OLEH SARMIANTI

Bahasa Puisi

14 Mai 2017 - 03.00 WIB > Dibaca 3136 kali | Komentar
 
Bahasa Puisi
Ketika berhadapan dengan sebuah puisi, pembaca sering bingung dengan bahasa yang digunakan penyair. Kebingungan itu muncul karena sulit untuk memaknai puisi tersebut. Hal ini yang mungkin membuat banyak orang tidak suka membaca puisi karena tidak paham dengan makna puisi yang dibacanya. Akan tetapi, konon puisi adalah bentuk sastra yang paling  banyak  dipilih orang untuk mengekspresikan perasaannya. Berarti, terdapat kontradiksi pada puisi antara kesulitan untuk memahaminya dan sebagai pilihan populer untuk mengekspresikan perasaan.

Untuk lebih memahami puisi, akan lebih baik bila mengetahui definisi dan jenis-jenisnya.  Akan tetapi, memberi definisi pada puisi sebenarnya bukanlah pekerjaan mudah. Jika merujuk pada definisi yang diberikan oleh para ahli, kita akan mendapatkan definisi yang berbeda satu sama lain. Menurut Riffaterre, hal ini terjadi karena puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan estetiknya. Mencari definisi akan lebih mudah  bila  merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di dalam KBBI, puisi diartikan sebagai 1. ragam sastra yang bahasanya terikat irama, matra, rima serta penyusunan larik dan bait; 2. gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3. sajak. Pengertian pertama di atas merujuk pada ikatan bentuk, pengertian kedua menekankan pada isi, sementara pengertian ketiga merupakan sinonim dari kata puisi.

Adapun jenis-jenis puisi di Indonesia dibagi atas dua, yaitu puisi lama dan puisi baru/modern. Puisi lama antara lain mencakup pantun, syair, gurindam, dan mantra. Sementara yang tergolong sebagai puisi baru adalah balada, ode, himne, dan elegi. Jenis-jenis puisi lama digolongkan berdasarkan bentuknya, sementara puisi baru dibedakan dari isinya. Oleh karena itu, puisi lama lebih tepat pada pengertian pertama sedangkan puisi baru akan lebih tepat bila merujuk ke pengertian kedua dalam KBBI.

Bahasa puisi sebenarnya sama dengan bahasa sehari-hari. Namun, karena bentuk puisi yang terbatas pada penggunaan kata-katanya, penyair harus pintar memilih kata yang lebih tepat dan hemat untuk makna yang diinginkannya. Untuk mengekspresikan pengalaman jiwa secara padat dan intens, perbedaan arti yang sekecil-kecilnya pun dipertimbangkan dengan cermat. Bahkan pergantian kata, baris, atau kalimat sering dilakukan, meski puisi tersebut telah diterbitkan. Chairil Anwar beberapa kali melakukan hal ini, di antaranya puisi “Aku” yang pernah diterbitkan dengan judul “Semangat”. Kata-kata di dalam puisi ini juga ada yang berubah.

Oleh karena itu, muncul istilah bahwa bahasa puisi itu dikentalkan, dipekatkan, dikonkretkan, atau diwarnakan. Bukan ditambah-tambahkan, dilebih-lebihkan, atau diindah-indahkan. Pemilihan kata yang akan digunakan inilah yang membuat bahasa puisi terasa aneh dan seolah melanggar atau merusak tata bahasa. Penyair memiliki hak memanfaatkan bahasa sedemikian rupa untuk menyampaikan ekspresinya di dalam karya. Hak ini disebut licentia poetica.
Meskipun memiliki kebebasan dalam memanfaatkan bahasa, penyair pasti tidak akan melampaui konvensi bahasa sebagai alat komunikasi yang dapat dipahami. Jadi, tidak ada kebebasan yang mutlak, karena jika konvensi bahasa diabaikan, puisi akan kehilangan maknanya, sehingga akan sulit dipahami oleh pembaca. 

Puisi, sastra, atau seni pada umumnya, selalu berada di dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Penyair atau seniman selalu berusaha mendobrak konvensi dengan inovasi-inovasi. Teeuw  dalam bukunya Tergantung pada Kata (1978) menyebutkan bahwa  pelanggaran konvensi adalah sifat karya seni yang khas, bahkan pada masa-masa tertentu hasil dan nilai sebuah karya sastra/seni ditentukan oleh berjaya-tidaknya dalam usaha mendobrak dan merombak konvensi sastra itu.

Selain konvensi bahasa, penyair juga melakukan pendobrakan pada puisi itu sendiri. Kini puisi tidak terbatas pada ode, epigram, ataupun elegi. Jenis-jenis puisi baru semakin beragam, seperti puisi suasana, puisi mbeling, puisi konkret, atau puisi prosa. Puisi suasana adalah  puisi yang mementingkan suasana yang dibangun oleh larik-lariknya bukan kata dan artinya, seperti puisi mantra. Makna pada puisi suasana ini diperoleh dari suasana yang dibangun oleh bunyi-bunyi pada puisi tersebut. Puisi mbeling adalah jenis puisi yang tidak terpaku pada kaidah sastra yang kaku, seperti rima, irama, metrum, dan pembaitan. Jenis puisi mbeling yang dipelopori oleh Remy Silado ini bertujuan menentang puisi liris yang pada saat itu menjadi mainstream di majalah Horison. Puisi konkret maksudnya adalah puisi yang mementingkan perwajahan atau bentuk grafis seperti gambar. Kata-kata atau huruf disusun sedemikian rupa hingga membentuk gambar yang diinginkan. Sementara puisi prosa adalah puisi yang sangat mirip dengan prosa, baik bahasa maupun strukturnya. Akan tetapi, tetap ada perbedaan antara penulisan puisi dan prosa.

Jenis puisi dapat memengaruhi penggunaan bahasa pada puisi tersebut. Secara umum, pilihan kata pada bahasa puisi selalu mempertimbangkan makna konotatif. Oleh karena itu, majas menjadi hal yang sering dipakai dalam puisi. Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan dalam bahasa puisi adalah pengimajian, sarana retorika, gaya bahasa, dan tata bahasa. Meskipun konsep estetik puisi itu selalu berubah-ubah, menurut Riffaterre (1978), ada satu yang tetap tinggal, yaitu menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Ketaklangsungan ucapan ini disebabkan oleh displacing (penggantian arti), distorting  (penyimpangan arti), dan creating of meaning (penciptaan arti). Penggantian arti terjadi pada metafora dan metonimi; penyimpangan arti terjadi pada ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; dan penciptaan arti terjadi pada pengorganisasian ruang teks, seperti penyejajaran tempat, enjambement (pemenggalan), dan tipografi (Pradopo, 1987).

Kesulitan dalam memaknai puisi sebenarnya tidak menjadi alas an untuk tidak menyukai puisi, apalagi menghindarinya. Apresiasi yang lebih intens akan menumbuhkan sikap positif terhadap puisi. Di antara sekian banyak puisi, barangkali ada salah satu puisi yang disukai dan bisa dipahami. Hal ini tidak terlepas juga dari pengalaman batin dengan sebuah puisi yang dibaca.***




KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 14 Agustus 2018 - 09:10 wib

DPRD Belum Terima Pengunduran Diri Gubri

Selasa, 14 Agustus 2018 - 09:08 wib

Blok Rokan Pintu Membedah BUMD

Senin, 13 Agustus 2018 - 21:35 wib

Lewat Swadaya Ummah, Siswa Sekolah Dasar Latih Jiwa Kemanusiaan Sejak Dini

Senin, 13 Agustus 2018 - 19:43 wib

Jaga Kesehatan Jelang Wukuf

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:41 wib

Korban Meninggal 392 Orang

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:30 wib

Siapkan Pra Iven Menyambut Gerhana Matahari Cincin

Senin, 13 Agustus 2018 - 18:00 wib

Penyaluran Beasiswa Belum Dipastikan

Senin, 13 Agustus 2018 - 17:34 wib

Maruf Diperiksa Lebih Lama

Follow Us