Akses Jalan Masih Perlu Perhatian Serius
Pangkalan Indarung, Desa Tujuan Wisata Minim Infrastuktur
Minggu, 02 Februari 2014 - 11:27 WIB > Dibaca 2725 kali Print | Komentar
Pangkalan Indarung, Desa Tujuan Wisata Minim Infrastuktur
Kaum perempuan sedang menjunjung Tanjak berwarna-warni melewati sungai hendak menuju pekuburan, tradisi tahunan masyarakat Desa Pangkalan Indarung. Foto: muhammad hapiz/riau pos
Berita Terkait



Desa Pangkalan sudah dijadikan salah satu tujuan wisata di Kuansing sebab kealamian alamnya. Akan tetapi, perkembangan desa berjalan lambat ditandai dengan akses jalan yang masih sedikit dibenahi. Perlu perhatian lebih serius lagi bagi desa yang memiliki potensi ekowisata dan wisata homestay ini.

Laporan MUHAMMAD HAPIZ, Kuansing

SETIAP tahun, dengan mengambil masa cuti kerja, Zulfikri (49) warga Negeri Selangor negara Malaysia berkunjung ke Kuansing, Indonesia. Ia yang masih memiliki garis keturunan Kuansing ditambah istrinya yang dulunya warga Desa Kebun Lado, Kecamatan Singingi Hilir, Kuansing, selalu rindu untuk menjajaki tanah leluhurnya itu. Jika berkunjung ke rumah keluarga di Kuansing yang biasanya tidak kurang dari sepuluh hari, ia pasti menyempatkan diri untuk ke Desa Pangkalan Indarung, menikmati dan merasakan panorama alam yang alami.

‘’Bile ade tempat seperti ini (Desa Pangkalan, red), di Malaysia, pastilah jadi tempat tujuan wisata yang ramai dikunjungi. Alamnya masih elok. Sungainya bersih. Kalau kite punya jiwa adventure, tepatlah ke sini. Tiap cuti tahunan saya bersama keluarga selalu ke sini. Entah kenape, selalu rindu merasakan kampung ni. Tapi sayangnya, Desa Pangkalan ini tampaknya tak begitu diperhatikan. Kalau di Malaysia, macam ni bisa juga dikelola wisata home stay. Sebab rumah-rumah penduduk masih alami dan adat tradisi masih terjaga dengan baik,’’ ucap Jo, panggilan akrab Zulfikri.

Maksud kurang diperhatikan yang diungkapkan Jo itu terutama masalah akses jalan. Untuk menuju Desa Pangkalan Indarung, Kecamatan Singingi, Kabupatan Kuansing ini bukan tergolong mudah. Dari Desa Muara Lembu, Ibukota Kecamatan Singingi, menuju Desa Pangkalan Indarung akan melalui jalan yang beraspal dan berbeton dipangkal dan ujung saja. Sementara di bagian tengah, dengan panjang sekitar 15 Kilometer, masih jalan tanah dengan medan berbukit terjal berupa pendakian dan penurunan panjang yang cukup ekstrim. Maklum saja, Desa Pangkalan Indarung ini terletak di perbatasan Riau-Sumbar dan berada di dalam Hutan Lindung Bukit Rimbang Bukit Baling serta Hamparan Bukit Barisan yang membentang ditengah Sumatera. Jalan dari Muara Lembu saat ini akses satu-satunya menuju Desa tersebut.

Riau Pos kembali merasakan baru-baru ini bagaimana masih sulitnya akses menuju Desa Pangkalan itu. Berangkat pagi hari dengan cuaca cerah, akan bisa mencapai Desa Pangkalan dengan waktu dua jam. waktu yang tergolong lama sebenarnya sebab jarak yang ditempuh hanya 30 Kilometer. Namun naasnya, saat ingin kembali dari Desa itu pada sore harinya, hujanpun turun. Kendaraan yang Riau Pos tumpangi tidak berhasil menaiki pendakian terjal hingga akhirnya terpaksa bermalam di kampung itu.

Tiga tahun sebelumnya, Riau Pos juga pernah menyambangi Desa yang berpenduduk lebih dari 1.000 kepala keluarga itu. Waktu itu masalah jalan tetap menjadi sorotan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Perkembangan selama tiga tahun itu, didapati hanyalah berupa pembangunan Jalan beton di pendakian curam mendekati Desa Pangkalan dengan panjang sekitar 7 kilometer. Itupun jalan beton yang dibangun dibagian kiri dan kanannya tidak ditimbun sehingga tampak jelas kecuraman semenisasi yang akan cepat hancur jika dilalui kendaraan.

‘’Ya, beginilah Desa kami ini. Kalau dikatakan tidak ada pembangunan, berbohong kami. Ada memang pembangunan, tapi bisa dilihat sendirilah hanya beberapa kilometer yang dibangun jalan. Itupun tidak ada koordinasi dengan kami perangkat desa. Kalau ada kordinasi, jika memang anggarannya sedikit, akan lebih baik sebenarnya dibangun jalan beton di turunan-pendakian yang tajam itu. Karena turunan-pendakian tajam itu banyak yang kecelakaan dan kalau hujan masyarakat tidak bisa keluar dari desa,’’ ujar Sekretaris Desa Pangkalan Indarung, Kuansing, Iman.

Sebenarnya, Iman bersama masyarakat desa sangat berharap agar akses jalan dari Muara Lembu menuju desa diperbaiki seluruhnya yang menyisakan sekitar 17 kilometer lagi. Memahami anggaran pembangunannya cukup besar, ia berharap pemerintah Provinsi Riau dan Pemkab Kuansing bisa kongsi menganggarkan dengan jangka waktu beberapa tahun. Kalau seluruh jalan sudah diperbaiki, ia meyakini ekonomi masyarakat Pangkalan akan terdongkrak dengan pesat.

‘’Kalau kongsi anggaran dan komitmennya serius, dua tahun jalan kami ini sudah selesai semua. Untuk menuju Muara Lembu, palingan hanya butuh waktu setengah jam. Kalau sekarang, paling cepat dua jam kalau hujan bisa lebih lama lagi. Dan banyak yang terkurung di tengah jalan karena hujan sebab kendaraannya tidak bisa menaiki pendakian tajam. Dan banyak juga yang mengalami kecelakaan bahkan ada truk pembawa karet yang jatuh kejurang. Masyarakat kami ini usahanya berkebun karet dan sebagian kecil ada yang bertanam sawit. Sebagian lagi mencari ikan dan bersawah serta menanam sayuran. Kalau akses jalan mudah, hasil pertanian dan perkebunan lebih mudah dibawa ke kota, ekonomi masyarakat otomatis terangkat. Dengan kondisi sekarang saja, patut kami sukuri sebenarnya, ekonomi masyarakat sudah mulai baik sebab jalan sudah agak bagus. Apalagi kalau dimuluskan semua,’’ papar Iman.

Tradisi, Ekowisata dan Homestay
Masih alaminya tiga hal yang menjadikan Desa Pangkalan Indarung menarik untuk dikembangkan pariwisatanya. Yaitu kondisi alam yang masih alami dimana hutan, sungai berarus tenang dan deras serta air terjun lalu diperkokoh pula masih terjaganya adat istiadat masyarakat setempat. Berada dekat dengan hutan lindung, Desa Pangkalan Indarung memiliki tutupan hutan yang tergolong alami dan tentu saja tidak bisa sembarangan membuka lahan di sana. Pengembangan desa tersebut bisa seiring dengan upaya pemerintah untuk menjaga tidak rusaknya lingkungan hutan lindung serta ekosistem.

Dikemukakan Datuk Bandaro Desa Pangkalan Indarung, Kuansing, Sugiro, binatang dan tumbuhan langka masih bisa ditemukan di Desa Pangkalan. Salah satunya, ia menyebutkan, seringnya warga desa melihat bahkan berjumpa langsung dengan Harimau Sumatera yang tergolong hewan paling dilindungi saat ini. Dengan masih berpegang teguh kepada adat istiadat dan Agama Islam, katanya yang membuat sampai saat ini tidak ada warga desa yang dimangsa Harimau itu.

‘’Selama adat istiadat dan petuah tidak dilanggar serta tuntunan Islam dilaksanakan alias tidak melakukan Zina, Miras dan lainnya, maka kampung ini Insya Allah aman. Sudah sering warga di sini bertemu dengan Harimau, tapi almhamdulillah tidak ada apa-apa. Hutan masih banyak, makanya hewan buas juga banyak. Tiap tahun kami melaksanakan doa tolak bala untuk menjaga kampung,’’ ucap dia.

Selain itu, ia tuturkan tradisi yang masih terjaga adalah Lubuk Larangan. Lubuk Larangan berupa bentangan sungai yang memiliki lubuk atau cukup dalam dengan panjang sekitar 500 meter di tengah kampung dimana masyarakat dilarang untuk mengambil ikannya dalam kurun waktu tertentu. Melalui upacara adat, larangan dinobatkan dan melalui upacara adat pula lubuk larangan dibuka untuk dipanen bersama-sama. ‘’Lubuk larangan itu sudah ada sejak kampung ini ada. Kalau ada warga yang ketahuan mengambil ikan di lubuk larangan, maka akan dikenakan denda. Dendanya Rp1 juta dan bisa lebih besar jika ia melakukan tindakan yang lebih lagi seperti mengambil ikan dengan cara meracun,’’ ujar Sugiro.

Keasrian alam nan masih alami dan terjaganya adat istiadat benar-benar bisa dirasakan di Desa Pangkalan Indarung. Riau Pos berkeliling kampung dan melalui hutan yang lebat menuju perbatasan kampung dimana kebun karet masyarakat ada. Melalui sungai yang jernih, akan melalui jalur air yang sebagian tenang dan makin ke atas (arah ke bukit barisan), akan semakin deras. Di arus deras sungai ini, agaknya bisa dijadikan wisata sport arung jeram.

‘’Kalau kuat lebih ke atas lagi, bisa dijumpai beberapa air terjun. Tapi harus jalan kaki, sebab kalau gunakan sampan atau robin (sampan bermesin) tidak bisa karena batu-batunya terjal ditambah lagi melawan arus yang kuat. Kalau batu-batunya dibersihkan, terutama yang besar-besar, bisalah untuk arung jeram. Saya lihatnya di televisi dan bisa dibuat di sini,’’ ucap Muncak (36), pemuda Desa Pangkalan Indarung yang mendampingi Riau Pos.

Sedangkan untuk adat istiadat, setiap tahun, tepatnya di hari kedua hari Raya Idul Fitri, tradisi adat masyarakat setempat yang masih dilakukan sejak dulunya sampai sekarang adalah doa pekuburan. Berbeda dengan doa pekuburan yang lazim dilakukan, warga Desa akan berbondong-bondong mendatangi mengunjungi kuburan keluarga dan berakhir di kuburan tetua kampung yang disebutkan orang pertama kali membuka kampung itu ratusan tahun silam. Doa terakhir ini disebut doa ke kuburan keramat.

Di kuburan keramat warga Salat Zuhur bersama, membacakan pepatah petitih adat istiadat untuk cucu anak kemenakan, doa bersama lalu diakhiri dengan makan bersama. Dan uniknya, makanan dibawa oleh kaum perempuan menggunakan tanjak yang dijunjung di atas kepala dengan balutan kain tenunan berwarna-warni. Melihat kaum perempuan membawa tanjak bewarna-warni secara beriring-iringan, merupapakan satu pemandangan yang menarik pula.

Begitupun potensi wisata homestay. Homestay dikenal dengan model wisata dimana wisatawan akan mengunjungi desa tersebut, menginap di rumah warga sambil mengenal lebih jauh adat istiadat dan kebiasaan masyarakat desa. Model wisata ini telah banyak dikembangkan di Jawa Barat dan dikelola lebih profesional lagi di negara lain, seperti halnya Malaysia.

‘’Masyarakat kami terbuka untuk siapa saja yang mau datang. Kami senang kalau ada yang mau belajar adat istiadat kami. Tapi harus mengikuti adat istiadat di sini dan tidak melanggar norma agama. Banyak yang sudah kemah di tepi sungai dekat kampung dan mereka permisi ke kami masyarakat. Tidak masalah, bahkan pemuda kampung senang tapi juga kami ingatkan pantang larangannya, terutama jangan berbuat zina. Sejauh ini yang kemah atau penasaran berwisata ke sini, orang-orang menggunakan mobil petualang (off road). Karena jalan kesini kan medannya sulit,’’ papar Sugiro.

Tokoh masyarakat Kuansing Ir Mardianto Manan MT mengutarakan, potensi Desa Pangkalan bisa dijadikan salah satu destinasi wisata khususnya bagi Kuansing. Melihat potensi alam yang masih alami, kuatnya adat istiadat, akan menjadi kombinasi yang menarik untuk daerah tujuan wisata. ‘’Untuk itu perhatian pemerintah harus lebih lagi terutama memperbaiki jalan ke sana. Apalagi desa itu berada Hutan Lindung Bukit Rimbang Baling dan Bukit Barisan. Sekaligus mengembangkan desa, bisa dipadukan dengan misi pemerintah menjaga hutan lindung itu supaya tidak dirusak,’’ ucapnya.***
KOMENTAR
Berita Update

Dua Kecamatan Masih Terendam
Sabtu, 16 November 2018 - 17:30 wib
Lutut Istri  Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga
Sabtu, 16 November 2018 - 17:00 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap
Sabtu, 16 November 2018 - 16:15 wib
Plt Gubri Bersama Dirut Teken Kerja Sama
BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional
Sabtu, 16 November 2018 - 16:00 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD
Sabtu, 16 November 2018 - 15:45 wib
Pedagang  Belum Tahu  Kapan Direlokasi

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi
Sabtu, 16 November 2018 - 15:30 wib
Dibuka Tim Bupati Vs Wartawan
50 Tim Ikuti Serindit Boat Race
Sabtu, 16 November 2018 - 15:15 wib
Spesialis Bongkar  Rumah Kosong Diringkus

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus
Sabtu, 16 November 2018 - 15:00 wib
Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis
Sabtu, 16 November 2018 - 14:45 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Ketika "Tujuh Hantu" Tak Lagi Adang BBM Rakyat

Selasa, 06 November 2018 - 21:13 WIB

Ada Apa di Balik Deklarasi Itu?

Rabu, 24 Oktober 2018 - 16:59 WIB

Hotel Ayola Tawarkan Menu Crispy Chicken Steak

Rabu, 24 Oktober 2018 - 11:30 WIB

Tebar Buku UAS hingga Bisnis Daring dengan Sentuhan Jari
Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini