Sajak-sajak Syaukani al Karim

20 Mai 2012 - 07.30 WIB > Dibaca 6062 kali | Komentar
 
Indonesia, Rinduku Menyalami Sunyi

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia
telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan
negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Itulah janjimu yang kuterima dari abad-abad  gemuruh,
namun kini menjelma kalimat usang dengan makna yang kian hilang,
setiap kata yang terbaca menyiratkan duka,
mengirimkan belati yang menikam hati,
menjadi duri yang melukai segenap diri.

‘’Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah
negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,’’

Tapi rinduku yang bahri hanya menyalami sunyi,
tangan angan yang terulur dalam berbilang purnama,
tak dapat menjangkau sayang,
hanya almanak yang terus berguguran,
mencatat penantian lewat airmata
yang menjatuhkan dirinya tanpa sedu dan sedan

Seperti perjalanan Hajar dari safa ke marwah,
aku berulang-ulang membujuk takdir dari cinta ke duka,
dari kasih ke perih, tapi tak terkalam zam-zam itu,
jutaan pasir menyerbu wajah pada tiap terminal nasib.

Kini aku harus menafsir kembali kisah,
karena cinta kita telah berbingkai dusta,  
sejarah telah dibesarkan dengan dendam,
dan cerita di balik ciuman berdusta dalam kenyataan.
Aku harus menafsir kembali kisah,
karena ijab dan kabul telah menjadi azab yang makbul,
karena sighat taqlik yang kubaca telah berdarah pada setiap kata.

‘’Kemerdekaan ini akan sampai ke tujuannya,’’ katamu.

Tapi rinduku hanya menyalami sunyi
dalam janji yang kian tak pasti

16 Agustus 2011


Kukirimkan Engkau ke Negeri Mimpi
anak-anakku: AAA, SSS, APGS, dan FAYA

Kukirimkan engkau ke negeri mimpi,
tanah yang disenandungkan setiap bunda,
Mungkin sudah kau cecap asinnya,
lewat air mata yang tumpah ke rahim,
tempat tumbuh meneguh janji.

Kukirimkan engkau ke negeri mimpi,
tempat orang-orang meratapi rindu di setiap purnama.
Kan terdengar nyanyian itu: parau pungguk merayu bulan,
memohon sapurba turun ke bumi,
membawa padi berbulir emas,
untuk membayar kalah bertahun cemas.

Inilah negeri mimpi itu: jazirah yang ditinggalkan cahaya.
Akan kau lihat gelap bergelut di segenap sudut,
dan orang-orang saling berkelahi
merebut kerlip yang kian malap ditelan senyap.

Inilah negeri itu:  tanah yang menyimpan rasa.
Orang-orang menyimpan perihnya dalam tawa,
di antara ayat sejarah yang berkisah tentang kejayaan.
jejak kalah itu kian panjang,
menapaki gurun dan tanjung,
dengan air mata yang  membelukar tak bertepi.

Inilah negeri mimpi itu: lautan yang menggelombangkan nestapa.
Kapal-kapal yang bertolak dari pelabuhan sejarah,
tak jemu mengangkut pedih ke segenap perhentian,
juga di dermaga,
tempat engkau menunggu perahu
yang akan membawamu melintasi mimpi.

Negerimu adalah hamparan kesedihan yang maha luas,
setiap waktu, orang menurunkan berpikul-pikul duka,
membariskan berlaksa getir,
mengirimkannya ke segenap kampung,
menjadi makanan tahun-bertahun.
Negerimu adalah luka sayat yang tak tertanggung.
Arus yang menderas di bawah kakimu,
adalah alir darah dari berlapis tikam berbilang hunjam,
dan engkau tak mungkin dapat menyentak dayung,
karena setiap kuak akan mengoyak harap,
kan menyibak ratap yang mengendap dalam diam.

Maka seperti Musa,
jangan pernah berhenti menemukan tanda:
Perahu negeri yang terombang-ambing,
rumah rakyat yang kian rebah,
dan anak-anak yang disembelih keserakahan,
adalah siarah yang harus kau sesah,
adalah itibar tempat engkau memahami debar.

Seperti Khaidir, luaskanlah tafsir.
Dirimu adalah tubuh yang terkepung
dalam peradaban  yang memaki-maki sejarah,
antara sejarah yang bersilang jalan dengan kemestian.

Dirimu seperti para penari yang dikacaukan rentak,
melenggang dalam bunyi yang sumbang,
hingga langkah dapat kecundang di sembarang irama.

Tapi jangan ragu merangkum rindu,
atau harap yang telah kau sulam  menjadi kalam.
Dalam sengsara ada bahagia
dalam gundah ada hikmah,
dalam perih kan ada kasih  bangkit bersilih.

Jangan bimbang menjemput gemilang,
meski tangis menghadang dengan bengis,
meski kalah telah membarah,
meski setiap langkah bersagang dengan resah.
Datanglah sebagai pendatang,
dengan hati yang jantan,
seperti moyangmu mengembangkan layar kuasa,
mengayuh kota segara pada setiap deras air,
pada rimbun bukit ombak,
menikahkan nafsunya di serata tanah dan pulau

Datanglah sebagai pendatang
dengan hati yang jantan,
seperti raja kecil,
garang menyentak parang
membela marwah yang hilang,

seperti raja haji
tak lelah menunaikan janji
menyambut maut di teluk ketapang,
berkafan darah berlahat samudera,

atau seperti tambusai ,
melawan tak usai
menyelamatkan sansai.

Kukirimkan engkau ke negeri itu
Dengan dendang sayang
Dengan ikhlas sebagai pedang
Maka tebaslah mimpi dengan hati
Agar luka berbayar lunas dengan cinta

Kukirimkan engkau ke negeri mimpi
Di sanalah engkau harus bertahta



Syaukani al Karim
Lahir di Bengkalis dan merupakan penyair Riau yang telah menghasilkan berbagai buku kumpulan puisi, salah satunya Hikayat Perjalanan Lumpur. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan. Bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Follow Us