Air Mali

Minggu, 27 Mei 2012 - 07:29 WIB > Dibaca 4721 kali | Komentar

Mali-mali berduri, sejenis pokok renek, rendah namun bisa membilur luka di atas kulit manusia. Tanaman ini punya sapaan Latin Leea angulata. Mali Mali juga sebuah nama tempat berkelah atau riadah bagi kaum jetset. Terletak di atas pucuk bukit menghadap bentangan panorama Lautan Pasifik membiru. Jika ke Australia, jangan lupa ke Mali Mali. Namun, di belahan pantai barat Afrika, bersebelahan dengan gurun barat, ada negara yang tak berakses ke laut, dikenal dengan Mali. Ini sebuah negara tanah habsyi, yang agak tertinggal. Dalam korpus nama-nama tapak di rantau Melayu, juga ada Mali-mali. Dia sejenis tanaman rendah yang berduri. Lalu di sebuah pulau di utara kawasan Melayu berdepan dengan sempadan Vietnam, Brunei dan Filipina, kita juga disuguhkan dengan nama ini. Ya, Air Mali, di pulau Bunguran (Natuna). Sisi barat tanah Bunguran yang luas ini, Air Mali ialah sebuah tapak subur bagi tetumbuhan dan tanaman, yang ikut memperkasa dan mendorong orang Melayu menyapa tanah-tanah jauh.

Air Mali, dialiri sebatang sungai meliuk jernih hingga ke hulu. Segala karang dan hewan air, tampil modis seiring keindahan tanaman hutan dalam segala ukuran dan langgam yang tak terduga. Dugaan besar kita mengenai kepakaran bonsai dari Jepang, di Air Mali kita menemukan kaidah bonsai dalam sebentang taman hutan, dengan kuncup daun, mahkota daun dalam gaya kemas dan menawan, ukuran midi dan mini, tidak maxi. Air Mali, ialah surga bagi segala tumbuhan. Tanah subur, dan bersorak dalam keriangan tanpa sudah, semuanya tidak pernah selesai. Orang berkebun kelapa dan cengkeh memanjat gunung sampai terjun ke pangkal gunung yang dibatasi air laut. Negeri-negeri sebentang Bunguran ialah negeri dalam kepungan gambaran surga. Segala dewa terhenti dan mati di sini. Orang hidup dalam puisi. Jangan heran, kicauan lidah dan ujung pena anak sini, menjilat langit sastra Indonesia dan Riau. Maka tersebut sebuah nama Bujang Mat Syamsuddin, yang mangkat di tanah Perca, berkubur di Pekanbaru. BM Syam asli Pulau Tiga dan mastautin di Sedanau sebuah bandar ramai. Dari sini BM Syam selalu hanyut mengayun dan mendodoikan Air Mali hingga Gang Kelinci di Pekanbaru era 80-an.

Di Air Mali ada tapak tua rumah besar Datuk Kaya Bunguran. Sebuah kapal Inggris yang tenggelam di perairan pulau Selaut, diselamatkan oleh Datuk Kaya. Dan sebagai penanda terimakasih, Inggris menghadiahi beberapa pucuk meriam kepada Datuk Kaya yang lihai ini. Ada rumah peranginan di Sedanau, besar dan ranggi. Di pinggang bukit, dibungkus daun tetumbuhan kebun mewangi. Dialas oleh 20 batu karang yang dipancung dalam kilatan kapak nan tajam, lalu ditegakkan tiang untuk menggalang gelegar melintang dan membujur, terkesan agung, gagah. Umpak alas batu karang itu perbuah seberat lebih setengah ton. Diangkat dari kedalaman laut, lalu diangkut ke pinggang bukit, kemudian jadi umpak dan pengalas. Lalu menghadap timur, membelakang maghrib, sebuah cara menghadap dalam rotasi perjalanan matahari, rotasi kehidupan.

Rumah Besar, ialah rumah kehidupan. Rumah ini dibangun dengan tiang-tiang tinggi tegap dan diletakkan di atas batu sebagai umpak dasar. Tidak ada peristiwa penggalian tanah secara vertikal. Semua berlangsung sejalan dengan relaksasi alam, elastis, lentur dan lentik. Jenis rumah seperti ini, amat lentur, tak rentan gempa, angin puting beliung, banjir dan segala hewan pemangsa. Bandingkan dengan rumah modern berbahan semen konkrit, penggalian tanah vertikal dan tumpahan cor masif, sekaligus memusnahkan bermilyar makhluk dalam tanah. Dan kita, orang modern hidup dan shalat di atas berjuta bahkan bermilyar bangkai. Rumah Besar memberi kehidupan segala makhluk tanah dan bumi yang berada dalam istana gelap bawah tanah.

Air Mali diperkatakan dalam beberapa sumber Belanda, sebagai tapak kediaman Datuk Kaya Bunguran selain Ranai. Air Mali, satu tapak tua di tanah Bunguran. Dalam Adatrechtbundel XX, Serie J., Het Maleische Gebeid, No. 31 Aantekeningen Betreffende het Adatrecht der Afdeeling Poelaoe Toedjoeh (hlm. 249, 1920) disebutkan: Bij den dood van en Datoeq Kaja van Boengoeran, Wan Koeta, in het Maleische jaar 1307, was Wan Ahmad (zoon van den vroegeren Datoeq Kaja) Amar en woonde te Ajer Mali. Air Mali seakan tak mengenal surut dan air pasang. Permukaan air selalu tergenang dan menggenang. Sungai menggenang, muara tergenang, hulu sungai tenang dan menggenang, hingga bersua dengan sungai Segeram. Keperkasaan masa lalu, dapat dilihat di sekitar Batu Nol, tempat Rumah Besar Datuk Kaya berdiri. Berada di tanah agak meninggi dan subur pada sebidang dataran barat pulau Bunguran.

Air Mali, dalam tradisi lisan masyarakat tempatan diyakini sebagai kawasan air larangan. Jenis tumbuhan rendah dan renek yang berduri ini, menjadi pengandang sekumpulan air. Air ini dikawal oleh sekumpulan duri yang bisa melukai. Maka disebut dalam sebagian versi sebagai kawasan air larangan. Masih banyak tapak tua yang diikat dengan sejentera mitos dan magi mengenai sejarah tanah dan gerakan orang-orang di atasnya. Tersebut Keramat Binjai, lalu ada di sisi timur, legenda pulau Senuar, ada lagi serangkaian legenda lanskap Senubing, juga mengenai lengkung pucuk utara pulau ini: kisah Tanjung Datuk. Namun, Air Mali beroleh tempat tersendiri dan membangun bilik tersendiri dalam ingatan kolektif Melayu. Nama ini sudah diperkenalkan dalam serangkaian nyanyi ulikan Melayu (nyanyian pengiring tidur anak) tentang jenjang cita-cita dan memetik bintang di masa depan: Tu bulan tu bintang, tu pucuk mali-mali. Ini selarik lirik nyanyi ulikan Melayu, yang ikut mengebat etik, moral dan kesantunan Melayu sejak buaian.

Kesantunan, moral dan etik Melayu itu bukan hasil rekaan setelah dewasa yang cenderung jadi jualan isu makhluk urban. Dia sesuatu yang menadi, menumbuhkan secara perlahan-lahan namun pasti, menjadi taji dan tindak laku. Dia bukan jualan orang-orang yang tergila melantik diri menjadi sekumpulan manusia berwibawa di bawah panji-panji adat yang tak berpucuk, tanpa akar tunggang. Air Mali, mengajak kita untuk membongkar mahkota ingatan segelombang masa lalu yang terbenam dalam kelam. Sekelam ingatan kita tentang sejumlah kehadiran yang ikut membesarkan tradisi kita hingga kini.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 418 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 65 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 60 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 39 Klik

Follow Us