ADAT TRADISIONAL

Sumpah Miring

4 Juni 2017 - 00.52 WIB > Dibaca 3053 kali | Komentar
 
Sumpah Miring
Sumpah bermula dari gelisah. Lalu melahirkan resah dan payah. Tak ada yang bisa menghilangkannya, kecuali dengan titah dan doa sang raja. Hingga kembalilah ke asal nama. Miring dibuang, Malako Kociok dijulang.

Laporan KUNNI MASROHANTI, Kamparkiri

KENEGERIAN itu bernama Miring. Sedang desanya dikenal dengan Tanjung Beringin. Inilah satu-satunya desa yang berada di sebelah kanan Sungai Subayang, Kamparkiri. Dulunya, sekitar 90 tahun lalu, desa ini bernama Koto Bomban bergelar Malako Kociok dan masuk dalam Kenegerian Batu Songgan, dimpimpin Yang Dipertuan Agung Raja Gunung Sahilan. Sejak itu pula, nama kenegerian ini berubah menjadi Miring.

Perubahan nama ini bukan tanpa sebab. Menurut orang-orang tua dan saksi di kenegerian tersebut, perubahan itu bermula dari kisah yang tragis. Dulunya, Malako Kociok terkenal dengan kota yang kaya, makmur, ramai penduduknya, bahkan ada sekitar 13 suku di sana. Sampai pada suatu hari, Raja Gunung Sahilan, pemimpin negeri datang dan diacuhkan oleh seluruh penduduk. Raja merasa sedih dan iba. Dengan perahunya, ia meninggalkan Malako Kociak berjalan hingga ke Pangkalan Serai, desa paling ujung di Sungai Subayang itu.

Dalam perjalanan, perahu raja melintasi pohon petai. Rantingnya rendah sehingga menyentuh tangannya, bahkan dipegangnya. Sementara perahu terus berjalan. Saat itulah raja berucap, ‘’Akan seperti inilah nanti nasib masyarakat di Malako Kociok.’’ Daun-daun petai yang dipegangnya jatuh berguguran ke dalam perahu dan ke sungai.

Sejak saat itu, Malako Kociok berubah. Penduduknya banyak yang jatuh sakit, gila dan jatuh miskin. Banyak pula yang berpindah. Malako Kociok pun berubah nama menjadi Miring. Miring berarti tidak lurus, tidak sehat dan tidak semestinya. Rupanya, itulah sumpah sang raja. Sumpah yang keluar dari mulutnya karena merasa iba. Sumpah itu sudah terjadi sejak 90 tahun lalu. Selama itu pula Miring yang dikenal dengan Desa Tanjung Beringin saat ini, berada dalam sumpah.

Sumpah harus diselesaikan dengan sumpah, dicabut dengan sumpah. Ini terjadi awal bulan lalu, saat Festival Subayang kembali dilaksanakan untuk kedua kalinya di Desa Tanjung Beringin. Pewaris Kerajaan Gunung Sahilan, Tengku Muhammad Nizar bergelar Sulthan Muhammad Nizar yang Dipertuan Muda sebagai cucu Raja Terakhir Gunung Sahilan, Sulthan Abdullah Hassan T yang dipertuan Sakti (Raja X), datang langsung ke Desa Tanjung Beringin.

Menjelang siang, Sulthan Muhammad Nizar datang bersama perangkat kerajaan dari Gunung Sahilan menuju Desa Gema. Dari Desa Gema dilanjutkan ke Batu Sanggan. Di sini raja beristirahat dang anti pakaian kerajaan; baju dan tanjak serba kuning. Tak ketinggalan payung kerajaan yang juga berwarna kuning. Dari Batu Sanggan menuju Desa Tanjung Beringin. Raja juga didampingi empat khalifah, yakni dan Kholifah Kuntu Datok Bendaro, Kholifah Ludai, Sunardi, bergelar Datok Marajo Basa, Kholifah Ujung Bukit atau Desa Tanjung belit, Eko Rosnanda, bergelar Datok Bendaharo serta Kholifah Batu Sanggan, Suparmantono bergelar Datok Godang, serta para ninik mamak.

Setibanya di Desa Tanjung Beringin, raja disambut seluruh masyarakat dan silat. Siapa saja disapanya. Selalu melambaikan tangan.

Nampak bulir-bulir kesedihan di matanya  juga terpancar di wajah seluruh masyarakat yang hadir. Ninik mamak, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda Desa Tanjung Beringin, hadir bersama. Begitu juga dengan Syarifuddin yang dikenal dengan Arif Subayang, tokoh pemuda Kamparkiri yang juga anggota DPRD Kampar dan Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kampar. Raja dan para tokoh itu kemudian menuju ke rumah persinggahan raja, rumah Suku Domo,  yang berjarak sekitar sekitar 200 meter dari sungai sungai. Di sini, disambut pula dengan pisombah (berbalas pantun) sebelum akhirnya raja istirahat dan makan siang.

Semah Antau. Raja kemudian pergi ke sungai, naik perahu dan mengikuti proses Semah Antau yang dilaksanakan kea rah mudik. Hanya raja dan kerabat kerajaan yang mengenakan pakaian warna kuning. Sedang masyarakat tidak ada satupun. Begitulah adat itu sudah berlaku sejak raja sesungguhnya masih bertahta. Dalam perjalanan di sepanjang sungai, atau selama kegiatan berlangsung, panitia coma mengabadikan kehadiran raja. Tapi drown yang disediakan tidak merekam apapun alam perjalanan tersebut. Panitia mengira rusak. Tapi begitu sampai kembali di Desa Tangjung Beringin, drown kembali normal seperti biasa. Kejadian inipun diakui Arif Subayang yang mengikuti Festival Subayang sejak awal hingga akhir.

‘’Saya tidak tahu juga itu apa. Tapi menurut saya memang keajaiban. Bisanya, kalau gubernur/bupati datang, hawa gembira dan senang yang terasa. Ketika raja datang, suasana sangat haru, sedih. Raja juga begitu. Terlihat jelas ia sangat haru.  Ada tuah dalam dirinya. Angin terus berhembus seperti tak ada panas. Dingin. Selama hidup saya hanya tahu cerita dulu di sini raja singgah, tidur dan sebagainya. Sekarang dia benar-benar di depan mata,’’ ungkap Arif.

Disebutkan Arif, Kerajaan Gunung Sahilan merupakan satu-satunya kerajaan yang menganut sumpah sotioh. Sumpah ini dibuat di Muara Bio, desa sebelum Batu Songgan. Sumpah ditulis di batu yang dijatuhkan ke Lubuk Angkako. Lubuk ini pula terletak antara Gunung Sahilan dengan Teluk Paman. Di batu itulah banyak undang-undang dituliskan sampai sekarang. Lubuk dan batu itu tak boleh dibongkar. Sebab dipercayai sudah disaksikan harimau secenaku, buaya serantau, jihin. Kalau dilanggar, masyarakat kena kutuk seribu siang seribu malam. Begitu disebutkan dalam kitab Tombo Alam. Jika Pemimpin yang melanggar, akibatnya akan lebih parah lagi. Disebutkan seperti ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berakar, tengah-tengah digirik kumbang, seperti kakok tumbuh di batu.

Malamnya, di rumah persinggahan raja, Sulthan Muhammad Nizar mencabut sumpah yang dulunya dikeluarkan oleh kakeknya. ‘’Mungkin dulu ada kata-kata kakek saya yang tidak bagus tentang kampung ini. Maklum manusia, ada rasa iba, lalu mengeluarkan kata yang berdampak buruk bagi kampung ini. Mulai malam ini jangan dibilang lagi ini Negeri Miring. Kita kembalikan ke nama asal yakni Malako Kociok. Kita kukuhkan bersama kembali,’’ ujar Muhammad Nizar.

Apa yang diucapkan di dalam rumah persinggahan itu, ditegaskannya kembali saat turun rumah atau berada di halaman rumah. Sebagai bukti sejarah bahwa sumpah itu telah dicabut,  raja membubuhkan tandatangan pada kertas tentang titah raja terkait pengembalian nama kenegerian. Diikuti pula dengan tandatangan empat kholifah sebagai saksi.

Kehadiran raja ke Desa Tanjung Beringin dijadwalkan dilaksanakan setahun sekali, setiap semah antau atau Festival Subayang dilaksanakan. ‘’Kami masih punya mimpi, Festival Subayang ini menjadi lebih besar seperti  Tour The Subayang, yakni dengan cara bagalah dari Batu Songgan ke Pangkalan Serai. Karena jauh dan melawan arus, akan memakan waktu cukup lama. Jadi, bisa berhenti di desa-desa lain dan dibuat pula acara di sana,’’ harap Arif lagi.(fiz)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 08:51 wib

Pertarungan Pilpres Pemilih Milenial Berbasis Big Data

Rabu, 26 September 2018 - 08:19 wib

Bau Busuk Masih Ganggu Pengendara

Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Follow Us