OLEH MUSA ISMAIL

Perempuan Bulang Cahaya

9 Juli 2017 - 01.02 WIB > Dibaca 735 kali | Komentar
 
Bulang Cahaya merupakan suatu novel Indonesia yang berlatar sejarah. Kehadiran novel yang diterbitkan pada 2007 ini telah menyemarakkan dinamika sastra di tanah air. Bahkan, novel berlatar sejarah mendapat perhatian khusus dari kritikus sastra seperti Maman S. Mahayana. Dalam catatan Maman S. Mahayana, pemanfaatan peristiwa sejarah sebagai latar cerita baru disentuh oleh Taufik Ikram Jamil dalam novel Hempasan Gelombang (1999) dan Gelombang Sunyi (2001), Nur Sutan Iskandar dalam novel Hulubalang Raja, Utuy Tatang Sontani dalam Tambera, Mangunwijaya dalam novel Burung-Burung Manyar, dan Pramoedya Ananta Toer dalam novel tetralogi Bumi Manusia.

Hakikat karya sastra bukan semata-mata imajinasi. Kelahiran karya sastra juga tidak terlepas dari pengamatan, riset, atau survei yang dilakukan oleh sastrawan. Bahkan lebih jauh, sastrawan bisa melakukan riset kepustakaan dan perenungan panjang serta perbandingan untuk melahirkan karya yang bermutu. Penghadiran karakter tokoh misalnya, bisa dilakukan dengan penelitian yang mendalam apalagi jika karyanya berkaitan dengan latar belakang sejarah.

Demikian juga halnya dengan Bulang Cahaya. Penghadiran peristiwa berlatar sejarah oleh Rida K. Liamsi dalam Bulang Cahaya berarti telah membidik suatu peristiwa kebudayaan yang pernah terjadi di masa lampau.

Hal yang menarik perhatian penulis dalam novel Bulang Cahaya adalah eksistensi tokoh perempuan. Penghadiran karakter perempuan dalam sastra bukan hal baru. Sejak berabad-abad, perempuan selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi sastrawan. Sadar ataupun tidak, penghadiran tokoh perempuan dalam karya fiksi bermakna memberikan unsur ”keindahan” tersendiri.

Bukan hanya itu, perempuan pun bisa menjadi tokoh sentral, baik dalam sastra Indonesia maupun mancanegara. Penulis novel ini, Rida K. Liamsi menyadari akan pentingnya kehadiran tokoh perempuan dalam karyanya.

Kehadiran tokoh perempuan bukan hanya sekadar dalam keindahan sensual dan duniawi. Dalam buku Kimia Kebahagiaan teori al-Ghazali, keindahan sensual dan duniawi merupakan keindahan terendah yang berkaitan dengan hedonisme dan materialisme (lihat Abdul Hadi W.M., 2004:41). Persoalan-persoalan yang ditelaah dalam feminisme, menurut Endraswara, berkaitan dengan beberapa hal, yaitu (1) kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra, (2) ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan, dan  (3) memperhatikan faktor pembaca, khususnya bagaimana tanggapan pembaca terhadap emansipasi wanita dalam sastra.
Penulis novel ini dalam epilognya menyatakan, ”Sungguh luar biasa seorang perempuan. Meskipun Tengku Buntat bukan setara Cleopatra. Bukan setanding puteri Mumtaz Mahal, tapi tragedi cintanya mungkin dapat disamakan dengan tragedi cinta Helen dari Troya, sebuah legenda tentang cinta” (2007: 319). Kalimat pertama dalam kutipan ini jelas sekali bahwa Rida mengakui kekagumannya kepada perempuan. Kedudukan perempuan menjadi sangat penting di mata pengarang pria ini.

Percintaan Tengku Buntat dengan Raja Djaafar kandas bukan karena ketidaksetujuan kedua orang tua. Ketidaksampaian cinta di kalangan kerajaan ini dikarenakan peristiwa politis antara Melayu-Bugis. Ini mengisyaratkan bahwa demi keutuhan suku-suku di tanah air, pengorbanan cinta pun bisa menjadi solusi. Secara sadar, Rida dalam novelnya ini mengetengahkan betapa besarnya peranan dan keberanian perempuan dalam peristiwa pengorbanan. Rida membuktikan bahwa perempuan sangat kuat.

Bulang Cahaya menolak anggapan subordinasi perempuan. Kedudukan dan peranan perempuan dalam novel ini sungguh hebat. Tokoh utamanya, Tengku Buntat, walaupun dihimpit berbagai kepedihan percintaannya, tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran. Kita tahu bahwa kesabaran memiliki kedudukan tinggi di mata Allah Taala. Namun, kekuasaan politik pun terbukti mengintervensi jalinan kasih sayang.

Di sini kita memahami bahwa kekuasaan politik mampu membunuh sisi kasih sayang sebagai nilai moral kemanusiaan. Gambaran kekuatan Tengku Buntat terlukis dalam kutipan berikut: Tapi Buntat tidak terlalu suka yang main terkam. Dia lembut, perasa” (hlm. 35). Kondisi inilah yang menyeret posisi perempuan seperti Tengku Buntat ke arah marjinalisasi. Dalam kasus ini, kekuatan perempuan bukan terletak pada kemampuan fisik, tetapi lebih kepada kekuatan perasaan. Semakin kuat menanggung kepedihan, terkesan semakin kuat menjalani kehidupan.
Selain Tengku Buntat, tokoh perempuan lain yang mendapat perhatian Rida K. Liamsi, yaitu Raja Hamidah atau Engku Puteri. Raja Hamidah juga merupakan tokoh sejarah, selain sebagai permaisuri Sultan Mahmud dan adik Raja Djaafar. Dalam catatan sejarah Hasan Junus (2002), Raja Hamidah lahir pada 1774. Beliau merupakan anak perempuan pertama Raja Haji, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga IV (1778-1874). Ibunya berasal dari Perak, puteri Daeng Kamboja.

Sebagai puteri seorang panglima, Raja Hamidah telah dibesarkan dalam tradisi istana, kebangsawanan, dan perang. Dalam novel ini, Rida K. Liamsi juga menegaskan bahwa Raja Hamidah merupakan perempuan penting dalam kepemimpinan sebagai pemegang Regalia Kerajaan. Karakter perempuan bertanggung jawab sangat melekat pada tokoh Raja Hamidah. Selain itu, ia juga sosok yang amanah dan taat pada adat.

Ketika kita hendak mempelajari sejarah, salah satu jalan terbaik adalah melalui karya sastra berlatar sejarah. Karya sastra berlatar sejarah membunuh kekakuan dan kebosanan ketika kita membaca buku-buku sejarah. Bahasa sastra yang estetik akan membantu para pembaca untuk lebih betah memahami sejarah yang tertuang dalam karya sastra.

Inilah bentuk transformasi teks yang tergambar di dalam novel Bulang Cahaya. Sebagai karya sastra, novel ini jelas sebagai dokumen sosial-budaya bangsa Melayu-Bugis yang pernah terjadi di masa lampau.

Melalui novel ini, Rida K. Liamsi seakan menghidupkan kembali sejarah kerajaan dan kebudayaan serta sumpah setia Melayu-Bugis di masa lalu. Tentu saja karya ini menjadi suatu hal positif bagi generasi kini sebagai pembacanya. Novel ini telah menghidupkan kembali jejak-jejak bersejarah suatu imperium besar Melayu-Bugis ke masa kini. Jejak-jejak yang ditransformasi itu mencakup peristiwa, tokoh-tokoh besar sebagai pelaku kekuasaan, deretan latar, dan karakter-karakter agung pada beberapa tokoh yang patut diteladani.***



KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 21:07 wib

Gerindra Masih Penjajakan Siapa Calon Capres dan Wapres

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:38 wib

Podomoro City Deli Medan Hibur Tamu Hadirkan Rossa

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:03 wib

Libatkan Perempuan dan Anak-anak pada Aksi Terorisme Perbuatan Keji

Minggu, 20 Mei 2018 - 19:30 wib

Korban Aksi Teroris Akan Dapat Kompensasi

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:25 wib

Bank Riau Kepri Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:08 wib

DPRD Siak Dapat Kunjungan dari DPRD Kampar

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:03 wib

Anggota DPRD Siak Ikuti Bimtek dan Peningkatan Kapasitas

Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Follow Us