Depan >> Opini >> Opini >>

Syamsuddin Muir

Mewaspadai Akidah Syiah

23 Januari 2015 - 09.36 WIB > Dibaca 60838 kali | Komentar
 

Setelah berdirinya pemerintahan baru, komunitas Syiah yang ada di Tanah Air mulai bersuara, dan menunjukkan diri. Bahkan, mereka sanggup mengatakan bahwa saat ini merupakan masa bagi mereka untuk bergerak dan berbuat.
 
Penulis pribadi tidak perlu menanggapi apa maksud dari pernyataan mereka itu. Cuma, pada kesempatan ini, penulis mengutarakan keyakinan akidah Syiah, agar umat Islam Indonesia yang seluruhnya Ahlussunnah (Sunni) bisa mengerti, dan tidak terjebak dalam penipuan (taqiyah) kaum Syiah.  

Akidah Mujassimah
Kaum Syiah yang muncul pada akhir Khalifah Usman bin Affan itu terpecah menjadi kelompok yang sangat banyak. Itu bisa dilihat dalam kitab Firaq al-Syiah yang ditulis orang Syiah sendiri, yaitu al-Naubakhty. Tapi, kelompok Syiah terbesar yang ada saat ini adalah Syiah Imamiyah di Iran, Syiah al-Isma’iliyah, dan Syiah Zaidiyah di Yaman.

Mengenai akidah Syiah, ulama Ahlussunnah (Sunni) yang menulis tentang kelompok (sekte) dalam dunia Islam itu menyatakan, bahwa akidah ulama Syiah generasi awal itu akidah Mujassimah atau tajsim (meyakini Tuhan punya jasad seperti manusia) dan akidah musyabbihah atau tasybih (menyamakan Tuhan dengan makhluk).

Hal ini bisa dilihat keyakinan ulama generasi awal Syiah, yaitu Hisyam bin al-Hakam, Hisyam bin Salim al-Jawaliqy, Yunus bin Abd al-Rahman al-Qumy, dan Muhammad bin al-Nukman alias Syaithan al-Thaq.

Dalam bukunya I’tiqadat al-Muslimin Wa al-Musyrikin, Imam al-Razy mengatakan, keyakinan mujassimah dan musyabbihah itu merupakan keyakinan Yahudi. Kemudian keyakinan ini terdapat di kalangan Syiah. Seperti Hisyam al-Hakam berkeyakinan bahwa Tuhan itu punya jasad. Hisyam juga mengatakan Tuhan itu seperti batangan emas murni. Hisyam juga mengatakan Tuhan itu seperti lilin. Hisyam al-Jawaliqy pula berkeyakinan bahwa Tuhan itu seperti manusia, punya tangan, kaki, mata, dan anggota badannya tidak terbuat dari daging dan darah. Yunus Abd al-Rahman al-Qumy pula berkeyakinan bagian atas jasad Tuhan itu ada lubang pori-porinya, dan bagian bawahnya tidak ada. Muhammad bin al-Nukman  pula meyakini bahwa Tuhan berdiam di Arasy, dan para malaikat memikul Arasy-Nya.

Keyakinan sesat akidah tajsim dan tasybih ulama Syiah generasi awal itu juga dipaparkan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ary dalam kitabnya Maqalat al-Isalmiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Dan Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini dalam bukunya al-Tabshir Fi al-Din.  

Ternyata dalam literatur Syiah, empat ulama Syiah generasi awal penganut akidah sesat itu merupakan murid imam Syiah yang keenam, yaitu Ja’far al-Shadiq. Dan dalam kitab hadits pegangan utama kaum Syiah, Ushul al-Kafy yang ditulis oleh al-Kulainy pada bab al-Tauhid, ada riwayat menyatakan bahwa Ja’far al-Shadiq memuji Hisyam al-Hakam dan memintanya membina orang yang baru masuk Islam.

Padahal, bila dilihat dari sisi keilmuannya, Hisyam bin al-Hakam itu pernah tumbuh dan hidup di rumah seorang atheis, yaitu Abu Syakir. Begitu pernyataan ulama Syiah, Abu Ja’far al-Thusy dalam bukunya Rijal al-Kasysyi.

Sebagian ulama Syiah memuji empat ulama Syiah itu, dan mereka membantah riwayat keyakinan tajsim dan tasybih. Tapi, bantahan mereka itu tidak bisa diterima. Karena keyakinan sesat empat ulama Syiah itu ada terdapat dalam kitab hadis utama sekte Syiah, yaitu kitab Usul al-Kafy. Jika mereka membantah riwayat itu, berarti mereka meragukan kitab al-Kafy yang selama ini mereka yakini lebih mulia dari kitab hadits Imam al-Bukhari.

Memang, kitab hadis kaum Syiah Ushul al-Kafy itu diragukan kebenarannya. Sebab, mayoritas isi kitab itu riwayat dari Abu Abdullah Ja’far al-Shadiq. Kemudian dari ayahnya Muhammad al-Baqir. Kemudian dari anaknya Musa bin Ja’far. Kemudian dari anaknya Ali bin Musa. Anehnya, tidak ada dalam kitab itu hadis Nabi. Dan juga tidak ada riwayat dari Ali bin Abu Thalib, Sayyidah Fatimah, al-Hasan dan al-Husein.  

Bahkan, ulama Syiah Ayatullah al-Barqa’iy dalam bukunya Naqd Kitab Ushul al-Kafy Li al-Kulayni menyatakan, mayoritas riwayat (hadis) dalam kitab al-Kafy itu dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Mengenai Imam keenam Syiah, Ja’far al-Shadiq itu adalah anak Ummu Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq. Ummu Farwah itu anak Asma’ binti Abd al-Rahman bin Abu Bakar al-Shiddiq. Makanya, Ja’far al-Shadiq marah kepada kaum Syiah yang melaknat Abu Bakar al-Shiddiq.

Buktinya, ketika Salim bin Abu Hafshah menanya Ja’far al-Shadiq mengenai Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab, lalu Ja’far al-Shadiq memerintahkan Salim mengakui kepemimpinan keduanya, dan jangan memusuhinya. Kemudian Ja’far al-Shadiq mengatakan, “Abu Bakar al-Shiddiq itu adalah kakekku. Tak mungkin aku mencaci kakekku sendiri”. Begitu yang disebut Imam al-Zahaby dalam bukunya Siyar A’lam al-Nubala’ (6/258).

Bahkan, ulama Syiah Abu Ja’far al-Thusy dalam bukunya Rijal al-Kasysyi menyebutkan riwayat penolakan Ja’far al-Shadiq terhadap orang-orang Syiah. Dia menyatakan, sedikit sekali pengikutnya dari kalangan Syiah.

Sejara jujur, ulama Ahlussunnah mengakui dan menghormati Ja’far al-Shadiq sebagai ulama Islam. Tapi, ulama Ahlussunnah meragukan semua riwayat yang dianggap Syiah dari Ja’far al-Shadiq yang terdapat dalam kitab Ushul al-Kafi. Sebab, penulis buku Ushul Mazhab al-Syiah, Dr. al-Qafary memaparkan berbagai riwayat ulama Syiah yang menyatakan bahwa Ja’far al-Shadiq sendiri tidak menerima riwayat Syiah yang berkaitan tentang dirinya.
 
Akidah Muktazilah
Jelas, keyakinan akidah utama kalangan ulama Syiah generasi awal itu sebagian besarnya menganut akidah tajsim dan tasybih. Tapi, para ulama Syiah generasi setelahnya pula menolak akidah sesat tajsim dan tasybih yang dianut sebagian besar pendahulunya. Lalu mereka memilih akidah sesat Muktazilah.

Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari menyatakan, para generasi awal Syiah itu berkeyakinan akidah tasybih. Dan generasi belakangan kaum Syiah menganut akidah Muktazilah. Begitu juga pernyataan Imam al-Syahrastany dalam kitab al-Milal Wa al-Nihal.

Akidah Muktazilah yang digagas Washil bin Atha’ al-Bashary itu muncul pada awal abad kedua Hijriyah. Kelompok Muktazilah mengagungkan akal dalam menetapkan masalah akidah. Sebagaimana Syiah, Muktazilah juga terpecah menjadi 23 kelompok.

Akidah atau rukun iman Muktazilah ialah pertama, al-Tauhid. Kedua al-Adl. Ketiga  al-Wa’d wa al-Wa’id. Keempat  al-Manzilah Baina al-Manzilatain. Dan kelima al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar.

Rukun imam kaum Syiah pula, pertama al-Tauhid. Kedua al-‘Adl. Ketiga al-Nubuwwah. Keempat al-Imamah. Dan kelima al-Ma’ad. 

Di antara ulama Syiah terkemuka yang menganut akidah Muktazilah itu adalah Ibnu Babawih al-Qumy. Kemudian keyakinan Syiah kepada akidah Muktazilah itu Nampak jelas dalam kitab-kitab Syaikh al-Mufid.  

Bila diteliti, nampak persamaan akidah Syiah saat ini dengan akidah Muktazilah. Seperti, rukun iman pertama Muktazilah al-Tauhid. Dalam masalah tauhid, Syiah sama dengan Muktazilah, yaitu menafikan (meniadakan) sifat Allah SWT. Contohnya, kedua kelompok ini mengatakan bahwa Allah SWT mengetahui dengan zat-Nya, bukan dengan sifat ilmu.

Kaum Syiah juga sama dengan Muktazilah yang berkeyakinan bahwa manusia tidak bisa melihat Allah SWT di akhirat kelak.

Rukun imam kedua Muktazilah al-‘Adl. Ini juga merupakan rukun iman kedua bagi kaum Syiah. Yaitu meyakini bahwa Tuhan mesti berbuat baik dan tidak boleh berbuat buruk. Rukun Iman ini juga mengingkari takdir Tuhan.

Rukun iman Muktazilah yang ketiga, kelima, dan keenam ada dalam keyakinan kaum Syiah. Tapi tidak masuk dalam bagian rukun iman. Dan rukun iman Muktazilah yang keempat itu hanya ada dalam keyakinan Muktazilah, tidak ada dalam keyakinan kaum Syiah. Tapi, akidah utama Syiah mengenai tauhid kepada Allah SWT itu sama dengan akidah Muktazilah.

Rukun Iman Imamah
Namun begitu, Syiah punya rukun iman yang tidak ada di kalangan Muktazilah, yaitu Imamah (kepemimpinan) dengan meyakini imam 12 setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ini merupakan rukun iman yang membuat kaum Syiah tak akan pernah rukun dengan Ahlussunnah.

Sebab, atas dasar rukun iman ini, kaum Syiah mengkafirkan semua umat Islam Ahlussunnah. Di antaranya, ulama Syiah penulis buku Haq al-Yaqin Fi Ma’rifah Ushul al-Din, Abdullah Syibir mengutip pernyataan Syaikh al-Mufid dalam kitabnya al-Masa’il mengatakan, “Syiah Imamiyah berkeyakinan bahwa orang yang mengingkari satu dari imam 12 itu adalah kafir, dan kekal dalam neraka”. Maka, waspadalah.***


Syamsuddin Muir
Dosen UIN Suska Riau
KOMENTAR
Terbaru
Brankas Bank Syariah  Dibongkar Maling

Rabu, 26 September 2018 - 09:52 WIB

Informasi Kondusif Pengaruhi Jumlah Kunjungan Wisatawan
Dipinjam, Sepeda Motor Tak Dikembalikan

Rabu, 26 September 2018 - 09:39 WIB

Dua JH Kloter Terakhir Tiba

Rabu, 26 September 2018 - 09:39 WIB

 Kawan Kabur, Nyaris Dikeroyok Warga

Rabu, 26 September 2018 - 09:16 WIB

Follow Us