Pementasan “Melodi Pengakuan”

Melogikan Legenda

6 Mai 2012 - 08.45 WIB > Dibaca 6683 kali | Komentar
 
Melogikan Legenda
Teater Selembayung menampilkan karya bertajuk “Melodi Pengakuan” yang dipentaskan selama tiga malam, 3-5 Mei di Gedung Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin. (Foto: teguh prihatna/riau pos)
LEGENDA Lancang Kuning demikian populernya di negeri-negeri Melayu, salah satunya Riau. Bahkan Lancang Kuning dijadikan pula sebagai simbol negeri ini dengan julukan Negeri Lancang Kuning. Padahal, legenda ini menyimpan kisah tentang ‘kesadisan’ yang cukup menakutkan.

Rina Nazaruddin Entin, selaku penulis naskah drama dan sutradara Teater Selembayung (Riau), mencoba untuk melogikan kisah itu lewat tafsirnya sendiri. Ini bisa disaksikan lewat karyanya berjudul “Melodi Pengakuan” yang diangkat dari legenda tersebut yang dipentaskan selama tiga malam, 3-5 Mei di Gedung Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin. Sebuah pertunjukan teater yang tak biasa dan cukup menguras perhatian penonton yang biasa disuguhkan pertunjukan teater komedi.

Bagi Rina, Zubaidah (tokoh dalam cerita itu) dijadikan tumbal peluncuran kapal Lancang Kuning, barangkali tidak karena persoalan mistis belaka. Bisa saja, Zubaidah dibunuh karena cinta Panglima Hasan yang tak berbalas. Zubaidah memilih sahabat Hasan, Panglima Umar untuk menjadi suaminya. Sakit hati pada keadaan itu, Hasan pun menyusun siasat untuk melenyapkan perempuan itu dengan trik adu domba yang cukup baik. Fitnah yang dihembuskan Hasan berhasil, dia menyengsarakan tiga orang besar di negeri Bukit Batu (terletak di Bengkalis) yakni Zubaidah, Datuk Laksemana dan Panglima Umar tanpa mengotori tangannya dengan darah. Hasan cukup memakai jasa Bomo (dukun) yang dipercaya pandai membaca tanda-tanda alam dan dipercaya pemimpin negeri itu.

“Ini hanya sebuah tawaran dan tafsir saya tentang legenda Lancang Kuning. Lancang Kuning tidak menginginkan darah, tapi manusia jahatlah yang menginginkannya, dalam hal ini Panglima Hasan yang bersubahat dengan Bomo,’’ ulas Rina usai pementasan di malam kedua, Jumat (4/5) lalu.

Bahkan, rasa iri pada Panglima Umar yang disimpan sejak lama membuatnya beringas. Selain mendapatkan Zubaidah, Umar juga disayangi Datuk Laksemana (pemimpin negeri Bukit Batu, semasa Kerajaan Siak Sri Indrapura). Akibatnya, Hasan meracau dan membuat semua orang sengsara, agar bisa merasakan penderitaan batin yang dihadapinya sekian lama. Namun, di sini, Rina tak sekadar melogikan bagian itu, dia juga mencoba menyelami psikologi tokoh Zubaidah serta merekayasanya, disesuaikan dengan zaman sekarang sebagai motivasi positif bagi kaum perempuan untuk maju dan setara dengan kaum lelaki. Hanya, Rina tak ingin membicarakan persoalan feminisme yang sudah melewati batas. Dia hanya mengharapkan, agar perempuan juga bisa seperti lelaki dalam banyak hal positif dan bermanfaat bagi orang banyak.

“Banyak legenda-legenda di negeri ini dan hampir semuanya, ada unsur mistis yang kuat. Karenanya, saya ingin melogikan mistis itu lewat karya saya kali ini. Alhamdulillah, banyak yang suka dan terbukti, selama dua malam, kami sudah menghabiskan 1.000 tiket. Mudah-mudahan dalam tiga malam ini kami bisa mencapai target dengan meraih penonton kurang lebih 1.300 sampai 1.500 orang, sesuai target,’’ katanya.

Menariknya, dalam karyanya ini Rina lebih menonjolkan kemampuan akting para aktor/aktris. Meski bermain bersama dalam satu panggung, aktor/aktris tak melakukan dialog-dialog interaksi satu dengan lainnya. Tapi semua pemain bermonolog yang rata-rata dilakukan selama 10-12 menit oleh setiap aktor dan aktrisnya. Sebagai ciri khasnya, Rina mengawali dialog setiap pelakon dengan pantun perkenalan diri. Hanya dua pelakon yang berinteraksi yakni ibu dan anak (diperankan Wirna Sari dan Della Pratiwi) sebagai tokoh masa kini. Sedang tokoh masa lalu yang hadir ke masa kini seperti Zubaidah (Rehulina Sinuhaji), Panglima Umar (Ekky Gurin Andika), Panglima Hasan (Fedli Azis), Datuk Laksemana (Rian Harahap), Bomo (Rinaldi) dan Inang (Mimi Suriani) membuat pengakuan atas peristiwa tragis yang terjadi di masa hidup mereka. Tak sampai di situ saja, Rina juga menghadirkan aktor kedua yang mewakili setiap ekspresi dan emosi tokoh masa lalu, lewat gerak-gerak ekspresif dari sentuhan koreografer Syafmanefi Alamanda.

Untuk dekor panggung, Rina bermain dengan pola kotak-kotak yang diwujudkan penata panggung Saho Riau. Setiap aktor masa lalu bermain di atas kotak seukuran 1,5x1,5 meter setinggi, 1-2,5 meter. Aktor masa lalu yang mengenakan kostum serba putih di atas dan bayangan dengan kostum serba hitam bergerak di dalam kotak tersebut. Permain lampu yang baik dengan tak mencolok oleh Romi Romanix dan dekor panggung yang juga kotak-kotak bisa terbuka dan tertutup cukup disenangi banyak orang yang menyaksikannya. Begitu pula dengan musik minimalis yang dihasilkan duet komposer Ridho dan Matrock cukup mendukung emosi permainan setiap aktor.

Tampaknya, Rina cukup berani bermain-main dengan risiko. Aktor-aktris yang bermain dengan vokal dan gerak tubuh yang baik membuat tontonan itu tak kehilangan aura. Bahkan penonton ikut bekerja keras untuk memahami cerita yang ditawarkan hingga pertunjukan usai. Untuk menyiasati kejenuhan, Rina memasukkan unsur multi media, berupa cuplikan-cuplikan kejadian dalam legenda tersebut. Cukup lengkap rasanya unsur yang digunakan dalam pertunjukan itu. Untuk menonjolkan unsur Melayu, saat cuplikan ditayangkan di kotak-kotak yang menjadi dinding setting rumah ibu dan anak, dilafazkan pula syair yang menjadi ciri khas orang Melayu lewat suara Siska Mamiri.

Tontonan berdurasi kurang lebih 100 menit itu rugi sekali jika dilewatkan begitu saja. Sebuah pertunjukan teater dengan gaya dan konsep yang terbilang baru di Riau, khususnya Kota Bertuah Pekanbaru.(esi)
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 24 Juni 2018 - 14:35 wib

Setelah 61 Tahun, Perempuan Arab Saudi Akhirnya Mengemudi

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:32 wib

Berencana Lakukan Aksi Teror di Pilgub Jabar

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:30 wib

Tips Menjaga Kesehatan dalam Perjalanan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:27 wib

Jumlah Pemilih 186.379.878 Jiwa

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:19 wib

Pilkada, 170 Ribu Polisi dan Ribuan TNI Diturunkan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:04 wib

Meksiko Berhasil Atasi Korea Selatan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:02 wib

Xiaomi Mi Max 3 Tampil dengan Layar Lebar

Minggu, 24 Juni 2018 - 13:59 wib

Sofa cushion Bikin Susah Beranjak

Follow Us