TADARUS PUISI

Ayat-Ayat dalam Puisi

10 Juni 2017 - 22.50 WIB > Dibaca 2230 kali | Komentar
 
Ayat-Ayat  dalam Puisi
Berupa-rupa ayat lebur dalam cahaya, antara rumput, pohon dan air yang tergenang di halaman. Ayat-ayat Alqurani mengalir dalam kalimat-kalimat surgawi. Bersih seputih puasa, sehabis senja dalam tadarus puisi di sepuluh malam kedua.

Laporan Helfizon,  Pekanbaru

SERBA Putih. Kain-kain putih berselempangan antara pohon dengan terap berukuran 4x8 meter yang menjadi panggung tempat pembacaan puisi-puisi religi dilaksanakan. Kain putih juga membungkus pelataran panggung. Jelas dan terang oleh sorotan lampu berwarna netral dan sedikit hijau di sudut paling kanan. Di belakangnya, kolam yang tak berarus menimbulkan bayang-bayang cahaya lampu panggung. Puluhan lampu apung di dalam tempurung kering, berjejer rapi di sepanjang tepiannya. Sementara, puluhan lampu badai pula bergelantungan antara pohon-pohon yang tumbuh besar di sekelilingnya.

‘’Allah.. Allah.. Lailahailallah.. Lailahailallah...’’

Ayat demi ayat Alquran menggema di atas panggung. Meluncur satu persatu dari bibir seniman dan budayawan SPN GP Ade Dharmawi. Sementara zikir dan tahlil mengiringi tiada henti dari Fitra dan Ansor (Latah Tuah)  yang berdiri di belakangnya. Orang-orang hening. Sunyi. Terhenyak seketika. Puisi religi, ayat-ayat suci dan kalimat-kalimat dalam puisi, indahnya puitisasi Alqur’an, sebuah seni yang penuh dengan pesan surgawi.

Begitulah suasana malam itu. Halaman rektorat kampus Unri, Panam yang menjadi lokasi Tadarus Puisi, memang tidak seperti biasa. Ada panggung, lampu-lampu dan orang-orang yang berpakaian serba putih. Memang banyak cara untuk merapal kebajikan dan mengingat kebaikan. Ramadan merupakan bulan terindah untuk melakukannya. Dengan banyak cara pula. Para seniman dan sastrawan punya cara yang berbeda, tapi tetap pada tujuan yang sama. Mereka berkumpul, buka dan makan bersama, salat magrib, isya dan tarawih berjamaah, lalu tadarus puisi di alam terbuka. Melalui jalan puisi religi, pesan kebajikan itu disampaikan dengan indah.

Lihat
Pedang taubat ini menebas-nebas hati
Dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa ramadanku
Telah kutegakkan salat malam
Telah kuuntai wirid tiam malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadahmu yang tak hanya nuju ka’bah
Tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam qadar pun aku menunggu
Namun tak bersua jibril atau lainnya

Ini pula, penggalan puisi Idul Fitri karya Soetardji Calzoum Bachri. Budayawan dan seniman Riau, Al Azhar membacakannya malam itu. Tenang dan syahdu. Tak kalah hidmatnya puisi-puisi yang dibacakan Mosthamir Thalib atau Yoserizal Zein dan penyair Riau lainnya. Selain puisi-puisi religi karya penyair Riau, mereka yang hadir juga membacakan secara bergantian puisi-puisi religi karya penyair Indonesia. Sembahyang Rumputan, puisi karya Ahmadun Ahmadun Yose Herfanda yang terkenal, juga dilaungkan dalam pentas tersebut.

Semakin bervariasi ketika Syafruddin atau yang lebih didkenal Arif Subayang, Ketua Dewan Kesenian Kampar (DKK) melantunkan Malalak malam itu. Lebih terhenyak lagi. Sastra lisan dengan bahasa asli Kamparkiri itu memang tidak banyak diketahui artinya oleh mereka yang hadir. Tapi karena itu pula, mereka menjadi lebih mengerti betapa kayanya Riau dengan karya sastra tradisi yang masih dan perlu dijaga terus hingga kini.

Tak kalah asyik dan sendunya ketika grup Musikalisasi Gendul mulai menyanyikan puisi-puisi dalam petikan gitar, alunan biola dan pukulan perkusi. Doa, sebuah puisi karya pujangga Indonesia, Chairil Anwar, menjadi sangat molek dan lebih menyentuh ketika mereka lantunkan malam itu. Begitu juga dengan lagu Menjaga Sungai, mengingatkan betapa indahnya anugerah Tuhan Maha Esa yang harus dipelihara sepanjang masa.

Puisi demi puisi, nyayian demi nyanyian dan semua rangkaian kegiatan itu tergambar jelas dalam helat seni ramadan tahun ini bernama Tadarus Puisi, Sennin (5/6). Helat ini bukan hal baru. Setiap tahun sudah dilaksanakan. Bahkan dimulai sejak tahun 1990-an, ketika seniman besar almarhum Dasri Al-Mubarri masih ada. Beliaulah yang mengawali helat ini. Dan, masih berterusan hingga kini. Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) bersama UKM Batra Unri melaksanakan kegiatan ini bersama-sama. UKM Batra atau Teater Batra (dulu) dibesarkan almarhum Dasri. Dari sini juga Tadarus Puisi itu dikenal. Sedangkan KSRS adalah komunitas yang tunak menjalankan kegiatan ini setiap tahunnya hingga saat ini.

Halaman rektorat kampus Unri menjadi lokasi tadarus karena kebersamaan berkegiatan dengan Teater Batra. Selain itu, juga ingin melihat dan melibatkan para mahasiswa dalam menafsir keagungan ilahi dalam ayat-ayat puisi religi. Tadarus  Puisi yang dilaksanakan selama ini memang selalu di luar kampus. Mahasiswa yang terlibat hanya mereka yang memang bersentuhan langsung dengan seni dan para penyair atau sastrawan itu sendiri.

Selain dihadiri mahasiswa, Tadarus Puisi yang menngusung tema ‘Puisi Seputih Puasa ini’ juga dihadiri banyak sastrawan dan budayawan. Antara lain, budayawan dan seniman sekaligus Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Al Azhar, Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) Yoserizal Zein, Mosthamir Thalib, Hang Kafrawi, Grivent, Bambang Kariyawan, GP Ade Dharmawi, Ketua Dewan Kesenian Kampar (DKK) Syarifuddin atau Arif Subayang, sastrawan muda Eko Ragil, dan masih bayak lainnya. Wakil Rektor III Unri, Dr Syapsyan, M E kk, juga turut hadir bersama.

‘’Tadarus Puisi ini sudah ada sejak lama, sudah menjadi tradisi di Riau. Kami berharap terus dilaksanakan dan tahun depan bisa lebih dihadiri banyak penyair lagi,’’ harap Ketua DKR Yoserizal Zein.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh lintas komunitas. Tidak hanya komunitas seni sastra saja, tapi juga berbagai komunitas yang ada di Pekanbaru. Sayangnya, bisa jadi karena berbenturan dengan acara lain, sehingga tidak semua komunitas bisa hadir. Begitu juga dengan penyair-penyair di Riau. Panitia sudah menyampaikan undangan secara terbuka, tapi lagi-lagi, bisa jadi karena bentrok dengan acara lain, sehigga tidak bisa datang semua.

‘’Puisi itu milik semua orang. Semua orang berhak kenal dan jatuh cinta dengan puisi. Apalagi yang kita sajikan puisi religi. Inilah saatnya kita memperkenalkan puisi sebagai jalan silaturrahmi dan penghalus akal budi melalui pesan-pesan religi di dalamnya. Bertepatan pula dengan hari lingkungan hidup. Pesan menjaga bumi juga disampaikan lewat puisi. Sangat indah bersilaturrahmi lewat jalan puisi. Terimakasih untuk semua sahabat yang hadir. Kami sudah menyampaikan undangan secara terbuka untuk semua penyair dan sastrawan melalui medsos. Alhamdulillah ramai, meski tak datang semua,’’ kata Kunni Masrohanti, pimpinan KSRS.

Komunitas-komunitas yang hadir tersebut antara lain, Bahtera Kata, Forum Lingkar Pena (FLP), Sanggar Latah Tuah, Teater Matan, Community Pena Terbang (Competer), Sanggar Badano, Kelana Riau, MTMA Pekanbaru, LPE Riau, PGI Riau, Komunitas Pencinta Alam (KPA), Bacpacker Pekanbaru dan beberapa lainnya serta segenap keluarga besar Rumah Sunting dan Teater Batra.

 ‘’Wah, saya sempat terkejut begitu sampai di lokasi acara. Kreatif yang jelas. Kami bangga sekali dengan pelaksanaan Tadarus Puisi ini. Kalau bisa dilaksanakan lagi yang seperti ini, enntah apa namanya, dan selain di Bulan Ramadan. Insyaallah mahasiswa yang hadir akan lebih ramai,’’ ujar Wakil Rektor III, Dr Syapsan, terpisah.***



KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 19 Oktober 2018 - 11:02 wib

Di Pangkalan Kosong, Pengecer Jual Rp 45 Ribu

Jumat, 19 Oktober 2018 - 11:01 wib

Sumbang 1.000 Kantong Darah

Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:57 wib

Toyota Astra Motor Raih Penghargaan CSR The La Tofi School

Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:42 wib

Electronic City Berikan Penawaran Spesial

Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:42 wib

Formappi Sebut Pengelolaan Parpol Amburadul

Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:38 wib

BRK Serahkan 4 Unit Mobil Samsat Keliling

Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:36 wib

Sudah 741 Kendaraan Terjaring Razia Pajak

Jumat, 19 Oktober 2018 - 10:31 wib

Dua Kubu Sepakat Anggaran Saksi Ditanggung APBN

Follow Us