Wonderful Indonesia
Semen Indonesia dan Tantangan Pembangunan
Menjadi Kampiun di Dalam dan Luar Negeri
Minggu, 19 Januari 2014 - 09:47 WIB > Dibaca 453 kali Print | Komentar
Menjadi Kampiun di Dalam dan Luar Negeri
Menteri BUMN Dahlan Iskan saat peluncuran Semen Indonesia tahun 2013 lalu yang merupakan induk dari gabungan beberapa pabrik semen milik BUMN, yakni Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa dan Than Long Cement Vietnam. Foto: JPNN
Berita Terkait



Bagi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, angka tujuh tentu bernilai istimewa. Tepat 7 Agustus 1957, Presiden Soekarno meresmikan pabrik semen bergengsi ini dengan kapasitas terpasang seperempat juta ton per tahun.

Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru

Dalam pidato Soekarno masa itu menegaskan, laju pembangunan di Pulau Jawa bukan saja sangat pesat, tetapi bahkan meningkat dahsyat di masa depan. Sementara pasokan semen pada saat itu, hanya bertumpu pada produksi PT Semen Padang (Persero) yang sudah eksis mulai 1910.

Selain itu, dengan lebih tegas Soekarno juga mengatakan bahwa ia sangat menaruh harapan besar pada perkembangan kemajuan PT Semen Gresik yang mampu bersaing dan bakal menunjukkan pada dunia bahwa bangsa Indonesia mampu berkarya mengolah sendiri sumber daya alam (SDA) negerinya.

Siapa sangka kemudian, 56 tahun setelah itu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Surabaya, 7 Januari 2013, diputuskan bahwa atribut PT Semen Gresik (Persero) Tbk diganti menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. di mana tiga pekan sebelumnya, yakni 18 Desember 2012, BUMN persemenan ini tampil sebagai perusahaan multinasional setelah mengakuisisi pabrik semen Than Long Cement Vietnam, sekaligus memiliki 70 persen sahamnya.
 
Kepada wartawan, Dirut PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Dwi Soetjipto menjelaskan, perubahan nama PT Semen Gresik menjadi PT Semen Indonesia hanya satu langkah kecil saja dari strategi terintegrasi perseroan mencapai strategic-holding menuju industri semen terkemuka di tingkat regional, bahkan global.

“Kami siap untuk menjadi pemenang (kampiun), bukan hanya di dalam negeri melainkan juga di dunia internasional,” ujar Dwi Soetjipto yang pernah belasan tahun malang melintang di PT Semen Padang Indarung, baru-baru ini melalui telepon selulernya. Dwi juga mengakui, kompetisi bisnis persemenan semakin ketat dan terus meningkat tajam. “Untuk itulah, dengan lebih mengaksentuasikan, BUMN persemenan harus memacu kinerja dengan optimal serta memacu kualitas pelayanan bisnis. Itu karena semen sangat berperan penting sebagai tonggak vital pembangunan,” ucapnya yang juga menjabat Dirut PT Semen Indonesia.

Dwi juga mengungkapkan, dewasa ini pelayanan distribution channel telah memiliki 361 distributor plus 11 pelabuhan khusus bongkar muat milik perseroan. Secara statistik tercatat, pangsa pasar dalam negeri dikuasai PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sebesar 43 persen, di mana 57 persen sisanya masih didominasi oleh 9 pabrik semen lain seperti Holcim, Bosowa, Baturaja, Tiga Roda, Andalas, Garuda atau pabrik semen yang dibangun konglomerat sawit, Wilmar Group. “Mudah-mudahan porsi komposisi pangsa pasar domestik ini dapat kami tingkatkan dalam beberapa tahun mendatang,” imbuh Dwi optimis.

Namun menurutnya, prediksi tersebut sangat lah kompleksitas dan multifaktor. Sebab, untuk mempertinggi angka produksi 45 juta ton per tahun (indikator 2012) menjadi 60-65 juta ton per tahun, jelas tidak mudah untuk dilakukan kendati bahan baku semen berupa batu kapur, tanah liat, pasir besi dan pasir silika faktanya masih berlimpah-ruah di Bumi Ibu Pertiwi.

Tapi sebobot pabrik semen yang hendak dibangun atau mungkin dalam hal target menambah produksi dengan memperluas lahan yang ada, problemnya musti cermat dikaji. Seperti faktor lingkungan, ketersediaan air dan listrik serta yang lebih spesifik adalah kondisi lahan, dan juga upaya pembebasan dan berikutnya izin pemerintah.

Sesuai sejarahnya, PT Semen Gresik (Persero) pada 15 September 1995 telah berkonsolidasi untuk membangun produksi sinergis bersama PT Semen Padang (Persero), juga PT Semen Tonasa (Persero) yang awalnya banyak mendapatkan tantangan berbagai elemen masyarakat maupun LSM (lembaga swadaya masyarakat). Wajar kalau situasi tersebut dijuluki sebagai operating holding.

Langkah berikutnya yaitu functional holding baru dimulai pada 2010 yang meliputi sinergisitas produksi, permodalan, pemasaran, teknologi maupun SDM (sumbe