PUISI UNTUK ROHINGYA

Sastrawan Riau Bergerak

9 September 2017 - 23.32 WIB > Dibaca 585 kali | Komentar
 
Sastrawan Riau Bergerak
Para penyair bergerak sumbangkan karya untuk muslim Rohingnya. Mereka menulis puisi tentang Rohingya. Iuran dan berbagi rezeki untuk Rohingnya. Mengumpulkan karya dan dana seadanya untuk Rohingnya.

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru

SIAPA yang tak terpancing dengan kisah Rohingya, hampir tidak ada. Penindasan terhadap muslim  Rohingnya menjadi air mata dunia yang mengundang semua orang bergerak ingin membantunya. Dengan berbagai cara, termasuk dengan berkarya dan berdoa semampu bisa, dengan mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya. Para penyair juga melakukan hal serupa.

Mereka menjual karya dan membacakannya demi mengumpulkan dana untuk Rohingya.
Beberapa penyair dan komunitas sastra, bahkan komunitas lain, turut bergabung dalam membacakan puisi-puisi tentang Rohingya. Ratusan orang memadati Taman Putri Kaca Mayang di depan kantor Walikota Pekanbaru dalam kegiatan yang digagas Forum Lingkar Pena (FLP) Riau tersebut. Apa yang mereka inginkan; menggugah banyak orang untuk peduli Rohingnya dengan puisi-puisi yang mereka baca.

Munajat Puisi untuk Rohingnya, begitu mereka memberi nama kegiatan ini. Meski sederhana, dengan panggung dan tempat seadanya, upaya yang dilakukan sejumlah penyair ini merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk Rohingya. Nyata.

‘’Sebagai penulis, sebagai sastrawan, mungkin begini cara yang bisa kami lakukan. Tapi lebih dari itu, kami ingin mengajak siapa saja untuk berbuat demi membantu Rohingya, tentu dengan cara masing-masing,’’ ungkap Sugiarti nama asli novelis Nafiah Almarab selaku Ketua FLP Riau.

Kegiatan di tengah masyarakat yang sedang bersantai bersama keluarga itu mendapat perhatian penuh. Selain menghibur, kehadiran para penyair juga diharapkan akan berperan dalam turut menggerakkan hati masyarakat Pekanbaru khususnya, komunitas-komunitas, pelajar, guru, pejabat, atau siapa saja untuk bersama-sama bergerak membantu Rohingnya, menyisihkan sebagian hartanya untuk masyarakat Rohingya yang membutuhkan. Tidak hanya sesame muslim, tapi juga agama lain atas dasar kemanusiaan.

Beberapa penyair yang hadir antara lain Bambang Kariyawan, Muhammad De Putra, Alam Terkembang, dan beberapa lainnya. Mereka bergantian membacakan puisi tentang Rohingya. Kegiatan yang ditaja atas dukungan Inisiatif Zakat Indoensia (IZI) itu juga menghadirkan orasi kemanusiaan serta penggalangan dana.

‘’Inilah yang bisa kita buat untuk Rohingya. Semoga bermanfaat dan diberkahi Allah. Semoga semua orang bergerak dengan jalan dan caranya masing-masing  untuk membantu saudara-saudara kita di Rohingya,’’ ungkap Alam Terkembang.

Bambang Kariyawan, yang hadir sejak awal dan juga membacakan puisi Rohingnya, mengatakan, banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu sesama muslim yang sedang dalam kesulitan. Apalagi kisah Rohingnya merupakan kisah tragis penindasan kaum muslim secara besar-besaran.

 ‘’Wajib hukumnya kita membantu, sekecil apapun dan bagaimanapun caranya, yang penting halal. Mari bantu Rohingya dengan puisi dan sastra,’’ katanya.

 Puisi-puisi tentang Rohingnya lahir dari penyair-penyair Riau. Bahkan puisi-puisi itu dibacakan di berbagai tempat dan acara. Muncul juga di berbagai media sosial. Semuanya menggambarkan keprihatinan akan nasib Rohingya.

‘’Kita sambut baik apa yang dilakukan teman-teman di FLP dengan menggelar aksi baca puisi tentang Rohingnya. Tujuannya bukan hanya baca puisi, tapi juga menggalang dana untuk Rohingnya. Ini magnet yang luar biasa. Artinya, siapapun kita, kita bisa membantu saudara-saudara kita di Rohingnya dengan cara kita masing-masing,’’ ujar sastrawan Riau, Fakhrunnas MA Jabbar pula.

Panyair Indonesia Terbitkan Buku Puisi Rohingya

Penyair di seluruh Indonesia juga melakukan hal serupa. Ratusan penyair yang tergabung dalam grup Ruang Sastra bersepakat mengumpulkan karya puisi tentang Rohingya. Siapapun penyairnya boleh mengirimkan puisi tentang Rohingnya, tapi tetap ada proses kurasi. Seluruh penyair, melalui rapat terbuka yang dilakukan di grup tersebut menunjuk Iyut Fitra (Sumbar) Hasan Aspahani (Jakarta) dan Soiawan Leak (Solo) sebagai kurator. Merekalah yang berhal menentukan puisi siapa yang layak dimuat dan puisi siapa yang tidak bisa dimuat.

Pengumuman tentang penerbitan buku puisi Rohingnya oleh penyair Indoensia ini juga diumumkan secara terbuka di banyak grup dan media social dengan syarat dan ketentuan yang sudah disepakati sebelumnya. Masing-masing penyair juga diminta untuk memberikan sumbangan lebih. Sumbangan ini selain untuk cetak buku juga boleh dilebihkan untuk bantuan yang ditujukan kepada muslim Rohingya. Bukunya juga akan dijual dan hasil penjualannya diserahkan untuk Rohingya.

Panitia kecil yang telah ditunjuk juga sudah mulai berkerja mengumpulkan karya dan dana sumbangan para penyair. Pemilihan panitia juga dilakukan secara demokrasi di Ruang sastra. ‘’Alhamdulillah saya dipercaya sebagai bendahara. Akan saya coba berkerja sebaik mungkin dalam mengumpulkan dana apalagi nantinya akan disumbangkan kepada muslim Rohingya,’’ ujar Willy Ana, bendahara.

Selain Wiily Ana ditunjuk sebagai koordinator dana, majelis Ruang Sastra juga menunjuk dua koordinator lainnya, yakni Deddy Tri Riyadi sebagai coordinator naskah dan Candra Malik sebagai koordinator terjemahan karena buku ini akan dicetak dengan dua bahasa; Inggris dan Indonesia. Sesuai dengan bidang masing-masing, tim sudah mulai berkerja, apalagi pengumpulan naskah hanya dilakukan hingga pertengahan September.
     
Mulai Bermunculan

Puisi-puisi tentang Rohingya mulai bermunculan di Ruang Sastra. Bermacam-macam rupa, gaya dan kisah yang terkandung di dalamnya. Antara lain, puisi Hasan Aspahani, Ramon Damora, Uten, Khairul Jasmi, Syarifuddin Arifin, Nanang Suryadi,  dan masih banyak lainnya. Sumbangan-sumbangan dana juga mulai bermunculan.

Tentu saja penyair-penyair Riau juga tergabung dalam penerbitan buku puisi Rohingya ini. Karena sebagian besar penyair Riau juga tergabung dana majelis Ruang Sastra. Di antaranya Mosthamir Thalib, Kazzaini Ks, A Aris Abeba, Yoserizal Zein, Kunni Masrohanti, Fakhrunnas MA Jabbar, Bambang Kariyawan, Husnu Abadi dan beberapa lainnya. Dipastikan para penyair ini juga akan mengirim puisi-puisinya tentang Rohingya.

‘’Kita sangat bangga dengan upaya yang dilakukan teman-teman sastrawan di Riau dan di Indonesia. Banyak gerakan sastra yang dilakukan beberapa waktu terakhir dan ini sangat menggairahkan kesusaseraan di Indoensia. Tidak hanya palaksanaan kegiatan, penguatan literasi ke sekolah-sekolah tapi juga penerbitan buku dan aksi social yang berkaitan dengan issu terkini. Semua tergerak dan bergerak cepat. Kasus Rohingya menjadi salah satu perhatian penting para penyair Indonesia,’’ ungkap Husnu Abadi pula.(fiz)

     
    



KOMENTAR

Follow Us