CERPEN MUSTAFA ISMAIL

Perempuan di Laut Tawar

14 Mai 2017 - 02.47 WIB > Dibaca 1990 kali | Komentar
 
Perempuan di Laut Tawar
SUDAH sore. Air danau Laut Tawar telah berubah kemerah-merahan diterpa matahari. Tetapi perempuan itu belum beranjak. Ia duduk menghadap danau yang dipagari deretan bukit-bukit yang hijau. Rambutnya yang sejengkal melewati bahu dibiarkan terurai, diterbangkan angin yang basah oleh hawa sejuk kota Takengon.

Saya sudah tiga sore melihat perempuan itu. Selalu sendiri. Di tempat yang sama. Tempat bersantai berbentuk payung dengan enam kursi mengelilinginya yang letaknya agak ke pojok kiri hotel yang menghadap danau itu. Entah kenapa perempuan itu selalu memilih tempat agak ke pojok. Padahal hari-hari biasa begini, bukan akhir pekan, banyak teratak payung yang kosong.

Setiap hari hanya beberapa payung yang terisi. Sebab hari-hari biasa tamu di hotel itu tidak sebanyak akhir pekan. Saya sendiri lebih menyukai saat-saat yang tidak ramai. Toh berlibur ke situ bukan untuk melihat orang, tetapi untuk menikmati suasana danau dan pegunungan. Saya jauh-jauh datang dari Banda Aceh khusus untuk menghindari keramaian.

Mungkin perempuan itu juga berpikir seperti saya: benar-benar ingin berlibur dan menikmati suasana danau itu dengan sepuas-puasnya, tanpa dihalangi oleh keramaian dan hiruk-pikuk orang lain di akhir pekan. Karena itu ia memilih berlibur pada hari-hari biasa. Tentulah ia seorang yang romantis.

Tentulah ia seorang yang menyukai hal-hal jauh dari hiruk pikuk dan suasana yang bisa bikin tentram, kenyamanan hati, pikiran dan perasaaan. Mungkin semacam perasaan bahagia dan kerinduan. Atau kasmaran. Ketika perasaan-perasaan semacam itu bercampur, duh betapa indahnya suasana liburan.

Mungkin pikiran saya terlalu jauh. Tetapi jujur saja, ini pengalaman pribadi sebenarnya. Tepatnya tujuh tahun lalu ketika pertama kali menginap di hotel ini untuk mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat. Di sini, saya mengenal Nanik. Ia cantik, pintar, dan ramah. Saya menyukainya. Kami akrab. Sangat akrab. Sangat dekat.

Ia tidak pernah jauh dari saya. Kami selalu bersama-sama: duduk di bawah teratak payung yang dikeliling enam kursi dan kami selalu memilih yang agak pojok sebelah kiri hotel yang menghadap ke danau itu. Ke cafe untuk berkaroke sehabis jadwal pelatihan. Atau sekedar duduk dan ngobrol-ngobrol di lobi sehabis makan malam. Kami juga sempat jalan-jalan ke luar hotel, mengikuti jalan raya yang naik-turun bukit di pingiran Danau Laut Tawar itu, lalu balik ketika kami merasa lelah.

Tapi itu hubungan yang aneh. Entah mengapa saya tidak pernah mendefinisikan bagaimana sebetulnya hubungan kami. Cinta lokasi? Ah, mungkin itu terlalu sentimentil. Tapi hal semacam itulah yang terjadi pada kami. Nanik pun tidak pernah berusaha merumuskan apa arti sebetulnya kedekatan kami. Seperti saya, ia pun tidak pernah membicarakan arti kedekatan itu.

Tapi pada sebuah sore, aku terkejut mendengar pertanyaannya. “Apakah kesetiaan harus dibuktikan dengan memagari diri dari perasaan-perasaan khusus terhadap orang lain?” Nanik berucap tiba-tiba. Saya memandangnya sejenak, membuktikan apakah pertanyaannya sungguh-sungguh: dan ia mengangguk.

Hawa sejuk mulai merasuk hebat ke pori-pori. Matahari sudah tenggelam di balik bukit. Sambil terus melangkah menuruni tangga bukit menuju ke hotel, aku berujar, “Itulah logika umum dan hidup. Tetapi semua itu terserah kepada masing-masing orang. Kalau kamu sendiri bagaimana,” tanya saya.

“Lho, justru aku bertanya kepadamu.”

“Aku sudah menjawab.”

“Tetapi kamu belum menjawab pertanyaanku itu. Ya atau tidak?”

Pertanyaan Nanik membikin saya terkesiap. Langkah saya tiba-tiba terhenti. Nanik juga menghentikan langkah. “Ada apa?”

“Nggak. Nggak apa-apa,” kata saya sambil kembali menyeret langkah. Saya mulai berpikir jawaban bagaimana harus saya katakan kepada Nanik. Kalau saya menjawab “ya”, berarti saya menyutujui sikap menyandra seseorang dengan embel-embel cinta, sehingga tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas.

Sementara kalau saya menjawab tidak, berarti saya sepakat dengan sikap gonta-ganti pacar. Ketika kaki kami menginjak lobi hotel, Nanik kembali bersuara. “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah terlalu sulit?”

“Apakah perlu dijawab?”

“Baik. Kalau kamu belum punya jawaban, aku tunggu besok pagi,” katanya. Saya tidak menjawab, tetapi terus mensejajarkan langkah dengan Nanik menuju restoran untuk makan. Setelah itu, kami harus mengikuti kembali jadwal pelatihan sampai pukul sembilan malam.
Malamnya, aku tidak bisa tidur. Pertanyaan Nanik terus terbawa. Terus terang, sebetulnya saya ingin sebuah hubungan yang langgeng. Saya sudah harus memikirkan sebuah hubungan yang panjang. Saya tidak ingin lagi bermain-main dengan perasaan. Karena itu, saya pun tidak langsung menjawab pertanyaan Nanik.

Di tengah kantuk yang tak kunjung datang, aku seperti menyaksikan Nanik pergi. Ia membawa sebuah ransel, dan menumpang mobil hotel. “Aku harus pulang,” katanya.

“Simpanlah pertanyaanku itu,” ia melanjutkan. Saya hanya terdiam, memandang mobil itu menjauh ditelah bukit-bukit. Saya seperti tak kuasa mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba saya merasa sangat kehilangan. Tiba-tiba saya menjadi terasing dan sendiri. Tiba-tiba saya seperti berada di tengah bukit. Di sekelilingnya adalah Danau Laut Tawar dengan airnya telah kering.  Danau itu seperti hamparan tanah lapang yang jauh. Di langit, kabut berebut turun. Tak lama, hujan turun.

“Hujan... hujan..,” saya berteriak dan sontak saya terbangun, terduduk di tempat tidur. Saya menarik nafas, mengingat-ngingat apa yang baru saja saya alami, sebuah mimpi yang sungguh tak menyenangkan. Saya melirik jam, sudah pukul 07.00, lalu bergegas bangun untuk bersiap-siap makan pagi.

Dan pagi itu, saya sudah siap menjawab pertanyaan Nanik, yang ingin menguji apakah saya termasuk orang yang setia. Tetapi betapa mencengangkan ketika saya tiba di ruang makan, seorang kawan membisikkan bahwa Nanik sudah pulang ke Medan pagi-pagi tadi.  “Dia ditelepon suaminya. Anaknya sakit,” ujarnya.

Kami tidak pernah ketemu lagi.

***

Saya buru-buru mengalihkan pandang dari perempuan itu ke tengah danau ketika istri dan kedua anak saya muncul sehabis jalan-jalan ke kota Takengon. Saya pura-pura melihat perahu-perahu yang sedang menjala ikan depik, ikan khas di danau itu.

Tetapi rupanya isteri saya sempat melihat saya memandang ke arah perempuan itu. Ketika malam, ketika anak-anak sudah tidur, ia bertanya, “Abang serius sekali melihat perempuan itu tadi sore. Ingat Nanik ya?”

“Ah, kamu jangan mengada-ada. Kamu kan tahu aku tidak ada apa-apa dengan Nanik,” ujar saya.

Isteri saya memang tahu betul soal Nanik. Karena isteri saya juga salah seorang peserta pelatihan tujuh belas tahun lalu itu. Ia pula yang meledek saya habis-habisan di bis dalam perjalanan pulang dari Takengon ke Banda Aceh. Ia mengatakan saya jatuh cinta pada istri orang, dan semua kawan-kawan serombongan pun tertawa.

“Sudah ah, tidak usah diterusin. Ayo tidur. Besok kita jalan-jalan ke tempat Nurdin, kawan abang, yang mantan penyair itu. Dia jadi petani kopi sekarang.”

“Oke. Tetapi Abang juga tidur. Jangan mikirin Nanik terus.”

Saya tidak menanggapi lagi dan pura-pura tidur. Tetapi  saat mata saya pejamkan, yang terlihat adalah perempuan di tepi danau itu. Ia menjelma Nanik yang pelan-pelan datang dan mengajak saya duduk di salah satu teratak payung menghadap ke tengah danau, memandang nelayan menjaring ikan.

Perempuan itu memang sangat mirip Nanik, termasuk rambut, cara berjalan, hingga cara tersenyum. Aku ingin sekali bertemu dan berbincang-bincang dengan perempuan itu. Aku ingin tahu siapakah sebetulnya perempuan itu dan mengapa dia sedang ada di sini.

***

Perempuan itu tersenyum ketika berpas-pasan dengan kami di pintu restoran saat akan sarapan pagi. Bukan sebuah senyum yang biasa. Saya melihat kabut di wajahnya.
Pandangannya kosong, matanya berkabaut, seperti sedang menanggung beban maha berat. Ia tampak tak bergairah. Langkahnya gontai, meskipun ia berusaha untuk tegak.

Mendapati pemandangan seperti itu, tiba-tiba saya juga jadi tidak bergairah. Saya seperti merasakan apa yang sedang dihadapi perempuan itu. Mungkinkah ia seseorang yang sedang patah hati? Mungkinkah ia seseorang yang sedang disia-disiakan oleh seorang laki-laki? Mungkinkah…. Saya tidak berani  melanjutkan. Banyak sekali kejadian tragis di daerahku itu.

 “Ayo dimakan nasinya. Nanti kita bisa terlambat sampai di tempat Nurdin,” isteri saya memecah lamunan saya.

“Iya, ayah kenapa bengong,” Dina, putri pertama saya yang kini berumur tujuh tahun, menimpali.

“Ayah lagi memikirkan jalan mana yang enak untuk sampai ke tempat Om Nurdin,” kata saya berpura-pura.

Isteri saya melirik dengan senyum yang tampak mencibir. Seolah ia tahu betul saya tidak mengatakan apa yang sebenarnya saya pikirkan. “Ayah lagi memikirkan Om Nurdin yang lain,” katanya.

“Sudah, sudah. Ayo, buruan makan,” kata saya sambil menyambar piring dan isteri saya mengisinya dengan nasi goreng dan sepotong telor ceplok.

***

“Abang masih memikirkan perempuan itu?” Isteri saya bertanya setengah berbisik, ketika anak-anak sudah lelap tertidur. Malam belum terlalu larut, tetapi anak-anak sangat kelelahan sehabis menempuh perjalanan tiga puluh kilometer ke tempat Nurdin, dengan jalan yang naik turun dan dihiasi tikungan-tikungan tajam. Sejumlah bagian jalan itu juga berbatu-batu.

“Nggak,” kata saya. “Memangnya kenapa?”

“Saya sempat ngobrol banyak dengan dia.”

Saya mendogak. “Kapan?”

“Tadi, ketika saya turun membeli makanan kecil. Kami berpas-pasan.”

“Siapa perempuan itu?”

“Adiknya Nanik.”

“Adiknya Nanik? Sedang apa dia di sini?

“Ia sedang berduka. Suaminya hilang dalam perjalanan dari Bireuen ke Takengon. Ia sedang mencari suaminya di kota ini. Suaminya adalah seorang pengusaha eksportir kopi. Ia mengambil kopi dari kawasan Gayo, dibawa ke Medan, lalu diekspor ke luar negeri. Mobilnya ditemukan di kawasan Cot Panglima, tapi orangnya tidak.”

“Apa?” Mata saya terbelalak. Lama saya terdiam. Firasat saya sebelumnya juga membisikkan demikian. Belakangan memang makin banyak orang hilang. Mereka diculik oleh orang-orang tak dikenal. Sebagian di antaranya kemudian ditemukan telah menjadi mayat di kebun kosong sungai, atau jalanan. Sebagian lagi tidak jelas rimbanya. Suasana menjadi mencekam.

Saya tercenung. Terdiam. Lama. Tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba wajah perempuan itu bermain di mata saya, bergantian dengan wajah Nanik. Saya menyesali mengapa saya tidak memberanikan diri untuk menyapa perempuan itu sebagai pintu masuk saat berpas-pasan pertama kali. Padahal keinginan saya untuk mengetahui siapa dia begitu kuat setelah melihatnya begitu mirip dengan Nanik.

Malam makin larut, tapi mata saya tidak bisa terpejam. ***

Mustafa Ismail lahir di Aceh, 1971. Menulis puisi, cerpen, esai dan dipublikasikan di berbagai media cetak. Buku puisinya Tarian Cermin (2007), Menggambar Pengantin (2013) dan Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian (2016). Buku cerpennya Cermin (2009) dan Lelaki yang Ditelan Gerimis (Mei 2017).



KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:30 wib

Cuaca Ekstrim Waspadai Karhutla

Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:00 wib

Bupati Kukuhkan Anggota Paskibraka

Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:30 wib

Oknum Dokter Bantu Samarkan Uang Hasil TPPU

Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:00 wib

Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat

Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:37 wib

22 Hot Spot Masih Terpantau, Suhu di Riau Dekati Level Ekstrem

Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:30 wib

Ponton dan Crane Bersiap Jelang Penyambungan

Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:15 wib

PPP: Maruf Amin Tak Mengancam Jokowi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 12:40 wib

Hari Ini, Bus Salawat Terakhir Beroperasi

Follow Us