TERPILIH SEBAGAI KETUA DKR

Beban di Pundak Yoserizal Zen

28 Mai 2017 - 01.43 WIB > Dibaca 1665 kali | Komentar
 
Beban di Pundak Yoserizal Zen
Yoserizal Zen. (HARY B KORIUN/RIAUPOS.CO)
Pesta demokrasi  seni telah berlalu. Para seniman Riau berkumpul. Semua, baik dari kota maupun daerah-daerah di seluruh Riau. Bersama bersuara, memilih  hanya satu nama untuk berdiri di barisan paling depan demi membawa bendera DKR lebih berkibar. Dan, Yose, yes!

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Pekanbaru

PEMILIHAN Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) yang digelar melalui Musyawarah Seniman Daerah (Musenda), berakhir sudah. Proses sederhana, demokratis, akrab dan penuh kekeluargaan sangat terasa. Senin (22/5), bertempat di gedung DKR, kompleks Bandar Serai, pesta para seniman itu terjadi. Hanya lima tahun sekali. Selain dihadiri para seniman, perwakilan Dewan Kesenian Daerah (DKD) di setiap kabupaten/kota, tentunya juga dihadiri ketua DKR sebelumnya, Kazzaini Ks.

Dalam Peraturan Dasar Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) DKR, yang berhak memilih hanya DKD masing-masing 1 suara ditambah DKR 1 suara. Artinya hanya ada 13 suara. Maka, sejak Ahad (21/5), sebagian pemilik sah suara atau perwakilan dari masing-masing daerah telah tiba di Pekanbaru. Sedangkan sebagian yang lain ada yang baru tiba Senin pagi. Panitia menanggung akomodasi dan konsumsi selama di Pekanbaru dengan ketentuan satu daerah dua utusan. Para utusan inipun diinapkan di Hotel Pangeran oleh panitia.

Tidak ada perwakilan DKD yang absen. Semua hadir. Termasuk daerah yang kepengurusan DKDnya sedang dalam keadaan tidak aktif, seperti Bengkalis dan Kepulauan Meranti. Tidak dipersoalkan karena panitia telah mengundang mereka untuk hadir dengan catatan wajib membawa surat rekomendasi dari bupati/wakil bupati/sekda setempat. Bahkan, ketika perwakilan Kabupaten Bengkalis datang tanpa membawa rekomendasi, juga disetujui oleh seluruh peserta sidang.

Proses pemilihan ketua DKR 2017-2022 diawali dengan serangkaian acara; doa, pembacaan ayat suci Alquran, syair dan laporan pertanggungjawaban ketua DKR sebelumnya. Bahkan diramaikan dengan peluncuran buku Matahari Sastra (antologi sastra karya sastrawan Riau) yang ditandai dengan penandatangan sampul buku oleh seluruh seniman dan perwakilan DKD.

‘’Harapan besar itu adalah, DKR ke depan lebih baik di tangan ketua yang baru. Lebih hidup dan bergerak dinamis. Habis sudah masa bakti kami sebagai pengurus. Hal besar yang perlu kami sampaikan adalah, di awal masa kepengurusan kami, DKR membuat deklarasi Hari Puisi Indonesia (HPI) yang dihadiri penyair dari Sabang sampai Maraoke. Sampai saat ini HPI semakin dirayakan, disemarakkan dan dimeraihkan di seluruh pelosok Indonesia. Semoga ada gebrakan-gebrakan baru yang akan muncul di kepengurusan yang akan datang,’’ harap Kazzaini Ks, ketua DKR masa bakti sebelumnya.

Selain Kazzaini Ks, hadir juga dalam Musenda tersebut Taufik Ikram Jamil, Taufik Effendi Aria, Eddy Ahmad RM, Dheni Kurnia, A Aris Abeba, Fakhrunnas MA Jabbar, GP Ade Dharmawi, Eri Bob dan masih banyak lainnya. Mereka hadir sebagai peserta peninjau yang berhak memberikan pendapat dan bersuara tapi tidak berhak memilih.

Proses pemilihan dimulai dengan sidang pertama yang membahas tentang tata tertib (tatib) persidangan, PD/PRT, program kerja DKR dan hal-hal lain yang dianggap perlu. Dilanjutka dengan sidang kedua, yakni proses pemilihan ketua DKR itu sendiri. Maka, masing-masing perwakilan DKD bersiap memunculkan dua nama. Inilah yang disebut proses penjaringan bakal calon. Nama yang muncul dan memiliki lima suara ke atas, dialah yang berhak maju sebagai calon. Ketentuan ini diatur dalam tatib yang dibahas dalam sidang sebelumnya.

Gedung DKR, dalam suasana sidang yang dipimpin Herman Maskar siang itu benar-benar tegang. Terlebih ketika perwakilan panitia mulai membacakan siapakah nama-nama bakal calon yang muncul dalam secarik kertas yang ditulis perwakilan masing-masing DKD. Banyak nama yang muncul: Grivent, Mosthamir Thalib, Kunni Masrohanti, Yoserizal Zein, Ade Dharmawi, Herman Maskar, Dandun Wibawa, bahkan nama Kazzaini Ks juga muncul lagi.Dari sekian banyak nama itu, hanya dua nama yang mencapai angka lima, yakni Kunni Masrohanti dengan delapan nama dan Yoserizal zein enam nama.

Proses pemilihan berikutnya dilanjutkan. Hanya ada dua calon, Kunni dan Yose. Tapi sebelum tahapan pemilihan kedua dilanjutkan, kedua calon diminta untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan visi misi. Keduanya disandingkan. Duduk berdua di depan forum layaknya pengantin baru. Kelakar dan gurau pun bermunculan. Santai. Tenang dan penuh keakraban. Kunni menyampaikan apa yang hendak dibuat jika ia duduk di kursi DKR nantiny. Begitu juga dengan Yose.

Sangat menegangkan. Begitulah yang terjadi pada proses pemilihan kedua. Setelah masing-masing perwakilan maju ke depan, mengisi secarik kertas hanya dengan satu nama; Kunni atau Yose, maka helai demi helai kertas itu dibuka dan dibaca. Antara Yose dan Kunni memiliki suara yang sama hingga kertas ke 12. Keduanya sama-sama memperoleh enam suara. Hanya ada satu kertas yang tersisa.  Hari S Hasan, yang membuka dan membaca nama itu satu persatu, memberi jeda waktu sebelum membuka kertas terakhir. Ia memutar-mutarkan kertas itu di atas kepalanya. Seluruh audiens menunggu sambil berdiri.

‘’Yoserizal Zein!’’ teriak Hari setelah membuka kertas terakhir itu.

‘’Yes!’’ teriak sebagian audiens yang kemudian disambut dengan tepuk tangan.

Spontan, seluruh audiens maju ke depan ruang sidang dan menyalami Yose dan Kunni secara bergantian. Pimpinan sidang beserta anggotanya seolah membiarkan seluruh audiens menikmati dan hanyutdalam suasana bahagia itu. Begitu juga Kunni dan Yose yang terlihat berpelukan mesra penuh keakraban. Beberapa saat kemudian, sidang ditutup resmi oleh seniman senior Taufik Effendi Aria dan pesta demokrasi para seniman Riau itu berakhir.

Rumahnya Para Seniman

Yoserizal Zein, ketua terpilih DKR yang juga seniman dan Plt Dinas Kebudayaan Riau, menyebutkan, ingin menjadikan DKR sebagai rumahnya para seniman. Program-program yang akan dilaksanakannya juga mengacu kepada program yang telah disepakati bersama dalam Musenda itu

‘’Saya ingin menjadikan DKR sebagai rumahnya para seniman. Program dan kegiatan yang akan dilaksanakan juga mengacu kepada program yang telah ditetapkan dalam Musenda. Program itu harus menjadi payung bagi kegiatan yang akan dilaksanakan,’’ jelas Yose.

Sementara itu, sambung Yose, untuk merealisasikan program sangat dibutuhkan pengurus yang solid. Penngurus inilah yang harus dibentuk sesegera mungkin agar program juga bisa segera terlaksana. ‘’Memang perlu pengurus yang solid, kompak dan bisa salig berkerjasama agar program bisa direalisasikan dengan baik. Yang terpenting adalah, DKR ini benar-benar menjadi rumahnya para seniman,’’ kata Yose lagi.

Hal senada juga diungkapkan Kunni. Kunni merupakan salah satu calon DKR yang belum berkesempatan untuk memimpin DKR. Tapi dari sekian banyak calon, bahkan dari awal DKR berdiri, Kunni merupakan satu-satunya perempuan yang didukung dan diusung pemilik hak suara untuk menuju DKR. Bahkan dari 13 suara yang terdiri dari dewan kesenian di 12 kabupaten/kota dan 1 suara dari DKR, Kunni yang tunak berkesenian dan melahirkan karya-karyanya ini, berhasil mengumpulkan enam suara. Hanya beda satu angka dengan Yose, ketua terpilih.

‘’Alhamdulillah, proses demokrasi sudah berjalan baik. Hasilnya sudah jelas. Maka kewajiban kita, kewajiban saya, mendukung program dan rencana kerja yang disiapkan bang Yoserizal Zein sebagai ketua terpilih. Bahkan saya juga siap membantu beliau dalam kepengurusan. DKR ini rumahnya para seniman, rumah kita bersama. Kita bersama pula yang harus mendukung, menjaga dan meramaikan agar program yang direncanakan berjalan dengan baik.

Pemilihan ini hanya sebuah proses. DKR hanya sebuah jalan, cara dan wadah untuk kita berkumpul dan berkarya. Tentunya, banyak jalan lain yang juga bisa ditempuh teman-teman seniman untuk meramaikan dunia kesenian di Riau ini. Kita berkarya dengan jalan yang lain, itu juga dukungan secara tidak langsung bagi DKR. Semakin banyak yang berkarya, semakin banyak yang bergerak di bawah, semakin ramai kesenian, maka sesungguhnya, semakin hiduplah DKR itu sendiri,’’ kata Kunni usai pemilihan.***




KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 23 Juni 2018 - 15:31 wib

Hutan Mangrove Kampung Rawa Mekar Jaya Jadi Lokasi Wisata

Sabtu, 23 Juni 2018 - 15:29 wib

Pemerintah Berhasil Jaga Sabilitas Harga

Sabtu, 23 Juni 2018 - 14:37 wib

SK 20 Pjs Kades Persiapan Diteken

Sabtu, 23 Juni 2018 - 14:21 wib

Pjs Bupati Pimpin Rapat Pemantau Pilkada

Sabtu, 23 Juni 2018 - 14:11 wib

Polisi Berhentikan Bus AKAP

Sabtu, 23 Juni 2018 - 13:58 wib

Persiapan Batong Terus Dilaksanakan

Sabtu, 23 Juni 2018 - 13:09 wib

Pemangkasan Anggaran Capai Rp1,7 T

Sabtu, 23 Juni 2018 - 12:34 wib

OPD Rohul Gesa Kegiatan Fisik Lapangan

Follow Us