ESAI BUDAYA

Menilik Ulang Selembayung

10 Juni 2017 - 23.33 WIB > Dibaca 1026 kali | Komentar
 
Menilik Ulang Selembayung
Oleh Junaidi Syam

Tulisan singkat ini mengenai selembayung sebagai respon saya atas pesan inbox bapak Prof. Nik Rakib Hassan (Coordinator at Nusantara Studies Center) Minggu, 5 Juni 2017, pukul 10.52 WIB. Beliau bertanya pendapat soal falsafah hiasan silang menjulang di ujung bumbungan rumah Melayu, dengan mengirim gambar tampak depan Anjungan Seni Idrus Tintin.

Sekitar tahun 1980-an(?), pemerintah di propinsi-propinsi berlomba mencari keunikan arsitektur yang dianggap paling khas untuk daerahnya dengan harapan akan mewakili ikon puncak-puncak kebudayaan Nasional. Maka pengaplikasian selembayung digesa pada gedung-gedung pemerintah. Selembayung ada di ujung perabung atap, di pintu gerbang, pos jaga, wc/toilet, kerangka panel billboard, di taman, bandara, stand pameran dsb.  Bahkan sekarang telah mengatasnamakan modernitas, kontemporer, hingga takrif  hibryd. Boleh dan absah ketika ragam aplikasi tersebut disadari sepenuhnya sebagai kreatifitas kekinian sehingga memenuhi syarat bahwa “kebudayaan niscaya mengalami perubahan”. Namun, ketidakfahaman asal usul (geneologi) takrif akan melahirkan justifikasi arbitrer yang membingungkan para awamis.

Tokoh paling berjasa memperkenalkan dan mengangkat selembayung bagi Riau adalah bapak Tenas Effendy (alm.). Alhasil, bolehlah dikata tidak ada orang Riau di kabupaten-kota tidak tahu selembayung. Adapun “si tahu belum tentu kenal, si kenal belum tentu faham dan menyadari”. Hanya segelintir orang modern yang peduli soal khazanah warisan bangsanya.
Di sini, wujud yang katanya “selembayung” tersebut perlu dikomparasi ulang dengan tanda silang yang bermakna larangan.

Dalam A Malay-English Dictionary (Romanised), R.J. Wilkinson (1932) dijelaskan makna selembayong; Arm with upturned crockets at each end. Placed over the pentas-pillars in a palace or on the mast of a royal ship. It is an emblem of royality. Also (Kedah) selambayong. Cf. sulur bayong. Tidak ada perkara persilangan (cross), akan tetapi seperti bahu yang setiap ujungnya berhias seperti daun (crockets) menganjung. Pernyataan Wilkinson mengenai Cf. (compare) sulur bayong, adalah untuk perbandingan. Artinya, wujud selembayung itu mirip sulur bayong, yakni jenis ragam hias meniru sulur pohon bayur; bayuo; atau bayung (Pterospermum spp.).

Dalam Hak Kebesaran Raja-raja Luhak Rambah (1909), Bab VII, pasal 54, ayat 14, menyatakan bahwa Yang Dipertuan Besar Raja Luhak; “Berhak menerima perahu kenaikan dari suku non VII Rambah, sebuah setahun dengan dengan berpakaian selembayung”.
Selanjutnya, dalam Auf neuen Wegen druch Sumatra (Forschungsreisen in Ost-und Zentral-Sumatra), Max. Moszkowski (1907) terlampir ilustrasi balai semangat dengan hiasan selembayong pada perabungnya. 

Ujung bendul Istana di Rokan IV Koto berselembayung, juga bendul rumah “istana datuk” atau rumah soko di kampung Petemuan Hulu Sungai Kampar, Kampar Kiri-Kanan, Sialang, Rokan, Rao, dll. Bila tanpa selembayung disebut ujung bendul, seperti ujung bendul pada balai makam orang sakai atau Talang. Uak Bayani di Kersik Putih, Rokan IV Koto menyebut selembayung pada bendul itu dengan nama cumondeng atau cumondai.

Hiasan ukiran menganjung di haluan dan buritan Perahu jalur Kuantan hingga sekarang dinamakan selembayung.

Bagian bawah perabung limas masjid Wadi Al-Hussein, Narathiwat, Thailand memakai ragam hias selembayung.

Beberapa referensi tersebut memadai untuk mengenali azas logika bentuk selembayung yang menjulur menganjung dan tidak bersilang. Jika demikian, apa nama hiasan bersilang di ujung perabung? Bermula kayu laras bersilang di atas perabung itu berfungsi sebagai penindih atap daun (bengkawan) agar tidak disibak terpaan angin. Mulanya hanya ujung kayu bersilang tanpa hiasan apapun, kemudian dihias sedemikian rupa dengan cara dirakuk, disimpai dengan rotan, diukir, diwarnai dsb, maka lahirlah penamaan semisal sosunguik bolalang (antena belalang), hulu pedang, ompu kunyik (umbi kunyit), pungko silang dsb. Di Kampar disebut tanduk buang (tanduk kumbang) karena bentuknya seperti tanduk kumbang kelapa.

Membuat tanda silang berarti larangan semisal; menyilangkan kayu di simpang jalan tanda jangan ditempuh atau dilewati, moncoretkan kapur sirih bersilang di tiang-tiang rumah sebagai simbol menolak penyakit dan gangguan makhluk halus. Tanda silang dikenal juga dengan istilah simpang ompek (simpang empat). Menyilangkan bedak tepung tawar di kening saat acara turun kayie (turun ke air) pada upacara pernikahan agar pengantin mampu melarangkan nafsu dan fikiran-fikiran buruk dalam dirinya. Simpang empat juga dipakai saat menebang rimba, berladang, untuk syarat pengobatan dsb.

Sosunguik bolalang bersilang itu dijadikan tangkal penolak penyakit, musibah, gangguan makhluk halus, dan penangkal harimau. Diangkat dari mitos belalang plosik yaitu sejenis belalang hijau bentuknya seperti belalang kakabu, namun ukurannya lebih kecil. Belalang plosik biasa masuk rumah di malam hari. Suaranya moncicit (ci..t!). Dipercaya apabila masuk rumah hendaklah ditangkap lalu dibakar sosunguik-nya (antenanya) kemudian dilepaskan keluar rumah. Kata orang tua-tua, bila harimau bertemu dengan belalang plosik ia akan menanyakan jumlah orang dalam rumah, maka berkata si belalang, “hanya sempat satu orang aku hitung aku sudah ditangkap dan sosunguik-ku ini dibakar”. Karena tidak memperoleh keterangan yang jelas maka harimau menyingkir dari rumah itu. Demikianlah mitos anekdot dihubungkan dengan bagian konstruksi rumah.

Orang Melayu belajar membuat tanda larangan dengan memperhatikan perilaku alamiah semisal gajah yang melintangkan kayu di baka (alur jalan) pertanda larangan untuk ditempuh, dinamakan robek. Harimau meninggalkan bekas cakarnya di pohon kayu, batang tumbang, atau di atas tanah, yang juga bermakna larangan atau tanda peringatan bahwa di dalam kampung terjadi kemaksiatan. Bila hewan pandai membuat tanda? terlebih lagi manusia!
Pengetua kelompok hewan seperti gajah, kerbau, babi, dsb. biasa menjadikan dirinya sebagai tanda hadang, dengan cara menyegumkan atau memakalkan (menghadangkan) dirinya. Sebab itu dikenal simbol-simbol batang tubuh raja-raja Melayu diwakilkan dalam wujud naga sebagai tanda larangan. Apabila ada tanda naga berupa ukiran atau gambar, berarti di wilayah itu ada larangan raja. Segala adat aturan tata tertib terkait dengan kebesaran raja berlaku di situ. Dilihat sepintas, selembayung menggunakan pola daun namun di dalamnya bisa berbentuk naga, ayam, burung, simpul tali dll.

 Manusia terus menerus mengasah akal budi demi keberlangsungan tata-jaga pemerintahan dalam lingkungannya. Hukum yang diberlakukan dalam masyarakat Melayu dituangkan dalam bahasa simbolik melalui nilai-nilai keindahan agar tidak terkesan vulgar dan mudah menyerap masuk ke dalam sendi sosial masyarakat secara menyeluruh. Tidak hanya tertuang dalam kitab semata-mata. Seni bina rumah Melayu syarat dengan penggunaan simbol dan tanda yang melalui itu manusia membangun komunikasi hati. Makna diberikan dengan ragam maksud-maksud tertentu. Bila membuat-buat tanpa maksud tujuan maka disebut korojo indo kotuanan (pekerjaan sia-sia tak bermakna).

Sekitar awal abad 20-an berkembang gaya arsitektur rumah menggunakan atap seng yang tidak perlu lagi kayu penindih dan pada tepi atap telah pula menggunakan lisplang. Persilangan  lisplang dibuat pada bagian puncak sedangkan ujung bawah  lisplang dilebihkan dengan ragam hias baru semisal awan menjuntai, sayok-sayok (sayap-sayap) dsb. Di Siak masih ada dokumen photo rumah besar tahun 1889 dengan hiasan lisplang bersilang membentuk daun panjang  menganjung. Lisplang pada atap balai makam orang Talang juga bersilang, namun tidak menggunakan ciri  ukiran selembayung.

Ragam hias bersimbol tanda tidaklah bebas sembarangan memakai corak, gaya, ukiran, warna dll. Namun pengutip sekarang cendrung semena-mena kurang mematuhinya sebab tidak faham atau karena alasan kebebasan berekspresi? Muncul fenomena; “siapapun boleh memiliki, memakai dan menggunakan apapun saja tanpa larangan sebab negara tidak akan mengatur persoalan ini”. Orang semakin tak peduli sebab adat centang perenang luluh lantak karena kerajaan kehilangan daulat dan martabatnya setelah mansuh setelah kemerdekaan RI.

 Sikap yang perlu kita ambil adalah; kembali mempelajari dan mencari tahu kemudian mempertimbangkan azas manfaat filosofis warisan nenek moyang bangsa Melayu tersebut. Pantang larang seharusnya selaras dengan perkembangan dunia karena takkan usang dimakan zaman. Janganlah kemudian menjadikan simbol dan pertanda hanya sebagai hiasan kebanggaan nan hampa semata-mata atau sekadar asal buat tanpa kenal azas dasarnya. Perlu kebijaksanaan dalam mempertahankan konsep tradisi tersebut agar tiada terhalang untuk melahirkan karya-karya baru. Perlu cerdas lagi cermat dalam pengaplikasiannya. Selagi menguasai kunci pengetahuan kearifan lokal maka upaya penciptaan karya seni, arsitektural, desain dll akan mudah dipertanggungjawabkan kepada publik.

Setiap raja-raja Melayu memiliki batas-batas kuasa wilayahnya masing-masing. Wujud tanda dan penanda yang diberlakukan pada setiap batas wilayah juga akan beragam, meskipun hakikatnya sama. Seorang peneliti atau desainer harus terbuka dan jujur memberi keterangan agar tidak menimbulkan masalah saat dilakukan perbandingan dan pengaplikasian di lapangan. Bahkan perlu menghormati kearifan lokal yang dimiliki oleh masing-masing wilayah adat dan mengenali benang merah (persamaannya) sebagai aspek yang menyatukan. Bukan cuma sekadar mencari-cari perbedaan atau asal beda.

Kesimpulan; 1)selembayung tidak berwujud silang, melainkan seperti sulur yang tumbuh atau menjulur, 2)makna  tanda silang adalah menolak keburukan dan kejahatan atau larangan (negasi), 3)sulur yang tumbuh bermakna doa dan harapan, 4)pola sulur daun menganjung melambangkan  kehidupan, 5)selembayung naga adalah simbol kebesaran raja Melayu, biasanya dengan menampilkan naga sepasang (raja dan permaisuri), berarti di situ ada aturan raja-raja yang harus diperhatikan oleh rakyatnya.

Apapun yang telah dijelaskan tersebut tidaklah kemudian bermaksud untuk membatalkan apa yang telah diupayakan pemerintah bersama tokoh-tokoh budayawan tentang wujud selembayung bersilang. Penghargaan kita berikan setinggi-tingginya atas upaya besar tersebut karena setidaknya Riau berhasil memiliki ciri arsitektur khas yang secara konvensi diberi nama selembayung.

Pemerintah adalah ibarat tangan kokoh untuk melakukan perubahan demi perbaikan. Azas utama adat adalah mufakat. Bulat air karena pembetung. Tak ada masalah yang tak dapat diurai selesaikan. Jika hanya sekadar kusut-kusut bulu ayam maka paruhlah yang menyelesaikan. Kusut-kusut benang, cari ujung pangkalnya. Kusut mengusut jua seperti sarang tempua, maka api yang akan menyelesaikan, bermakna; tutup kasus.***

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:52 wib

Pentingnya Terapi untuk Orangtua Anak Autis

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:50 wib

Awali Kebangkitan Superhero Indonesia

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:41 wib

Kado Terakhir Iniesta

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:40 wib

Petasan Dilarang, Satpol PP Patroli Pasar Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:37 wib

Tiga Kali Panggilan Hearing Tak Digubris

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:31 wib

Tegang Jelang Ucap Janji

Minggu, 20 Mei 2018 - 11:27 wib

Menulis Tradisi dalam Bait-bait Puisi

Follow Us