ESAI SASTRA (BAGIAN 2-HABIS)

Matahati Armawi (Bagian 2-habis)

14 Mai 2017 - 02.37 WIB > Dibaca 1038 kali | Komentar
 
Mari kita coba mencermati puisi lainnya yang mengindikasikan permainannya pada kilatan-kilatan pikiran atau lompatan-lompatan gagasan.

RAHWANA
Rahwana tertikam panah dewa
tapi bangkit nafsu dari kijang
muda bersukma ganda
malu di mata
tertabir buta gelap malam
rahwana mendekap mengecup shinta

Puisi “Rahwana” ini jelas acuannya pada kisah Rama dan Shinta, kisah perjuangan cinta Rama mendapatkan Shinta; atau kisah kesetiaan cinta Shinta pada sang kekasih Rama. Pertanyaannya: apakah puisi “Rahwana” karya Armawi KH ini sekadar simplifikasi legenda cinta Rama dan Shinta atau ada pesan lain yang coba dimaknai dan ditawarkannya?

Jika diparafrasakan, puisi itu berkisah tentang Rahwana yang dikutuk dewa, lalu berjuang keluar dari kutukan itu ketika melihat Shinta dan ada kesempatan untuk merebutnya dari tangan Rama. Tetapi parafrasa itu tafsir kita (; pembaca) yang lalu direkonstruksi kembali berdasarkan pengetahuan kita tentang kisah percintaan dua sejoli itu. Kenyataannya, puisi Armawi bukanlah puisi naratif. Ia membangunnya lewat puisi pendek yang merepresentasikan kilatan-kilatan pikiran. Maka, usaha mengejar pesan dan menangkap makna puisi itu, tidak dapat lain, mesti coba menafsir setiap lariknya.

Larik pertama: Rahwana tertikam panah dewa adalah pembuka atau sinyal tentang posisi sosok raksasa itu yang terpenjara, tak berkutik, dan dibelenggu lantaran ketentuan yang telah digariskan para dewa. Lalu, tiba-tiba: tapi bangkit nafsu dari kijang. Kita melihat, pada kedua larik itu, ada banyak peristiwa yang dilesapkan, tersembunyi, atau dilewatkan. Dalam hal ini, penyair sengaja tidak membuat sebuah narasi, melainkan suasana peristiwa; ketika Rahwana dikutuk dewa; dan ketika ia melihat Shinta. Mengapa nafsu Rahwana bangkit dari kijang?

Kijang adalah hewan yang diburu Rama. Dari sanalah siasat Rahwana untuk mendapatkan Shinta, bangkit lagi. Kembali, kita melihat, Armawi membuat lompatan pikiran yang di belakangnya, banyak peristiwa dilesapkan. Lalu, tiba-tiba lagi, muncul larik: muda bersukma ganda. Apa pula maknanya? Ini peristiwa lain lagi. Saya membayangkan sosok Rahwana yang menyamar. Atau, larik ini merupakan bentuk enjambemen dari: … kijang/muda bersukma ganda. Jika itu yang dimaksudkan penyair, maka tafsirnya tentu lain: seekor kijang muda—yang tentu membuat Rama berjuang untuk menangkapnya—tetapi sebenarnya sebagai penyamaran. Dengan begitu, larik kedua dan ketiga—jika itu enjambemen—sebenarnya berada dalam larik yang sama.

Begitulah, setiap larik dalam puisi pendek membuka peluang bagi munculnya keberbagaian tafsir, meski di sana disediakan sinyal atau isyarat tertentu. Meski begitu, bagi mereka yang memahami kisah cinta Rama—Shinta, larik-larik pendek itu menghidupkan saklar imajinasi kita ke berbagai peristiwa yang terjadi dalam legenda Ramayana. Misalnya, bagaimana lingkaran garis demarkasi yang melindungi Shinta, dilanggarnya, hingga Rahwana dapat menculik Shinta dan membawa ke kerajaan Alengka.

 Larik berikutnya: malu di mata sebagai gambaran tentang perasaan (malu) yang entah ditujukan kepada siapa. Tetapi karena konteksnya Rahwana, maka klausa malu di mata seperti kontradiksi dengan sikap Rahwana yang angkara. Apakah malu di mata sebagai metafora untuk sosok keserakahan Rahwana yang tak menyadari kondisi fisiknya yang raksasa bersanding dengan Shinta yang rupawan. Tetapi mengapa mesti malu? Bukankah keserakahan Rahwana menunjukkan sifatnya yang tidak tahu diri? Atau, Armawi sengaja menggambarkan dua sosok makhluk yang secara fisik tak pantas disandingkan, oleh karena itu, tak pantas pula dilihat.

Dalam kehidupan nyata, tidak sedikit peristiwa atau perbuatan seseorang yang membuat jengah mereka yang melihatnya. Bukankah berbagai tindak asusila, tak senonoh, atau perbuatan yang menunjukkan ketidakpatutan, kerap membuat kita tak enak hati, tak nyaman atau begitu terusik ketika peristiwa itu terjadi di depan mata? Jadi, meski klausa malu di mata seperti kontradiksi dengan perangai Rahwana, kita masih dapat menerimanya sebagai bentuk ekspresi eufemisme untuk menyembunyikan keangkaramurkaan Rahwana.

Persoalannya berbeda dengan larik berikutnya: tertabir buta gelap malam yang dapat memunculkan penafsiran: Rahwana yang sudah gelap mata dan tak tahu diri menciptakan tragedi bagi Shinta. Maka, larik terakhir: Rahwana mendekap mengecup Shinta secara fisikal memberi gambaran tentang keangkaramurkaan Rahwana. Dengan siasat dan kekuatan atau kesaktiannya, ia berhasil merebut Shinta, bahkan mengecupnya. Tentu saja yang dimaksud mengecup lebih merupakan simbol kekuasaan yang memperlakukan ketidakberdayaan.
Armawi KH dalam puisi “Rahwana” coba memaknai kembali kisah Rahwana dan Shinta. Tetapi di balik itu, peristiwa itu menjadi semacam potret kekuasaan—ketakberdayaan.
Bukankah peristiwa semacam itu dalam kehidupan keseharian kita, kerap kita jumpai di banyak tempat? Tetapi, mengapa puisi itu ditutup dengan larik: Rahwana mendekap mengecup Shinta? Bukankah dalam kisah Ramayana, Shinta akhirnya dapat direbut kembali oleh Rama, dan Rahwana kalah. Belum selesai sampai di situ, untuk menguji kesetiaan Shinta, api yang membakarnya tak dapat menghanguskannya?

Tentu saja Armawi tidak hendak mengalihwahanakan bentuk prosa ke dalam puisi. Kisah itu sekadar sumber inspirasi yang lalu dikaitkan dengan konteks masyarakatnya. Jadi, yang dilakukan penyair adalah aktualisasi atas satu fragmen kisah Ramayana. Kenyataannya, dalam kehidupan kini, tidak sedikit kejahatan yang tetap bersimaharajalela, kebenaran kalah oleh kekuasaan, kejujuran tenggelam oleh kemunafikan.

Nah, kembali kita melihat, bahwa peristiwa individual tentang Rahwana yang bersumber dari fragmen Ramayana itu, hakikatnya tidak berbeda dengan kehidupan keseharian kita, ketika kekuasaan digunakan untuk menindas, untuk menghajar ketidakberdayaan. Dan orang-orang tertindas, tetaplah hidup dalam ketertindasannya. Shinta yang dalam legenda itu berhasil membuktikan kesuciannya, berteguh pada kesetiannya, dalam kenyataan hidup kini, tidaklah demikian: kalah dan tertindas! Dengan demikian, penyair coba mengangkat kisah yang khas tentang legenda Ramayana sebagai bermakna universal ketika persoalan itu menyangkut diri manusia dan kemanusiaan.

***

Pembicaraan tentang dua puisi tadi, tentu saja belum dapat dikatakan mewakili  keseluruhan tema dan pesan yang disampaikan dalam puisi-puisi yang terhimpun dalam buku antologi Matahati Merah Saga ini. Meskipun demikian, setidak-tidaknya, perbincangan itu sebagai titik berangkat—jika dianggap perlu—untuk menikmati, mengejar pesan, dan menangkap makna puisi-puisi karya Armawi KH. Pilihan menampilkan puisi-puisi pendek, memang bukanlah tanpa risiko. Ketika metafora atau simbolisme dalam puisi-puisi itu maknanya berada dalam lemari besi atau dihadirkan tanpa sinyal dan isyarat tertentu, maka kecenderung menjadi puisi gelap, bisa menjadi kenyataan.

Dalam konteks itu, untunglah, penyair tidak membiarkan pembacanya bergentayangan mencari makna sampai ke negeri entah berantah, nun jauh di sana. Sinyal, isyarat atau lanjaran yang diselusupkan dalam larik-larik puisi pendeknya itu, masih dapat kita temukan. Tambahan lagi, pilihan Armawi pada puisi-puisi pendek lantaran ia memang tidak bermaksud menampilkan puisi naratif. Ia condong hendak menghadirkan suasana peristiwa. Dalam puisi-puisi pendek, suasana peristiwa lebih terasa menonjol dibandingkan pesan yang hendak ditawarkannya. Jadi, ketika kita membaca salah satu puisinya, boleh jadi yang kita tangkap adalah suasana peristiwanya belaka. Atau, metafora yang dihadirkannya tidak mencantel pada objek tertentu, melainkan pada sebuah atau serangkaian peristiwa. Periksa misalnya, puisi yang judulnya dijadikan tajuk buku ini: “Matahari Merah Saga.”

Ada tadi matahati merah saga
membuat jembatan panjang
melintas laut bentan
menembus menikam awan langit
di atasnya jiwa jadi marak
senjakala

ada kini gelap panjang
naga mengulum kota
mengunyah rumah
menjilat pantat kelong
jermal menelan selat

Dalam puisi ini, kita tidak menemukan aku atau engkau lirik. Juga tidak ada orang ketiga yang disebutkan. Meski begitu, kita menangkap ada peristiwa besar di sana yang mengisyaratkan kemarahan yang tak tertahankan atas kekuasaan yang menggilas. Lalu apa yang terjadi kelak? Pada bait pertama, kesimpulannya implisit diisyaratkan oleh larik akhir: senjakala. Bukanlah senjakala –dalam makna denotatifnya—mengisyaratkan waktu menjelang matahari tenggelam atau saat memasuki waktu malam; tetapi dalam makna kiasnya, ia dapat ditempatkan sebagai simbol. Senjakala adalah isyarat menjelang kehancuran, kepunahan atau kekalahan.

Larik-larik pada bait kedua, isyaratnya lebih jelas: naga mengulum kota/mengunyah rumah/menjilat pantat kelong. Jadi, di sana, ada kekuasaan mahabesar yang menggilas Bintan sebagai simbol dunia Melayu. Lalu mengapa pula larik terakhir: /jermal menelan selat/ digunakan sebagai penutup puisi itu? Seperti idiom: pagar makan tanaman atau menanam padi, ilalang yang tumbuh, larik terakhir: jermal menelan selat artinya, ada jaring yang lebih besar yang kelak akan membekap, tidak hanya ikan, dan juga selat, tetapi (sebuah) pulau, bahkan lebudayaan dan peradaban puak (Melayu).

Bukankah puisi “Matahari Merah Saga” terasa benar suasana peristiwanya, yaitu kekuasaan yang sebentar nanti menelan sebuah puak, sebuah peradaban? Dan matahati merah saga adalah kemarahan yang tak tertahankan, tetapi tokh tak kuasa pula menentangnya. Boleh jadi peristiwa itu sekadar contoh kasus dari begitu banyak kasus serupa yang terus menggerus kehidupan (bangsa) kita. Jadi, seperti gunung es, yang cuma tampak kecil di permukaan, padahal di sebaliknya, ada kekuatan besar yang segera akan melumerkannya.

***

Bagaimanapun, antologi puisi “Matahati Merah Saga” karya Armawi KH tetaplah menawarkan kekhasannya, dan sekaligus universalitasnya. Lewat puisi-puisi pendeknya, kita menangkap kilatan-kilatan gagasan tentang semangat, tentang ghirah besar, spirit, dan kegelisahan penyair dalam menyikapi kehidupan di persekitarannya. Ia tak hendak diam, tak ingin menjadi penonton. Maka, puisi menjadi saluran untuk menegaskan penyikapannya bagi kehidupan, masyarakat, dan masyarakat yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Begitulah: puisi-puisi pendek Armawi KH ternyata menyimpan magma kegelisahan tentang banyak hal. Ada kedalaman yang berkaitan dengan pesan, ada pula keluasan dalam mengangkat tema. Dalam perkara itu, puisi-puisi pendek Armawi menawarkan cara lain dalam memainkan bahasa, mengolah tema dalam larik-larik pendek, dan menghadirkan suasana lewat metafora yang cantelannya pada peristiwa.

Begitulah Matahati Armawi! Puisi telah memanggilnya jadi penyair!***

Maman S Mahayana adalah pengajar di FIB UI. Menulis puluhan buku tentang kritik sastra. Tinggal di Bojong Gede, Bogor.




KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 20 Mei 2018 - 21:07 wib

Gerindra Masih Penjajakan Siapa Calon Capres dan Wapres

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:38 wib

Podomoro City Deli Medan Hibur Tamu Hadirkan Rossa

Minggu, 20 Mei 2018 - 20:03 wib

Libatkan Perempuan dan Anak-anak pada Aksi Terorisme Perbuatan Keji

Minggu, 20 Mei 2018 - 19:30 wib

Korban Aksi Teroris Akan Dapat Kompensasi

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:25 wib

Bank Riau Kepri Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:08 wib

DPRD Siak Dapat Kunjungan dari DPRD Kampar

Minggu, 20 Mei 2018 - 18:03 wib

Anggota DPRD Siak Ikuti Bimtek dan Peningkatan Kapasitas

Minggu, 20 Mei 2018 - 14:45 wib

Trofi Pertama dan Terakhir

Follow Us