Kisah Penjaga Pintu Perbatasan Zona Merah Gunung Sinabung
Rindukan Tidur Nyenyak di Rumah
Selasa, 04 Februari 2014 - 10:04 WIB > Dibaca 179 kali Print | Komentar
Berita Terkait

Taman Nasional Gunung Merapi Ditutup



KARO (RIAUPOS.CO)  - Sejak Oktober 2013 lalu, Serda Musa Arsi dan Serda Sudiyono ditugaskan menjaga pintu perbatasan zona merah. Tidur di mana saja, bahkan sempat tidur di warung kopi dan pinggir jalan.

Lokasi penjagaan Musa Arsi dan Sudiyono di radius rawan tersebut letaknya di Desa Payung Simpanggurki Kecamatan Payung Kabupaten Karo.

Mereka bertugas hanya didukung portal terbuat dari bambu dan spanduk bertuliskan larangan masuk. Kedua personel TNI dari Kodim 0205 itu berupaya mensterilkan daerah yang menghubungkan langsung ke mulut kawah Gunung Sinabung itu. Dengan berjaga di radius 5 Km dari Gunung Sinabung.

Terlebih, ada beberapa jalan tembusan (jalan tikus) untuk sampai ke Desa Sukameriah, Desa Simacem dan Desa Bekerah, sehingga menuntut untuk siaga ekstra.

‘’Untuk tidur, biasanya kami tidur di warung kopi di depan jalan masuk zona merah yang kami jaga. Terkadang juga, kami tidur di teras rumah warga dengan beralas tikar. Selain tempat, tanggung jawab atas tugas yang kami emban juga membuat kami tidak nyenyak tidur,’’ ungkap Sudiyono ketika berbincang dengan RPG di Simpang Desa Gurukinayan, Senin (3/2) pagi.

Begitu juga untuk mandi, ayah dua anak itu mengaku melakukannya di kamar mandi sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang ada di Desa Payung Kecamatan Payung.

Namun, diakui anggota TNI yang tinggal di Desa Samura Kecamatan Kabanjahe itu, kalau kenyamanan selayaknya membersihkan badan tidak didapatinya.

Disebutnya, hal itu mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya, untuk tetap siaga dan bergerak cepat.

‘’Pada dasarnya, kami merasa puas dapat berbuat untuk masyarakat. Oleh karena itu, kami tetap bertahan untuk melaksanakan tugas pengabdian kami dengan ikhlas. Namun tidak dipungkiri, kalau kami juga rindu untuk dapat kembali berkumpul dengan keluarga dan beraktivitas seperti biasanya,’’ ujar Sudiyono menambahkan.

Untuk perasaan khawatir, Serda Sudiyono mengaku merasa lebih khawatir menjaga pintu berbatasan zona merah Gunung Sinabung. Terutama bila dibanding saat dirinya bertugas di daerah konflik seperti di Aceh beberapa tahun lalu.

Dikatakannya, hal itu mengingat bahaya yang dihadapi. Disebutnya, ketika dirinya berada di daerah konflik, hal terbesar yang dihadapi adalah serangan musuh yang pada dasarnya dapat diprediksi.

Namun, untuk tugas menjaga pintu perbatasan zona merah, disebutnya kalau bahaya yang dihadapi adalah alam yang tidak dapat diprediksi secara pasti sekali pun menggunakan alat pendeteksi.

‘’Seperti hal paling tidak terlupakan oleh saya yaitu saat gunung itu pernah bererupsi besar. Saat itu saya berada di perbatasan Desa Gurukinayan dan Desa Sukameriah. Saat itu, saya bersama masyarakat, sama-sama lari untuk menyelamatkan diri,’’ ujarnya mengakhiri perbincangan.

Senada dengan Sudiyono, Musa Asri juga mengaku belum pernah merasakan tidur yang nyeyak dan sangat merindukannya juga.

Terutama selama ditugaskan di pintu perbatasan zona merah Gunung Sinabung. Namun, diakuinya kalau dirinya tidak mengeluhkan hal itu karena sudah menjadi konsekuensi baginya, sebagai seorang TNI.

Begitu juga dengan kerinduannya pada keluarga, diakuinya terobati dengan cara berkomunikasi via telepon.

Dikatakan bapak 4 anak itu, kabar akan kondisi baik keluarga, menjadikannya semakin kuat untuk bertahan melaksanakan tugas pengabdiannya itu.

‘’Dengan kedatangan mereka, saat itu saya merasa kerinduan saya semakin terobati. Saat itu mereka bermaksud berwisata, sembari mengunjungi saya. Namun perlu diketahui kalau keluarga tentara, harus siap dengan konsekuensi seperti ini,’’ ungkap anggota TNI yang tinggal di Jalan Turi Kecamatan Medan Kota itu singkat.

Saat disinggung adanya masyarakat masuk ke daerah larangan hingga memakan korban jiwa beberapa waktu lalu, Sudiyono dan Musa mengaku kalau mereka yang masuk sudah diperingatkan sebelumnya. Bahkan, keduanya meyakini kalau mereka yang masuk ke daerah berbahaya itu, melalui jalan tikus.

Disebut keduanya kalau keduanya akan melarang keras masyarakat memasuki daerah larangan, dengan alasan apapun. Terlebih, dikatakan keduanya bila mereka mendapat intruksi dari pimpinan mereka.

‘’Kalau untuk pintu perbatasan zona merah yang ada di Kecamatan Payung ini, ada 4 pintu perbatasan yaitu Simpang Gurki, Simpang Perbaji, Simpang Temberun, Simpang Mardinding. Namun, pintu perbatasan di Simpang Gurki ini yang menjadi jalur terdekat dan langsung menuju mulut kawas gunung,’’ tegas keduanya mengakhiri.(ain/esi)
KOMENTAR
Berita Update

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan
Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib
2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000
Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib
Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari
Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib
Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK

Pemkab Bakal Hibahkan Gedung SMK
Rabu, 21 November 2018 - 12:45 wib

Bongkar Reklame Ilegal
Rabu, 21 November 2018 - 12:30 wib
Pemkab Tak Tutup Mata pada Kerusakan Jalan Gajah Mada

Pemkab Tak Tutup Mata pada Kerusakan Jalan Gajah Mada
Rabu, 21 November 2018 - 12:00 wib
Plastik Ditopang Pertumbuhan Industri Mamin

Plastik Ditopang Pertumbuhan Industri Mamin
Rabu, 21 November 2018 - 11:35 wib
Maksiat Jangan Dianggap Sepele

Maksiat Jangan Dianggap Sepele
Rabu, 21 November 2018 - 11:30 wib
Kayu Tumbang, Listrik Padam 21 Jam

Kayu Tumbang, Listrik Padam 21 Jam
Rabu, 21 November 2018 - 11:15 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Ketika "Tujuh Hantu" Tak Lagi Adang BBM Rakyat

Selasa, 06 November 2018 - 21:13 WIB

Ada Apa di Balik Deklarasi Itu?

Rabu, 24 Oktober 2018 - 16:59 WIB

Hotel Ayola Tawarkan Menu Crispy Chicken Steak

Rabu, 24 Oktober 2018 - 11:30 WIB

Tebar Buku UAS hingga Bisnis Daring dengan Sentuhan Jari
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us