan,” terangnya.  

Guru besar Universitas Riau itu menilai kebakaran lahan yang berdampak pada peningkatan kabut asap menimbulkan kerugian dari sisi lingkungan. Ini terlihat dengan menurunnya kualitas lingkungan, keseimbangan ekosistem yang terganggu dan beberapa dampak lainnya.   

Selain itu, dampak lain juga dirasakan dari sisi kesehatan dan ekonomi. Ini terlihat dari kualitas udara memburuk dapat menimbulkan penyakit ISPA, terganggunya aktifitas penerbangan dan akses transportasi lainnya.  ‘’Bagaimanapun meningkatkan suhu udara, kemudian ini berdampak kesehatan lingkungan. Pagi-pagi saat ke kantor kabut asap mulai terasa, sangat-sangat mengganggu masyarakat yang beraktifitas,” urainya.

Dia menilai, salah satu penyebab lambannya penanganan kabut asap adalah kebiasaan orang Riau yang selalu bersifat reaktif. Sementara yang diperlukan saat ini adalah sifat preventif. Selain itu, faktor lain adalah ketidak siapan dalam menyosialisasikan ke masyarakat tentang pembukaan lahan yang tidak boleh dengan cara membakar,” sambungnya.

Pria yang sudah lama menggeluti ilmu lingkungan itu menyoroti pengawasan terhadap masyarakat yang membuka lahan dengan membakar. Begitu juga perusahaan yang menilai telah mengatur tata kelola airnya saat musim kemarau. ‘’ Intinya kalau sudah musim kemarau, air kering, tata kelola air seperti apa yang dimaksud. Jadi yang diperlukan itu adalah upaya antisipasi bersama dalam menjawab masalah kebakaran lahan di Riau ini,” terang Adnan.

 Kondisi yang berbeda terlihat di awal tahun 2014, bencana kabut asap datang lebih awal. Prediksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan berbagai instansi terkait melenceng dari perkiraan. Ada apa dengan Riau? Mungkin alam dan lingkungan sudah tidak bersahabat, ini terlihat dengan kebakaran hutan dan lahan yang menjadi penyebab peningkatan kabut asap.

Tamu yang datang hampir setiap tahun itu menarik perhatian sebagian besar elemen masyarakat. Bagaimana tidak, banyak aspek kehidupan yang terkena imbas dari peningkatan angka kabut asap di Riau. Mulai dari kesehatan, transportasi, pendidikan, ekonomi bahkan hubungan antar daerah sampai ke hubungan antar negara juga terimbas dari kabut asap tersebut.

Instansi terkait di Riau perlu berkaca dari pengalaman tahun 2013 lalu, bencana kabut asap yang terjadi sampai menjadi permasalahan internasional. Jangan sampai Riau dicap sebagai daerah produktif pengeskpor asap. Langkah antisipasi menjadi formula yang paling tepat dalam menjawab permasalahan tersebut.

Kondisi udara tercemar oleh asap di Riau sebenarnya terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat pencemaran, kuantitas, lama periode, luasnya daerah yang terkena dampak relatif bervariasi. Hal itu tergantung dari jumlah dan penyebaran Hotspot. Namun, kondisi udara yang  buruk tersebut terjadi pada saat musim kemarau mulai melanda beberapa daerah di Riau.

Dampak yang cukup signifikan terlihat beberapa hari terakhir di pekan kedua bulan Februari. Bumi Riau mulai diselimuti kabut asap, jarak pandang mulai berkurang dan yang paling dikhawatirkan dampak kesehatan yang dapat menyerang seluruh kalangan umur akibat oksigen yang terkontaminasi partikel-partikel asap di udara.

Kota Pekanbaru misalnya, hari Kamis (6/2) kabut asap terlihat masih menyelimuti kota bertuah itu.  Meskipun mesin Indeks  Standar Pencemar Udara (ISPU) di depan Kantor Wali Kota Pekanbaru, kualitas udara Kota Pekanbaru tercatat sedang, namun jarak panjang yang terhambat kabut asap sangat dirasakan.

Salah seorang pengendara, Lastri (21)  mengaku sangat terganggu dengan peningkatan intensitas kabut asap. Lokasi kerja yang cukup jauh dari kediamannya menuntut wanita yang berprofesi sebagai pekerja swasta itu menggunakan masker saat berkendara.
‘’ Kalau sudah seperti ini, meskipun sudah pakai helm, tetap juga harus pakai masker. Karena selain debu membuat mata pedih, pernafasan juga terganggu. Ya untuk antisipasi saja, biar tidak sakit,” ungkap wanita berrambut hitam itu.

Begitu juga yang dirasakan Akmal (37). Pria berperawakan kurus itu mengaku kabut asap yang meningkat beberapa hari belakangan ini membuatnya mengurangi aktifitas di luar. Pria yang berprofesi sebagai penyedia jasa pemetaan dan rancang bangun itu mengharapkan kabut asap yang terjadi di Kota Pekanbaru dapat berkurang.

‘’ Tidak hanya orang dewasa, yang kasian itu anak-anak yang sekolah bisa sakit karena kabut asap ini. Pemerintah harusnya dapat bersikap dan mencarikan solusi, sehingga tidak berlarut-larut seperti tahun 2013 lalu,” papar pria berkualit putih itu.

 Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sugarin mengatakan hotspot di Riau, Kamis (6/2) cukup tinggi dengan mencapai 261 titik api.  Angka tersebut tergolong signifikan jika disbanding Pulau Sumatera dengan jumlah titik api  berjumlah 310 dari beberapa provinsi.

Untuk di Riau, titik api paling banyak ditemukan di Kabupaten Bengkalis sebanyak 127 hot spot, Pelalawan 59, Siak 44, Indragiri Hilir 25, Indragiri Hulu dan Rokan Hilir dua, Kampar dan Pekanbaru  satu hot spot. Sementara jarak pandang pagi hari tadi mencapai 1.000 meter, dengan kondisi tersebut, aktivitas penerbangan di bandara SSK II belum terganggu.

Sebelumnyam Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, Selatpanjang dikepung kebakaran lahan dan perkebunan sagu yang terjadi pada lima kecamatan di tiga pulau besar. Lebih dari 1.000 hektare perkebunan sagu milik perusahaan sudah jadi abu. Bahkan, pihak perusahaan mengaku kewalahan memadamkan api.

Lima kecamatan yang lahan dan perkebunannya terbakar adalah Kecamatan Tebing Tinggi Barat dan Tebing Tinggi Timur di Pulau Tebing Tinggi serta Kecamatan Rangsang dan Kecamatan Rangsang Pesisir di Pulau Rangsang. Selain itu kebakaran di Kecamatan Tasik Putri Puyu di Pulau Padang.

Status Asap di Riau Siaga Darurat
Status kabut asap di Riau sudah masuk dalam tahap siaga darurat. Dengan tahapan ini, proses antisipasi dan penanganan menjadi prioritas khusus untuk dilaksanakan secara berkelanjutan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Said Saqlul Amri menilai permasalahan itu perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, kabut asap di Riau bukan saja berdampak lokal juga sampai lintas nasional. Dia menilai status siaga darurat asap itu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Seperti jarak pandang yang berkurang dan beberapa kasus kebakaran lahan di beberapa daerah di Riau.

Untuk langkah penganan, Saqlul juga mengaku akan berkoordinasi ke BNPB pusat. Ini dilakukan untuk mendapat suport dana dalam penangananan kabut asap dari udara. Sementara untuk tingkat lokal, BPBD Riau berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dalam penyaluran masker dan keperluan pendukung.

‘Kita juga  sudah aksi untuk membagikan 5000 masker bersama Dinas Kesehatan dibundaran kantor gubernur Riau. Kita juga telah berkoordinasi dengan Kabupaten Meranti untuk memadamkan api, hal ini dikarenakan kebakaran lahan di Meranti cukup luas,’’ imbuh pria berkacamata itu.

Pemerintah Provinsi Riau juga menggelar apel siaga bencana kabut asap, Jumat (7/2) di halaman Kantor Gubernur Riau. Ratusan Tim Reaksi Cepat (TRC) diturunkan untuk memadamkan api akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di beberapa daerah rawan di Riau.  

Usai memimpin apel gelar pasukan, Penjabat Gubernur Riau H Djohermansyah Djohan mengatakan,  penanganan kabut asap di Riau akan menjadi perhatian serius. Untuk jangka pendek Pemprov akan menurunkan TRC. “Kabut asap kali ini diprediksi bulan Mei datangnya. Namun ternyata, lebih cepat di Bulan Februari berdasarkan data BMKG. Tapi bagaimanapun, langkah penanganan tetap harus dilakukan secara bersinergi dengan pihak-pihak terkait,” terangnya.

Dalam apel tersebut  diturunkan  100 pasukan Tim Reaksi Cepat (TRC) akan dikerahkan membantu penanganan kabut asap dan karhutla. “Kita bersama Stekeholder akan turun ke lapangan, untuk memadamkan api Gelar Apel Siaga Bencana Kabut Asap,”tutur Djohermansyah yang juga menjabat Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri itu.

Dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat mulai dikhawatirkan. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mulai mempersiapkan beberapa langkah antisipasi dan penanganan terhadap pengaruh peningkatan intensitas kabut asap. Untuk langkah awal, telah disiapkan 500 ribu masker yang sewaktu-waktu dapat disalurkan ke daerah yang diselimuti kabut asap. Proses penyaluran itu akan disesuaikan dengan usulan dari kabupaten/kota se Riau.  

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zainal Arifin kepada Riau Pos mengatakan, salah satu langkah yang diantisipasi adalah, penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). ‘’Saat ini, kita juga belum mendapatkan laporan dari kabupaten/kota jika ada yang terkena ISPA untuk meminta bantuan penambahan stok masker atau keluhan penyakit lainnya,” ujar Zainal.

Lanjutnya sesuai protap, kabupaten/kota akan melakukan pembagian masker kepada masyarakat yang membutuhkan. Pasalnya penanganan awal memang dilakukan instansi terkait di kabupaten/kota se Riau. ‘’Jika mereka kekurangan stok masker atau obat-obatan baru akan kita bantu. Tapi segera laporkan kita agar bisa kita distribusikan,” ungkapnya.

Dengan kondisi itu dia menilai, beberapa daerah yang memiliki angka hotspot tinggi seperti Selat Panjang dan beberapa daerah lainnya masih dapat melakukan penanganan. “Jika ternyata masker memang dibutuhkan masyarakat akibat kabut asap semakin pekat dan musim kemarau semakin panjang, maka persediaan masker sebanyak 500 Ribu buah itu akan dibagikan kepada Kabupaten/kota dan masyarakat secara gratis,” Katanya.

Seluruh instansi terpaksa bekerja keras melakukan upaya antisipasi dan penaganan kabut asap yang mulai menyerang Riau secara perlahan-lahan. Sampai kapan bumi melayu lancang kuning terus diselimuti kabut asap saat musim kemarau datang. Semoga kedepannya, Riau terbebas dari bencana yang bernama kabut asap. ***
KOMENTAR
Berita Update
Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK
Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Bongkar Reklame Ilegal
Rabu, 21 November 2018 - 12:30 wib
Pemkab Tak Tutup Mata pada Kerusakan Jalan Gajah Mada

Pemkab Tak Tutup Mata pada Kerusakan Jalan Gajah Mada
Rabu, 21 November 2018 - 12:00 wib
Maksiat Jangan Dianggap Sepele

Maksiat Jangan Dianggap Sepele
Rabu, 21 November 2018 - 11:30 wib
Kayu Tumbang, Listrik Padam 21 Jam

Kayu Tumbang, Listrik Padam 21 Jam
Rabu, 21 November 2018 - 11:15 wib
Kapolda Sampaikan Pesan Kamtibmas di Subuh Berjamaah

Kapolda Sampaikan Pesan Kamtibmas di Subuh Berjamaah
Rabu, 21 November 2018 - 11:00 wib

Pingsan dan Meninggal Usai Lomba Salawat
Rabu, 21 November 2018 - 10:45 wib
APBD 2019 Rp1,47 T

APBD 2019 Rp1,47 T
Rabu, 21 November 2018 - 10:45 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Ketika "Tujuh Hantu" Tak Lagi Adang BBM Rakyat

Selasa, 06 November 2018 - 21:13 WIB

Ada Apa di Balik Deklarasi Itu?

Rabu, 24 Oktober 2018 - 16:59 WIB

Hotel Ayola Tawarkan Menu Crispy Chicken Steak

Rabu, 24 Oktober 2018 - 11:30 WIB

Tebar Buku UAS hingga Bisnis Daring dengan Sentuhan Jari
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us