RITUAL LUBUK LARANGAN

Sumpah Orang Sekampung

1 Juli 2017 - 23.31 WIB > Dibaca 908 kali | Komentar
 
 Sumpah Orang Sekampung
Lubuk larangan di Riau, mulai tak asing lagi didengar,. Lubuk ini bukan hanya sekedar dilarang diambil ikannya. Tapi, ada ritual dan sumpah orang sekampung di sebaliknya; doa dan pembacaan yasin minimal oleh 40 orang.

Laporan KUNNI MASROHANTI, Kamparkiri

MASYARAKAT Kamparkiri, kabupaten Kampar, merupakan kecamatan yang memiliki sebuah tradisi turun temurun yakni Lubuk Larangan. Lubuk adalah cerukan besar dan dalam yang ada pada sebuah sungai. Sedang larangan adalah, sesuatu yang dilarang atau pelarangan terhadap sesuatu. Lubuk Larangan berarti lubuk yang dilarang.

Larangan yang dimaksud di sini adalah larangan untuk mengambil ikan yang ada di dalamnya. Karena dilarang, berarti ada sebab dan akibat atas pelarangan tersebut. Berarti juga ada pihak yang menentukan larangan tersebut, ada perangkat, syarat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan munculnya lubuk larangan

Lubuk Larangan lebih dikenal di sungai-sungai yang mengalir di sekitar Kecamatan Kampakiri. Lebih terkenal  lagi di Sungai Subayang. Desa-desa yang dialiri Sungai Subayang, khususnya lagi yang berada di kawasan konservasi Rimbang Baling, semuanya memiliki Lubuk Larangan. Rata-rata satu desa memiliki dua Lubuk Larangan. Lubuk ini berada di sepanjang sungai di desa tersebut, yakni sesuai dengan batas administrasi antara desa tersebut dengan desa-desa di sebelahnya.

Lubuk Larangan di Riau, mulai mencuat dan dikenali banyak orang dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Tapi sebenarnya, menurut Muhammad Nur, warga Desa Gema yang juga imam atau pembaca doa saat menutup Lubuk Larangan di serantau Kamparkiri, Lubuk Larangan sudah dimulai sejak 30 tahun lalu yang dimulai di Desa Gema. Di desa ini, sudah dibuka sebanyak 30 kali. Waktu itu, imam atau pembaca doanya mertuanya sendiri. Setelah mertuanya meninggal, Muhammad Nur yang melanjutkan dan sudah dimulainya sejak sekitar tahun 2000.

Dulu, tidak ada lubuk larangan, karena ikan masih banyak dan jumlah penduduk sedikit. Masyarakat yang mencari ikan, bisa sepuas-puasnya dan ikan masih tetap banyak. Hanya masyarakat tempatan dan belum ada masyarakat luar yang berdatangan. Seiring perjalanan waktu, jumlah penduduk di kawasan ini semakin banyak, jumlah desa juga bertambah terus, pendatang juga banyak, sedangkan ikan semakin berkurang. Ditambah lagi masyarakat yang datang untuk mencari ikan dengan bebas di wilayah ini.

Hal ini membuat masyarakat Desa Gema (waktu itu), mengambil langkah agar ikan-ikan tersebut bisa lebih banyak dan masyarakat tempatan langsung yang bisa menikmati hasilnya. Tokoh masyarakat, ninik mamak, tokoh agama dan pemerintah desa berkumpul lalu bersepakat untuk membuat Lubuk Larangan. Lubuk ini hanya boleh dibuka atau diambil ikannya satu tahun sekali saja. Itu pun dengan syarat dan berbagai ketentuan. Hal itu juga berarti bahwa, selama satu tahun lubuk tersebut tidak boleh diambil ikannya, baik dengan cara dipancing, tembak, jaring atau dengan cara lainnya.

Selain Desa Gema, desa-desa lain di sepanjang Sungai Subayang juga memiliki Lubuk Larangan. Dimulai dari desa paling ujung atau hulu Sungai Subayang yakni Desa Pangkalan Serai, Terusan, Salo, Aur Kuning, Gajah Batalut, Tanjung Beringin, Bati Songgan, Muara Bio, Tanjung Belit dan Desa Gema. Begitu juga dengan desa-desa di bagian hilir lainnya seperti Pulau Pencong, Domo, Padang Sawah dan Desa Kuntu.

Masing-masing desa ada yang memiliki satu Lubuk Larangan, ada juga yang dua Lubuk Larangan. Desa yang memiliki dua Lubuk Larangan tersebut yakni,  Desa Pangkalan Serai, Salo, Aur Kuning, Gajah Batalut, Tanjung Beringin, Tanjung Belit, Batu Songgan dan Desa Gema. Sedangkan desa-desa lainnya hanya satu Lubuk Larangan. Bahkan ada yang baru memulai atau membuat Lubuk Larangan sejak tiga tahun lalu yakni Desa Padang Sawah, desa di bagian hilir Sungai Subayang.

‘’Lubuk Larangan bukan lubuk biasa. Ada adat, syarat dan hukum di dalamnya. Tidak sembarang buka dan tutup. Dibuka oleh Datuk Antau dan ditutup oleh imam. Khususnya oleh imam yang kami datangkan dari luar desa kami. Dia yang bisa menutup dengan doa agar Lubuk Larangan ini aman hingga panen tahun depan,’’ ujar Muhammad Nur.

Lubuk larangan biasanya dibuka pada waktu-waktu tertentu. Berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Sebelum Ramadan atau sehabis Hari Raya Idul Fitri, biasanya Lubuk Larangan banyak yang dibuka. Ada unsur silaturrahmi di sana, baik antara sesame warga di kampung atau dengan masyarakat lain di luar kampung tersebut.

Sumpah nan Sakral

Sesuatu yang dilarang, pasti ada pantang larangnya. Begitu juga dengan Lubuk Larangan yang diciptakan bersama-sama oleh masyarakat karena sebab . Maka, bagi sesiapa yang melanggar pantang larang tersebut, atau mengambil ikan sebelum waktunya dengan cara apapun dianggap mencuri milik bersama, dianggap berkhianat atas apa yang telah disepekati bersama, maka ia akan dikenakan sanksi yang juga ditentukan secara bersama-sama.  

Sanksi yang dikenakan terhadap seseorang yang mengambil ikan di Lubuk Larangan sebelum waktunya, tidaklah sama antara satu dengan desa lainnya. Tapi rata-rata mereka dikenakan sanksi harus mengganti dengan satu sak semen dan seng untuk keperluan infrastruktur desa, seperti untuk membangun musala atau jalan. Semua tergantung kesepakatan bersama. Jika seseorang yang mengambil ikan tersebut tidak ketahuan, maka segala sanksi diserahkan kepada Allah Swt.

Begitu masyarakat bersepakat membuat peraturan tentang Lubuk Larangan dan jika ada yang mengambil ikan sebelum waktunya, orang ini dianggap benar-benar telah menimbulkan kebencian dalam hati semua masyarakat. Dianggap telah berkhianat. Maka ia berhak mendapatkan basalan setimpal, termasuk balasan dari Allah jika perbuatannya sempat tidak diketahui. Karena itu, setiap Lubuk Larangan selesai dibuka atu dipanen, masyarakat juga membacakan yasin langsung di tepian lubuk tersebut.

Setidaknya 40 orang yang membacakan yasin dan turut mengaminkan doa yang dipimpin oleh imam atau pembaca doa, dengan harapan, doa mereka akan dikabulkan Allah dan orang yang mengambil ikan sebelum waktunya itu akan menerima akibat balasannya secara nyata. Artinya, hukuman itu seutuhnya diserahkan kepada Allah SWT yang maha melihat dan maha mengetahui. Hal ini juga yang dijelaskan Muhammad M Nur selaku imam atau pembaca doa dalam setiap kali menutup Lubuk Larangan tersebut.

‘’Misalnya ada sepuluh orang yang punya barang, lalu salah satu di antaranyaa mengambil barang itu. Bayangkan bagaimana perasaan sembilan orang lainnya itu. Tapi kilau kita mintakan kepada Tuhan agar dia beri hukuman yang buruk, itu namanya menganiaya. Makanya, soal hukuman itu kita serahkan keada Allah Ta’ala. Membaca surat yasin dan mendoakan agar Lubuk Larangan terjaga baik, serta memohon agar Allah memberikan hukuman setimpal kepada mereka yang mengambil ikan sebelum waktunya, itu sangat sakral,’’ ujar Muhammad Nur.

Dimpimpin Datuk Antau

Setiap tahun, sebelum upacara membuka Lubuk Larangan atau yang disebut dengan mencokou (bahasa tempatan), tokoh masyarakat, kepala desa dan perangkatnya, ninik mamak, tokoh agama dan para pemuda, berkumpul dan kembali berunding untuk menentukan kapan sebaiknya Lubuk Larangan dibuka atau dipanen ikannya.

Dalam pertemuan tersebut, mereka juga membicarakan berbagai hal tentang semua yang berhubungan dengan proses pembukaan Lubuk Larangan. Termasuk harga ikan perandil (onggok), apakah ikan ada yang dilelang atau tidak,  siapa panitia yang bertanggungjawab dan bertugas, siapa dan kapan menjemput imam atau pembaca doa dan sebagainya.

Setelah perundingan selesai dilakukan, akan ada perwakilan masyarakat yang datang ke rumah Imam dan meminta imam untuk membaca doa saat pembukaan. Tapi, biasanya, pada saat pembukaan Imam tidak datang, atau hanya datang pada saat penutupan saja. Pembacaan doa ini boleh dibacakan oleh siapa saja yang dipercaya masyarakat di desa tersebut . Atas arahan Imam ini, doa pembuka dimulai.

Selesai doa dibacakan langsung di lokasi Lubuk Larangan yang akan dibuka disaksikan dan diaminkan oleh seluruh masyarakat desa, belum berarti ikan di dalam lubuk tersebut boleh ditangkap. Harus diawali dengan ritual lainnya, yakni penangkapan satu ekor ikan oleh Datuk Antau. Ikan tersebut –apapun jenisnya- kemudian dibelah dua, ekornya dibuang ke dalam lubuk tersebut dan kepalanya dibuang ke darat. Bukan juga sembarang belah. Saat hendak menangkap dan membelah ikan tersebut, Datuk Antau harus memulai dengan membaca basmallah dan membacakan slawat nariyah.

Ritual ini juga syarat dengan makna. Mengapa harus Datuk Antau bukan datuk lainnya, karena Datuk Antau adalah seseorang yang berpangkat datuk dan dipercayakan oleh masyarakat sebagai seseorang yang menguasai atau wilayah kekuasaannya di sepanjang sungai yang memmbentang di desa tersebut. Datuk Antau di masing-masing desa memiliki nama yang berbeda. Hanya julukan saja yang sama, yakni Datuk Antau.

Begitu prosesi ritual pembukaan Lubuk Larangan selesai, masyarakat boleh langsung menangkap ikan. Biasanya alat yang digunakan jaring atau jala. Tidak hanya di tepan lubuk, masyarakat banyak yang menangkap di tengah danau. Tentunya dengan menggunakan sampan. Di atas sampan itulah jaring dilempar tinggi dan jauh. Beberapa saat kemudian, jaring diangkat. Dan hasilnya tidak pernah mengecewakan. Ikan-ikan, besar kecil, berbagai jenis, tersangkut di dalam jaring. Banyak jaring, karena banyak masyarakat yang melemparkan jaring.

Ikan-ikan tersebut kemudian dikumpulkan di satu tempat. Setelah selesai menjaring dan masyarakat  berkumpul, ikan tersebut kemudian dionggok-onggokan (diandilkan) sesuai dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) yang ada.  Tidak ada keluarga yang tidak dapat ikan tersebut. Tapi tidak dibawa pulang dengan gratis, Ikan itu dijual kepada masyarakat dengan harga serendah-rendahnya, sesuai keepakatan bersama saat rapat terkait rencana pembukaan Lubuk Larangan tersebut.

Harga perandil berbeda antara masyarakat tempatan atau warga desa dengan masyarakat yang datang. Memang, pembukaan Lubuk Larangan saat ini sudah menjadi wisata budaya. Tak heran jika saat pembukaan, banyak dihadiri masyarakat luar. Harga perandil untuk mereka berbeda lagi. Biasanya lebih mahal dari harga per andil yang dibayar masyarakat. Semua uang yang diperoleh dari penjualan ikan, diserahkan kepada desa untuk kas desa atau pembangunan sarana dan pra sarana yang dianggap penting.

Ikan berukuran besar tidak diandilkan, tapi dilelang perekor. Harganya  terserah kepada pembeli. Terkadang mahal, jauh lebih tinggi dari harga yang seharusnya. Ini dikarenakan mereka yang ikut lelang biasanya warga setempat yang sudah lama merantau dan memiliki pengaruh besar bagi banyak orang. Bisa jadi pengusaha, anggota dewan, pejabat dan lain sebagainya. Tak heran jika dibeli mahal karena diniatkan bersedekah kepada masyarakat melalui cara lelang tersebut.

Prosesi pembukaan Lubuk larangan selesai. Uang kas desa juga sudah diperoleh. Selanjutnya adalah proses menutup lubuk tersebut. Prose menutup kadang dilakukan pada hari yang sama, tapi kadang juga keesokan harinya. Sebelum prosesi ini dimulai, imam atau pembaca doa dijemput terlebih dahulu. Pembacaan surat yasin langsung dipimpin imam, begitu juga dengan pembacaan doa. Pembacaan surat yasin dan doa ini sebaiknya dilakukan oleh paling sedikitnya 40 orang. Tapi, kadang hanya 10-15 orang saja, sesuai dengan waktu dan kesempatan yang dimiliki warga di sana.

Buka dan menutup Lubuk Larangan ini, bisa dilakukan oleh orang lain selain imam. Tentu dengan arahan dan restu dan imam bersangkutan. Jika pembukaan biasanya hanya dilakukan oleh Datuk Antau, maka saat penutupan bisa dipastikan dihadiri langsung oleh imam. Pernah dan boleh digantikan orang lain jika imam sakit dan tidak bisa hadir ke lokasi acara karena halangan yang tidak bisa dielakkan.(fiz)



KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 14 Agustus 2018 - 09:10 wib

DPRD Belum Terima Pengunduran Diri Gubri

Selasa, 14 Agustus 2018 - 09:08 wib

Blok Rokan Pintu Membedah BUMD

Senin, 13 Agustus 2018 - 21:35 wib

Lewat Swadaya Ummah, Siswa Sekolah Dasar Latih Jiwa Kemanusiaan Sejak Dini

Senin, 13 Agustus 2018 - 19:43 wib

Jaga Kesehatan Jelang Wukuf

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:41 wib

Korban Meninggal 392 Orang

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:30 wib

Siapkan Pra Iven Menyambut Gerhana Matahari Cincin

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:00 wib

Penyaluran Beasiswa Belum Dipastikan

Senin, 13 Agustus 2018 - 17:34 wib

Maruf Diperiksa Lebih Lama

Follow Us