ESAI SASTRA

Magis Melayu: Karakteristik Jupen di Mata Griven

2 Juli 2017 - 00.01 WIB > Dibaca 826 kali | Komentar
 
Oleh Musa Ismail

Awalnya, istilah realisme magis digunakan oleh kritikus Frans Roh. Istilah ini diperkenalkannya pada 1925. Tujuannya untuk mengenang kembalinya para pelukis pada aliran ini. Hal ini  disebabkan banyak sekali yang berkarya dengan aliran abstrak sebagai tandingan. Dalam pandangan Roh, karya-karya pelukis seperti Dix Otto dan Giorgio di Chirio, realisme tidak hanya tergambar sebagai realisme. Akan tetapi, lukisan mereka juga mengandung unsur magis. Unsur magis ini merupakan elemen-elemen yang irasional, yang tidak terjelaskan secara objektif. Namun, unsur ini adalah hal yang realistis terjadi dalam kehidupan kita.

Istilah realisme magis terus berkembang. Perkembangannya hingga merambah ke dunia sastra. Pada 1955 istilah realisme magis tidak diperkenankan lagi. Akibatnya, kritikus sastra meminjam isrilah ini untuk melihat karya sastrawan Amerika Latin seperti Marquez, Borges. Dalam pandangan kritikus sastra, karya-karya sastra tersebut pada dasarnya mirip karya realis. Akan tetapi, karya itu mengandung elemen-elemen magis yang intuitif. Tentu saja persoalan intuisi dalam magis ini samar-samar. Para sastrawan selalu melihat
kenyataan  berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Ada suatu yang luar biasa dan di luar akal sehat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang luar biasa itu tidak mampu kita rekam secara objektif. Oleh Lo Real Maravilosso, realisme magis bermakna kenyataan yang ajaib.
 
Realisme magis mengusung dunia yang mistis, menghadirkan honor, atau dunia penuh keajaiban. Dunia lain, yang tak dapat disentuh pemikiran sehat. Namun, dunia seperti ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia. Dalam kaitannya dengan dunia lain ini, karya sastra menyuguhkan unsur-unsur intrinsik yang penuh kejutan dari dimensi lain. Misalnya, alur dan konflik menjadi unsur utama dalam ketegangan-ketegangan realitas magis. Tentu saja pembaca mengalami konflik batin yang tidak kalah dengan realitas sosial.

Aspek horor merupakan satu di antara unsur yang disuguhkan oleh realisme magis. Horor merupakan suatu keadaan yang mewujudkan kengerian, ketakutan, atau kegamangan. Hal ini biasanya berkaitan dengan sesuatu yang gaib atau alam gaib. Tidak sedikit sastrawan menjadikan peristiwa horor sebagai dasar karya sastranya. Kejadian-kejadian horor yang disuguhkan sastrawan biasanya merupakan deskripsi dari kenyataan hidup di dalam masyarakat. Keyakinan-keyakinan gaib masyarakat diangkat, bahkan ada yang diriset terlebih dahulu, baik secara mendalam maupun tidak.

Novel Lelaki Pembawa Kain Kafan
(selanjutnya saya singkat LPKK) karya Griven H. Putra merupakan satu di antara sekian banyak karya sastra di Riau yang menyuguhkan perbancuhan antara realitas sosial dan realitas magis. Awalnya, novel LPKK diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Riau (2009). Kemudian, novel ini diterbitkan pula secara bersambung di Majalah Dinamis Kanwil Kemenag (2013-2014).

Masih ingatkan kita dengan Jupen (Juru Penerangan) di bawah naungan Departemen Penerangan (Deppen) ketika era orba? Nah, Tokoh utama novel ini adalah Jupen (Juru Penerangan). Di era orba, istilah Jupen sangat populer. Jupen merupakan petugas lapangan Deppen. Jupen bertugas sebagai komunikator. Mereka ahli menyampaikan amanat/pesan secara populer kepada masyarakat. Keahlian Jupen menyampaikan pesan inilah yang dikisahkan Griven dalam LPKK.

Secara tidak langsung, keberadaan Jupen di tangan Griven  merupakan tokoh idealis yang memegang teguh Tri Prasetya dan Kode Kehormatan yang ditetapkan Deppen pada 1949. Tri Prasetya Jupen ada tiga, yaitu (1) pendukung cita-cita negara, (2) penggerak rakyat melaksanakan cita-cita negara, dan (3) pembimbing pendapat umum. Sementara itu, Kode Kehormatan Jupen, yaitu (1) yakin akan kebenaran Pancasila, (2) setia dan tulus ikhlas melaksanakan politik pemerintah, (3) militan dalam jiwa, pikiran, dan geraknya, (4) jujur dalam perkataan dan perbuatan, (5) tabah menghadapi tiap kesulitan dalam pekerjaannya, (6) bijaksana dalam pergaulan hidupnya dan menjadi teladan bagi sekelilingnya, dan (7) patriot sejati.

***

Aroma horor dalam novel ini begitu kuat. Di sisi lain, realitas sosial pun menjadi penyanding dan pengokoh di dalamnya. Prolog novel LPKK mendeskripsikan kesan horor tersebut. Simbolisasi bunyi tetawak (tawak-tawak) di paragraf awal novel menandakan suatu kengerian atau kecemasan. Inilah gambaran kecemasan di dalam kehidupan sosial yang disuguhkan Griven melalui beberapa kemungkinan pertanyaan. Pertama, adakah orang meninggal ditangkap harimau? Kedua, atau sepasang cucu Adam dan Hawa sedang makan buah khuldi merah jambu? Ketiga, ataukah bulan sedang ditimpa penyakit mala mini? Keempat, atau lembu di dasar laut sedang menggeliat yang menyebabkan gempa mengguncang demikian dahsyat? Kelima, mungkin tukan potong kepala muncul? Sekebat pertanyaan ini dengan sengaja dimunculkan Griven pada awal kisah sebagai hal yang mengajuk pembaca (provokatif). Tentu saja ini suatu prolog yang bisa dikatakan menarik.

Gambaran kehidupan masyarakat terbelakang dalam novel ini begitu rinci. Persoalan-persoalan masyarakat Melayu (Riau) yang bermukim di pedalaman diramu Griven dengan beragam kemungkinan. Apa yang diramu Griven dalam novel ini merupakan pengungkapan aspek sosial-magis. Pertama, kehidupan masyarakat pedalaman masih kuat dengan animisme dan dinamisme. Kedua, pola pikir masyarakat terbelenggu oleh keterbelakangan. Ketiga, masyarakat tetap saja menganggap sesuatu yang baru itu mengancam tatanan kehidupan yang telah terbentuk. Keempat, pemicu pro- dan kontra- di masyarakat terbelakang sering berkaitan dengan pertentangan realitas magis dan realitas religius. Gambaran masyarakat terbelakang yang dimunculkan Griven ini tentu merupakan deskripsi universal. Meskipun gambaran ini merupakan deskripsi spasial, tetap bisa digeneralisasikan. Hingga kini, pertentangan magis-religius bukan hanya di pedalaman, tetapi juga di pedesaan dan di perkotaan. Di sini, Griven menggiring pembaca ke arah kesadaran religius. Kesadaran religius dalam novel diciptakan agar kita selalu ingat bahwa hanya kepada Allah Azzawajalla kita patut berserah diri. Kesadaran religius ini ditampilkan Griven melalui Pak Jupen sebagai tokoh utama.

Tentu saja kisah ini merupakan pengalaman Griven sebagai penulis. Griven yang pernah bertugas sebagai penyuluh (Jupen) agama, secara sosiologi, sesungguhnya mendeskripsikan aspek empiris yang pernah dialami atau diamatinya dalam kehidupan masyarakat. Griven ingin mengisahkan betapa dahsyatnya peranan seorang Jupen yang ditugaskan di daerah terbelakang. Betapa dahsyatnya keberadaan Jupen yang bertugas untuk mengubah pola pikir masyarakat yang jauh dari sentuhan kehidupan modern. Betapa dahsyatnya kesabaran Jupen dalam bertugas sehingga meninggalkan keluarga tercinta. Betapa dahsyatnya dedikasi Jupen terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedahsyatan karakter Jupen inilah yang membekas kuat dalam arus bawah sadar Griven sehingga—disadari atau tidak—ia telah mengungkit kebesaran seorang Jupen di masa orba. Generasi yang tahu sejarah akan memahami bagaimana hebatnya peranan Jupen dalam mengubah pola pikir dan pola laku masyarakat, terutama di pedalaman. (Karena kebesaran Jupen inilah, saat ini ada wacana pemerintah menghidupkan kembali Jupen untuk ditugaskan ke daerah-daerah tertentu. Hal ini sangat patut, terutama jika dikaitkan dengan isu kebangsaan kita sekarang).

Tokoh Jupen yang ditampilkan Griven lebih besar pada aspek religius. Jupen dalam kisah ini lebih banyak berperan sebagai penyuluh agama. Tentu saja kiprahnya sebagai penceramah/dai. Namun, tokoh ini tidak hanya memberikan pencerahan keagamaan, tetapi juga berbagai aspek kehidupan lain dalam masyarakat tempatnya bertugas. Karakter keagamaan tokoh Jupen yang digambarkan Griven ini sangat kuat. Kekuatannya itu bukan hanya kiprahnya sebagai penceramah. Hal yang mengejutkan (suspense) novel ini terletak pada hilangnya tokoh Jupen pada suatu malam. Tokoh Jupen raib ketika keluar dari rumah tokoh Guru. Tokoh Guru memeriksa tas Jupen untuk mencari petunjuk. Ketika itu, alangkah terkejutnya tokoh Guru karena menemukan kain kafan sebagai tanda kematian.

Raibnya Jupen bisa saja mengidentifikasikan bubarnya Deppen (Jupen) sebenarnya ketika itu. Inilah punca betapa kecohnya masyarakat ketika tidak memiliki panutan. Tokoh Jupen yang telah menyatu dengan sebagian besar masyarakat dalam novel ini memicu kengerian atau kecemasan warga. Kecemasan ini bisa diterjemahkan sebagai kecemasan denotasi dan konotasi. Kecemasan denotasi bermakna masyarakat benar-benar cemas akan kehilangan tokoh Jupen sebagai panutan. Kecemasan konotasi berkaitan dengan kemungkinan peristiwa gaib yang dialami tokoh utama itu.

Pada proses raibnya tokoh Jupen ini, Griven, sebagai penulis, mengajuk logika pembaca. Pada alur cerita ini, Griven menghadirkan konflik magis-religius. Dukun dilibatkan untuk mencari Jupen hingga ke negeri bunian (alam gaib). Di sisi lain, Griven juga menghadirkan Tokoh Imam masjid. Terjadilah konflik magis-religius. Secara antropologi, konflik ini selalu menghantui kehidupan masyarakat pedalaman. Jupen (Pak Kahar) bukan hilang, tetapi menghilangkan (melarikan) diri. Tokoh ini menyepikan diri ke suatu karena tidak tahan dengan serangan gaib (ilmu hitam) dari tokoh yang membencinya. Dalam kaitan ini, alangkah arifnya kita simak pandangan Stanton.

Stanton mengatakan, pengarang realis percaya bahwa setiap orang akan mendapat kebahagiaan ketika mengambil pilihan-pilihan yang disediakan oleh dunia. Lalu, sering kita jumpai karakter romantis dalam diri tokoh realis. Misalnya, seorang percaya bahwa pelarian merupakan tindakan yang sia-sia. Namun dalam hati kecilnya, ia berharap melalui pelarian tersebut ia bisa berhasil (2007:117). Pak Jupen masih tetap saja membawa kain kafan dalam pelarian/penyepiannya. Dialah Lelaki Pembawa Kain Kafan itu. Griven menutup novelnya secara terbuka (open ending), suatu akhir yang memikat. Di akhir kisah ini, Griven sepertinya mau berpesan agar kita mengingat sahabat terdekat, yaitu kematian.***

Musa Ismail lahir di Karimun, Kepri, 14 Maret 1971. Setakat ini, karyanya yang diterbitkan adalah empat buku kumpulan cerpen, dua novel, dan satu buku esai sastra-budaya. Bekerja sebagai ASN di Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis.  


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 21:07 wib

Gerindra Masih Penjajakan Siapa Calon Capres dan Wapres

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:38 wib

Podomoro City Deli Medan Hibur Tamu Hadirkan Rossa

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:03 wib

Libatkan Perempuan dan Anak-anak pada Aksi Terorisme Perbuatan Keji

Minggu, 20 Mei 2018 - 19:30 wib

Korban Aksi Teroris Akan Dapat Kompensasi

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:25 wib

Bank Riau Kepri Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:08 wib

DPRD Siak Dapat Kunjungan dari DPRD Kampar

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:03 wib

Anggota DPRD Siak Ikuti Bimtek dan Peningkatan Kapasitas

Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Follow Us