CERPEN DANTJE S MOEIS

“Video Call” Pangkal Hari

23 Juli 2017 - 00.29 WIB > Dibaca 2046 kali | Komentar
 
“Video Call” Pangkal Hari
Akhir-akhir ini tepat hampir sebulan lebih, aku sangat sulit untuk dapat beristirahat malam dengan sempurna. Walau tak setiap malam dalam sebulan lebih itu, rasa menghantu, ketakutan yang beralasan, selalu saja tiba saat aku ingin istirahat, memulai tidurku.

Tak ingin jadi gila. Kuputuskan untuk berkonsultasi dengan Psikiater. Sebuah tindakan yang tak pernah terbayangkan sebelumya. Psikiater adalah orang yang ahli dalam persoalan kejiwaan, ganguan jiwa, sakit jiwa, mendekati gila. “Apakah aku gila?”

Jawaban si Psikiater, “Anda hanya sedang mengidap depresi ringan, akibat beban pikiran yang terlalu berat. Perbanyaklah istirahat, minta cuti, dan lakukan perjalanan ke tempat-tempat yang menyenangkn. Ini saya berikan resep obat anti-depresi, agar anda dapat rileks dan tidur dengan sempurna, Itu saja.”

Dari beberapa artikel pada rubrik konsultasi kesehatan, di berbagai media yang sambil-lalu kubaca, namun kerap. Selalu saja dikatakan bahwa wanita mempunyai kelebihan, bahwa kami kaum hawa, lebih kuat, lebih tegar dalam menghadapi berbagai persoalan, baik itu tekanan dalam kehidupan lazim dalam keluarga, pertemanan maupun di tempat pekerjaan. Juga dalam persoalan sosial, dampak interaksi dengan segala ragam bentuk dan perilaku manusia yang mau tak mau harus kuhadapi sebagai konsekuesi wajar, bagi seorang humas dari sebuah perusahaan transportasi udara. Selama ini aku kuat, namun setelah peristiwa aneh dan berulang-kali itu, aku kalah.

Kupandang-pandang kemasan obat anti depresi itu berkali-kali, “akankah obat ini satu-satunya jalan untuk mendapatkan ketenangan?” Limabelas butir benda itu telah kutelan dalam sepuluh hari ini, dan tampaknya hanya obat itulah yang dapat menghantar aku untuk dapat rileks, tidur lumayan sempurna.

Telepon lokal, antar ruang di mejaku berdering dan kuangkat.

“Hallo…”

“Nat, segera ke ruanganku, ada hal penting yang akan aku bicarakan” dan tanpa basa-basi, tak sempat mengucap kata sepatahpun, telepon darinya ditutup

Begitulah pak Dasmo, bosku yang kaku, terkesan tak berbasa-basi dan hal dulu paling tak kusuka adalah, saat ia menyapa atau memanggilku dengan panggilan “Nat” saja. Padahal dalam keluarga dan teman-teman semasa sekolah dan kuliah dulu, mereka selalu memanggilku dengan pangkal nama yang lengkap, “Natasya” lengkapnya “Natasya Ariesta Vesty”.

“Ah..sudahlah…” walau berkali-kali aku coba memperbaiki, namun ia tetap memanglku dengan “Nat”

“Lebih praktis dan familiar,” katanya.

“Dengkulmu,” kataku hanya dalam hati.

Ruang pak Dasmo yang kerap kudatangi, bahkan berlama-lama di sana karena keperluan rapat, atau berkonsultasi tentang pekerjaan yang kubidangi, tak membuatku seperti saat ini. Menderita didera hawa dingin tak biasa. Padahal angka penunjuk suhu pada remote control pengatur, tertera angka yang biasa 16 derajat selsius sama seperti hari-hari sebelumnya.

“Kamu sakit Nat?” pak Dasmo memulai percakapan, “dan aku lihat akhir-akhir, kau seperti orang yang terganggu kesehatannya. Agak pucat dan selalu gugup kulihat.”

“Untuk itulah aku merasa perlu memanggilmu ke sini, aku tak mau, dan tak seorang pun dari karyawanku yang boleh memaksakan diri dalam melakukan pekerjaan akibat kesehatannya yang tidak prima. Mengerti kan maksudku?” Pak Dasmo melanjutkan pembicaraan.

“Mengerti Pak. Benar apa yang bapak katakan.”

“Baiklah…sekarang kau buat surat permohonan cuti, dan serahkan kepada bahagian kepegawaian untuk segera diproses. Setelah semuanya selesai kau boleh cuti mulai besok dan manfaatkan masa cuti itu sebaik-baiknya agar ketika kembali kerja, kau dalam keadaan prima sehat wal’afiat. Cukup dan silahkan meninggalkan ruanganku.”

Duabelas hari masa cuti khusus yang diberikan pak Dasmo kujalani dengan menyepi, istirahat, menghindar  dari segala kebisingan dan rutinitas pekerjaan. Aku yakin, kejadian aneh yang lalu-lalu hanyalah mimpi buruk atau dihanyutkan oleh halusinasi akibat stress, penat otak, akibat dari beban kerja yang mendera.

Tiga hari hingga kini, aku menginap di sebuah cotage tepi pantai indah di kepulauan Riau. Membatasi penggunaan obat penenang. Membuat aku merasa segar, fresh dan gangguan “Video Call” gila itu, yang setakat ini syukurlah, tak tak menggangguku lagi.

Video Call pangkal hari, yang kerap tiba antara pukul 01.00 atau pukul 02.00. Video Call gelap, tanpa nomor dan tak bergambar, yang ada hanya suara seperti orang mendengkur dan menghela nafas. Datang berkali-kali dan diputus tanpa adanya salam sebagai penutup pembicaraan.

Mulanya aku berpikir bahwa itu hanyalah kerja iseng dari orang-orang yang ingin mengganggu ketenanganku saja.

“Ah…biarlah, toh nanti akan penat sendiri,” dan aku melanjutkan tidur. Begitulah awal-awalnya.

Malam ke tujuh, dalam menghabiskan masa cuti. Setelah hampir menamatkan novel ringan yang kubaca sejak siang tadi. Sekilas memandang jam dinding, pukul 11.45, perasaan tak menentu seperti pangkal pagi-pangkal pagi lalu, dan hal aneh itu datang lagi. Membuka laci, meraih sebutir obat anti depresi dan menelannya. Mencoba untuk tidur, memaksa memejamkan mata, namun tak bisa. Peluh dingin mengucur, membasahi sekujur tubuh, pada hal setelan “ac” sudah kuturunkan pada suhu terendah, obat anti depresi seakan tak bereaksi sama-sekali.

Malam ini adalah malam terparah dari malam-malam sebelum tibanya Video Call gila di waktu-waktu lalu. Aku seakan di ingatkan bahwa panggilan itu pasti tiba. Kegelisahan kian mendera. Mungkin beginilah rasanya seorang terpidana mati pada jam, menit dan detik tibanya eksekusi.

“Harus kulawan semua ini. Atau… akhirnya, kubanting hingga pecah berderai “smartphone” yang selama ini banyak membantuku dalam menyelesaikan banyak hal.”

Dering telepon tiba. “Pasti dia…”

“Hallo…”

“Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh…” jawabnya di sana.

Kulirik pojok atas layar telepon, tetap tak ada tertera nomor lawan bicara. Kukumpulkan keberanian. Menyalakan lampu dengan harapan, dia dapat melihat sejelas-jelasnya wajahku di layar teleponnya. Kualih pandang menatap layar dan…terkesiap. Dia! Dia adalah orang yang fotonya tergantung di dinding rumah almarhum nenek. Rumah yang kini menjadi rumah keluarga besar kami. ”Foto Haji Ja’far Yatim, kakekku…ayah dari ayahku.”

Hilang gelisah, hilang rasa takut dan cemas. Hilang gerutu, seperti yang lalu-lalu setelah menerima video call pangkal hari itu. “Aneh…”

“Wa’alaykumsalam Warakhmatullahi Wabarakatuh…Atuk di mana?” kuberanikan menyapanya dengan panggilan Atuk. Kupastikan dia adalah kakekku. Seakan lupa bahwa atukku telah lama tiada. Berpuluh tahun di pergi, kembali setelah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

“Natasya cucuku, kita di alam yang berbeda. Atuk bersyukur bahwa pangkal pagi hari ini, segala harapan yang Atuk dambakan selama berbulan-bulan telah dikabulkan olehNya. Atuk dapat berbicara langsung denganmu untuk hanya satu kepentingan yang menyangkut hidupmu di dunia dan akhirat kelak.”

“Tentang apa Tuk?” aku menyela pembicaraan karena keingintahuan yang besar.

Terdengar suara tawa ramah dan berwibawa, “Atuk mengingatkanmu, Tinggalkan Martin kekasihmu. Kau dan dia tidak “sekufu” dan dia bukan lelaki yang baik, tak pantas buatmu cucuku sayang. Itu saja pesan Atuk. Wassalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh… Atuk pergi…” dan gambar pada smartphone itu pun hilang.

“Atuk...Tuk…Tuk…Atuk,” sembari menekan segala tombol telepon yang ada, namun hampa tak berjawab sama sekali.

Kembali ke kota, kembali ke tempat kerja dan kembali bebas dari segala rencana tipu-daya Martin yang mengajakku berpaling dariNya, tak membawa aku untuk sama-sama membangun mahligai rumah tangga yang Sakinnah, Mawaddah dan Warakhmah…

Berhari-hari, berbulan dan hingga kini, video call pangkal hari tak datang lagi.
“Terima kasih Atuk, kau benar,” semoga Atuk tenang di alam sana. Alfatihah…***


SPN Dantje S Moeis adalah perupa, penulis kreatif, mantan redaktur senior majalah budaya “Sagang”, mantan pengajar Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR),Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbabaru
















KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us