Seminar Rumah Tradisi Bunguran-Natuna

Merekah Mahkota Ingatan Zaman

6 Mai 2012 - 08.43 WIB > Dibaca 5990 kali | Komentar
 
Merekah Mahkota Ingatan Zaman
Rumah besar di Kelarik yang menerapkan tipe rumah bungalow. (Foto: istimewa)
Bangunan adalah sejarah yang paling jujur menyuarakan masa lalu kita. Dalam ruang tradisi, selain sebagai salah satu identitas adat dan kebudayaan, keberadaan rumah besar, sebagai salah satu puncak pencapaian arsitektural pada masanya, juga merupakan pusat ingatan masa silam. Rumah besar yang memiliki beberapa tipologi bentuk arsitektur adalah mesin waktu yang bisa membawa kita merekah kearifan masa dulu.

Laporan PURNIMASARI, Pekanbaru

Di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, rumah besar dengan fungsi tempat tinggal sekaligus tempat masyarakat bermusyawarah, menjadi kekayaan besar tradisi Natuna dengan ingatan kolektif yang berpaku di Air Mali, Sedanau, Pulau Laut, Subi, dan tradisi Asyrakatul Ahmadiyah alias koperasi di Midai sejak era sultanat Riau Lingga dan Datuk Kaya.

Pada umumnya, rumah tradisional Melayu memegang satu peran utama, yaitu sebagai tempat tinggal yang bisa dibagi dalam dua tipe. Pertama, bertipe bungalow, untuk satu keluarga besar. Jamak dimiliki oleh keluarga-keluarga pembesar, bangsawan ataupun penguasa suatu daerah. Kedua, selain itu, jika dilihat dan mengacu pada tradisi rumah adat kaum Melayu tua seperti Dayak di Kalimantan dan juga beberapa rumah tradisional Melayu Riau, maka rumah panjang ini berfungsi layaknya sebuah apartemen, dengan arah pengembangan horizontal.  Kedua tipe tempat tinggal ini dapat kita temukan juga di rumah besar Natuna.

Hasil survei awal yang dilakukan oleh tim menemukan, rumah besar di Kelarik menerapkan tipe rumah bungalow. Sedangkan rumah besar Datuk Kaya Suan di Sedanau, menerapkan tipe apartemen, ujar salah seorang pembicara, Dedi Ariandi yang juga arsitek praktisi dan peneliti arsitektur Melayu Riau.

Dikatakannya, rumah Datuk Kaya sebagai peneraju Bunguran bisa menjadi salah satu rujukan, selain rumah kantor Asyrakatul Ahmadiah yang merupakan syarikat koperasi pertama di Nusantara. Di era sultanat Melayu Riau-Lingga, Bunguran Kepoelaoean Toedjoeh diterajui oleh Datuk Kaya. Merujuk pada Adatrecht van Poelaoe Toedjoeh, banyak berbicara mengenai segala sesuatu hukum adat termasuk tradisi kebun kelapa (klappertuinen) masa itu. Selain sebagai rumah tinggal Datuk Kaya, rumah besar juga berfungsi sebagai tempat musyarawah. Dengan pola mata pencaharian zaman dulu, rumah besar biasanya ada dalam daerah perkebunan baik kelapa maupun cengkeh.

Menurut Dedi, seminar ini menghasilkan setidaknya 12 kesepakatan khusus untuk rumah besar Natuna. Kompromi-kompromi inilah yang nantinya akan dijadikan pijakan rumah besar sebagai ikon bersama. Untuk ornamen-ornamen serta filosofi-filosofinya akan dibahas lebih lanjut, ungkap arsitek lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini.

Sebelumnya, survei awal dan pengayaan yang dilakukan oleh tim arsitektur dan lanskap Dedi Ariandi dan Atan Yahya, berlangsung di Kelarik, Air Mali, Sedanau, Tanjung, Ceruk, Kelanga, Pulau Tiga, Cemaga dan Ranai. Bahan-bahan rujukan lain seperti dari Serasan, Subi, Pulau Laut, Midai dan sekitarnya dibawa langsung oleh utusan masing-masing wilayah kebudayaan yang ikut dalam seminar yang berlangsung selama dua hari itu.

Dari sisi payung hukum, akan ditindaklanjuti dengan pembuatan Perda tentang Rumah Besar Natuna. Pengalaman-pengalaman yang sama mengenai ihwal payung hukum ini bisa diperkaya dengan mempelajari daerah-daerah yang telah memiliki Perda tentang rumah adat atau rumah tradisi seperti Kabupaten Belitung di Provinsi Bangka Belitung, timpal Atan Yahya.

Atan Yahya yang juga menjadi salah seorang pembicara, membantu dalam elaborasi dan pengembangan yang merujuk pada konteks kekinian Natuna. Sebab tidak sedikit bangunan tua atau strategis yang menjadi ikon sebuah identitas kebudayaan, setelah mengalami bencana seperti gempa, atau terbakar, sebagaimana dialami Istana Sayap di Pelalawan membuat masyarakat kehilangan rujukan, struktural dan fungsional, tuturnya.

Dikatakan Atan, Perda ini akan menghasilkan SK Bupati tentang cagar budaya terhadap rumah-rumah tua yang menjadi rujukan awal pembuatan rumah besar Natuna. Perda ini juga memuat tentang pelarangan elemen-elemen mahkota atau simbol puncak untuk dipakai sebagai seni terapan instalatif yang dari segi keelokan adat dan resam, tidak dianggap layak, demi menghindari fenomena massalisasi yang terkesan karya pabrikan. Materi pelarangan ini akan menghasilkan SK yang menyangkut pengaturan tentang IMB, beber Atan.

Dengan rasa bangga, tim kurator dan perancang arsitektur dan lanskap ini, memberi apresiasi kepada Bapak Ahmadiyah, seorang seniman serba bisa dari Sedanau yang ikut memberi tuntunan gambar atau grafis kasar yang dituangkannya pada kertas ukuran A3 yang sangat elok dengan garis-garis yang tegas walau masih sederhana.

Para juru pakar tulang kayu di serata Kepulauan Natuna dilibatkan dalam diskusi dan membongkar ingatan mereka selama diskusi tentang keunggulan rumah besar berpasak ini. Interaksi dengan Kalimantan Barat juga terjadi, terutama dalam kaitannya dengan bahan baku kayu dan sirap atau kayu ulin, serta interaksi kepakaran kayu di antara dua kawasan budaya ini.

Satu bentukan atau tipologi yang diangkat menjadi rumah besar ini, tidak mematikan bentukan-bentukan yang telah ada lainnya yang juga milik Natuna selama ini. Artinya, ketika kita mengusung mawar sebagai mahkota, dia akan berseri jika dikelilingi sejumlah bunga-bunga lain. Untuk membuat sebuah perencanaan rumah besar Natuna yang bisa dipertanggungjawabkan, maka diperlukan penelitian mendalam mengenai struktur, dimensi elemen, ornamen pada rumah-rumah besar yang ada, sehingga rumah besar yang bangun baru ini, tetap memiliki ikatan dengan bangunan tradisi yang telah ada sebelumnya. Jadi, dia bukan sesuatu yang baru atau benda asing d Natuna, kata Dedi.

Seminar Rumah Tradisi Bunguran-Natuna yang berlangsung pada 2-3 Mei 2012 dibuka oleh Bupati Natuna Wan Ilyas Sabli dan ditutup Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Natuna Wan Zawali. Untuk narasi kebudayaan dan tradisi, sejarah Natuna era sultanat Riau-Lingga dan Datuk Kaya, diragi oleh guru besar kajian Masyarakat Melayu Universitas Riau dan juga budayawan Riau Yusmar Yusuf.

Menurut Yusmar, Natuna bukan nama muda 80-an. Dia telah disebut oleh residen Riouw oleh Elisa Netscher, 1852 hlm 111: de Grooet-Natoena -einlanden (pulau-pulau besar); de Noord-Natoena-einlanden (utara) dan; de Zuid-Natoena-einlanden (pulau-pulau selatan). Atau lengkapnya: Memorie van Overgave Elisa Netscher, 1852, Beschrijving Een Gedeelte der Residentie Riouw. Naskah Belanda yang membicarakan Pulau Tujuh ada dalam Adatrecht van Poelaoe Toejoeh. Ada dijumpai beberapa penyebutan nama Datuk Kaya dan penghulu kawal sebagai pembantu Datuk Kaya di beberapa tempat. Air Mali menjadi tapak Datuk Kaya yang tua di Bunguran.

Begitu pula jumlah penduduk di zaman itu, lanjut Yusmar, dan komposisi demografis. Selain orang Melayu tempatan ada Melayu dari Kampar, Kuantan dan Rokan. Hukum adat banyak berlaku dalam moda pencaharian sebagai petani kelapa. Di sini berlaku hukum sepuluh satu. Pekerja kebun sebagian besar adalah orang Kampar dan Kuantan.

Pemukim dua komunitas ini telah berketurunan sekian lama dan masih memiliki hubungan ke tanah induknya di Kampar dan Kuantan. Sedangkan pemukim Cina terbesar terdapat di Terempa. Ada beberapa pasang kelompok pesukuan atau orang laut, atau orang Mesuku, tutur Yusmar.

Acara di kepulauan paling utara di Laut Cina Selatan ini setidaknya bertujuan: pertama, menghasilkan tipologi rumah tradisi atau yang disebut juga sebagai rumah besar yang bisa dirujuk dalam tradisi bina rumah para pembesar Bunguran masa lalu. Kedua, sebagai ikon Kabupaten Natuna dari segi rumah mukim Melayu kepulauan, sekaligus dengan beragam fungsinya, temasuk fungsi museum dan elemen taman. Ketiga, status hukum rumah besar atau rumah adat dari sisi Perda dan acuan benda cagar budaya, sebagai pusat ingatan dalam seni bina rumah tradisi. Keempat, sebagai politik identitas kebudayaan Bunguran-Natuna dalam kancah kebudayaan Melayu dan rantau Melayu.

Selain Yusmar sebagai narasumber, seminar yang ditaja oleh Pemkab Natuna dan LAM Natuna ini juga menghadirkan pembicara Dedi Ariandi dan Atan Yahya dari tim tim arsitektur Riau serta pemakalah dari Kalimantan Barat.

Manusia mengendarai ruang dan waktu. Bagi mereka yang arif, ruang dan waktu adalah tempat becermin. Karena di sanalah album tapak-tapak sejarah mereka direkam. Merekonstruksi keberadaan rumah besar adalah salah satu cara merekah mahkota ingatan gelombang zaman. Sekaligus mencegah kita agar tak tercerabut dari tapak-tapak sejarah dan berkhianat pada masa silam.***
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us