CERPEN RISDA NUR WIDIA

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

30 April 2017 - 02.34 WIB > Dibaca 2244 kali | Komentar
 
Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
MUNGKIN kau pernah melihat film atau mendengar kisah tentang seekor anjing jenis Akita Inu, kelahiran date: Prefektur Akita. Anjing setia yang menunggu tuannya: Profesor Ueno; yang setiap hari bekerja pergi-pulang dari Stasiun Sibuya dan mendadak meninggal di perjalanan: tak kembali. Anjing itu menunggu dengan harapan dirinya bertemu majikannya. Kenyataannya anjing itu tak pernah bertemu hingga ajal menjemput. Hawa dingin membunuh anjing itu. Mungkin seperti itulah aku hari ini: berdiri di menara setinggi 170 meter pada distrik Gunwharf Quays, Spinnaker Tower, Portsmouth. Kedatanganku hari ini menunggumu: orang asing yang kukenal lima tahun lalu dan aku telah banyak menaruh harapan padamu.

 Aku tak ingin bernasib seperti anjing tersebut. Tetapi bila dipikir: Sedikit gila kedatanganku ke kota yang terletak di bagian selatan London. Baru dua aku ke sini. Dan hari ini adalah kesempatan kedua. Aku datang hanya berbekal yang semuanya pas-pasan. Bahasa Inggris yang tak lancar, dan nama-nama jalan atau tempat yang sedikit aku tahu dari film serta buku. Hal besar yang membuatku datang ke Gunwharf Quays ialah harapan. Ada janji diantaranya. Selebihnya kenekatan pria sinting yang ingin menemuimu. Aku menatap langit kota Portsmouth yang biru. Gunwharf Quays yang terletak persis di tepi pelabuhan Portsmouth Harbour menjelma seperti puisi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil.Seperti hari itu—lima tahun lalu—saat pertama bertemu denganmu.

Mataku tabah menyisir kerumunan orang yang menghabiskan waktu di tepi laut Beritania. Semuanya perpasangan. Mereka berdecak dengan pembahasan yang entah. Portsmouth Harbour memang satu-satunya tempat ramai di kota yang hanya memiliki 400an penduduk. Gunwharf Quays dapatkan dikatakan jantung kota Porstmouth. Selain sebagai dermaga, tempat ini merupakan pusat perbelanjaan dengan konsep terbuka. Jumlah toko bisa mencapai angka 95—termasuk 25 restauran bila memasuki akhir pekan. Tetapi di antara keramaian, aku tak menemukanmu: sesesok wanita dengan pipi cembung, mata tipis yang nyaris tenggelam bila tertawa, dan senyum  manis serupa Strawberry Cheesecake Bite.

“Masih satu setengah jam lagi,” kataku. “Semoga kau masih ingat janji kita lima tahun lalu.”
Aku mengerling ke arah jam yang melilit tangan kiri. Pukul 17.30. Langit di tepi pelabuhan Portsmouth Harbour meremang. Cahaya jingga menindih langit kota yang sebelumnya biru. Lampu-lampu putih-keperakan mulai menyala dengan terangnya; tidak mencolok mata di sela kafe-kafe kecil di Gunwharf Quays. Dari menara setinggi 170 meter, cahaya-cahaya kecil itu mengingatkanku pada kunang-kunang. Sunyi. Sepi. Hatiku singup ketika mengingat kedatanganku ke kota ini hanya berbekal harapan kosong. Aku meraba tas kecilku; mengambil novel berjudul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu; buku yang sebenarnya sengaja aku bawa untukmu.

Tak ingin jengah dilahap bosan, aku membaca novel itu. Sepasang mataku mengurai satu persatu kata yang menjelma kalimat. Tetapi konsentrasiku selalu pecah di kerumunan orang Gunwharf Quays. Rasanya aku tak ingin melewatkan pandang menggiringi kedatanganmu dari keramaian. Kenyataannya: kau belum tampak. Kau menjelma pengertian yang sulit aku urai seperti dalam buku-buku sejarah; yang sering menghabiskan waktuku setiap malam. Sekali lagi aku melengos pada jam tanganku. Gelisah ternyata lebih pandai menyamak waktu. Sudah tiga puluh menit berlalu. Jadi aku masih memiliki satu jam lagi menunggumu di Spinnaker Tower.

***

Kedatanganku ini memang tanpa janji baik berupa pesan singkat, email, atau surat. Kehadiranku ke sini persis seperti yang kami janjikan lima tahun lalu. Ini dapat dikatakan sebagai upaya mengingat arti seseorang dalam hidup kami. Begitulah. Aku tiba pagi tadi dalam kecemasan kau melupakanku. Aku menarik napas panjang. Udara pesisir Portsmouth Harbur yang asin menggumpal di dadaku. Perjalanan panjang dari Indonesia-London bukanlah waktu singkat. Bahkan sepanjang perjalanan di tubuh pesawat hingga mendarat di Heathrow International Airport, masygul terus menggelayut.

Aku ingat dahulu bertemu denganmu di tepi Sungai Thames. Perjumpaan tidak sengaja. Waktu itu—pada kedatangan pertamaku—wajahku terlihat pasi. Apabila dibandingkan pasti mirip kisah dalam Alkitab yang dituturkan oleh Yesus kepada murid-muridnya, tentang: seekor domba yang terpisah dari 99 domba lainnya di tengah padang. Peta yang detail tidak berhasil menyelamatkanku dari sesaat. Dan kau menjelma menjadi seorang penggembal yang menemukanku. Kau melihat kepanikanku dan menawarkan bantuan. Aku terkejut—sekaligus bersyukur—ketika itu. Yang membuatku tenang, kau adalah orang senegara denganku.

“Kau tersesat?” Katamu. “Kau orang Indonesia?”

Mendengar suara lembut dan bahasa yang tak asing cepat menyeret perhatianku. Aku mengerling ke arah suara itu. Aku mendapati dirimu tersenyum dengan sepasang mata yang nyaris tenggelam. Selain itu aku menemukan pipi kenyalmu yang cembung, dan senyum manis yang sampai hari ini sulit aku lupakan. Aku—waktu itu—menatapmu antara linglung dan malu. Rasanya aku tak ingin diselamatkan oleh wanita secantik dirimu. Tetapi kenyataannya aku bisa tenggelam dalam liang sesaat Lucifer di sepertiga malam.

“Kau mau ke mana?

 Porstmouth.

Porstmouth? Ulangmu. Kota itu berada di ujung selatan London.

Aku melirik peta. Benar. Letak kota Portsmouth jauh dari pusat kota. Aku membuang sepasang mata ke arahmu. Kau melihatku santai. Kau malah mengajakku berkenalan. Kau melampirkan sepucuk tanganmu di hadapanku. Aku menyambutnya. Aku rasakan lembut telapak tanganmu. Pada saat itu—ketika sekali lagi menatapmu—aku melihat sosok Clíodhna atau Queen of the Banshees.

“Aku Rinda. Dari Aceh. Aku sudah lama tinggal di sini. Kuliah. Kau?”

“Tarno. Dari Jogja. Ini pertama aku ke sini.”

“Sedang liburan?”

Aku menggeleng dan menjelaskan kedatanganku menemui seseorang penting di kota Portsmouth. Aku di sini mutlak karena pekerjaan sebagai seorang wartawan dari Indonesia. Seperti mengenal lama, kau mengajakku berangkat bersama menuju Portsmouth. Karena ketika itu kau juga memiliki tugas kuliah menulis artikel mengenai kehidupan orang-orang di ujung selatan London.

 Kau menyarankanku menaiki mini bis daripa kereta menuju Portsmouth: “Dengan mini bus kita bisa lebih menikmati isi kota.”

Karena memiliki banyak waktu, aku mengiyakan ajakan itu. Kami memesan mini bis. Kami pergi dengan kecepatan sedang menuju wilayah Hampsire. Sepanjang jalan pohon-pohon tubuh menghijau. Satu jam kami terkurung. Hingga kemudian kau menyuruh sopir berhenti di suatu bukit. Kau menjelaskan kami sedang berada di posisi paling tinggi kota. Kau menyebut apabila melewatinya malam hari: Perpadauan cahaya lampu kota dan laut menjelma surga kecil di bumi.

“Di Portsdown Hill ketika malam, kita seperti melihat pecahan taman Eden,” ucapmu. “Kau harus melewati jalan ini ketika malam.”

“Oh, mungkin apabila di Jogja seperti Bukit Bintang.”

Kau tertarik dengan nama itu. Lalu aku menjelaskan letak Bukit Bintang. Aku berjanji mengantarkanmu ke sana apabila berkunjung ke Jogja. Hanya 30 menit kami menikmati kota Portsmouth dari bukit. Gerimis turun. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan memesan dua kamar hotel di distrik Southsea Common. Beberapa hari kami disibukan dengan urusan masing-masing. Ketika pekerjaan selesai, kami kembali membuat janji: bertemu. Kami meluangkan waktu berdua. Kami mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya hanya aku tahu di internet. Kau menjadi peta baruku. Kau menjelaskan semua tempat yang kami kunjungi.
Seperti ketika kami mengunjungi Old Porstmouth: benteng yang dibangun untuk mempertahankan pelabuhan pada perang dunia kedua.

Selain itu kami mengunjungi Historica Dockyard. Kau menjelaskan mengenai dok kapal raksasa yang masih aktif. Di sana aku menemukan kapal-kapal pribadi. Tetapi paling mencolok adalah kapal perang milik angkatan laut Inggris yang masih aktif digunakan. Tidak hanya kapal perang yang aktif; di Historica Dockyard terdapat kapal perang Inggris bernama HMS Victory. Kapal itu sudah tidak bisa digunakan lagi dan menjadi museum. Kapal besar itu tinggal menyisakan kejayaan dari beratnya yang lebih dari 3000 ton. Kau menjelaskan: Kapal itu dahulu dikemudikan Laksamana Nelson. HMS Victory terkenal karena digunakan pada perang laut Travalgar melawan Spanyol dan Perancis di tahun 1805. Kapal itu merupakan benda favorit raja Henry ke-8.

Aku terdiam mendengarkan kisahmu. Aku terpesona dengan kecerdasanmu mengenai benda-benda tua. Lantas ketika senja sudah matang, kau mengajakku ke Spinnaker Tower: Kau harus melihat bagaimana senja tenggelam di kota ini. Senja di kota ini mirip dengan lirik puisi Senja di Pelabuhan Kecil.

Kami naik ke menara serupa layar. Benar. Terdapat senja yang begitu murung. Kau berkata: “Rasanya sedih berpisah denganmu.”

“Aku juga.”

“Kira-kira apakah kita bisa bertemu lagi?”

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi di sini kelak?”
 
Kau terdiam lantas berkata. “Bagaimana lima tahun lagi kita bertemu di sini. Kita tak perlu bertukar alamat atau apapun yang dapat menghubungkan kita. Kita bekerja dengan filing. Kita lihat seberapa penting diri kita mengartikan seseorang selama lima tahun itu.”

Aku mengangguk. Setelah itu aku mencium bibirmu panjang. Hingga tak dapat aku lupakan selama lima tahun terakhir.

***

Rasanya begitu konyol datang ke kota ini. Aku seperti pungguk yang terlalu tinggi merindukan bulan. Apalagi ketika aku mengingat telah mengorbankan banyak hal. Termasuk—seminggu sebelum datang ke kota ini—memutuskan jalinan cinta dengan kekasihku yang berjalan cukup lama. Aku—sedikit sengit—menghempaskan mataku ke arah laut yang keperakan. Malam ini bulan memantulkan tubuh bulat pucatnya di atas permukaan laut. Syahdan aku berpikir: Mungkin kau telah melupakanku?

Aku benar-benar datang ke kota ini dengan harapan kosong. Ketika menyadari kini telah lima tahun lebih satu setengah jam berlalu, aku mengutuki pendeknya akalku. Aku mengemas novel bacaanku. Aku bergegas pergi meninggalkan Spinnaker Tower dengan sesal. Hingga ketika pintu lift terbuka, sebuah suara memanggilku: ‘Tarno.’ Dan aku termenung tak tahu berbuat apa.***

Risda Nur Widia. Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Bukunya cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016). Cerpenya tersiar di berbagai media. 
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 21 Oktober 2018 - 22:19 wib

IKA UNRI Satukan Potensi Bangun Riau dan Indonesia

Minggu, 21 Oktober 2018 - 22:16 wib

Kakanwil Bea Cukai Sulbagtara Menguji Doktor Hukum di UGM

Minggu, 21 Oktober 2018 - 20:10 wib

Mengembangkan Perfilman Indie Pekanbaru

Minggu, 21 Oktober 2018 - 20:04 wib

12 Pengcab PSTI dan Mantan Pemain Timnas Dukung Amri Yahya

Minggu, 21 Oktober 2018 - 19:17 wib

Z Face Boy and Girl Sambangi SMAN 8 Pekanbaru

Minggu, 21 Oktober 2018 - 18:02 wib

Kurangi Aktivitas di Sekitar Sungai Siak

Minggu, 21 Oktober 2018 - 17:05 wib

Jalan Garuda Sakti Berlubang Besar

Sabtu, 20 Oktober 2018 - 22:20 wib

Petani Sawit Inginkan Solusi di Rembug Nasional

Follow Us