Belian Berdarah

27 Mai 2012 - 07.39 WIB > Dibaca 4167 kali | Komentar
 
Abah Dayu menepuk-nepukkan telapak tangannya. Semua perlengkapan pengobatan belian telah dikeluarkan dari tepak. Abah Dayu bersila di hadapan pedupaan. Asap kemenyan mengepul. Bau tajam menguar. Mencakar-cakar rongga hidung. Sejumlah talam sesaji berisi limau, tepung beras, ayam jantan, giring-giring, kain batik, janur, beras, madu lebah, kipas daun kelapa, lilin dan damar diletakkan di hadapan Abah Dayu.

Fatimah belum lagi sadarkan diri. Telah tiga hari ia kerasukan uang bunian. Siang tadi, ia sempat mengamuk. Melempar barang-barang. Menghancurkan cermin hias, dengan mata membeliak-liak buas. Kini wajahnya tampak pucat sekali. Keringat dingin tempias di keningnya. Sepertinya ia sangat kelelahan. Setelah berhari-hari belingsatan di halaman rumah mengucau-ngucau tanah.

Abah Dayu menjumput segenggam beras, lalu melambungnya ke langit-langit rumah. Seketika, kakinya menghentak-hentak di atas tikar pejungkuran mengiringi bunyi ketobung yang Sarah pukul bertalu-talu. Sebagai anak iyang, Sarah tak boleh lelah menabuh ketobung. Meski malam telah suntuk. Sedetik saja ia berhenti, upacara belian bisa gagal.

Gelar kemantan resmi disandang Abah Dayu empat bulan yang lalu melalui Datok Samboh, tetua adat Suku Petalangan. Waktu itu Abah Dayu bersaing ketat dengan Pak Ngo Sulaiman yang juga mewarisi ilmu belian dari almarhum ayahnya. Meski piawai meracik obat, Pak Ngo Sulaiman ternyata kurang fasih melafal beberapa mantera pengobatan. Sementara Abah Dayu hampir tak ada cacat sama sekali. Segala ritual yang ia pertontonkan di hadapan khalayak begitu mulus dan sempurna. Akhirnya, tanpa kesulitan yang berarti, Datok Samboh pun memilih Abah Dayu sebagai kumantan yang baru.

Setelah dilantik, Abah Dayu dan keluarganya tinggal di Anjung Godang. Dilayani pembantu bak seorang raja. Puluhan hektare ladang dan kebun karet jadi milik Abah Dayu. Usut-punya usut, ternyata kemenangan Abah Dayu memang telah direncanakan. Datok Samboh ingin menjodohkan Zailani, putera bungsunya dengan Sarah, puteri sulung Abah Dayu. Sejak setahun lalu, Zailani memang sangat tergila-gila pada kecantikan Sarah. Berkali-kali ia coba merayu dan mengutarakan hasratnya, namun Sarah selalu menampikknya. Karena Datok Samboh sangat menyayangi Zailani, ia pun melakukan pendekatan pada Abah Dayu.

"Rupa-rupanya Zailani begitu tergila-gila pada Sarah. Ia ingin sekali mempersunting putrimu itu jadi istrinya. Tapi entah kenapa, putrimu itu selalu saja menolaknya," Datok Samboh berkata dengan wajah muram.

"Datok tak usah khawatir. Semua bisa diatur. Tapi tentu saja ada syarat yang harus Datok penuhi". Abah Dayu tersenyum sambil membelai-belai jenggotnya yang lebat.

"Syarat? Apa itu?"

"Datok harus memenangkanku pada pemilihan kumantan baru di balai adat besok. Bagaimana?"
***

Mak Anis mengiris sebatang lempuk duian tipis-tipis. Sementara Sarah memasukkannya ke dalam pinggan saji. Sedang Kamah dan Hauladua pembantu yang dipekerjakan di Anjung Godang, sibuk mempersiapkan berbagai macam makanan dan lauk pauk di dapur.

"Malam nanti Abah kau akan mengobati Fatimah lagi." Mak Anis menatap wajah Sarah. "Mak Inong subuh tadi datang kemari. Katanya, penyakit putrinya itu kambuh lagi. Kau harus mencari madu di hutan sialang, ya? Mak tengok di lemari, persediaan madu Abah kau tinggal sedikit."

"Tapi aku tak pandai menumbai Mak," ucap Sarah sembari meletakkan pinggan saji di meja makan.

"Temui saja Samsul, putera Pak Ngo Sulaiman di kebunnya. Dia sangat mahir menumbai madu. Kau bisa meminta bantuannya."

"Kalau Abah tahu, bisa marah besar. Emak kan tahu, Abah dan Pak Ngo Sulaiman tak pernah saling akur? Datok Samboh bilang, mereka bahkan telah bermusuhan sejak dua puluh tahun silam. Mak tahu perselisihan apa yang telah terjadi antara Abah dan Pak Ngo Sulaiman sehingga mereka tetap berkeras hati hingga kini?"

"Hush! Kau ini. Yang tidak-tidak saja yang kau tanyakan tu. Sudahlah, pergi sana!"
***

Samsul baru saja menabur racikan tepung tawar yang dibuat dari campuran tepung beras dan aneka dedaunan hutan di sekitar pokok sialang. Dari bibirnya yang tipis, melantun sejumlah mantera magis.

Popat-popat tanah ibul

Mai popat di tanah tombang

Nonap-nonap Cik Dayangku tidou

Juagan modo di pangkal sialang...

Samsul lalu menepuk batang sialang tiga kali. Tak lama kemudian, terdengar dengung lebah yang keluar dari sarang. Pertanda ritual menumbai telah direstui Tuan Puteri Nilam Cahaya, yang dianggap sebagai ratu lebah penghasil madu.

Samsul lalu menyalakan tunam dan menggarahkannya ke sarang lebah. Ratusan lebah pun mendengung meninggalkan sarang. Gegas Samsul memanjat sigai menuju puncak sialang. Dengan cekatan, ia mencabik sarang lebah lalu memasukkan madunya ke dalam timbo.

"Bang Samsul...!" teriak seorang gadis dari bawah pokok sialang. Samsul menoleh ke arah suara. Ahai... ternyata Sarah yang datang! Dengan mata berbinar-binar, Samsul pun bergegas turun menemui kekasih hatinya itu.

"Apa gerangan yang sudah membawa engkau datang kemari, Sarah?" tanya Samsul sembari melemparkan senyumnya yang menawan.

"Nanti malam Abah akan melaksanakan upacara belian lagi di balai adat. Abah perlu madu lebah untuk kelengkapan sesaji. Makanya pagi-pagi sekali, Mak menyuruhku menemui Abang untuk dapat madu lebah."

"Ya sudah. Ini madu untuk kau." Samsul mengangkat timbo di tangannya ke hadapan Sarah. "Sekarang cepatlah pulang. Nanti bisa celaka kalau Abah kau sampai tahu kau datang ke mari".

"Tapi aku masih ingin bersama Abang di sini..." Sarah merangkul tangan Samsul yang kekar lalu menyandarkan kepalanya di pundak Samsul yang kokoh. "Aku sangat merindukan Abang. Sudah hampir sebulan kita tak bertemu, kan? Apa Abang tak merindukanku?"

"Bagaimana mungkin aku tak merindukan orang yang paling aku sayangi? Sehari saja tak bertemu kau, rasanya seperti seabad saja. Kau tahu? Betapa inginnya aku memersunting engkau. Tapi sayang, kedua orangtua kita tak merestui. Bahkan, kini kau telah dipersunting putera sulung Datok Samboh itu. Hati ini rasanya sakit sekali!"

"Sampai kapanpun, aku hanya akan mencintai Abang seorang," Sarah berkata lirih. Samsul segera memeluk tubuh Sarah dengan erat. Erat sekali! Seperti tak mau ia lepaskan lagi.
***

Setelah disembur dengan air kelapa muda, Fatimah akhirnya sadarkan diri. Sarah pun berhenti menabuh ketobung. Sementara mata Abah Dayu tampak membelalak. Sepertinya ia melihat sesuatu yang tampak ganjil di bagian perut Fatimah.

"Apa kau tengah mengandung, Fatimah?" Tanya Abah Dayu tanpa mengedipkan mata.

"Ak, ak, ku." Suara Fatimah seperti tersedak di kerongkongan.

"Kau, kau hamil? Ya Tuhan, Siapa yang telah menghamili engkau, Fatimah?" Mak Inong mengguncang-guncang tubuh putrinya itu.

"Ak, ak, ku."

"Katakan siapa laki-laki itu, Fatimah?!"

"Laki-laki itu Samsul, Mak! Samsul-lah yang telah merenggut keperawananku dua bulan lalu di hutan sialang. Dan sekarang, aku tengah mengandung anaknya."

Semua yang mendengarnya terbelalak tak percaya. Terutama Mak Inong dan Sarah. Mereka benar-benar terguncang!
***

Mak Anis terkejut sekali melihat Sarah pulang dengan berurai air mata. Segera dipeluknya anak gadisnya itu sambil membelai-belainya dengan sayang, berusaha meredam amarah yang tengah berkecamuk di hatinya.

"Apa Mak tahu penyebab Fatimah kerasukan uang bunian?" tanya Sarah sembari menyusut air mata. Mak Anis menggelang.

"Ternyata Fatimah saat ini tengah hamil."

"Apa? Hamil?" Mak Anis menelan ludah.

"Tahukah Mak siapa laki-laki yang telah menghamilinya?"

"S... siapa?"

"Bang Samsul, Mak. Bang Samsul-lah yang telah menghamilinya!"

"Apa?" Mak Anis terbelalak tak percaya. "Tak mungkin Samsul bisa berbuat sekeji itu. Dia anak baik-baik. Fatimah pasti telah berbohong!"

"Meski benar sekalipun, aku takkan pernah rela jika Bang Samsul harus bertanggung jawab atas anak yang dikandung Fatimah. Aku sangat mencintai Bang Samsul. Dan Bang Samsul pun sangat mencintaiku. Kami sama-sama saling mencintai."

Mak Anis hampir tersedak mendengar penuturan Sarah barusan. "Apa kau bilang tadi? Kalian saling mencintai? Apa kau sudah gila, Sarah? Kau telah bertunangan dengan Zailani, putera sulung Datok Samboh!"

"Tapi aku tak mencintainya. Aku hanya mencintai Bang Samsul!"

"Sudah! Kau jangan banyak bertingkah lagi. Persiapkan saja dirimu sebaik-baiknya untuk menyambut penikahan kalian di balai adat besok. Dua bulan bukan waktu yang lama. Jangan sampai kau membuat malu keluarga."

"Sampai kapanpun aku tak akan sudi menikah dengan Zailani. Aku hanya ingin menikah dengan Bang Samsul!"

"Ya Tuhan, setan apa yang sudah membuat kau seperti ini, Sarah?" Mak Anis mengurut dada. "Sampai menangis darah sekalipun kau memohon, Emak takkan pernah merestui hubungan kalian."

"Kenapa?"

Hening.

"Kenapa Mak diam? Kenapa Mak tak pernah merestui hubungan kami? Padahal kami saling mencintai?"

"Karena kalian memang diharamkan untuk menikah!"

"Haram? Maksud, Mak?"

"Samsul adalah anak kandung Emak. Kalian adalah kakak adik yang sama-sama terlahir dari rahim Emak."

"Ya Tuhan..." bibir Sarah bergetar. Ia benar-benar tak bisa percaya atas apa yang dituturkan Emaknya barusan. Semuanya terasa bagai mimpi.

"Dua puluh tahun silam, Emak dan Pak Ngo Sulaiman adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun sayang, kedua orangtua Mak dan Pak Ngo Sulaiman tak merestui hubungan kami. Sampai akhirnya Emak dijodohkan dan dinikahkan dengan Abah Dayu. Padahal waktu itu Emak tengah mengandung anak dari Pak Ngo Sulaiman.
 
Sebulan setelah Emak melahirkan Samsul, diam-diam Pak Ngo Sulaiman datang menemui Mak. Ia memaksa Emak menyerahkan Samsul padanya. Kalau tidak, ia akan membocorkan rahasia Emak yang telah hamil duluan sebelum menikah dengan Abah Dayu. Namun rupa-rupanya Abah Dayu mendengar pembicaraan kami dari balik pintu. Mengetahui hal itu, Pak Ngo Sulaiman pun buru-buru lari membawa Samsul. Sejak itu Abah Dayu dan Pak Ngo Sulaiman saling bermusuhan. Tiap kali bertemu, pasti ada hawa dendam yang terpancar dari tatapan mereka..."

"Mak Anis! Mak Anis.!" tiba-tiba terdengar teriakan Kamah dari teras rumah.

"Ada apa, Kamah? Kenapa engkau berteriak-teriak seperti dikejar-kejar setan begitu?" heran Mak Anis dari muka pintu.

"Samsul, Mak. Samsul mati ditikam Abah Fatimah usai berkelahi di halaman balai adat beberapa saat setelah upacara belian selesai!"

Serupa mendengar dentuman guntur di tengah hari. Mak Anis terhenyak bukan kepalang. Sementara tubuh Sarah tampak menggigil hebat. Dengan mata berkunang-kunang, dituruninya setiap anak tangga sambil membelai-belai perutnya yang mulai tampak membuncit.

"O, anakku yang malang. Alamatlah kau akan lahir ke dunia sebagai anak gampang tanpa ayah," lirih Sarah menyembilu, sebelum akhirnya roboh ke tanah. ***


Catatan:
Belian: tradisi pengobatan Suku Petalangan
Orang bunian: mahluk halus
Ketobung: sejenis gendang
Anak iyang: orang yang bertugas memukul ketobung
Kemantan: gelar tertinggi yang diberi pada dukun/ tabib
Lempuk durian: sejenis dodol yang terbuat dari buah durian
Menumbai: tradisi mengambil madu
Tunam: sejenis obor yang digunakan untuk mengusir lebah dari sarangnya
Sigai: tangga
Timbo: sejenis bakul yang dibuat dari anyaman rotan
Anak gampang: anak haram jadah



Ahmad Ijazi H,
Kelahiran Rengat, Indragiri Hulu Riau. Pernah meraih beberapa penghargaan bergengsi di bidang menulis, salah satunya nominasi Sayembara Novel Ganti Award ke IV se-Riau dengan novel Metafora dan Alegori, 2008, dll. Kini masih studi di UIN Suska Riau. Bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 11:52 wib

Pentingnya Terapi untuk Orangtua Anak Autis

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:50 wib

Awali Kebangkitan Superhero Indonesia

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:41 wib

Kado Terakhir Iniesta

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:40 wib

Petasan Dilarang, Satpol PP Patroli Pasar Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:37 wib

Tiga Kali Panggilan Hearing Tak Digubris

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:31 wib

Tegang Jelang Ucap Janji

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:27 wib

Menulis Tradisi dalam Bait-bait Puisi

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:24 wib

Bandar Kayangan, Unik nan Menarik

Follow Us