OLEH ALEXANDER R NAINGGOLAN

Kepada Chairil Anwar

28 Mai 2017 - 02.05 WIB > Dibaca 1938 kali | Komentar
 
Kepada Chairil Anwar
BEBERAPA hari ini, aku tiba-tiba teringat pada dirimu, Chairil Anwar. Sang penyair jalang, pendobrak yang selalu gelisah. Entah kenapa. Barangkali ini, sebentar lagi hari kelahiranmu, 26 Juli yang diperingati sebagai Hari Puisi di negeri ini. Kini aku pun coba menyibak ataupun menyimak sejumlah sajak yang kautinggalkan, membacanya aku kembali dihadapkan pada kegundahan yang luar biasa. Walaupun sajak-sajakmu sudah berulangkali kubaca.  Apa yang kautulis, seperti sebuah jeratan dari jerih payahmu selama ini. Di dalam kembaramu, rendezvous yang asing itu seperti menyuling setiap getir yang kaurasakan.

Ah, Anwar! Terlepas dari kebohemian-mu, apakah sajak-sajakmu akan memiliki ruh yang lebih panjang lagi? Aku membayangkan bagaimana sajak-sajak yang lahir saat ini. Ketika setiap kata dalam sajak mesti berhadapan dengan teks kata yang lebih dahsyat lagi. Apakah kata-kata dalam sajak terkini mampu berbenah terhadap kondisi itu semua? Aku tak pernah tahu. Akan tetapi, bentangan imaji yang kautawarkan seakan menciptakan ruang-ruang baru.
Ada semacam ruang panjang, setiap kali menyadap kata dari sajak-sajakmu. Setiap sajak seperti tak ada yang retak. Aku membayangkan dirimu yang terus berjalan, sepanjang jalan-jalan di Jakarta. Memasuki setiap sudut kehidupan, dari kelas bawah sampai atas, kegelisahan yang acapkali menari di benak kepalamu.

Anwar, saat membaca sajak-sajakmu, aku diam-diam mengagumi setiap kata yang bermukim di sana. Diam-diam aku takjub, terharu jika sesungguhnya bahasa yang kita miliki (Indonesia) memang kaya dan dipenuhi dengan guratan metafora yang kompleks. Setiap kata yang tertinggal dalam sajak-sajakmu, seperti membentuk polanya sendiri. Kita pun mengenal sejumlah slogan, yang mungkin masih hidup hingga hari ini: ingin hidup seribu tahun lagi, kerja belum selesai, bung ayo bung!, gerimis mempercepat kelam, di pintu-Mu aku mengetuk, yang bukan penyair jangan ambil bagian, hidup hanya menunda kekalahan, dsb.

Namun setidaknya, aku merasa betapa engkau gigih untuk tetap bersikap sebagai penyair. Sikap penyair itulah yang terkadang telah tereliminasi akhir-akhir ini. Sebagaimana yang kau bilang dalam esai “Membuat Sajak, Melihat Lukisan”—bahwa bukan bahan (kata-kata) yang dipakai, melainkan yang terpenting adalah “hasil”. Penekanan “hasil” sajak-sajakmu inilah, yang terus mengguratkan kerja kerasmu yang tanpa ampun itu. Menyimak bagaimana curahanmu di surat-surat yang kau kirimkan kepada H.B. Jassin. Bagaimana engkau mencari-cari sebuah kata yang sepadan untuk sajakmu. Seperti juga saat kau gali kata hingga tandas ke akarnya. Ke pusat metafora.

Segala hal telah kauhamparkan. Beragam peristiwa dari yang individu berupa asmara sampai ihwal negara telah kautulis. Persinggungan batin yang kaya, sebagai penyaksi bagi zaman. Pun dalam doa, engkau begitu pasrah, ngelangut, dan percaya. Meskipun pada akhirnya, engkau seperti disadarkan dengan gumam lirih panjang. “Tuhanku, dalam termangu/aku masih menyebut nama-Mu,”  puisi yang menyiratkan hubungan batin si penyair yang terdalam, yang lebih meninggalkan aura gumam yang panjang. Kepasrahan. Ketundukan. Ketaatan. Meskipun engkau  kembali berucap, “aku hilang bentuk/ remuk.” Gaung penyadaran diri ini, antara penyair dan Tuhan, seperti sebuah muara yang panjang. Semacam bentuk upaya, jika memang si penyair tak punya kemampuan apa-apa. Hanya setitik debu di dunia ini. Puisi yang kembali ditutup oleh Anwar, “di pintuMu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling//”

Doa merupakan sebuah energi yang tersirat. Suatu kegiatan komunikasi batin, antara individu dengan Tuhan. Setidaknya, doa merupakan usaha terakhir. Saat beban melanda di kepala dan punggung kehidupan. Dengan berdoa, manusia berupaya juga untuk tetap tegar dan memiliki harapan.

Di sajak lain engkau hadir lebih murung. Upaya untuk menerka tempat peristirahatan abadimu: di Karet, di Karet daerahku yang akan datang, tulismu. Namun, keseriusan sikap kepenyairan yang tidak main-main, dengan menempatkan sajak sebagai wilayah kreatif yang murni, dari batin kata, sehingga menampakkan sisi cemerlang bahkan saat berhadapan dengan pembaca. Artinya memang dalam mencari engkau bergelimang secara penuh, utuh dan menyeluruh. Segala proses penciptaan sajak engkau lakoni dengan serius. Sehingga tak mengherankan pula jika sajak-sajakmu masih dibaca hingga hari ini.

Dan memang tak ada salahnya pula, jika semakin banyak orang yang menulis sajak—artinya semakin banyak pula yang akan peduli pada nasib sajak itu sendiri. Bukankah kita seringkali diingatkan jika sajak merupakan ajang penyucian bagi diri sendiri? Terlebih lagi, kita akan bahagia jika banyak pembaca-pembaca baru yang hadir. Keminusan pembaca kerapkali dikhawatirkan bagi para penyair.

Sebab, sejarah memang akan terus mencatat. Sebagaimana yang pernah dinukil Goenawan Mohammad, bagaimana sejarah akan usai, sebuah hal yang tak mudah dijawab. Engkau adalah sejarah itu. Bangunan sajak yang telah kau susun akan selalu rekat, membuka pintu nasib masing-masing.

Saat ini, sajak-sajak menjelma banjir kata-kata. Bertarung di antara wilayah gelap dan terang. Sebagian terasa begitu kelabu. Luruh. Terkadang kita tenggelam di arus pusarannya, lalu tak sanggup muncul lagi ke permukaan. Kehilangan dan memanjat maknanya masing-masing. Lalu terasa kedodoran. Begitu banyak sajak yang sudah ditulis oleh para penyair kita, Anwar! Beberapa redup dengan sendirinya—beberapa ada yang tetap bergema. Demikianlah.
Setidaknya kita merasa masih beruntung, memunyai banyak penyair di negeri ini—yang masih tetap setia—menikmati kata-kata dalam puisinya sehingga tidak perlu dihinggapi cemas berlebihan akan kemuraman yang memayungi negeri ini. Ah, Anwar; apakah penguasa negeri ini masih sempat/sanggup membaca (memaknai) sebuah sajak? Toh, pada akhirnya sajak-sajak bisa berkisah hal-hal remeh dan tak berarti, namun ternyata menyiratkan keadaan yang  luar biasa.  Kini yang bukan penyair saat ini bisa ambil bagian juga, bukan?***



KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 14 Agustus 2018 - 09:10 wib

DPRD Belum Terima Pengunduran Diri Gubri

Selasa, 14 Agustus 2018 - 09:08 wib

Blok Rokan Pintu Membedah BUMD

Senin, 13 Agustus 2018 - 21:35 wib

Lewat Swadaya Ummah, Siswa Sekolah Dasar Latih Jiwa Kemanusiaan Sejak Dini

Senin, 13 Agustus 2018 - 19:43 wib

Jaga Kesehatan Jelang Wukuf

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:41 wib

Korban Meninggal 392 Orang

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:30 wib

Siapkan Pra Iven Menyambut Gerhana Matahari Cincin

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:00 wib

Penyaluran Beasiswa Belum Dipastikan

Senin, 13 Agustus 2018 - 17:34 wib

Maruf Diperiksa Lebih Lama

Follow Us