OLEH UDJI KAYANG ADITYA SUPRIYANTO

Celaka Bahasa Tokoh Belia

9 Juli 2017 - 00.31 WIB > Dibaca 963 kali | Komentar
 
MASA bocah adalah nostalgia yang paling didamba manusia dewasa. Silampukau sampai-sampai menutup lagu Balada Harian (2014) dengan lirik sungguh trenyuh: Oh, bocah riang di jiwaku/ di manakah dirimu?/ Tahun-tahun masih menunggu,/ kembalilah kepadaku/ padaku... Masa bocah mengendap sebagai kenangan dalam diri, lantas digali dengan berbagai cara, terutama lewat kata-kata.

Kita boleh mencurigai kerinduan masa bocah sebagai motif penyertaan tokoh belia dalam teks sastra, terutama apabila bocah-bocah itu dijadikan tokoh utama. Salah satu yang ketagihan memakai tokoh belia adalah pengarang bernama susah terlafalkan: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Ia mengisahkan seorang bocah penenteng kamus lewat novel Di Tanah Lada (2015) dan bocah berjuluk Beliau dalam novel Semua Ikan di Langit (2017).

Upaya Ziggy mengisahkan masa bocah diganjar apresiasi tinggi Dewan Kesenian Jakarta: Di Tanah Lada juara II sayembara menulis novel DKJ 2014, dan Semua Ikan di Langit juara I sayembara menulis novel DKJ 2016. Tokoh bocah memang sudah sejak lama punya tempat di jagat sastra. Beberapa karya termashur misalnya Le Petit Prince (1943) garapan Antoine de Saint-Exupery atau Totto-Chan (1981) yang ditulis Tetsuko Kusayanagi sama-sama bertokohkan bocah.

Di Indonesia, karya sastra bertokoh bocah mulai banyak diterbitkan di masa Orde Baru, sesuai intruksi Presiden Soeharto. Hanya saja, karya sastra bertokoh bocah di masa itu memang tidak memuaskan, lantaran terbit sekadar sebagai formalitas melaksanakan program pemerintah. Pengarang ampuh dan kondang pun kesulitan membikin karya sastra bagus bertokohkan bocah pada saat itu.

Ziggy hadir tanpa membawa program pemerintah atau instruksi presiden, namun nekat mengarang novel bertokoh bocah. Novel bertokoh bocah bukannya sepele, justru sangat kompleks. Pengarang novel yang kebanyakan berusia dewasa mesti memaksakan dirinya kembali pada imajinasi masa bocah yang tertinggal puluhan tahun di belakang. Memang betul, setiap orang dewasa pernah menjadi bocah, namun bukan berarti mereka boleh berlagak memahami imajinasi bocah. Ingatan masa bocah semakin terkikis seiring bertambahnya usia, kecuali untuk orang seperti Rebecca Sharrock yang punya kondisi langka highly superior autobiographical memory (HSAM). Rebecca adalah satu dari 80 orang saja di dunia ini yang bisa sepenuhnya mengingat dan memahami masa bocah.

Pengarang yang nekat menulis novel bertokoh bocah lazim menjumpai beberapa kecelakaan, untuk tidak menyebut kegagalan. Imajinasi dibangun dengan bahasa, maka bocah semestinya dikisahkan membawa pula bahasa bocah. Ziggy misalnya, celaka saat menunjukkan tokoh dalam novel Di Tanah Lada akrab dengan kata “etika”. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), kata tersebut berarti, “ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak serta kewajiban moral.” Etika pun dikenal sebagai salah satu cabang filsafat. Kalau yang dimaksud Ziggy adalah aturan sopan santun (tata cara) dalam pergaulan, kata yang lebih tepat sebetulnya “etiket”. Ziggy memilih tokoh bocah berkamus, meski sulit berterima, setidaknya bisalah membedakan etika dan etiket.

Kecelakaan bahasa yang serius, dan masih berkaitan dengan filsafat, dialami pula oleh Sujiwo Tejo. Celaka bahasa hadir di buku Tuhan Maha Asyik (2016) yang ia garap bareng M. Nur Samad Kamba. Dua orang penulis membagi peran, Sujiwo Tejo menulis cerita bertokoh bocah dan Nur Samad Kamba menyajikan tafsir terhadap tiap-tiap cerita itu. Meski terasa akademis alias “bau kampus”, tafsir Nur Samad Kamba masih bisa kita terima. Namun, kebahasaan Sujiwo Tejo pada kisah bertokoh bocah (kira-kira seumuran sekolah dasar) mejumpai banyak celaka.

Sujiwo Tejo lupa, perannya sekadar penyampai cerita. Tentu ia berharap mengarang cerita filosofis, tapi urusan filsafat mesti diserahkan sepenuhnya ke penafsir: Nur Samad Kamba, lalu para pembaca. Cerita cukup memakai percakapan bocah sehari-hari, bukannya bahasa tingkat tinggi.

Dalam cerita Sujiwo Tejo berjudul Bahasa (2), kita menjumpai kata “kesadaran” dan “kehendak” dalam dialog bocah. Bayangkan, ada seorang bocah berkata, “dengan kata lain, kesadaran orang Indonesia dibentuk oleh kata-kata untuk mengetahui apakah saudaranya itu lebih tua apa lebih muda,” atau pada kalimat yang lain, “bayi juga punya kehendak untuk keluar, artinya tidak dilahirkan.” Makna kesadaran dan kehendak yang kita baca dalam buku-buku filsafat terasa pula pada cerita ini.

Di Kamus Istilah Filsafat (2012) garapan Arif Surahman, kedua kata itu muncul dalam beragam frasa: kesadaran palsu (false consciousness), kesadaran teknokratik, kesadaran yang terarah (evidence), kesadaran umum (bawusstsein uberhaupt), kehendak bebas, kehendak untuk berkuasa, kehendak dan pemahaman (will and understanding), kehendak untuk hidup (wille zum leben), dan kehendak untuk percaya.

Kedua kata yang dipakai Sujiwo Tejo gampang ditemui di Kamus Istilah Filsafat tapi tak terdapat di kamus yang merangkum kebahasaan bocah, misalnya Kamus Bahasa Indonesia Sekolah Dasar (2003) garapan Pusat Bahasa. Dalam kamus termaksud, hanya ada kata “sadar” yang berarti “insaf; tahu dan mengerti; ingat kembali setelah pingsan; siuman” dan kata “hendak” yang berarti “mau; akan; bermaksud”.

Tiada derivasi sama sekali untuk kedua itu, kata dasarnya pun didefinisikan secara amat sederhana. Artinya, kata “kesadaran” maupun “kehendak” memang bukan bahasa bocah, kecuali bila tokoh-tokoh Sujiwo Tejo seumuran siswa sekolah menengah pertama. Dalam Kamus Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (2003) garapan Pusat Bahasa, memang sudah hadir kata “kesadaran” dan “kehendak”.

Kecelakaan bahasa dalam cerita bertokoh bocah karangan Sujiwo Tejo bukan saja pada pilihan kata atau diksi, melainkan juga penampilan puisi. Salah satu tokoh bocah Sujiwo Tejo, Kapitayan, membacakan puisinya pada cerita berjudul Diri (4). Kapitayan berpuisi: Kamu adalah kamu, tapi kamu-menurut-aku bukanlah kamu.../ Kamu adalah kamu, tapi kamu-menurut-harapanku bukanlah kamu.../ Kamu adalah kamu, tapi kamu-dalam-impianku bukanlah kamu.../ Ada aku pada kamu-dalam-impianku.../ Sudah ada aku yang terlibat pada kamu-dalam-harapanku.../ Kamu menurutku, “bukanhlah murni kamu lagi, tapi kamu yang sudah aku susupi..., dan seterusnya. Kapitayan mengakhiri puisinya dengan sajak, “Dan jika aku menyembahmu.../ Maka sebenarnya aku tak lain menyembah diriku sendiri...” Bisakah kita membayangkan seorang bocah mengarang dan membacakan puisi seperti itu?

Penulis adalah Pembaca sastra dan pengelola Bukulah! Bergiat di Bilik Literasi

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:52 wib

Pentingnya Terapi untuk Orangtua Anak Autis

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:50 wib

Awali Kebangkitan Superhero Indonesia

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:41 wib

Kado Terakhir Iniesta

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:40 wib

Petasan Dilarang, Satpol PP Patroli Pasar Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:37 wib

Tiga Kali Panggilan Hearing Tak Digubris

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:31 wib

Tegang Jelang Ucap Janji

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:27 wib

Menulis Tradisi dalam Bait-bait Puisi

Follow Us