CERPEN DEDI SUPENDRA

Dunia di Bawah Payung

28 Mai 2017 - 01.58 WIB > Dibaca 1675 kali | Komentar
 
Dunia di Bawah Payung
Tempat hidup kita serupa payung maha besar, yang di dalamnya terdapat ribuan payung kecil-kecil.

Kukatakan padamu yang sebenarnya bahwa pesisir itu memang ada penjaganya. Mereka berupa hantu laut yang sering bermunculan pada malam-malam pasang akan surut. Bila bujang-bujang pelaut tak tampak lagi menghela jaring, maka meletuplah mereka dari ketiadaan; seperti dari bola-bola gelembung sabun yang meletus. Tiap letusan berisi sepasang hantu. Hantu yang berupa-rupa. Mata-mata besar mereka yang terbakar, membuat malam itu menjadi sedikit gerah dan lembab. Mata-mata bundar yang bagai bola menyala itu tak sepadan dengan tubuh-tubuh mereka yang kurcaci, dengan telinga anjing yang terkulai. Juga gigi-gigi depan yang menancap agak keluar, seukuran biji-biji jagung masak.

Kemudian, dari keheningan malam itu pula, satu-dua ketukan buaian nada berderit-cericit dari pepasir yang mereka injak. Lalu, menarilah mereka, sambil mengetuk-ngetukkan kaki ke pepasir. Memang bukan tarian yang riuh, hanya seperti gerakan yang rapuh, patah-patah dan kaku.

Kukatakan padamu yang sebenarnya bahwa kebenaran yang kusampaikan adalah benar adanya. Aku tak sedang bercerita bual belaka. Atau mengarang khayal. Aku hanya tengah menyampaikan sebuah pesan dari penjaga pantai yang malang; seseorang yang kebetulan pernah melihat mereka dengan mata telanjang.

Lelaki itu sekarang gila, karena dua minggu setelah itu ia dipecat dari pekerjaannya. Berbulan-bulan ia luntang-lantung mencari kerja apa saja, tak ada yang mau menerimanya. Usaha-usaha yang ia rintis sendiri; menganyam topi bambu, jangankan mendatangkan untung malah memelorotkan saku celananya lebih dalam, hingga tak bersisa. Ia akhirnya stress dan suka bicara sendiri.

“Yang tidak terlihat, bukan berarti tidak ada,” begitu selalu Ia bersenandung, sembari kadang diiringi dengan irama-irama aneh dari mulutnya.

“Antara hidup dan tak hidup kadang tak ada beda,” lanjutnya lagi.

“Mengapa orang-orang senang berpura-pura tidak percaya agar mereka tak disangka gila?”

“Mengapa orang-orang berpura-pura tidak melihat hanya agar orang-orang percaya mereka buta dan tidak tahu apa-apa?” Ia berjalan sepanjang malam, seperti pemabuk yang meneguk botol minuman keras yang kosong. Bila sekali-sekali kau mendengarnya, mungkin kau akan terkagum-kagum dengan kelihaiannya memilih kata-kata, dengan keindahan suaranya, dan mungkin saja kau akan berpikir bahwa Ia masih waras-waras saja. Tapi, percayalah, Ia sangat tidak baik-baik saja, apalagi setelah menemukan keramaian yang tak pernah dibayangkan manusia, bentuknya itu.

Tak usahlah kau tanya, mengapa aku bisa begitu detail mendapatkan berita itu dari seorang yang gila. Apakah kau berprasangka aku adalah orang gila yang lain? Sudahlah, jangan berprasangka. Prasangka dapat membawamu kemana saja, tak peduli jurang maupun neraka. Dengarkan saja, sebab ini adalah amanat amat berharga, agar kau tak terjebak pula karenanya.

Sungguh naas, malam itu, dua orang rekannya tak bisa ikut berkeliling karena sakit dan alasan lain, ada kendurian keluarga. Sendiri ia berpatroli, melihat-lihat kalau-kalau ada sepasang anak manusia yang bersunyi-sunyian dalam kegelapan tepi pantai yang melenakan. Ia menyusuri tepi-tepi pantai yang sudah beraspal menggunakan sepeda. Senter berdaya baterei tergantung di stang sepedanya. Lampu-lampu di kiri-kanan jalan berwarna kuning remang-remang. Beberapa patung buaya, kura-kura dan katak ditanam di taman bermain anak-anak, tak jauh dari bibir pantai. Sebuah panggung besar tampak lengang.

Ia tak tahu waktu itu pukul berapa, ketika Ia melihat beberapa anak kecil bermain-main di tepi pantai.

“Mereka buruk. Buruk. Dan mengerikan!” Katanya berulang-ulang kepada saya. “Matanya itu. Giginya. Wajahnya. Percaya tidak, mereka bersinar!” Ia menangis dan menekuk kepala ke dalam pangkuannya. Suaranya bergetar. Tubuhnya yang membulat itu bergoyang-goyang ke depan-belakang.

“Awan-awan gelap mengawang di atas kepala-kepala mereka. Gelap sekali, seperti tudung hitam yang sangat tebal.” Ketakutannya itu mengalir sampai ke roma saya yang tiba-tiba berdiri. Saya merinding, sebab saya percaya hal-hal seperti itu pasti ada, dan bisa saja menjadi bala.

“Kau percaya kan? Percaya kan?” Ia mengguncang-guncang bahu saya.

“Kau percaya kan mereka ada?”

“Kau percaya kan aku tak mengada-ada?”

“Kau percaya kan aku tak gila?”

Begitulah, orang yang dianggap gila kadang tak sadar kalau Ia memang gila.

Ia mencengkram bahu saya kuat-kuat, terasa jari-jarinya menekan otot lengan saya yang tak seberapa liat. Mata besarnya melotot dengan urat-urat yang menyembul merah. Saya percaya, Ia tidak akan melakukan hal-hal buruk kepada saya. Yang paling penting, saya percaya Ia tidak gila.

Saya menatap jauh ke dalam matanya.

Seperti dilembutkan, Ia kembali menekuk lututnya, membenamkan dagu ke pangkuannya, melempar pandangannya entah kemana, dan melanjutkan cerita.

Pagi hari setelah ia melihat tarian hantu-hantu laut itu, ia terserang sakit mata akut. Kornea matanya dilapisi kabut putih, seperti kotoran mata berwarna kuning yang setiap jam menumpuk-numpuk dan sekali-kali meleleh kemudian membeku di sudut-sudut matanya. Teman-temannya merasa jijik dan mau muntah, walaupun itu tidak diperlihatkan di depannya.
Tiga minggu kemudian, penyakit matanya sembuh tiba-tiba. Entah obat mana yang akhirnya mangkus dari sekian banyak dokter, mantri, dan dukun kampung yang ia kunjungi. Ia kembali hidup normal. Hanya saja, tidak ada lagi orang-orang yang mau dekat dengannya. Teman tak ada. Bujang lapuk pula. Siapa yang mau bersuamikan lelaki dengan kepala dan penghasilan pas-pasan? Yang mau bekerja apa saja, dan mau digaji berapa saja? Kini, pekerjaan tak ada pula. Ia sungguh merasa kesepian, sebelum akhirnya menjadi gila, kata orang-orang.

Jika saja saya perempuan, saya akan ikut terharu dan menangis terisak bersamanya, memeluk bahunya, dan mungkin bersedia menemani hidupnya yang terasing itu.

Tapi, akhirnya saya tidak melakukan apa-apa. Ketika saya sudah tak mendengar lagi Ia berbicara, saya hanya menatapnya dengan rasa kasihan bercampur penasaran.

“Sembuhlah segera,” seru saya dalam kepala sembari menjauh darinya yang sudah mematung.

***

Suatu kali, untuk membuktikan ceritanya, saya datang sendiri ke tepi pantai itu tengah malam buta. Saya duduk di tepi bandul; pembatas antara jalan beraspal dengan pasir tepi pantai, dengan sejinjing kopi dalam termos kecil, dan beberapa penganan ringan.

Belum cukup satu jam rasanya, saya melihat ombak besar mengejar. Saya terkejut, gelapan berlari, dan seperti terbangun dari sesuatu. Tubuh saya kuyup di atas pasir di bibir pantai. Saya kedinginan dan ternyata sudah tak malam lagi.

“Sial. Kenapa saya bisa tertidur di sini?” Umpat saya sambil membersihkan pasir-pasir yang menempel di pakaian, muka, dan bagian tubuh lain. Termos kopi hampir sampai di geligi ombak kecil, antara mau hanyut dan tidak.

“Sial!” Umpat saya lagi, melihat pasir-pasir yang berantakan di tepi pantai. Seperti ada bekas telapak kaki yang banyak di atasnya.

“Sial.” Seharusnya pasir-pasir ini kembali normal datar karena telah disapu ombak dan dihembus angin semalaman, pikir saya.

“Sial. Sial. Sial. Sial.” Saya beranjak dari pesisir pantai yang menyebalkan itu.

***

Sebenarnya, tepi pantai itu bisa dikatakan kosong. Hanya kumpulan pasir putih. Kepiting-kepiting berlari di atasnya, lalu masuk ke lubang-lubang di bawahnya. Sesekali melompat turun dan muncul dari lubang lain.

Kabarnya, orang-orang yang ingin menyangkal cerita itu dan membuktikan bahwa hantu itu tak ada, membuka kedai kecil-kecilan di tepi pantai dari sore sampai tengah malam. Mereka berjualan kelapa muda dan jagung bakar. Sore-sore, melihat matahari terbenam ditemani minuman dingin kelapa muda dan wangi jagung bakar yang memikat, siapa yang tak tergoda.

Apalagi kaum muda yang senang bereuforia dengan pasangannya. Tak lama, kedai kecil satu itu menjadi dua, lalu pedagang lainnya berdatangan, tiga, empat dan berbelas-belasan. Pelanggan juga semakin banyak, berdatangan dari negeri yang entah, menjamu pasangannya masing-masing.

Kursi-kursi kecil di sebelah kedai tak cukup lagi. Maka, atas inisiatif pedagang pertama, dibangunlah tenda-tenda kecil bertudung lebar warna-warni dekat bibir pantai. Jumlahnya puluhan. Angin pantai yang dingin-dingin asin langsung mencium mereka yang duduk di sana. Amboi. Satu tenda kecil diisi oleh satu-dua kursi plastik dan meja yang kecil-kecil pula. Setiap tenda hanya diisi oleh satu kelompok pelanggan. Seperti sebuah rumah sewa yang hanya dihuni oleh satu keluarga saja.

Di dalam tenda-tenda serupa payung itu, berpasang-pasang muda-mudi bercengkrama seperti pengantin baru di rumah baru mereka. Mereka duduk berdekatan, dempet-dempetan, dan berangkulan.

Entah apa yang dibicarakan, di sebuah tenda, seorang perempuan sedang berusaha tertawa dengan malu-malu-manja. Kepalanya menempel di bahu lelaki. Mungkin mereka sedang membicarakan masa depan, atau akan berbulan madu dimana. Bibir si Lelaki menempel di rambut di Perempuan. Mungkin dia sedang membisikkan sesuatu; tentang gombalannya yang akan membawakan bintang ke dalam mata si Perempuan. Sementara tangan laki-laki muda tanggung itu menyisip di antara baju si Perempuan. Ah, mungkin saja Ia ingin mencari sesuatu di dalamnya. Mungkin saja.

Aku, yang sedang duduk di atas bebatuan menghadap laut, tidak peduli. Tapi, rasanya dari tempat yang sama, Si Orang Gila berlari-lari ke arah tenda-tenda itu sambil mengacung-acungkan tangan kirinya.

“Kalian! Kalian, hantu-hantu itu. Aku tahu. Aku dapat merasakannya.”

“Kalian sedang menyamar. Aku tahu.”

“Buka topeng kalian. Buka!”

“Apa tidak cukup seluruh malam untuk kalian saja, heh?”

Orang gila itu berteriak-teriak di antara tenda-tenda yang mulai menjamur itu.

“Aku tahu. Aku tahu karena aku tidak gila,” katanya lagi.

Orang-orang di dalam tenda hanya terdiam sebentar, lalu seperti angin pantai, teriakan-teriakan si pesakit itu berlalu di kuping dan pikiran mereka.

“Hanya orang gila,” kata seorang lelaki paruh paya kepada pasangannya yang masih berseragam sekolah. Lalu mereka tertawa-tawa lagi, menyesap sebji kelapa muda berdua, dan saling meraba-raba lagi.

Dari dalam kepala orang gila itu, aku mencoba menenangkannya. Tapi, Ia tidak mau mendengar. Ia terus saja berceloteh,

“Apa neraka terlalu panas untuk kalian, heh?”***

Padang, 2013-2014

Dedi Supendra  lahir di Pranap, Inhu, 20 Maret 1989. Tinggal di Pariaman, Sumbar. Beberapa karya cerita pendeknya pernah dimuat di Padang Ekspres Minggu, Haluan Minggu, dan lain-lain. Antologi cerpennya adalah Cerita Setelah Keramaian (2010) dan Negeri Kesuda (2011). Dedi saat ini sedang menyelesaikan kuliah jurusan Digital Technologies, Communication and Education di The University of Manchester.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:38 wib

Cantik Dengan Kilau Warna Rose Gold

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:30 wib

Pelamar CPNS Salah Unggah Informasi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:00 wib

STIE Syariah Bengkalis Wisuda 174 Lulusan

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:59 wib

Bangga Nyanyi Lagu Batak di Penutupan IMF

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:33 wib

Roro Fitria Sedih Belum Penuhi Wasiat Ibu

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:30 wib

Pelaku Judi Togel Ditangkap Polisi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:12 wib

SMA Darma Yudha Juara 1 Lomba Fermentation di Malang

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:00 wib

Pilkades Serentak Digelar 12 Desember

Follow Us