Ayo, Bahasa Melayu Riau

Minggu, 17 Jun 2012 - 08:02 WIB > Dibaca 7058 kali | Komentar

TAK berapi-api komentar kawan saya Abdul Wahab terhadap pembicaraan bahasa Melayu Riau yang kembali hangat dalam dua pekan terakhir. Setelah pada milad Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Gubernur Riau Rusli Zainal mencanangkan penggunaan bahasa Melayu Riau paling kurang sehari dalam sepekan di wilayah ini, Bupati Rokan Hulu, Ahmad, melaungkannya pula untuk kabupaten yang dipimpinnya itu. Bersempena musyawarah kerja LAMR, Ahmad bahkan menetapkan hari Rabu sebagai hari berbahasa Melayu Riau dialek Rokan atau tempatan.

‘’Alhamdulillah, kita mampu menyatakannya,’’ tulis Wahab melalui SMS-nya hari itu. Bukan apa-apa, sesungguhnya, hal-hal semacam itu telah lama dibuat orang di provinsi lain. Sebelum Riau, adalah Provinsi Jawa Barat yang menetapkan hari wajib berbahasa Sunda di daerah tersebut. Secara diam-diam pula, di berbagai provinsi di Jawa dan Sumatera justru menjadikan kemampuan berbahasa tempatan sebagai syarat penting untuk menempuh pendidikan formal.

Jika diurut ke belakang, ke kawasan yang lebih lebar lagi, Prancis bahkan seperti telah menjadikan hakl-hal semacam itu sebagai bagian kehidupan berbangsa dan bernegara sejak lama. ‘’Kawan-kawan yang pernah ke sana mengatakan, tak ada pelayanan tanpa menggunakan bahasa Prancis di sejumlah kawasan di Paris. Itu tanpa memandang waktu, sebab harus dilakukan setiap saat. Lalai terhadap bahasa itu bagi warga negaranya, akan berhadapan dengan sanksi berupa denda,’’ tulisnya lagi.

Syahdan, di kawasan yang telah mewajibkan pemakaian bahasa tempatan sebenarnya tak mengalami masalah bahasa secara pragmatis seperti di Riau. Katakanlah Bandung, begitu lekat dengan Sunda-nya, apalagi di kota-kota lain semacam Bogor. Sekejap mata saja kita sudah merasakan aura Sunda ketika berada di kota-kota tersebut karena orang terdorong dengan sendirinya untuk berbahasa Sunda. Tak perlu banyak tanya, sedang berada di lingkungan budaya apa ketika pertama kali kaki menginjakkan tanah di Bandung.

Hal serupa tak ditemui di Riau. Di lingkungan mana saja, pertanyaan berkaitan dengan bahasa selalu saja muncul. Apalagi kalau mendengar radio siaran atau acara-acara kaum muda yang konon modern, jangan menjadi dominan, terselip-selip kota kata Melayu Riau saja, cukup sulit didengar. ‘’Kadang-kadang aku berpikir, apakah aku sedang berada di Riau atau di Jakarta,’’ tulis Wahab, sambil menambahkan keadaan semacam itu sebenarnya telah lama diperkatakan kalangan anak muda Riau sendiri, bahkan sejak tahun 80-an.

Ketika Farouq Alwi menjadi Wali Kota Pekanbaru, penggunaan bahasa Melayu sempat digesa terutama pada penamaan usaha yang ternyata dapat dilakukan. Tapi setelah itu, terutama dalam 10 tahun terakhir, papan nama usaha tak menghiraukannya lagi, apalagi di tempat-tempat kepemilikan umum. ‘’Pemerintahkan bahkan terkesan membiarkan hal itu berkembang; tengoklah pada penamaan pusat bisnis yang digagas di Bandar Seni Raja Ali Haji,’’ tulis saya pada Wahab.

Saya katakan pada Wahab, pencanangan hari berbahasa Melayu Riau yang juga merupakan keputusan seminar bahasa nasional tahun lalu di Pekanbaru, bagi Riau bukan semata-mata untuk Riau. Ini amat berbeda dengan penggunaan bahasa-bahasa lain yang bertumpu di lain daerah. Baiklah ihwal jati diri yang memang menjadi tuntutan manusia kesejagatan (global), tapi bahasa Melayu Riau mengemban tugas lebih dari hal tersebut. Pasalnya, bahasa Melayu Riau merupakan sumber bahasa Indonesia yang sejak lama mempersatukan berbagai elemen bangsa.

Ideologis kebangsaan
Gesaan terhadap berbahasa Melayu Riau, niscaya akan memunculkan sikap menggali dan menularkan wawasan kebahasaan Melayu Riau. Bukankah ini amat diperlukan oleh bahasa Indonesia yang terus berkembang dengan dinamikanya sendiri? Jadi, Melayu Riau kembali menempatkan dirinya bukan hanya milik si pemakainya, tetapi bangsa ini. Adakah bangsa Indonesia memikirkan kebahasaan, wallahualam bissawab, tapi sejatinya sebuah bangsa beradab pasti akan merenungkannya jauh-jauh. Jadi, berbahasa Melayu Riau bukan perkara pragmatis belaka, tetapi ideologis kebangsaan.

Pendukung kebudayaan Melayu Riau seharusnya bertanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Apalagi masih banyak hal yang harus ditata mengenai bahasa Indonesia. Dari segi maknanya saja, tak tanggung-tanggung lagi. Untuk menyatakan suasana hati dalam bahasa Indonesia, masih digunakan kata mood yang diambil dari bahasa Inggeris, padahal Melayu Riau memiliki kota kata untuk itu yakni rese. Belum lagi penyalahmaknaan suatu arti kata dan sebagainya.

‘’Aku ingat, sekitar 20 tahun lalu, ahli bahasa dan penerjemah dari Universitas Indonesia, Ali Audah, telah berteriak perlunya merekam lidah Riau, dalam sebuah tulisan di majalah sastra Horison. Ini disebabkan secara kelisanan saja, bahasa Indonesia terus mengambang —tidak memiliki patokan. Lidah Riau semacam Raja Ali Haji dan Sutardji Calzoum Bachri, harus dijadikan contoh. Oh, ya, dia juga menyebut namamu dalam tulisan itu kan?’’ tulis Wahab.

Bahasa Melayu Riau itu sendiri memang memiliki banyak dialek yang justru bukan masalah, tapi memperkaya yang patut disyukuri. UU Hamidy menyebutkan ada enam dialek bahasa Melayu Riau yakni pesisir serta kepulauan, Kampar, Kuansing, Rokan, Petalangan, dan pedalaman. Budak jati Kampar, yang Kepala Labor Bahasa Unri, Hasnah Faizah menyebutkan dua dialek Melayu Riau yakni pesisir serta kepulauan dan daratan.

Alhasil, tindakan Bupati Ahmad dari Rohul sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini, merupakan mozaik keberadaan bahasa Melayu Riau. Begitu juga nanti di Kampar dan Kuansing yang akan menggunakan bahasa Melayu Riau dialek setempat. ‘’Jangan terkejut kalau ada juga mengatakan, berbahasa Indonesia juga sama dengan berbahasa Melayu Riau, sebab bahasa Indonesia berasal dari Melayu Riau yang dibina begitu baik di Penyengat antara lain oleh Raja Ali Haji. Dialek yang digunakannya sama dengan dialek Talang Mamak dan bahasa tulis Melayu Riau,’’ tulis Wahab.

Apalagi, ayo bahasa Melayu Riau! ***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 413 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 63 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 59 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 36 Klik

Follow Us