OLEH SARMIANTI

Mendu

6 Agustus 2017 - 00.10 WIB > Dibaca 3498 kali | Komentar
 
Mendu
Drama atau teater tradisional kini seperti ada dan tiada. Dikatakan tidak ada, dia masih ada. Sementara bila dikatakan ada, pertunjukannya hampir tidak pernah diketahui masyarakat. Mengapa hal seperti ini terjadi? Barangkali perkembangan zaman menjadi salah satu penyebabnya. Kemajuan teknologi informasi sedikit banyak telah membuat terkikisnya tradisi atau kesenian daerah. Generasi muda kini kurang tertarik pada kesenian daerah. Hanya orang-orang tua dan segelintir generasi muda yang masih tertarik dan berusaha melestarikannya.

Kondisi seperti ini juga dialami oleh mendu. Mendu adalah salah satu kesenian daerah dalam bentuk teater. Teater tradisional ini dikenal di daerah Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat. Pada awalnya, mendu hanya berupa teater rakyat yang sederhana dalam pementasannya. Mendu ditampilkan hanya di lapangan tanpa panggung atau perlengkapan pentas yang memadai. Setelah mendapat pengaruh dari drama bangsawan, mendu mulai menggunakan panggung, perlengkapan, dekorasi, dan layar. Begitu pula pakaian para pelakonnya, mirip dengan pakaian pelakon drama bangsawan yang indah dengan hiasan manik-manik dan sulaman atau renda emas.

Teater mendu merangkum berbagai jenis kesenian dalam pertunjukannya. Media ekspresinya terbilang lengkap, yakni drama, tari, musik, dan lagu. Menurut Edi Sedyawati dalam buku Metodologi Kajian Tradisi Lisan, teater adalah jenis sastra lisan yang paling komplit media ungkapnya, yaitu penyajian cerita melalui aktualisasi adegan-adegan, dengan pemeran-pemeran yang melakukan dialog dan menari, disertai iringan musik. Sementara pertunjukan sastra lisan yang paling murni adalah pembacaan sastra, seperti mabasan pada orang Bali.
Mendu biasanya diawali dengan bunyi tabuh-tabuhan sebagai tanda untuk penonton berkumpul karena pertunjukan akan dimulai. Sebagai pembukaannya adalah nyanyian dan tarian, lalu perkenalan para pemain termasuk sang sutradaranya.

Pertunjukan dilanjutkan dengan adegan-adegan pengantar menuju klimaks. Klimaks cerita adalah pertempuran yang berakhir dengan adanya pihak yang menang dan kalah. Pementasan kemudian diakhiri dengan kegiatan “beremas” lalu diikuti oleh layar yang tertutup.

Teater tradisional merupakan kesenian yang berakar dari masyarakat dengan menampilkan cerita yang telah dikenal baik oleh masyarakat itu. Teater mendu selalu menampilkan cerita dari “Hikayat Dewa Mendu”. Cerita inilah yang membedakannya dari drama rakyat yang lain, termasuk dengan teater mendu yang terdapat di Kalimantan Barat. Cerita Dewa Mendu ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat Melayu di daerah Kepulauan Riau.

Hikayat Dewa Mendu merupakan cerita yang panjang. Bila keseluruhan cerita ini dipentaskan akan diperlukan waktu berhari-hari. Akan tetapi, seperti teater tradisional yang lain, mendu dapat dipentaskan secara sepenggal-sepenggal atau per episode. Penonton tidak akan merasa kehilangan arah cerita karena mereka sudah sangat mengenal cerita tersebut.

Masyarakat juga tidak bosan untuk menonton berulang-ulang karena setiap pementasan pasti akan berbeda. Perbedaan setiap penampilan itu  terjadi karena para pemain/aktor tidak bergantung pada naskah. Mereka menghapal cerita dan memahami alur cerita untuk kemudian mementaskannya dengan cara spontan, tidak kaku, dan penuh improvisasi.

Penggunaan naskah menjadi pembeda utama teater tradisional dengan teater modern. Pada teater modern, aktor terikat pada naskah untuk setiap pementasan. Sementara pada teater tradisional, naskah hanya menjadi rambu untuk aktor. Selain naskah, faktor penonton juga menjadi pembeda teater tradisional dengan teater modern. Pada teater tradisional, termasuk mendu, penonton menjadi bagian dari pementasan. Penonton dapat berinteraksi dengan aktor yang berada di panggung.  Sedangkan pada teater modern, penonton bukan bagian pementasan. Jadi, ada batas yang tegas antara penonton dan aktor pada teater modern.

Kekhasan lain teater mendu adalah penggunaan bahasanya. Para tokoh utama berdialog menggunakan bahasa Melayu variasi mendu, yaitu bahasa Melayu yang menggunakan pilihan kata khusus dan intonasi/tekanan yang berbeda dengan bahasa Melayu pesisir. Sedangkan tokoh-tokoh lain, yang menjadi pemeran pembantu, menggunakan bahasa Melayu pesisir. Sebagai contoh bahasa mendu adalah untuk kata saya digunakan kata mahdiri kami dan frasa ampun tuanku digunakan frasa ampun yadi tuanku. Selain variasi bahasa yang berbeda, tokoh utama mendu juga selalu menggunakan kacamata hitam dan memegang kipas. Hal ini tidak dilakukan oleh pemeran pembantu.

Teater tradisional, seperti kesenian tradisional yang lain, pada dasarnya tidak hanya ditujukan untuk seni atau hiburan semata. Kesenian tradisional dulunya merupakan bagian dari adat istiadat atau ritual kepercayaan yang sakral. Akan tetapi, pada perkembangannya,  unsur seni dan hiburannya semakin menonjol, sementara unsur sakralnya semakin berkurang bahkan dihilangkan. Begitu pula teater mendu. Dahulu, teater ini dimulai dengan ritual-ritual tertentu yang tujuannya memanggil roh-roh untuk hadir dan menjaga selama pertunjukan berlangsung.

Teater mendu ini berasal dari Bunguran (merupakan pusatnya), lalu berkembang ke Natuna, Anambas, terus ke Sungai Ulu, Pulau Tiga, hingga ke Midai dan Siantan. Ketika Provinsi Kepulauan Riau masih menjadi bagian dari Provinsi Riau, mendu juga dikenal di Riau Daratan, terutama daerah pesisir. Sejak Kabupaten Kepulauan Riau menjadi provinsi yang terpisah, mendu tidak berkembang lagi di wilayah Riau Daratan. Baru beberapa tahun terakhir ini, kelompok Teater Matan (Pekanbaru) melakukan revitalisasi mendu. 

Monda Gianes sebagai motor revitalisasi melakukan modifikasi agar mendu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, namun esensi atau ciri khas teater mendu tetap dipertahankan. Unsur yang dihilangkan hanyalah hal-hal yang berupa ritual kepercayaan/magis. Jadi pada dasarnya, mendu yang ditampilkan oleh Teater Matan sama dengan mendu yang terdapat di Kepulauan Riau.   

Harapannya, semoga Teater Matan bukan satu-satunya kelompok yang merevitalisasi Mendu pada masa yang akan datang. Jika pementasan teater mendu telah rutin dilakukan tentu masyarakat akan semakin akrab dan dapat mengapresiasi kesenian ini dengan lebih baik.
Menonton pementasan teater tradisional akan menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat. Selanjutnya, wawasan masyarakat akan bertambah terutama mengenai nilai-nilai lama atau kearifan lokal yang masih relevan pada kehidupan sekarang. Semoga.***

Sarmianti
adalah peneliti pada Balai Bahasa Riau.



KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 Februari 2018 - 02:17 wib

Ahok Akan Sampakan Bukti Istrinya Selingkuh

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:56 wib

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:43 wib

18 Tahun Hino Ranger Jadi Market Leader di Indonesia

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:16 wib

KFC Tutup Ratusan Restorannya

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:58 wib

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:44 wib

Sky Energy Melantai, Harga Sahamnya Rp375-Rp450 Per Lembar

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:31 wib

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:02 wib

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Follow Us