OLEH ANTON SUPARYANTA

Novel Best Seller Sekadar Loveable

30 April 2017 - 02.40 WIB > Dibaca 1512 kali | Komentar
 
Fluktuasi novel tanah air mudah diikuti perkembangannya. Tak ada siasat istimewa. Hebatnya, kuantitas novel karya Darwis Tere Liye akhir-akhir ini menjadi oase estafet antargenerasi novel. Gelontoran novel Tere Liye ini mengingatkan label best seller. Adakah bandingannya?
Beberapa tahun silam A. Fuadi sukses mempromosikan novel Ranah 3 Warna yang dilabeli national best seller. Novel ini menjadi buku kedua, sekuel dari trilogi Negeri 5 Menara (N5M) yang terbit lebih dahulu. Menurut catatan beberapa situs, N5M menjadi novel super-booming yang melampaui produk-produk novel gaya dwilogi, trilogi, ataupun tetralogi sezaman.
Selentingan inilah mengusik riak sastrawi. Laris karena selera pasar semata ataukah tren arah membaca karya sastra kita yang membaik? Atau justru imbas dari serentetan gaya novel trilogi atau tetralogi yang masih booming.

Sebagai pemain baru untuk komunitas novelis, A. Fuadi tentunya masih meraba-raba antara jaringan pasar (konsumen), novel pesaing, dan kualitas karya. Tanpa analisis yang mendalam, A. Fuadi sukses merebut pasar dan berani bertengger di papan atas dalam daftar novel ciamik. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kuat berapa lamakah daya edar mutu novel-novel tersebut? Dengan kata lain, seberapa bermutukah novel A. Fuadi untuk mampu mengguncang jagat sastra Indonesia? Fenomena A. Fuadi tersebut menjadi tantangan khusus untuk Darwis Tere Liye sekarang ini.

Beberapa tahun silam Lilimunir C pernah meluncurkan novel seri Rumah Besar. Titis Basino PI juga menerbitkan hal serupa tanpa label tersurat secara serial. Ayu Utami menggebrak sastra kita dengan duologi, Saman dan Larung serta Bilangan Fu dan Manjali dan Cakrabirawa. Fira Basuki memamerkan serial Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap.

Bahkan, simbiosis novel dan film telah diracik apik dengan bius sinetron dan layar lebar. Garapan Habiburrahman El Shirazy dengan ide novel beruntun sebagai narasi penggugah jiwa yang jauh sebelumnya telah digugah oleh gaya Dee-Dewi Lestari dengan Supernova. Bak meteor melesat, Andrea Hirata pun menorehkan sastra Indonesia dengan tetralogi Laskar Pelangi dan trilogi Padang Bulan. Kemudian muncullah A. Fuadi dengan sodoran trilogi Negeri 5 Menara. Kini muncul nama Tere Liye dengan novel-novel tebalnya.

Deret novel berseri tersebut menawarkan karya fenomenal dan fluktuatif untuk bilangan sastra Indonesia. Gaung apresiasi tidak mampu membekas lama. Baru sebatas loveable untuk konteks sezaman. Berbeda halnya dengan novel yang mampu menggores antarzaman disebabkan niatan gagasan yang dipolakan oleh tokoh-tokoh pemikir bangsa yang hendak membangun jati diri. Kajian lintas generasi pun tetap menyajikan pola pikir yang baru. Diskusi interteks untuk novel tersebut dapat diteroka kembali melalui karya Anak Semua Bangsa (Pramudya Ananta Toer) yang klik dengan Anak Tanah Air, Secercah Kisah (Ajib Rosidi). Pergulatan ide anak bangsa tersebut dicerahkan oleh mentalitas dan spiritualitas setiap tokoh untuk bisa menasional dan mendunia. Garapan etos cerdas ini mewujud dalam novel Burung-Burung Rantau (YB Mangunwijaya).

Adakah cermin gagasan besar di dalamnya? Bandingan-bandingan eklektik seperti inilah yang belum (tidak) menginspirasi garapan novel-novel mutakhir. Ide setiap karya masih mencerminkan kecerdasan ego setiap diri novelis. Jadi, ada semacam keterputusan alir ide untuk lintas generasi lintas zaman.

Mengikuti alir ide Ranah 3 Warna, novel ini tak ubahnya catatan harian yang dipermak. Bisa juga sketsa kisah yang dibumbui batas-batas orang yang paham bagaimana bercerita dengan lancar, komunikatif dengan diksi yang berarti “kamusan”, dan urut layaknya sajian berita.
Catatan kecil berikut perlu didiskusikan lebih intensif. Pertama, paparan tema, fakta cerita, dan sarana cerita sebenarnya simpel. Ikatan unsur intrinsiknya gamblang. Tema yang dirangkai dengan dua ’mantra’ man jadda wa jadda (teguh sabar menghadapi cobaan hidup) dan man shabara zhafira (yang sabar akan sukses dan beruntung) justru semata-mata tidak membelit penceritaan. Mantra tersebut tak beda jauh dengan moto.

Kedua, tokoh protagonis (Alif Fikri) belum menunjukkan pergulatan batin yang mumpuni. Tidak tampak rekayasa imaji untuk sungguh-sungguh menggarap karakter tokoh. Banyak uraian cerita masih menggunakan gaya bahasa harian, belum terjadi nyastra yang membiaskan sistem tanda.

Ketiga, nyaris tidak ada kubu konflik yang menggetarkan. Hal ini dikarenakan “underan” masalah tidak tersampaikan. Keempat, setting tiga lokasi antara Maninjau-Bandung, Amman-Yordania, dan Kanada-Amerika lebih menggiring perpindahan fisik tokoh secara fragmentaris. Setting dibiarkan menggelinding. Setting belum dioptimalkan membentuk karakter unik si tokoh. Akibatnya, jika judul novel (Ranah 3 Warna) coba dibenturkan pada bangunan novel, tentu saja sebatas menyajikan panorama di setiap warna.

Kelima, ending cerita begitu ciut jika seolah-olah sekuel ini dipaksakan rampung dengan tali asmara yang gagal disimpulkan. Keenam, sketsa ke-51 tentang pulang kampung menjadi ironi cerita yang menempel. Ketujuh, kosa kata daerah baru tampil sebagai aksesori penceritaan dan khazanah bahasa; belum diolah sebagai passion yang mengguncang pribadi/karakter tokoh. Di sisi lain, di catatan kaki sedikit terpeleset ketika merumuskan rima pantun menjadi /abab/ dan /aaaa/. Bukankah pantun berbeda dengan syair?

Kegaduhan cerita dan ketebalan halaman belum mengilatkan ikon-ikon sentral sastrawi. Dengan memakan halaman tebal, mestinya terjadi amuk semiotik, histeria tikungan-tikungan maut untuk ikon-ikon sastrawi, ataupun tarung gumul batin yang terekspos melalui tokoh dan penokohan serta kemasan ide gila. Akan tetapi, yang muncul justru hamparan cerita panorama kisah yang datar, stereotipe.

Ide cerita tidak sepenuhnya didukung teknik yahut penceritaan. Teknik telling (kisahan atau uraian pengarang) dan showing (ragaan atau dialog) nyaris tidak membangun konflik utama. Akibatnya, cerita terbawa pada kelana peristiwa. Hinggap di satu intrik, meloncat ke intrik lain. Gaya cerita masih seperti tukang lapor. Rakitan kata belum menjiwa sastra.***



KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 24 Juni 2018 - 14:35 wib

Setelah 61 Tahun, Perempuan Arab Saudi Akhirnya Mengemudi

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:32 wib

Berencana Lakukan Aksi Teror di Pilgub Jabar

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:30 wib

Tips Menjaga Kesehatan dalam Perjalanan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:27 wib

Jumlah Pemilih 186.379.878 Jiwa

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:19 wib

Pilkada, 170 Ribu Polisi dan Ribuan TNI Diturunkan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:04 wib

Meksiko Berhasil Atasi Korea Selatan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:02 wib

Xiaomi Mi Max 3 Tampil dengan Layar Lebar

Minggu, 24 Juni 2018 - 13:59 wib

Sofa cushion Bikin Susah Beranjak

Follow Us