CERPEN AGUS S NUR

Bayi Ular di Rahim Thambi

7 Mai 2017 - 01.12 WIB > Dibaca 1895 kali | Komentar
 
Bayi Ular di Rahim Thambi
Tidak ada kunci terbuka, atau tanda-tanda kerusakan di sana-sini, segala pintu dan jendela tertutup rapat semua, sama posisinya seperti saat menjelang lampu dimatikan tadi malam, tapi kenapa sesuatu kembali hilang dari tempatnya?

“Ini sungguh aneh.”

Berulang-ulang dia periksa kembali, siapa tahu terselip di antara lipatan baju-baju, tapi sebagian baju dalam lemari sudah diperiksa, tetap tidak ada.

“Apakah di sekitar sini ada yang memelihara tuyul?”

“Bagaimana aku harus mengatakan ini pada Sokra?”

Sambil berpikir keras, Thambi mengingat-ingat kembali apa yang hilang: dua hari lalu cincin emas, kemarin kalung emas, dan sekarang uang yang hilang. Semakin ingat, sedih semakin mengembang di wajahnya.

“Andai dia tahu, pasti akan marah.”

Thambi bingung mencari cara untuk berterus terang. Andai harus bicara sejujurnya, belumlah tentu  sikap baik akan diterima. Tapi yang terang, batin Thambi berbicara, Sokra akan marah kalau sampai tahu. Dalam benak Thambi terbayang dua kemungkinan jika memilih cara bicara sejujurnya: (1) Sokra datang bersama pasukannya dengan celurit di masing-masing tangan mereka, lalu mengancam semua tetangga agar mengembalikan barang dan uang yang hilang dengan paksa, (2) Sokra tidak percaya kalau benda dan uang hilang begitu saja, lalu menuduh Thambi telah menggunakan harta hanya untuk besenang-senang . Atas dasar dua kemungkinan itu, yang belum ditentukan mana yang akan terjadi, maka Thambi memilih menyimpan rahasia kehilangannya.

Hampir satu tahun kiranya Thambi tinggal di Kampung Kosambi, baru beberapa hari ini dia alami kehilangan beruntun dan masih belum tahu apa sebabnya. Rumah di depan rumah Thambi adalah rumah Marda, laki-laki beranak satu yang istrinya sudah lama tiada. Tiada dalam hal ini bukanlah meninggal dunia, tapi tiada karena pergi entah ke mana dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Namun Marda pernah menjelaskan kepada tetangga, istrinya pergi kabur bersama jin peliharaannya. Menurut Marda—ini menurut pengakuannya saja—ada satu jinnya yang berkhianat, diam-diam menaruh suka pada istrinya, lalu pada malam yang dihamburi hujan deras, istrinya lenyap begitu saja. Memang tidak masuk akal dan untuk percaya sepenuhnya dalam waktu singkat juga sangat sulit. Tapi anehnya, semua tetangga Marda percaya, termasuk Thambi.

Antara Thambi dan Marda, hingga saat ini, kelihatannya, hubungan mereka baik-baik saja. Marda sering memberi bantuan cuma-cuma pada Thambi, walau tahu Thambi itu pelitnya minta ampun. Dan soal kehilangan yang dialami Thambi,  dia juga tahu walau Thambi tidak pernah mengatakannya.  

Sengaja memang, Sokra membelikan Thambi rumah di perkampungan padat rumah. Ini dimaksudkan demi menjaga rahasia agar Thambi tidak terlacak oleh istri tua Sokra. Sebenarnya, Thambi pernah dibelikan rumah di sebuah dusun yang penduduknya sedikit, rumah yang cukup jauh letaknya dari keramaian, bahkan, untuk sampai ke sana pun harus menempuh perjalanan cukup rumit dan melelahkan. Hampir semuanya jalannya berbatu, banyak tanjakan tajam, tak mudah dilalui dengan kendaraan bermesin. Thambi pernah protes dan tak mau tinggal di rumah itu, tapi karena Sokra mengancam, akhirnya Thambi tidak punya pilihan selain tinggal. Anehnya, Aminah, istri Sokra yang pertama, dengan sangat cepat mencium keberadaan Thambi. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba, beberapa hari setelah kepindahan Thambi ke dusun itu, Aminah sudah sampai di depan rumah Thambi dan mereka bertengkar seperti kucing dan tikus.

“Dasar sondel (pelacur), sukanya mengganggu rumah tangga orang, aku bunuh kau sekarang.”
Andai tak ada tetangga melerai, pasti Thambi sudah raib nyawanya. Sebab celurit yang terhunus di tangan Aminah sudah siap melayang ke mana suka, bisa ke batang leher, bisa ke lengan, bisa ke perut, bisa ke dada, atau ke kepala. Untung seribu untung, Tuhan masih berkenan memberi lindung pada nyawa Thambi.

Tapi entah kenapa, untuk yang sekarang, Aminah tidak bisa mencium keberadaan Thambi  dengan cepat. Semisal dia mau berusaha, pasti akan segera menemukannya, bahkan akan lebih mudah ketimbang sebelumnya. Mungkin, ini kemungkinan saja, Aminah sudah lelah meladeni selir Sokra, sehingga lebih senang menanam pikir, kalau kebutuhannya sudah terpenuhi, buat apa berontak dan mengejar-ngejar selir Sokra?

Sesungguhnya Sokra tidak benar-benar suka pada Thambi. Niatnya waktu itu, hanya menjadikan Thambi tempat pelampiasan saja, tempat bercumbu saja, yang habis dibayar selesai perkara. Namun, menjadi rumitlah cerita, ketika lain waktu Sokra menjadi sangat tidak terkendali, dan mungkin, ini kemungkinan saja, dari semua selirnya, termasuk istri sahnya, si Aminah, pada berhalangan semua, sehingga pelampiasan satu-satunya adalah Thambi, yang kemudian tanpa bisa dibendung berakhir pada cerita tentang janin yang ada dalam perut Thambi. Sebab itu, Thambi menuntut  dinikahi. Kebodohan terbesar Sokra adalah, mudah percaya kalau janin di dalam perut Thambi itu adalah semata-semata hasil karyanya. Dia tidak pernah curiga, atau paling tidak menimbang-nimbang sedikit saja, apa mungkin hubungan badan cuma sekali langsung bisa hamil? Ini sebuah perkara, tapi entah, Sokra tidak mau berpikir panjang dan mengabulkan tuntutan Thambi dengan segera. Dua hari setelah menikah, Thambi bilang, “Aku keguguran.” Bahagia pun mengembang di wajah Sokra sehari penuh. “Untung diriku. Tak bisa dibayangkan, serupa apa bentuk bayi itu kalau lahir dari rahimmu, hai, Si Buruk Bentuk?” Kejam nian memang kata-kata kalau Sokra sudah tak suka pada seseorang.

Tetangga sekitar sudah sangat akrab dengan tabiat Thambi. Selain pelit, juga dikenal  kasar. Makhluk lembut yang kasar. Sampai ada yang bilang, mungkin di masa kecil dia tidak mendapatkan didikan yang baik dari orang tuanya, atau mungkin sudah mendapatkan didikan yang baik tapi memang Thambi sudah terlampu bengal. Setiap hari pasti ada tetangga menggunjingnya. Kalau pun tak menemukan bahan untuk digunjingkan, maka tetangga cari-cari sendiri dan mengarang-ngarang, dicocok-cocokkan, yang penting tokoh utamanya adalah Thambi. Gunjingan paling parah adalah Thambi dituduh memelihara jin. Kata salah seorang tetangga, “Aku pernah mendengar suara-suara tidak wajar yang berasal dari rumahnya.”  Padahal yang mengatakan ini tidak pernah mendengar apa-apa.

Beberapa hari lalu, ada utusan dari Ketua RT datang ke rumah Thambi, meminta sumbangan untuk rehab jalan kampung, yang jalan itu adalah satu-satunya jalan ketika hendak menuju ke mana saja, dan sepeser pun dia tidak mau memberinya. Parahnya, dia malah mengusir utusan itu. Kebencian tetangga memuncak ketika salah satu tetangga sakit, sakit parah, dan keluarga dari yang sakit datang ke Thambi untuk meminjam uang. Apa yang didapat? Bukan uang didapat, tapi kemarahan Thambi melesat.

“Makanya kerja. Sukanya merepotkan orang saja. Jangan dikira aku mendapatkan semua ini dengan hanya duduk-duduk saja. Sudah banyak yang kukorbankan, termasuk hidupku sendiri.”

Keluarga dari si sakit itu pulang dengan memeram panas benci di dadanya, dan bersumpah akan membuat Thambi terusir dari Kampung Kosambi dengan cara tidak terhormat, dan seluruh tetangga ikut mendukung sumpah itu.

Salah seorang tetangga datang kepada Marda dan melakukan pertemuan rahasia yang tidak akan pernah bisa didengar telinga Thambi. Sudahlah bisa ditebak apa yang dinginkan oleh seorang tetangga itu, yakni ingin mencelakai orang.

“Perempuan ini sudah layak keluar dari kampung ini.”

“Tapi sebelum keluar, dia harus menanggung malu, malu yang tak tertanggungkan. Kalau perlu selepas dari kampung ini, dia langsung bunuh diri.”

“Kita tak perlu mengusirnya dengan kasar. Karena kampung ini sudah dikenal dengan kampung yang sopan dan santun. Kita buat dia enyah sendiri dari kampung ini.”

Marda mengangguk-angguk, paham. Baginya, itu sangat mudah. Dengan pasukan jinnya, dia mampu melakukan apa saja tanpa harus terlihat. Termasuk mengambil benda dan uang Thambi. Sebelumnya, dia pura-pura menjalin hubungan dengan Thambi itu sesungguhnya hanya sekadar basa-basi saja. Andai kala itu sudah mendapatkan ijin dari teman karibnya, pasti sudah celaka si Thambi ini. Demi menghormati teman karibnya itu, sebelum melakukan apa yang harus dilakukan, dia menghubungi teman karibnya lewat ponsel untuk mendapatkan persetujuan.

“Tetangga sudah memuncak kemarahannya, dan ini waktu yang tepat untuk melakukannya. Ya, ya, benar kau. Aku boleh melakukan apa saja? Baik-baik, Kawan. Aku tidak akan mengecewakanmu. Percuma aku menjadi anak buahmu dulu kalau sekarang tidak berguna. Baik-baik, akan aku lakukan dengan rapi. Dijamin beres pokoknya. Iya-iya, tidak akan ada yang terluka, tidak akan ada darah. Pokoknya beres-lah! Sip.”

Ponsel di seberang mati duluan, dan Marda sudah mendapatkan persetujuan.

Maka ketika sudah sampai pada malam yang pas sesuai hitungan kitab primbon Marda, malam yang sesungguhnya syahdu karena malam dibalut dengan selimut angin yang lembut dan juga rintik gerimis yang jatuhnya seakan lambat, Marda melakukan ritual di dalam kamarnya. Dia hanya perlu menidurkan Thambi dari jarak jauh, tidur yang benar-benar pulas dan lupa pada segala-galanya. Tidak memakan waktu begitu lama, Thambi tidur dengan pulas, sepulas-pulasnya. Marda tahu akan itu, karena dia telah menyuruh jin untuk mengawasi dan melaporkannnya. Dengan mudahnya Marda membuka pintu rumah Thambi dan dia segera melakukan apa yang harus dilakukan, sesuai perintah.

Selepas memuaskan hasratnya, Marda tidak langsung pergi meninggalkan Thambi. Dia meminta jin untuk memasukkan sesuatu ke dalam perut Thambi, setelah itu, dibacainya mantra perut Thambi itu. Setelah selesai, Marda pulang dengan melenggang, lepas.

Esok harinya Thambi bangun dengan wajah merengut. Bukan karena kehilangan. Tapi dia bersedih setelah melihat perutnya tiba-tiba besar. Perutnya terus membesar. Ada sesuatu di dalamnya yang menggeliat. Dia mengerang kesakitan, sendirian. Suara jeritnya begitu lantang. Satu tetangga, perempuan, datang mendekat, seolah-olah peduli. Melihat perut Thambi yang besar, perempuan itu berteriak. Sontak semua tetangga datang mendekat.
 
“Dia hamil,” kata perempuan yang datang pertama kali itu dengan lantang.

Suara-suara pun meriuh, meriap menjadi gaduh.

“Rupanya perempuan ini sudah menjalin hubungan haram dengan jin.” Tentu saja ada yang langsung menuduh seperti itu, karena memang sehari sebelumnya perut Thambi terlihat biasa-biasa saja.

“Kita harus meminta pertolongan Marda untuk melihatnya.” Satu orang diperintahkan untuk menjemput Marda.

Dengan wajah serius Marda mendekat. Meraba perut Thambi. Lalu pura-pura tak percaya dengan apa yang sudah diketahuinya. 

“Di dalam perutnya ada bayi ular. Mungkin dia sudah bersetubuh dengan jin ular. Mungkin dia sedang melakukan pesugihan,” kata Marda menegaskan. Mendengar itu Thambi menangis sejadi-jadinya. Sebagian ada yang merasa kasihan tapi tetap dalam kebencian yang tidak berkurang kadarnya.

“Sebaiknya apa yang harus dilakukan?” Tanya seorang tetangga.

“Bayi ini belum mau keluar. Masih betah di dalam. Mungkin baru besok keluar,” jawab Marda.

“Kalau begitu kita tunggu sampai besok. Kita bantu dia mengeluarkan bayi ular itu,” usul tetangga, seolah-olah peduli.

“Kalau begitu, harus ada yang berjaga di sini.”

“Tidak perlu,” jawab Thambi cepat, “biarkan aku sendiri.”

Mendengar itu, semua tetangga pulang ke rumah masing-masing, termasuk Marda.
Malam harinya, ketika semua tertidur, dan anehnya, tidak ada satu pun tetangga yang ada di luar rumah, tidak seperti biasa, Thambi pergi dari rumahnya tanpa membawa bekal sehelai baju pun, kecuali baju yang melekat di badannya. Tertatih-tatih dia melangkah menyusuri malam yang diam. Jalanan sudah sepi. Dia hanya ingin pulang ke rumah orang tuanya. Entah itu bisa sampai atau tidak, dia tidak peduli. Sebab malu sudah terlampau tebal menempel di wajahnya.

Di kamarnya, Marda menghubungi teman karibnya lagi. Memberi kabar perkembangan atas tugas yang sudah dilakukannya.

“Sudah, Sokra. Dia sudah pergi. Tapi, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Ya, benar. Baru kali ini aku dihantam rasa penyesalan. Tapi, sudahlah, sudah telanjur terjadi. Dan sepertinya, dia akan mati dalam perjalanan.”

Setelah suara tawa terbahak-bahak, hubungan terputus. Menyisakan Marda yang sedang dirundung sesal begitu tebal.***

 





























BIODATA


Nama Pena                 : Agus S Nur
Nama KTP                : Agus Salim
Tempat, Tanggal Lahir        : Sumenep, 18 Juli 1980
Alamat     : Jl.   Asoka   No. 163   RT. 04 / RW. 02  Kelurahan Pajagalan Kecamatan Kota Sumenep Kabupaten Sumenep Kode Pos :  69416  - Madura - Propinsi Jawa Timur
Email                    : Agus.Salim.163@gmail.com
Nomor  Hp                : 087850003861
Proses kepenulisan    :    Saya belajar menulis secara otodidak dan tentu  bermakmum pada karya-karya penulis yang sudah mahir. Tulisan pertama saya dimuat di media lokal pada tahun 2008 dan setelah itu terus berlanjut sampai merambah media nasional. Saya bergiat di komunitas Rumah Literasi Sumenep.
Karya-karya     :    Cerpen   saya   pernah   dimuat   di   media seperti Riau Pos, Republika, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Annida Online, Surabaya Post,  Banjarmasin Post, Bangka Pos, Haluan, Sumut Pos, Padang Ekspres dan lain-lain.  Sedangkan puisi-puisi saya pernah dimuat di Radar Madura, Surabaya Post dan Suara Karya.
No. Rekening                 :  0182412538 (Bank Jatim Cabang Sumenep)









KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:30 wib

Cuaca Ekstrim Waspadai Karhutla

Kamis, 16 Agustus 2018 - 15:00 wib

Bupati Kukuhkan Anggota Paskibraka

Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:30 wib

Oknum Dokter Bantu Samarkan Uang Hasil TPPU

Kamis, 16 Agustus 2018 - 14:00 wib

Belum Bisa Setop Konflik Perusahaan-Masyarakat

Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:37 wib

22 Hot Spot Masih Terpantau, Suhu di Riau Dekati Level Ekstrem

Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:30 wib

Ponton dan Crane Bersiap Jelang Penyambungan

Kamis, 16 Agustus 2018 - 13:15 wib

PPP: Maruf Amin Tak Mengancam Jokowi

Kamis, 16 Agustus 2018 - 12:40 wib

Hari Ini, Bus Salawat Terakhir Beroperasi

Follow Us